Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Di saat banyak akun Instagram lahir, viral, lalu tenggelam tanpa jejak, Dagelan Jabar memilih beradaptasi. Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor. Ia mengikuti arus—mengangkat yang sedang ramai, menerima kiriman warga, dan membuka kolaborasi

Hampir sembilan tahun berselang, Dagelan Jabar tetap muncul di linimasa, bukan karena paling serius, melainkan karena luwes membaca perubahan zaman. Ya, seperti dagelan itu sendiri.

Di balik akun tersebut, ada Nono Sugianto (43) atau yang akrab disapa Kang Nonos. Ia menjadi satu-satunya pengelola yang bertahan hingga kini.

Awalnya, Dagelan Jabar bukanlah media informasi. Akun ini tumbuh dari komunitas meme bernama Meme Be Like, tempat berkumpulnya kreator meme dan pengelola akun repost.

“Awalnya itu sebelum ada Dagelan Region, kita tergabung di Meme Be Like. Isinya anak-anak pembuat meme, anak Pidgram, anak Word. Saya termasuk di situ. Jadi memang dari awal bukan media berita, tapi komunitas kreatif yang hobi bikin konten receh,” ujar Nono.

Pertengahan 2017 menjadi titik penting. Ia diundang oleh pemilik akun Cupang Senang untuk bertemu dan membahas proyek bersama PT Invia—perusahaan yang menaungi akun besar Dagelan. Dari pertemuan itu lahirlah konsep Dagelan Region.

“Waktu itu saya perwakilan Bandung. Awalnya cuma lima region: Jabar, Jakarta, Jateng, Jogja, sama Jatim. Lama-lama berkembang sampai 23 region. Jadi memang terstruktur, ada manajemen pusatnya juga,” katanya.

Di fase awal, Dagelan Jabar dikelola empat orang. Namun seiring waktu, kesibukan membuat satu per satu admin mundur. Hingga akhirnya pada 2023, jaringan Dagelan Region resmi dibubarkan.

“Komunikasi makin jarang karena masing-masing sibuk. Akhirnya kita sepakat menonaktifkan Dagelan Region. Kebetulan akun terakhir dipegang saya, jadi saya lanjut sendiri. Sayang kalau dilepas,” ujarnya.

Keputusan mempertahankan nama Dagelan Jabar bukan tanpa pertimbangan.

“Nama ini sudah jalan hampir sembilan tahun. Belum ada nama yang lebih kuat dari Dagelan Jabar. Dan sampai sekarang juga belum ada teguran atau permintaan ganti nama. Jadi ya saya teruskan saja,” katanya.

Perubahan Arah Konten

Jika menelusuri linimasa Instagram Dagelan Jabar hari ini, nuansanya memang berbeda dibanding era awal. Konten meme masih muncul, tetapi lebih banyak video kejadian lapangan, isu viral, hingga peristiwa lokal yang dikirim warga. Nono menyebutnya sebagai random post.

“Sekarang lebih random. Kalau ada yang ramai, kita angkat. Kalau ada yang lucu, masuk. Kalau ada video kejadian di jalan, kita posting. Jadi nggak kita kotak-kotakkan harus berita atau harus humor,” jelasnya.

Perubahan itu terjadi secara alami, bukan hasil perencanaan besar.

“Dulu memang pure akun repost meme. Sekarang karena orang juga sering tag atau collab, ya kita terima saja selama aman. Intinya menyambungkan informasi,” ujarnya.

Meski begitu, satu hal yang menurutnya paling sulit justru bukan soal perubahan konten, melainkan konsistensi.

“Tantangan terbesar itu konsisten. Mau akun kecil atau besar, kalau nggak konsisten posting pasti turun. Insight turun, engagement turun. Jadi yang paling berat itu jaga ritme,” tegasnya.

Kini ia mengelola akun tersebut sendirian. Untuk menjaga interaksi tetap hidup, ia mengandalkan kolaborasi dengan akun lain dan mengikuti isu yang sedang viral.

“Kalau ada yang lagi hype, kita ikut bahas. Terus collab juga penting, karena itu ngaruh ke insight. Sekarang kan sistemnya gampang, tinggal accept kalau aman,” katanya.

Antara Humor dan Isu Sensitif

Sebagai akun yang mulai memuat konten peristiwa, potensi bersinggungan dengan isu sensitif tentu ada. Namun hingga kini, Nono mengaku belum pernah mendapat tekanan serius.

“Belum pernah sampai diancam atau ditegur keras. Pernah angkat soal banjir tiap hujan di daerah saya. Itu kan sebenarnya sensitif, tapi memang kenyataannya begitu. Kalau pun ada yang DM, ya saya minta solusi. Saya juga warga,” ujarnya.

Dalam hal verifikasi, ia masih mengandalkan konfirmasi sederhana.

“Kalau ada yang kirim video, saya lihat dulu. Kadang tanya ke teman, ini video lama bukan? Kalau ada caption yang bisa jadi masalah, saya skip dulu. Jadi minimal jangan asal posting,” katanya.

Ia menyadari, identitas “dagelan” membuat sebagian orang belum sepenuhnya melihat akun ini sebagai media informasi.

“Mungkin karena namanya Dagelan, orang masih mikir ini akun bodor. Jadi belum terlalu dianggap media serius. Tapi ya nggak apa-apa. Saya juga nggak pernah klaim ini media resmi. Random post saja,” ujarnya.

Sempat Naik, Kini Bertahan

Di masa jayanya, ketika Dagelan Region masih solid, pemasukan dari brand cukup besar. Banyak proyek masuk melalui manajemen pusat maupun tim region.

“Dulu lagi naik daun, banyak brand masuk. Ada tim marketing, ada manajemen. Kita juga pernah kerja sama dengan instansi, bantu publikasi momen tertentu. Dari situ saya ngerasa akun ini ternyata punya dampak juga,” katanya.

Namun setelah jaringan bubar, sistem berubah. Kini kerja sama lebih banyak datang lewat pesan langsung.

“Sekarang ya nunggu yang DM. Kalau ada endorse masuk, ya kita ambil. Tapi nggak seperti dulu yang sudah terstruktur,” ujarnya.

Meski begitu, Nono tak menyesali perubahan tersebut. Baginya, yang terpenting adalah akun tetap hidup.

“Yang nggak nyangka itu bisa bertahan hampir sembilan tahun. Dari awal cuma akun meme, sampai sekarang jadi akun yang kadang orang pakai buat nyampein informasi. Buat saya itu sudah cukup,” katanya.

Di tengah menjamurnya akun informasi lokal dan media “homeless” di Instagram, Dagelan Jabar berdiri di wilayah abu-abu: bukan sepenuhnya media berita, tetapi juga bukan lagi sekadar akun humor.

“Ya bisa dibilang media humor yang dibalut informasi. Intinya mah gas aja. Mau collab ayo, mau laporan ayo. Yang penting informasinya nyampe,” tutup Nono.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)