Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Rabu 04 Mar 2026, 13:30 WIB
Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)

Pada bulan Ramadan, ada kebiasaan kecil yang kerap dilakukan sebagian orang kembali membuka koleksi lagu-lagu lama. Entah diputar menjelang sahur, saat menunggu waktu berbuka, atau di sela malam yang tenang setelah salat tarawih. Dalam suasana seperti itu, musik lawas sering terasa lebih hangat seolah membawa kita menelusuri kembali jejak waktu, ke sebuah masa ketika lagu-lagu lahir dari pencarian musikal yang sungguh-sungguh.

Di antara nama-nama yang kerap muncul dalam ingatan para penikmat rock klasik Indonesia, salah satunya adalah Benny Soebardja.

Ada keistimewaan dalam perjalanan musikal Benny Soebardja, musisi rock asal Bandung yang dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step. Dalam berbagai konser mereka, lagu-lagu yang dibawakan hampir selalu merupakan karya sendiri. Pada masa awal kariernya pun, Benny dan rekan-rekannya jarang menulis lagu dalam bahasa Indonesia, kecuali pada beberapa album yang muncul kemudian.

Penggunaan bahasa Inggris dalam lirik lagu mereka bukan semata gaya atau upaya terlihat “kebarat-baratan”. Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ketika progresif art rock mulai merambah Indonesia, para musisi pelopornya termasuk Benny Soebardja masih mencari bentuk yang tepat untuk memadukan kompleksitas musik progresif dengan lirik berbahasa Indonesia. Ada semacam kegagapan kreatif pada masa itu, tema-tema progresif terasa belum sepenuhnya menyatu ketika dipaksakan dalam bahasa yang belum terbiasa dengan struktur musikal tersebut.

Album My Life, misalnya, lebih tepat disebut sebagai proyek dengan formasi yang beragam. Di dalamnya terdapat kolaborasi Benny dengan sejumlah musisi berbeda: Harry, Alan, dan Hadi dalam proyek Benny & Lizard. Ada pula kerja sama dengan Albert Warnerin, serta Bhagu Ramchand yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Shark Move.

Pada awal 1970-an, ketika nama Shark Move berada di puncak popularitas, dua lagu mereka kerap diputar di berbagai radio rock dan hampir selalu dibawakan dalam setiap konser yaitu My Life dan Butterfly. Kedua lagu ini menjadi semacam penanda musikal Shark Move, dengan intro yang menonjolkan tiupan flute serta bunyi kibor yang impresif. Menariknya, klimaks lagu-lagu tersebut tidak dibangun oleh gitar listrik, melainkan oleh gitar akustik yang mengantar lengkingan vokal Benny berpadu dengan energi rock yang terasa sangat hidup di atas panggung.

Peran kibor yang dimainkan Soman Loebis terasa sangat kuat, terutama dalam lagu Butterfly. Pada awal dekade 1970-an, kibor merupakan instrumen yang sangat langka dan mahal, sehingga kehadirannya menjadi simbol prestise bagi band rock. Dalam konteks itu, Shark Move bersama God Bless yang kala itu juga diperkuat pemain kibor andalan menjadi pelopor progresif art rock dengan warna musikal yang terasa mewah dan berkelas.

Benny Soebardja juga pernah berkolaborasi dengan sahabat dekatnya, Bob Dook, seorang geolog asal Inggris yang telah dianggap seperti saudara sendiri. Keduanya memiliki latar belakang yang sama sebagai geolog dan pernah bekerja di rig pengeboran minyak lepas pantai di Laut Jawa. Setiap kali mendapat waktu libur, mereka kerap menghabiskannya di Bandung, sebuah kota yang menjadi ruang pertemuan ide dan kreativitas mereka.

Bob Dook sendiri banyak menulis lirik lagu, baik ketika berada di Inggris maupun saat bekerja di rig pengeboran. Salah satu karyanya, A Fortunate Paradise, terinspirasi oleh keindahan hutan Kalimantan yang memikat. Ada pula Childhood and the Sea Bird, yang mengisahkan kenangan masa kecil Bob di Inggris, penuh nuansa nostalgia tentang laut dan kebebasan masa kanak-kanak.

Kini Bob Dook telah menetap secara permanen di Singapore. Meski demikian, persahabatannya dengan Benny tetap terjalin erat. Mereka masih kerap bertemu di Singapura, dan sesekali Bob juga datang berkunjung ke Jakarta. Hubungan keduanya menunjukkan bahwa persahabatan, seperti juga musik dapat melampaui jarak, waktu, dan profesi.

