Tamansari Menjadi Saksi: Mahasiswa Bandung Melawan Pembredelan Pers 1994

3 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Halaman muka Harian Umum MANDALA memuat berita utama unjuk rasa mahasiswa Bandung warnai pembredelan tiga media cetak ibu kota: Tempo, Editor dan Detik. (Sumber: Koleksi dan foto Kin Sanubary)
Halaman muka Harian Umum MANDALA memuat berita utama unjuk rasa mahasiswa Bandung warnai pembredelan tiga media cetak ibu kota: Tempo, Editor dan Detik. (Sumber: Koleksi dan foto Kin Sanubary)

Halaman muka Harian Umum Mandala edisi 24 Juni 1994, yang terbit 32 tahun silam, memuat berita utama mengenai gelombang unjuk rasa yang muncul setelah pemerintah Orde Baru membatalkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) tiga media nasional: Tempo, Editor, dan Detik. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan kebebasan pers di Indonesia.

Di Bandung, Jalan Tamansari menjadi saksi perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi. Kawasan yang lekat dengan kehidupan akademik itu dipenuhi suara protes setelah pemerintah melalui Departemen Penerangan mengumumkan pencabutan SIUPP ketiga media tersebut pada 21 Juni 1994.

Keputusan itu segera memicu reaksi luas di berbagai daerah. Bandung, yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat gerakan mahasiswa, tidak tinggal diam. Sebuah berita singkat yang dimuat Harian Mandala mencatat aksi mahasiswa yang berlangsung di Jalan Tamansari sekitar pukul 11.00 WIB. Meski hanya beberapa baris, catatan itu merekam semangat perlawanan generasi muda terhadap kebijakan yang dinilai mengancam kebebasan memperoleh informasi.

Bagi mahasiswa saat itu, pembredelan bukan sekadar penghentian penerbitan tiga media. Lebih dari itu, tindakan tersebut dipandang sebagai bentuk pembatasan hak publik untuk mendapatkan informasi yang bebas, kritis, dan independen. Pers memiliki fungsi penting sebagai penyampai fakta, pengawas kekuasaan, sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik.

Penulis menunjukkan koleksi arsip koran MANDALA terbitan 32 tahun silam, mengenai pembatalan SIUPP tiga media cetak. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis menunjukkan koleksi arsip koran MANDALA terbitan 32 tahun silam, mengenai pembatalan SIUPP tiga media cetak. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Tak mengherankan jika Tamansari menjadi salah satu titik berkumpulnya aksi penolakan. Berdekatan dengan sejumlah kampus besar, kawasan ini kerap menjadi ruang ekspresi berbagai gerakan sosial dan politik mahasiswa. Ketika kabar pembredelan menyebar, mahasiswa dari berbagai organisasi dan perguruan tinggi turun ke jalan membawa poster, spanduk, serta tuntutan agar pemerintah mencabut keputusan pembatalan SIUPP terhadap Tempo, Editor, dan Detik.

Peristiwa tersebut terjadi pada masa ketika kehidupan pers Indonesia masih berada dalam pengawasan ketat pemerintah. Melalui mekanisme perizinan, negara memiliki kewenangan untuk menghentikan penerbitan media yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan penguasa. Karena itu, pencabutan SIUPP terhadap ketiga media tersebut segera menuai kritik dari berbagai kalangan, mulai dari wartawan, akademisi, aktivis, hingga mahasiswa.

Di Bandung, perlawanan tidak hanya diwujudkan melalui demonstrasi. Mimbar bebas, diskusi kampus, serta penerbitan buletin mahasiswa menjadi sarana untuk menyuarakan kegelisahan terhadap masa depan kebebasan pers. Peristiwa pembredelan dipandang sebagai bukti bahwa ruang demokrasi masih sempit dan kebebasan berpendapat belum sepenuhnya terjamin.

Gelombang solidaritas yang muncul di berbagai kota menunjukkan bahwa masyarakat tidak tinggal diam ketika akses terhadap informasi dibatasi. Mahasiswa Bandung menjadi bagian dari gerakan masyarakat sipil yang menuntut keterbukaan, transparansi, dan kebebasan berekspresi di tengah kuatnya kontrol negara terhadap media.

Empat tahun kemudian, Reformasi 1998 mengguncang fondasi kekuasaan Orde Baru. Banyak tuntutan yang sebelumnya disuarakan mahasiswa akhirnya menemukan jalannya. Sistem perizinan pers yang selama bertahun-tahun menjadi instrumen kontrol pemerintah dihapuskan, membuka babak baru bagi kehidupan pers Indonesia yang lebih bebas dan independen.

Potongan berita tentang aksi mahasiswa di Jalan Tamansari mungkin tampak sederhana. Namun, di balik catatan singkat itu tersimpan kisah yang jauh lebih besar: keberanian mahasiswa membela kebebasan pers, solidaritas terhadap insan media, dan tekad mempertahankan ruang publik agar tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kekuasaan.

