Pekerja kontrak Indonesia pertama kali datang ke Suriname pada 9 Agustus 1890, mereka ditempatkan di perkebunan tebu, kopi, dan pertambangan bauksit. Para pekerja kontrak umumnya direkrut melalui werek, seorang pencari tenaga kerja yang kerap kali tidak jujur (kalau sekarang namanya calo TKI). Bahkan cara merekrutnya tidak jarang menggunakan ilmu mistik, dan guna-guna. Umumnya, calon pekerja itu diiming-imingi dengan janji yang muluk.
Selain dari Indonesia, datang pula rombongan pekerja dari India dan Tiongkok. Hal ini yang membuat corak masyarakat di Suriname menjadi penuh warna.
Itulah paragraf-paragraf yang tertulis di sampul belakang buku Novel Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname. Karya Koko Hendri Lubis. Suriname merupakan sebuah negara bagian amerika latin, yang dulu sempat dikuasai oleh Belanda. Seperti yang kita ketahui bahwa Suriname memiliki keterkaitan erat dengan Indonesia, khususnnya Bangsa Jawa. Betapa tidak orang-orang Suriname sebagain besar penduduknya adalah orang-orang Jawa yang merupakan keturunan orang-orang Jawa yang dulu merantau ke Suriname.
Nah, Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname, setelah jungkir balik menjalani kesedihan demi kesedihan di Jawa dan berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Suriname. Novel ini berpusat pada tokoh utama Supriono, ia merupakan keturunan Jawa. Bersama kedua orang tuanya Sasongko dan Hartini beserta adik laki-lakinya Sukarjo, mereka berangkat menjadi tenaga kerja pertama dari Jawa bersama para pekerja lainnya yang hijrah ke Suriname, kota tujuan Paramaribo dengan menggunakan Kapal SS Emma. Dengan harapan akan memiliki hidup yang lebih baik.
Setelah sampai di sana mereka ditempatkan di pertambangan Moengo, mereka bekerja di pertambangan bauksit SBM (Surinaamsche Bauxiet Maatschappij) secara tradisional, lalu beberapa tahun kemudian Sasongko pemelihara mesin, lalu meningkat menjadi mandor, dan kepala kampung. 6 bulan sebelum masa kontrak habis. Hartini sakit, sebagaimana kehidupan orang-orang Jawa yang penuh dengan kepercayaan mistik,klenik dan dukun, Ayah Supriono, Sasongko juga cenderung menggunakan Jasa dukun ketimbang dokter untuk mengobati istrinya yang sedang sakit, alhasil istrinya meninggal dunia karena terkena Hepatitis. Pimpinan pabrik yang mengetahui bahwa Sasongko tidak melaporkan penyakit istrinya kemudian dipindahkan dan pangkatnya diturunkan menjadi bagian kilang kayu seabgai buruh biasa.
Setelah kematian Istrinya, Sasongko kemudian kumat lagi bermain Judi, apalagi istri barunya ini juga mendukung tabiat suaminya ini untuk berjudi. Setelah masa kontrak habis di Moengo, mereka kemudian pergi ke kota Paramaribo, dan menghadapi culture shock dari desa ke kota. Sasongko kemudian menekuni pekerjaan lamanya yakni menjadi tukang servis jam. Berbeda dengan ayahnya, Supriono termasuk tokoh yang beruntung karena mengenyam pendidikan di Suriname, dimulai dari masuk ke sekolah BLO Buitengewoon Lager Onderwijs, pendidikan dasar luar biasa di distrik di sana ia diajarkan baca tulis dan berhitung oleh seorang guru baik hati bernama Nathalie Kuipers. Kemudian setelah selesai ia dimasukkan menjadi murid di perbengkelan KVD dan kemudian atas bantuan Tuan van Breukelen ia masuk menjadi murid Algemene Handel School Selecta. Setelah merampungkan sekolahnya, Supri menganggur, dan kemudian banting setir menjadi seorang pelukis, tak sengaja seorang jurnalis langganan ayahnya Joop van den Berg melihat bakat Supri, dan memintanya melukis, lalu lukisannya dimuat di koran. Supri menutarakan keinginannya untuk belajar Grafika maka diajaklah Supri ke kantor penerbitan H.H. Munster. Di sana ia kemudian belajar membuat klise karikatur, dan lambat laun ia melamar sebagai Jurnalis di salah satu Surat Kabar terkemuka di Suriname, Moedig. Dengan profesinya ini ia memiliki koneksi kepada orang-orang dari berbagai kalangan, dan dari berbagai macam profesi.