Benny Soebardja sendiri dapat disebut sebagai salah satu “superstar” progresif art rock Indonesia sejak awal 1970-an. Bersama Shark Move maupun Giant Step, ia termasuk musisi yang produktif melahirkan karya-karya progresif. Kini beberapa album rekamannya, termasuk My Life, telah menjadi barang langka yang hanya dimiliki segelintir kolektor musik, sekaligus penanda penting dalam sejarah perkembangan rock progresif di Indonesia.

Penulis beruntung dapat mengenal sosok Benny Soebardja melalui media sosial, terutama lewat komunitas Benny Soebardja World Friends dan Aktuil The Legend. Dari ruang pertemanan virtual itulah penulis mulai kerap membagikan kembali arsip-arsip konser Kang Benny yang legendaris, seperti penampilan The Peels di Singapura, Pesta Musik Kemarau ’75 di Bandung, hingga konser Rock Never Die 1984 di Jakarta.

Kesempatan yang lebih berkesan datang ketika penulis akhirnya dapat berjumpa langsung dengan Kang Benny pada konser “3 Dekade Benny Soebardja” yang digelar di Hotel Horison Bandung pada Juli 2023, sebuah pertemuan singkat namun hangat dengan salah satu legenda progresif rock Indonesia.

Pada akhirnya, seperti banyak lagu lama yang kembali diputar di bulan Ramadan, karya-karya Benny Soebardja juga menghadirkan rasa yang serupa: nostalgia, perenungan, dan kesunyian yang hangat. Di antara malam-malam yang lebih tenang, ketika orang menunggu sahur atau menutup hari setelah tarawih musik progresif yang pernah ia ciptakan terasa seperti gema dari masa lalu yang masih hidup hingga kini.

Nada-nada itu mengingatkan kita bahwa perjalanan musik, sebagaimana perjalanan manusia di bulan Ramadan, selalu tentang pencarian makna: kesabaran dalam proses, kedalaman perenungan, dan harapan bahwa sesuatu yang lahir dengan kejujuran akan terus menemukan pendengarnya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia.

Benny Soebardja dan Bob Dook bersama para penggemarnya di Singapura. (Sumber: Istimewa)
Benny Soebardja dan Bob Dook bersama para penggemarnya di Singapura. (Sumber: Istimewa)

Pada bulan Ramadan, ada kebiasaan kecil yang kerap dilakukan sebagian orang kembali membuka koleksi lagu-lagu lama. Entah diputar menjelang sahur, saat menunggu waktu berbuka, atau di sela malam yang tenang setelah salat tarawih. Dalam suasana seperti itu, musik lawas sering terasa lebih hangat seolah membawa kita menelusuri kembali jejak waktu, ke sebuah masa ketika lagu-lagu lahir dari pencarian musikal yang sungguh-sungguh.

Di antara nama-nama yang kerap muncul dalam ingatan para penikmat rock klasik Indonesia, salah satunya adalah Benny Soebardja.

Ada keistimewaan dalam perjalanan musikal Benny Soebardja, musisi rock asal Bandung yang dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step. Dalam berbagai konser mereka, lagu-lagu yang dibawakan hampir selalu merupakan karya sendiri. Pada masa awal kariernya pun, Benny dan rekan-rekannya jarang menulis lagu dalam bahasa Indonesia, kecuali pada beberapa album yang muncul kemudian.

Penggunaan bahasa Inggris dalam lirik lagu mereka bukan semata gaya atau upaya terlihat “kebarat-baratan”. Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ketika progresif art rock mulai merambah Indonesia, para musisi pelopornya termasuk Benny Soebardja masih mencari bentuk yang tepat untuk memadukan kompleksitas musik progresif dengan lirik berbahasa Indonesia. Ada semacam kegagapan kreatif pada masa itu, tema-tema progresif terasa belum sepenuhnya menyatu ketika dipaksakan dalam bahasa yang belum terbiasa dengan struktur musikal tersebut.

Album My Life, misalnya, lebih tepat disebut sebagai proyek dengan formasi yang beragam. Di dalamnya terdapat kolaborasi Benny dengan sejumlah musisi berbeda: Harry, Alan, dan Hadi dalam proyek Benny & Lizard. Ada pula kerja sama dengan Albert Warnerin, serta Bhagu Ramchand yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Shark Move.

