Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)

Pada bulan Ramadan, ada kebiasaan kecil yang kerap dilakukan sebagian orang kembali membuka koleksi lagu-lagu lama. Entah diputar menjelang sahur, saat menunggu waktu berbuka, atau di sela malam yang tenang setelah salat tarawih. Dalam suasana seperti itu, musik lawas sering terasa lebih hangat seolah membawa kita menelusuri kembali jejak waktu, ke sebuah masa ketika lagu-lagu lahir dari pencarian musikal yang sungguh-sungguh.

Di antara nama-nama yang kerap muncul dalam ingatan para penikmat rock klasik Indonesia, salah satunya adalah Benny Soebardja.

Ada keistimewaan dalam perjalanan musikal Benny Soebardja, musisi rock asal Bandung yang dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step. Dalam berbagai konser mereka, lagu-lagu yang dibawakan hampir selalu merupakan karya sendiri. Pada masa awal kariernya pun, Benny dan rekan-rekannya jarang menulis lagu dalam bahasa Indonesia, kecuali pada beberapa album yang muncul kemudian.

Penggunaan bahasa Inggris dalam lirik lagu mereka bukan semata gaya atau upaya terlihat “kebarat-baratan”. Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ketika progresif art rock mulai merambah Indonesia, para musisi pelopornya termasuk Benny Soebardja masih mencari bentuk yang tepat untuk memadukan kompleksitas musik progresif dengan lirik berbahasa Indonesia. Ada semacam kegagapan kreatif pada masa itu, tema-tema progresif terasa belum sepenuhnya menyatu ketika dipaksakan dalam bahasa yang belum terbiasa dengan struktur musikal tersebut.

Album My Life, misalnya, lebih tepat disebut sebagai proyek dengan formasi yang beragam. Di dalamnya terdapat kolaborasi Benny dengan sejumlah musisi berbeda: Harry, Alan, dan Hadi dalam proyek Benny & Lizard. Ada pula kerja sama dengan Albert Warnerin, serta Bhagu Ramchand yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Shark Move.

Pada awal 1970-an, ketika nama Shark Move berada di puncak popularitas, dua lagu mereka kerap diputar di berbagai radio rock dan hampir selalu dibawakan dalam setiap konser yaitu My Life dan Butterfly. Kedua lagu ini menjadi semacam penanda musikal Shark Move, dengan intro yang menonjolkan tiupan flute serta bunyi kibor yang impresif. Menariknya, klimaks lagu-lagu tersebut tidak dibangun oleh gitar listrik, melainkan oleh gitar akustik yang mengantar lengkingan vokal Benny berpadu dengan energi rock yang terasa sangat hidup di atas panggung.

Peran kibor yang dimainkan Soman Loebis terasa sangat kuat, terutama dalam lagu Butterfly. Pada awal dekade 1970-an, kibor merupakan instrumen yang sangat langka dan mahal, sehingga kehadirannya menjadi simbol prestise bagi band rock. Dalam konteks itu, Shark Move bersama God Bless yang kala itu juga diperkuat pemain kibor andalan menjadi pelopor progresif art rock dengan warna musikal yang terasa mewah dan berkelas.

Benny Soebardja juga pernah berkolaborasi dengan sahabat dekatnya, Bob Dook, seorang geolog asal Inggris yang telah dianggap seperti saudara sendiri. Keduanya memiliki latar belakang yang sama sebagai geolog dan pernah bekerja di rig pengeboran minyak lepas pantai di Laut Jawa. Setiap kali mendapat waktu libur, mereka kerap menghabiskannya di Bandung, sebuah kota yang menjadi ruang pertemuan ide dan kreativitas mereka.

Bob Dook sendiri banyak menulis lirik lagu, baik ketika berada di Inggris maupun saat bekerja di rig pengeboran. Salah satu karyanya, A Fortunate Paradise, terinspirasi oleh keindahan hutan Kalimantan yang memikat. Ada pula Childhood and the Sea Bird, yang mengisahkan kenangan masa kecil Bob di Inggris, penuh nuansa nostalgia tentang laut dan kebebasan masa kanak-kanak.

Kini Bob Dook telah menetap secara permanen di Singapore. Meski demikian, persahabatannya dengan Benny tetap terjalin erat. Mereka masih kerap bertemu di Singapura, dan sesekali Bob juga datang berkunjung ke Jakarta. Hubungan keduanya menunjukkan bahwa persahabatan, seperti juga musik dapat melampaui jarak, waktu, dan profesi.

