Seperti yang kita ketahui, terdapat bus DAMRI rute Dipatiukur–Jatinangor yang hingga kini masih beroperasi dan sering berlalu-lalang. Bus DAMRI ini menjadi saksi bisu perjuangan ribuan sarjana serta para mahasiswa yang pulang-pergi dari Bandung ke Jatinangor demi mengikuti perkuliahan.
Transportasi ini menjadi andalan mahasiswa sejak kampus Unpad dipindahkan secara besar-besaran ke Jatinangor pada 1980-an. Saat ini, kampus Dipatiukur digunakan untuk kegiatan akademik pascasarjana (S2 dan S3), serta berbagai kegiatan lain seperti wisuda, pengukuhan guru besar, dan sumpah profesi.

Berbicara mengenai kelebihan bus DAMRI, salah satu yang paling menonjol adalah tarifnya yang sangat terjangkau bagi pelajar dan mahasiswa. Dengan biaya hanya Rp2.000, mahasiswa sudah dapat menempuh perjalanan dari Bandung ke Jatinangor. Tarif murah ini memungkinkan mahasiswa menghemat ongkos sekaligus menjangkau jarak yang cukupjauh dengan mudah.
Namun, jika dilihat dari sisi lain, sisa-sisa kejayaan bus tersebut kini hanya dapat ditemukan dalam wujud deretan besi tua berkarat yang mulai terlupakan di sudut-sudut depo. Secara sederhana, depo merupakan pusat operasional utama dalam sebuah perusahaan transportasi. Apabila bus dianalogikan sebagai manusia, maka depo berfungsi sebagai tempat tinggal, fasilitas perawatan, sekaligus pusat administrasi.

Dilihat lebih dekat, unit bus legendaris Mercedes-Benz seri OF 1113 atau yang akrab dipanggil si "moncong depan" adalah artefak sejarah yang luar biasa tangguh. Secara fisik, bodinya terkenal sangat tebal karena menggunakan pelat baja kokoh, rahasia di balik awetnya mesin ini meski harus menempuh rute panjang setiap harinya.
Desainnya yang kaku dan berbentuk kotak mirip "roti tawar" merupakan ciri khas bodi O306 garapan karoseri German Motor Manufacturing (GMM) yang sangat populer di tahun 80-an. Di dalam kabin, mesin OM352 6 silinder berada tepat di samping sopir dengan raungan suara yang bising, nyaring, dan kasar. Pemandangan khas lainnya adalah asap hitam pekat yang membumbung saat bus dipaksa menanjak, sebuah konsekuensi dari teknologi emisi lawasnya. Kini, meski kondisinya sudah afkir dengan cat terkelupas dan mesin yang tak lagi utuh, tumpukan besi tua ini tetap menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa di masa lalu.

Di dalam kabin bus yang kala itu belum tersentuh sejuknya AC, tercipta sebuah ruang sosial unik bagi penumpangnya. Para mahasiswa rela berebut kursi hingga berhimpitan di ruang yang sempit, terutama saat jam-jam genting keberangkatan kuliah. Di tengah keriuhan itu, terekam beragam potret manusia mulai dari yang asyik berdiskusi soal tugas, tertidur pulas akibat begadang semalaman, hingga mereka yang melamun menatap jalanan, semuanya bercampur dalam satu ruang dan momen.
Pengalaman berdesak-desakan, atau yang akrab disebut mahasiswa sebagai 'ngojay', pada akhirnya melahirkan ikatan emosional sekaligus tradisi budaya antre yang kuat. Menariknya, warisan kebiasaan tersebut tetap terjaga hingga hari ini, mulai dari etika mengantre hingga dinamika di dalam bus, meski kini semuanya telah berbalut fasilitas modern yang jauh lebih tertata dan praktis.
Deretan besi tua yang berjajar di depo bukanlah sekadar tumpukan rongsokan. Bus-bus yang kini terbengkalai itu merupakan saksi sejarah yang setia menemani perjuangan mahasiswa sejak Unpad mulai berpindah ke Jatinangor pada 1980-an. Selain memudahkan mobilitas, keberadaannya secara tidak langsung ikut membentuk kehidupan kampus dan memajukan kawasan Jatinangor hingga seramai sekarang. Di era yang serba modern ini, merawat memori tentang bus legendaris tersebut adalah cara kita menghormati sejarah panjang pendidikan agar tidak hilang berkarat dan habis ditelan waktu. (*)
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. (2021). Bab IV Gambaran Umum: Sejarah Jatinangor. Digital Library ITB.
Savorta, R. P. (2020). Perkembangan Kecamatan Jatinangor Menjadi Kota Perguruan Tinggi Tahun 1982 - 2013 [Skripsi, Universitas Diponegoro].
Sulaksono, H. (2025, 16 September). Sejarah DAMRI, Bus Jagoan Warga Bandung. AyoBandung.id.
Ucu, K. R. (2026, 28 Januari). Tarif MJT Rute Dipatiukur-Jatinangor Diumumkan, Mahasiswa Cukup Bayar Rp2.000. Republika.
Universitas Padjadjaran. (t.th.). Sejarah. https://unpad.ac.id (Diakses pada 17 April 2026).