Supriono juga menulis berita dan artikel dengan nama Pena Bok Doro. Ia menulis tentang berita dan artikel terkait apa yang ada di sekitarnya, tentang keresahan buruh, kesewenang-wenagnan oppas dan pemilik pabrik, ketidakadilan, kesetaraan gender dll. Ia juga menjadi saksi hidup pergolakan politik pro kontra revolusi Tiongkok, lalu para pekerja Tiongkok diperlakukan tidak adil oleh pimpinan pabrik, puncaknya adalah pemberontakan Tionghoa yang membunuh Dave van Nellen dan Theo. Pengawas tertinggi pabrik bauksit.
Supriono juga ikut serta dalam perkembangan politik di Suriname, bahkan ia ditunjuk menjadi ketua partai Leluhur yang berorientasi pada perjuangan bangsa Indonesia di Suriname. Misinya adalah mendesak pemerintah untuk mendatangkan kapal untuk memulangkan para pekerja dari Suriname ke Indonesia.
Panggilan suara hati akan kampung halaman memang tak bisa ia tolak, setelah huru-hara dan ribut-ribut sosial, ras, politik, pemberontakan orang-orang Tiongkok di Suriname mereda. Ia dan istrinya, Mei Ching . Kemudian memilih untuk kembali ke Indonesia. Setelah 4 tahun Indonesia Merdeka.
Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa tak ada gading yang tak retak, begitu juga Novel ini, yang tentu saja di sana-sini masih banyak kekurangan. Dari adegan-adegan keluarga Supriono dan para pekerja yang kurang menyentuh dan dramatis, kemudian setting tempat di Suriname yang kurang mendetail, dan drama kehidupan orang-orang yang jauh dari kampung halamannya kurang terasa. Padahal Koko memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan mengeksplor hal itu, karena novelnya ini memang memungkinkan Koko untuk melakukan itu. Tapi sayangnya Koko tidak memanfaatkan imajinasinya dengan baik, meskipun memang dalam membawakan karakter tokoh dan dialognya Koko sudah cukup luwes dan baik. Kemudian data-data sejarah yang masih mentah dan kurang maksimal diolah/digunakan dengan baik oleh penulis. Ini tentu saja menjadi catatan sendiri bagi novel ini.

Namun di balik kekurangan-kekurangan itu kita juga patut mengapresiasi si penulis, meskipun menurut saya ia kurang berhasil dalam membawa pembaca memahami dan menyelami batin para pekerja Jawa di Suriname dan kurang mendetail dalam menjelaskan tentang seluk beluk Suriname, tapi setidaknya Koko sudah mencoba untuk mengangkat tentang pekerja-pekerja Jawa yang mencoba mengadu nasib ke Suriname, dengan segala pergolakan batin, sosial, budaya, dan politik di dalamnya.
Koko setidaknya sudah berusaha dan berani menulis tentang nasib para pekerja-pekerja Jawa yang merantau ke Suriname, yang jarang diketahui dan ditulis dalam bentuk Novel. Dan dalam catatan sejarah, kebanyakan dari pekerja Suriname ini tak pernah kembali lagi ke pelukan keluarganya. Koko mengakhiri novel ini dengan semangat happy ending yang penuh harapan, dan sangat sederhana. Begitulah Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname mengakhiri perjalanannya, sekaligus membuka musim dan harapan baru. (*)
Informasi Buku
Judul: Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname
Pengarang: Koko Hendri Lubis
Penerbit: Diva Press
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan pertama, Mei 2021
Halaman: 172 hlm.
ISBN: 978-602-391-838-6