Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

6 menit baca
shabrina Azatil Ismah Pranadinata
Ditulis oleh shabrina Azatil Ismah Pranadinata diterbitkan
Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam seluruh aspek kehidupan. Akses informasi menjadi lebih cepat, sistem pembelajaran pun semakin fleksibel, dan komunikasi akademik berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Kehidupan di kampus kini secara tidak langsung menuntut mahasiswa untuk terus berprestasi di banyak bidang sekaligus.

Mahasiswa saat ini dicitrakan sebagai individu yang tidak hanya datang ke kelas dan mengerjakan tugas, tetapi juga harus aktif mengikuti organisasi, magang, menambah aktivitas di luar kelas hingga melakukan beberapa proyek penelitian. Bahkan, sebagian ada yang membangun citra diri di media sosial dengan berkuliah sembari menjalani pekerjaan paruh waktu.

Di media sosial, hal ini sering dianggap sebagai mahasiswa yang produktif dan sukses. Fenomena seperti ini juga biasa dikenal sebagai hustle culture, yaitu kebiasaan untuk terus bekerja dan mengejar pencapaian tanpa henti. Budaya ini dipandang sebagai cara untuk menuju kesuksesan di tengah persaingan yang semakin ketat. Dan pastinya hal ini menjadi nilai yang diikuti oleh mahasiswa masa kini.

Produktif memiliki arti yang baik dengan mengajak mahasiswa untuk tidak menyia-nyiakan peluang. Namun, saat ini maknanya berubah menjadi tuntutan yang harus dilakukan. Media menggambarkan mahasiswa harus terus sibuk agar dianggap berhasil dan tidak tertinggal dari teman sebaya. Karena ketakutan tersebutlah mahasiswa menjadikan pilihan menjadi sebuah kewajiban.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sistem Informasi TGD pada tahun 2026 menemukan bahwa 55% responden anak muda mengalami burnout akibat tekanan untuk terus produktif. Penelitian yang dilakukan oleh Simangunsong dan rekan-rekannya tersebut yang menunjukkan bahwa tuntutan untuk selalu produktif telah menjadi persoalan yang nyata. Pertanyaannya adalah, bagaimana dampaknya pada beban kerja mental mahasiswa? Budaya untuk harus selalu produktif di era digital perlu dimaknai kembali agar tidak menjadi beban psikologis seperti burnout.

Media Sosial dan Standar Kesibukan sebagai Tolak Ukur Kesuksesan?

Media sosial kini berisi pencapaian dan kesibukan orang lain yang menjadi algoritma mahasiswa saat membuka gawai mereka. Algoritma media sosial mendorong penggunanya untuk terus mengonsumsi konten secara berlebihan. Paparan konten yang serupa akan muncul berkali-kali dan tanpa disadari oleh pengguna.

Sebuah penelitian mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku mahasiswa yang dimuat di Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora pada tahun 2023 menjelaskan bahwa paparan konten berlebihan menjadikan mahasiswa memiliki ketakutan tersendiri sehingga muncul rasa ingin berlomba mengikuti standar sosial yang berlaku. Standar sosial yang berkembang kini menganggap kesibukan identik dengan kesuksesan. Hal tersebut membuat mahasiswa berpikir bahwa semakin tinggi nilai pada dirinya berasal dari jadwal kegiatan yang semakin padat jadwalnya.

Pengaruh lain dari algoritma yang tak terbatas ini mahasiswa mulai mengikuti standar media sosial dengan mengisi waktu untuk berbagai kegiatan tapi melupakan kapasitas diri sendiri. Pencapaian yang ditampakkan di media sosial memang tampak menarik, sehingga penonton seperti mahasiswa akan membandingkan diri dengan jumlah kegiatan yang dilakukan. Padahal produktif seharusnya bermakna menjaga kualitas pekerjaan dan kemampuan dalam menyelesaikan tugas dengan baik. Sehingga perbandingan diri sendiri akan jumlah aktivitas dengan media sosial tidak perlu dilakukan. Selain itu, apa yang tampak di media sosial pun sebenarnya tidak mencerminkan kondisi sebenarnya orang tersebut.

Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)
Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)

Ketika Produktif Berubah Menjadi Toxic Productivity

Sikap produktif pada dasarnya memiliki makna yang positif apabila dilakukan sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu. Namun, sikap tersebut dapat berubah menjadi toxic productivity ketika seseorang memaksakan diri untuk terus bekerja hingga menimbulkan beban mental.

Menurut artikel yang diterbitkan oleh Satu University mengenai burnout pada mahasiswa, kondisi beban mental ditandai dengan tiga komponen. Yang pertama adalah tuntutan yang terus menerus dan berkepanjangan mengenai tugas yang harus diselesaikan sehingga memunculkan kelelahan emosional. Lalu dilanjutkan dengan sikap sinis bahkan hilangnya minat terhadap perkuliahan atau yang biasa disebut depersonalisasi. Dengan dua hal tersebut jelas akan membuat penurunan capaian akademik karena perasaan tidak kompeten yang dialami oleh mahasiswa. Ketiga nilai tersebut ternyata juga muncul dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sistem Informasi TGD, Simangunsong dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa 55% anak muda mengalami burnout. Inilah yang menunjukkan toxic productivity benar adanya dan bukan hanya persoalan individu. Apalagi jika mahasiswa yang mengalaminya. Mahasiswa dituntut ganda dengan mengikuti kuliah sambil bekerja, mengikuti kuliah sambil mengikuti aktivitas organisasi. Sehingga burnout pada mahasiswa akan semakin besar terjadi akibat keinginan yang sempurna tetapi regulasi emosinya masih rendah.