Benny Soebardja sendiri dapat disebut sebagai salah satu “superstar” progresif art rock Indonesia sejak awal 1970-an. Bersama Shark Move maupun Giant Step, ia termasuk musisi yang produktif melahirkan karya-karya progresif. Kini beberapa album rekamannya, termasuk My Life, telah menjadi barang langka yang hanya dimiliki segelintir kolektor musik, sekaligus penanda penting dalam sejarah perkembangan rock progresif di Indonesia.

Penulis beruntung dapat mengenal sosok Benny Soebardja melalui media sosial, terutama lewat komunitas Benny Soebardja World Friends dan Aktuil The Legend. Dari ruang pertemanan virtual itulah penulis mulai kerap membagikan kembali arsip-arsip konser Kang Benny yang legendaris, seperti penampilan The Peels di Singapura, Pesta Musik Kemarau ’75 di Bandung, hingga konser Rock Never Die 1984 di Jakarta.

Kesempatan yang lebih berkesan datang ketika penulis akhirnya dapat berjumpa langsung dengan Kang Benny pada konser “3 Dekade Benny Soebardja” yang digelar di Hotel Horison Bandung pada Juli 2023, sebuah pertemuan singkat namun hangat dengan salah satu legenda progresif rock Indonesia.

Pada akhirnya, seperti banyak lagu lama yang kembali diputar di bulan Ramadan, karya-karya Benny Soebardja juga menghadirkan rasa yang serupa: nostalgia, perenungan, dan kesunyian yang hangat. Di antara malam-malam yang lebih tenang, ketika orang menunggu sahur atau menutup hari setelah tarawih musik progresif yang pernah ia ciptakan terasa seperti gema dari masa lalu yang masih hidup hingga kini.

Nada-nada itu mengingatkan kita bahwa perjalanan musik, sebagaimana perjalanan manusia di bulan Ramadan, selalu tentang pencarian makna: kesabaran dalam proses, kedalaman perenungan, dan harapan bahwa sesuatu yang lahir dengan kejujuran akan terus menemukan pendengarnya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia.

Benny Soebardja dan Bob Dook bersama para penggemarnya di Singapura. (Sumber: Istimewa)
Benny Soebardja dan Bob Dook bersama para penggemarnya di Singapura. (Sumber: Istimewa)

Pada bulan Ramadan, ada kebiasaan kecil yang kerap dilakukan sebagian orang kembali membuka koleksi lagu-lagu lama. Entah diputar menjelang sahur, saat menunggu waktu berbuka, atau di sela malam yang tenang setelah salat tarawih. Dalam suasana seperti itu, musik lawas sering terasa lebih hangat seolah membawa kita menelusuri kembali jejak waktu, ke sebuah masa ketika lagu-lagu lahir dari pencarian musikal yang sungguh-sungguh.

Di antara nama-nama yang kerap muncul dalam ingatan para penikmat rock klasik Indonesia, salah satunya adalah Benny Soebardja.

Ada keistimewaan dalam perjalanan musikal Benny Soebardja, musisi rock asal Bandung yang dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step. Dalam berbagai konser mereka, lagu-lagu yang dibawakan hampir selalu merupakan karya sendiri. Pada masa awal kariernya pun, Benny dan rekan-rekannya jarang menulis lagu dalam bahasa Indonesia, kecuali pada beberapa album yang muncul kemudian.

Penggunaan bahasa Inggris dalam lirik lagu mereka bukan semata gaya atau upaya terlihat “kebarat-baratan”. Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ketika progresif art rock mulai merambah Indonesia, para musisi pelopornya termasuk Benny Soebardja masih mencari bentuk yang tepat untuk memadukan kompleksitas musik progresif dengan lirik berbahasa Indonesia. Ada semacam kegagapan kreatif pada masa itu, tema-tema progresif terasa belum sepenuhnya menyatu ketika dipaksakan dalam bahasa yang belum terbiasa dengan struktur musikal tersebut.

Album My Life, misalnya, lebih tepat disebut sebagai proyek dengan formasi yang beragam. Di dalamnya terdapat kolaborasi Benny dengan sejumlah musisi berbeda: Harry, Alan, dan Hadi dalam proyek Benny & Lizard. Ada pula kerja sama dengan Albert Warnerin, serta Bhagu Ramchand yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Shark Move.