Koleksi piringan hitam Circle of Love (rilis ulang 2024) dan Majalah Aktuil edisi September 1974 milik penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Koleksi piringan hitam Circle of Love (rilis ulang 2024) dan Majalah Aktuil edisi September 1974 milik penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada awal 1970-an, ketika nama Shark Move berada di puncak popularitas, dua lagu mereka kerap diputar di berbagai radio rock dan hampir selalu dibawakan dalam setiap konser yaitu My Life dan Butterfly. Kedua lagu ini menjadi semacam penanda musikal Shark Move, dengan intro yang menonjolkan tiupan flute serta bunyi kibor yang impresif. Menariknya, klimaks lagu-lagu tersebut tidak dibangun oleh gitar listrik, melainkan oleh gitar akustik yang mengantar lengkingan vokal Benny berpadu dengan energi rock yang terasa sangat hidup di atas panggung.

Peran kibor yang dimainkan Soman Loebis terasa sangat kuat, terutama dalam lagu Butterfly. Pada awal dekade 1970-an, kibor merupakan instrumen yang sangat langka dan mahal, sehingga kehadirannya menjadi simbol prestise bagi band rock. Dalam konteks itu, Shark Move bersama God Bless yang kala itu juga diperkuat pemain kibor andalan menjadi pelopor progresif art rock dengan warna musikal yang terasa mewah dan berkelas.

Benny Soebardja juga pernah berkolaborasi dengan sahabat dekatnya, Bob Dook, seorang geolog asal Inggris yang telah dianggap seperti saudara sendiri. Keduanya memiliki latar belakang yang sama sebagai geolog dan pernah bekerja di rig pengeboran minyak lepas pantai di Laut Jawa. Setiap kali mendapat waktu libur, mereka kerap menghabiskannya di Bandung, sebuah kota yang menjadi ruang pertemuan ide dan kreativitas mereka.

Bob Dook sendiri banyak menulis lirik lagu, baik ketika berada di Inggris maupun saat bekerja di rig pengeboran. Salah satu karyanya, A Fortunate Paradise, terinspirasi oleh keindahan hutan Kalimantan yang memikat. Ada pula Childhood and the Sea Bird, yang mengisahkan kenangan masa kecil Bob di Inggris, penuh nuansa nostalgia tentang laut dan kebebasan masa kanak-kanak.

Kini Bob Dook telah menetap secara permanen di Singapore. Meski demikian, persahabatannya dengan Benny tetap terjalin erat. Mereka masih kerap bertemu di Singapura, dan sesekali Bob juga datang berkunjung ke Jakarta. Hubungan keduanya menunjukkan bahwa persahabatan, seperti juga musik dapat melampaui jarak, waktu, dan profesi.

Benny Soebardja sendiri dapat disebut sebagai salah satu “superstar” progresif art rock Indonesia sejak awal 1970-an. Bersama Shark Move maupun Giant Step, ia termasuk musisi yang produktif melahirkan karya-karya progresif. Kini beberapa album rekamannya, termasuk My Life, telah menjadi barang langka yang hanya dimiliki segelintir kolektor musik, sekaligus penanda penting dalam sejarah perkembangan rock progresif di Indonesia.

Penulis beruntung dapat mengenal sosok Benny Soebardja melalui media sosial, terutama lewat komunitas Benny Soebardja World Friends dan Aktuil The Legend. Dari ruang pertemanan virtual itulah penulis mulai kerap membagikan kembali arsip-arsip konser Kang Benny yang legendaris, seperti penampilan The Peels di Singapura, Pesta Musik Kemarau ’75 di Bandung, hingga konser Rock Never Die 1984 di Jakarta.

Baca Juga: Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Kesempatan yang lebih berkesan datang ketika penulis akhirnya dapat berjumpa langsung dengan Kang Benny pada konser “3 Dekade Benny Soebardja” yang digelar di Hotel Horison Bandung pada Juli 2023, sebuah pertemuan singkat namun hangat dengan salah satu legenda progresif rock Indonesia.

Pada akhirnya, seperti banyak lagu lama yang kembali diputar di bulan Ramadan, karya-karya Benny Soebardja juga menghadirkan rasa yang serupa: nostalgia, perenungan, dan kesunyian yang hangat. Di antara malam-malam yang lebih tenang, ketika orang menunggu sahur atau menutup hari setelah tarawih musik progresif yang pernah ia ciptakan terasa seperti gema dari masa lalu yang masih hidup hingga kini.

Nada-nada itu mengingatkan kita bahwa perjalanan musik, sebagaimana perjalanan manusia di bulan Ramadan, selalu tentang pencarian makna: kesabaran dalam proses, kedalaman perenungan, dan harapan bahwa sesuatu yang lahir dengan kejujuran akan terus menemukan pendengarnya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)