Dampak Toxic Productivity pada Kesehatan Mental Mahasiswa

Gangguan kesehatan mental datang saat mahasiswa terus memaksakan diri belajar tanpa istirahat yang cukup. Gangguan mental ini tidak muncul tiba-tiba melainkan berkembang perlahan seiring berjalannya waktu. Kondisi ini dapat menurunkan konsentrasi dan produktivitas belajar. Karena beban kerja yang terus menerus dipaksakan, mahasiswa juga mengalami burnout yang berpotensi mengganggu kualitas tidur hingga menurunkan motivasi terhadap perkuliahan. Keinginan untuk menunda-nunda tugas pun menjadi beban akademik tersendiri. Maka dari itu mahasiswa perlu menyadari kapasitas diri akan beban kerja yang mereka paksakan sendiri. Jika beban kerja terlalu tinggi maka kesehatan mental akan terganggu.

Terdapat beberapa dampak dari toxic productivity ini dari sisi dunia kerja. Kecemasan akibat tuntutan yang berlebihan dapat menurunkan produktivitas kerja 20% hingga 30%. Para pekerja seringkali tidak memberikan batas antara waktu bekerja dan waktu istirahat dengan optimal akibat tekanan teknologi. Budaya produktivitas yang seharusnya menjadi cara untuk menuju sukses malah menjadi ancaman gangguan kesehatan mental mahasiswa. Gangguan cemas dan lelah yang dibiarkan berkepanjangan akan membuat seseorang menjadi sulit berpikir, dan terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan.

Memaknai Ulang Produktivitas yang Sehat

Dari berbagai persoalan di atas, produktivitas perlu dimaknai ulang dan digambarkan ulang di media secara sehat. Produktivitas bukanlah jumlah kegiatan yang dilakukan dalam sehari, tetapi produktivitas adalah hasil dari kualitas yang dicapai. Mahasiswa perlu mengerucutkan lagi prioritas yang akan diikuti, menyeleksi kegiatan-kegiatan yang sudah di luar kemampuan diri. Produktivitas harusnya fokus kepada kemampuan dalam mengatur waktu yang baik, di mana mahasiswa juga perlu mengatur regulasi emosi agar mampu menghadapi tekanan tanpa memaksakan diri berlebihan.

Dalam keadaan yang sudah terlanjur toxic untuk memaknai produktivitas, maka kampus perlu andil untuk menciptakan lingkungan belajar yang turut memperhatikan kesehatan mental mahasiswanya. Dengan begitu kampus dapat membantu mahasiswa agar jauh dari burnout. Pendekatan institusi seperti membuat sistem pembelajaran yang adaptif juga membantu mengurangi tekanan. Dan mahasiswa perlu membuat batas digital untuk agar tidak terpapar konten yang seakan menuntut harus memiliki banyak pekerjaan maupun kuliah sepanjang waktu. Mahasiswa perlu meluangkan waktu istirahat yang cukup, dan hobi yang dapat membantu memulihkan energi. Dengan begitu antara individu dan institusi dapat seimbang menjalani makna produktivitas secara sehat.

Dari uraian diatas dapat dilihat bagaimana hustle culture berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Padahal hustle culture pada awalnya untuk mendorong mahasiswa agar berkembang pada masa studinya. Tetapi seiring berjalannya waktu, jumlah kegiatan menjadi tolak ukur keberhasilan masa perkuliahan. Dan perlahan menjadi ancaman bagi kesehatan mental bagi yang menjalankannya. Beberapa data dan penelitian juga menunjukkan bahwa tuntutan yang berlebihan malah memicu burnout.

Selain burnout, kualitas dan prestasi akademik mahasiswa pun menjadi menurun. Mahasiswa yang sebelumnya berkembang secara optimal malah kehilangan energi untuk belajar dan berkarya karena tidak fokus pada kualitas.

Oleh karena itu, produktif harus dimaknai ulang sebagai proses untuk mengejar kualitas. Selain itu, mahasiswa harus memiliki ruang untuk beristirahat dan menentukan prioritas sesuai kapasitas masing-masing. Karena menggali dan mengenali diri sendiri juga sama pentingnya dengan mencapai target akademik. Dan institusi pendidikan juga perlu mendukung dengan membuat lingkungan belajar yang sehat secara psikologis. Dengan begitu, produktivitas tetap terjaga maknanya tanpa perlu mengorbankan kesehatan mental mahasiswa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

shabrina Azatil Ismah Pranadinata
Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)