Koleksi piringan hitam Circle of Love (rilis ulang 2024) dan Majalah Aktuil edisi September 1974 milik penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Koleksi piringan hitam Circle of Love (rilis ulang 2024) dan Majalah Aktuil edisi September 1974 milik penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada awal 1970-an, ketika nama Shark Move berada di puncak popularitas, dua lagu mereka kerap diputar di berbagai radio rock dan hampir selalu dibawakan dalam setiap konser yaitu My Life dan Butterfly. Kedua lagu ini menjadi semacam penanda musikal Shark Move, dengan intro yang menonjolkan tiupan flute serta bunyi kibor yang impresif. Menariknya, klimaks lagu-lagu tersebut tidak dibangun oleh gitar listrik, melainkan oleh gitar akustik yang mengantar lengkingan vokal Benny berpadu dengan energi rock yang terasa sangat hidup di atas panggung.

Peran kibor yang dimainkan Soman Loebis terasa sangat kuat, terutama dalam lagu Butterfly. Pada awal dekade 1970-an, kibor merupakan instrumen yang sangat langka dan mahal, sehingga kehadirannya menjadi simbol prestise bagi band rock. Dalam konteks itu, Shark Move bersama God Bless yang kala itu juga diperkuat pemain kibor andalan menjadi pelopor progresif art rock dengan warna musikal yang terasa mewah dan berkelas.

Benny Soebardja juga pernah berkolaborasi dengan sahabat dekatnya, Bob Dook, seorang geolog asal Inggris yang telah dianggap seperti saudara sendiri. Keduanya memiliki latar belakang yang sama sebagai geolog dan pernah bekerja di rig pengeboran minyak lepas pantai di Laut Jawa. Setiap kali mendapat waktu libur, mereka kerap menghabiskannya di Bandung, sebuah kota yang menjadi ruang pertemuan ide dan kreativitas mereka.

Bob Dook sendiri banyak menulis lirik lagu, baik ketika berada di Inggris maupun saat bekerja di rig pengeboran. Salah satu karyanya, A Fortunate Paradise, terinspirasi oleh keindahan hutan Kalimantan yang memikat. Ada pula Childhood and the Sea Bird, yang mengisahkan kenangan masa kecil Bob di Inggris, penuh nuansa nostalgia tentang laut dan kebebasan masa kanak-kanak.

Kini Bob Dook telah menetap secara permanen di Singapore. Meski demikian, persahabatannya dengan Benny tetap terjalin erat. Mereka masih kerap bertemu di Singapura, dan sesekali Bob juga datang berkunjung ke Jakarta. Hubungan keduanya menunjukkan bahwa persahabatan, seperti juga musik dapat melampaui jarak, waktu, dan profesi.

Benny Soebardja sendiri dapat disebut sebagai salah satu “superstar” progresif art rock Indonesia sejak awal 1970-an. Bersama Shark Move maupun Giant Step, ia termasuk musisi yang produktif melahirkan karya-karya progresif. Kini beberapa album rekamannya, termasuk My Life, telah menjadi barang langka yang hanya dimiliki segelintir kolektor musik, sekaligus penanda penting dalam sejarah perkembangan rock progresif di Indonesia.

Penulis beruntung dapat mengenal sosok Benny Soebardja melalui media sosial, terutama lewat komunitas Benny Soebardja World Friends dan Aktuil The Legend. Dari ruang pertemanan virtual itulah penulis mulai kerap membagikan kembali arsip-arsip konser Kang Benny yang legendaris, seperti penampilan The Peels di Singapura, Pesta Musik Kemarau ’75 di Bandung, hingga konser Rock Never Die 1984 di Jakarta.

Baca Juga: Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Kesempatan yang lebih berkesan datang ketika penulis akhirnya dapat berjumpa langsung dengan Kang Benny pada konser “3 Dekade Benny Soebardja” yang digelar di Hotel Horison Bandung pada Juli 2023, sebuah pertemuan singkat namun hangat dengan salah satu legenda progresif rock Indonesia.

Pada akhirnya, seperti banyak lagu lama yang kembali diputar di bulan Ramadan, karya-karya Benny Soebardja juga menghadirkan rasa yang serupa: nostalgia, perenungan, dan kesunyian yang hangat. Di antara malam-malam yang lebih tenang, ketika orang menunggu sahur atau menutup hari setelah tarawih musik progresif yang pernah ia ciptakan terasa seperti gema dari masa lalu yang masih hidup hingga kini.

Nada-nada itu mengingatkan kita bahwa perjalanan musik, sebagaimana perjalanan manusia di bulan Ramadan, selalu tentang pencarian makna: kesabaran dalam proses, kedalaman perenungan, dan harapan bahwa sesuatu yang lahir dengan kejujuran akan terus menemukan pendengarnya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)