Lebih dari tiga dekade telah berlalu, tetapi peristiwa itu tetap layak dikenang. Jalan Tamansari bukan hanya menjadi lokasi demonstrasi, melainkan juga ruang sejarah yang merekam semangat perlawanan generasi muda terhadap pembungkaman suara kritis. Dari jalan itulah mahasiswa Bandung turut menyuarakan keyakinan bahwa kebebasan pers merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jun 2026, 17:26

Jejak dan Pengaruh Kesenian Barat dalam Perkembangan Seni Modern Indonesia

Menjelajahi jejak seni modern di Indonesia melalui pengaruh datangnya bangsa Eropa ke Indonesia.

Seniman Raden Saleh yang melukis dengan gaya lukis Eropa sebagai pelopor seni modern di Indonesia.  (Sumber: wikimedia.org)
Wisata & Kuliner 25 Jun 2026, 17:24

Itinerary Bali Seminggu: Jelajah Selatan, Tengah, Timur, hingga Utara Pulau Dewata

Rencana liburan Bali 7 hari lengkap dari Uluwatu, Nusa Penida, Ubud, Kintamani hingga Karangasem. Cocok untuk first timer dan wisata keluarga.

Bali. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 17:08

Politik Populer vs Tata Kelola: Birokrasi yang Tergerus

Fenomena ini membuat politik terasa seperti panggung hiburan, di mana popularitas dan viralitas menjadi kompas utama kala tersesat dan tak tahu arah.

Ilustrasi kata politik. (Sumber: Pexels | Foto: Tara Winstead)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 16:16

Manik Maya, Ibu Bumi dan Bapak Langit

Acara Ngertakeun Bumi Lamba sendiri adalah sebuah ritual sakral yang diselenggarakan di Hutan Tangkuban Parahu.

Saya (penulis) bersama kawan-kawan pecinta budaya Lembang dalam acara ngertakeun bumi lamba 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 16:03

Tamansari Menjadi Saksi: Mahasiswa Bandung Melawan Pembredelan Pers 1994

Di Bandung, Jalan Tamansari menjadi saksi perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi.

Halaman muka Harian Umum MANDALA memuat berita utama unjuk rasa mahasiswa Bandung warnai pembredelan tiga media cetak ibu kota: Tempo, Editor dan Detik. (Sumber: Koleksi dan foto Kin Sanubary)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 15:48

Mengapa Dasar Cekungan Bandung Datar?

Inilah proses yang menyebabkan dasar Cekungan Bandung menjadi datar.

Permukaan dasar Cekungan Bandung yang datar. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 12:46

Bukan Sekadar Rongsokan, Besi Tua Damri Jatinangor

Deru mesin tua DAMRI pernah mengantar ribuan mahasiswa menuju mimpi mereka.

Armada DAMRI generasi lama yang terparkir di Depo DAMRI Gedebage (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Naufal Farras)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 11:39

Literasi, Fabel, dan Al-Razi

Rasanya asyik sekali ketika menemukan bacaan yang penuh dengan hikmah.

Aa Akil bergaya dengan buku Serunya Dunia Fabel, karya Kelas V Al-Razi SD Islam Al-Amanah, penerbit Dandelion Publisher,  cetakan pertama Mei 2026, editor Utrujah Alesha. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 25 Jun 2026, 11:23

Panduan Berkunjung ke Museum Geologi Bandung: Menjelajahi 4,5 Miliar Tahun Sejarah Bumi dengan Tiket Rp5.000

Museum Geologi Bandung menyimpan lebih dari 250.000 koleksi batuan dan 60.000 fosil. Simak harga tiket, koleksi unggulan, dan panduan berkunjung.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Biz 25 Jun 2026, 10:34

Kembara Niaga Dama Kara Menjadi Satu-satunya UMKM Kelas 4 di Bandung

UMKM yang ada di kelas itu memang langka, tetapi bagaimana cara sampai di sana?

Salah satu sudut toko Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 09:56

Batujajar dan Militer: 'Mesra' sejak Masa Kolonial

Menilik secara historis bagaimana Batujajar dan militer hidup secara berdampingan sejak masa kolonial.

Jembatan Batujajar pada tahun 1925 (Sumber: KITLV)
Beranda 25 Jun 2026, 09:11

Kimung, Anak Ujungberung yang Tak Pernah Meninggalkan Musik

Kimung tak pernah benar-benar meninggalkan musik. Dari Burgerkill, Ujungberung Rebels, hingga Karinding Attacks, ia terus merawat kultur musik dari Bandung.

Di Atap Class, Kimung terus merawat arsip, pengetahuan, dan regenerasi komunitas kreatif lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:47

Budaya Self-reward dan Hubungannya dengan Konsumerisme Gen Z

Self-reward yang awalnya bertujuan sebagai bentuk apresiasi diri setelah mencapai target atau melewati masa sulit sering kali berubah menjadi alasan untuk berbelanja secara berlebihan.

Ilustrasi belanja. (Sumber: Pexels | Foto: Max Fischer)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:34

Unjuk Rasa Mahasiswa, Sinar Asta Cita dan Suguhan Humor Segar

Jika segala aspek masalah ketenagakerjaan bisa ditangani dengan baik, niscaya 60 persen masalah bangsa ini kelar.

Unjuk rasa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 18:45

Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

Mengkritisi kesenjangan antara ambisi transformasi digital Indonesia dan rapuhnya fondasi infrastruktur energi.

Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 17:57

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Tantangan berat sektor pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen.

Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)