Tumbuh Kembali untuk Damri Leuwipanjang—Ledeng

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Damri Ledeng-Leuwipanjang. (Sumber: Youtube | Foto: ATAR ALIF CHANNEL)
Damri Ledeng-Leuwipanjang. (Sumber: Youtube | Foto: ATAR ALIF CHANNEL)

Sebagai pengguna layanan DAMRI sejak 2016-- tentu secara pribadi saya punya kenangan tersendiri dengan armada yang menjadi ikon penting bagi sejarah transportasi khususnya di Kota Bandung. Bagi saya DAMRI bukan sekedar transportasi yang mempermudah mobilitas saya sebagai warga Kota Bandung tapi lebih dari itu.

DAMRI adalah armada yang ramah terhadap semua kalangan--cukup dengan Rp.4000—Rp.5000 saja sudah bisa mengakses lokasi yang terbilang cukup jauh. Tak hanya hemat, DAMRI juga memberikan kenyamanan dari panas terik matahari di siang hari dan dari Bandung saat musim hujan.

Sekitar tahun 2016 saya pernah mengikuti salah satu diklat yang diselenggarakan oleh Yayasan Darut Tauhid, di mana kegiatan itu dilaksanakan pada akhir pekan. Setelah lelah berkegiatan DAMRI memang armada yang tepat untuk meregangkan tubuh yang sedikit kaku. Dengan jumlah kursi yang banyak juga tersedia ac yang menyejukkan badan setelah berlumuran keringat. Di bandingkan dengan naik angkot yang harus turun-naik beberapa kali untuk menuju leuwipanjang. DAMRI memang pernah jadi idola pada masanya.

Tanpa kita sadari DAMRI selalu setia menemani setiap langkah mimpi dari para mahasiswa di Kota Bandung yang memperjuangkan pendidikannya. Membersamai langkah para pedagang kecil yang berjuang untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Merangkul para kaum marjinal untuk sedikit mencari pundi-pundi kehidupan. Begitu banyak cerita, begitu banyak realita sosial di depan mata--yang bahkan jarang terlihat oleh mata-mata pemilik kebijakan.

Damri dengan rute Leuwipanjang--Ledeng memiliki rute yang cukup jauh dan melewati beberapa lokasi penting seperti UPI, Pesantren Darut Tauhid, Rumah Mode, Cihampelas, Paskal dan Pasar Baru. DAMRI rute ini juga membantu warga Bandung yang berniat berwisata ke arah Lembang tapi tidak memiliki kendaraan pribadi. Selain mengurangi kemacetan tentu penggunaan DAMRI juga membantu meminimalisir budget liburan. Misalnya untuk menuju wisata terdekat yaitu Farm House bisa diakases menggunakan DAMRI lalu dilanjutkan dengan angkot Lembang-Stasiun Hall.

Dulu DAMRI rute ini beroperasi dari jam 06.00 hingga 17.00 dengan jumlah armada yang cukup banyak karena bisa menyediakan keberangkatan setiap 15-30 menit. Namun hari ini rasanya DAMRI seperti kehilangan kejayaannya. Kemajuan zaman dan makin menjamurnya kendaraan pribadi tentu banyak menggerus berbagai macam bisnis atau armada transportasi umum.

Dilansir dari detikfinance.com pada tahun 2021 DAMRI sempat memberhentikan operasionalnya karena kerugian finansial akibat kesulitan memenuhi kebutuhan operasional karena jumlah penumpang yang makin menurun. Kita sadari bahwa efek pandemi Covid-19 pada tahun 2020 memang banyak meluluh-lantahkan hampir semua sektor kehidupan, khususnya sektor perekonomian. Banyak perusahaan merumahkan para karyawannya karena aturan sosial distancing. Perputaran operasional beberapa sektor industri melambat karena permintaan pasar menurun. Banyak masyarakat yang kekurangan sehingga mengesampingkan kebutuhan sekunder.

Tahun-tahun setelahnya juga tidak mudah bagi masyarakat dan pemilik usaha untuk bangkit. Bahkan hingga akhir tahun 2025 makin menjamur pengangguran karena lapangan pekerjaan yang tidak bertumbuh.

Pada tahun 2025 DAMRI Leuwipanjang--Ledeng sempat berhenti sementara selama satu pekan untuk antisipasi unjuk rasa dan keamanan atau optimalisasi armada. Kemudian beroperasi kembali 8 september 2025. Namun saat 9 Desember 2025 saya kembali menggunakan DAMRI rute ini jumlah armada yang ada hanya satu di terminal Leuwipanjang. Jauh berbeda dari kondisi di tahun 2016. Bahkan kini jam operasionalnya memendek dari pukul 17.00 menjadi 15.30 menurut postingan instagram @transportforbandung. Namun dengan penasaran saya mengonfirmasi secara langsung kepada supir, menurut pernyataannya perkiraan DAMRI terakhir dari Ledeng menuju Leuwipanjang yaitu pukul 14.00-14.30.

Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Di tahun 2026 saya rasa kita semua sebagai warga Kota Bandung wajib mendukung DAMRI atau transportasi bus serupa sebagai pilihan utama mobilitas untuk tumbuh kembali sebagai solusi kemacetan di Kota Bandung. Jika hanya mementingkan keinginan pribadi untuk terus-menerus memperbanyak kendaraan motor maka di masa depan tidak ada cara lain untuk berdamai dengan kemacetan itu sendiri.

Namun saya pribadi selalu punya harapan besar untuk kota Bandung bisa keluar dari masalah kemacetan. Saya selalu memiliki optimisme bahwa transportasi umum seperti DAMRI atau Metro Jabar Trans bisa kembali merebut kejayaannya demi Bandung yang tenang dari hingar-bingar kemacetan dan dari polusi udara yang menyesakkan dada.

Baca Juga: Benteng Kritis Mahasiswa UNPAR dalam Menangkal Hoaks dengan Literasi Digital

Menurut saya tidak ada cara lain untuk menciptakan perubahan selain bersama-sama memupuk hal kecil demi menyelesaikan permasalah kemacetan yaitu dari kesadaran kita sebagai warga Kota Bandung itu sendiri. Cobalah untuk berjalan kaki jika tujuan kita tidak lebih dari 1 km. Biasakan jalan kaki jika untuk sekedar membeli bahan masakan di warung yang hanya berselang 10 rumah. Biasakan tidak memberikan motor kepada anak di bawah 17 tahun untuk pergi ke sekolah. Cukuplah motor tersebut digunakan untuk kepentingan kerja yang membutuhkan jarak belasan hingga puluhan kilo meter.

Dari kesadaran kolektif yang kita buat bersama-sama-- saya memiliki keyakinan besar pada pemilik kebijakan untuk selaras mendukung hal ini dengan cara memperjelas rute transportasi umum yang bisa menjangkau daerah terpencil di Kota Bandung. Membenahi rute yang selama ini semrawut menjadi lebih tertata dan berkesinambungan. Tidak ada cara menuju perubahan selain saling bersinergi--antara kita sebagai warga kota bandung dan para pemangku kebijakan setempat.

Sebagai pengguna DAMRI -- jujur saya sangat senang karena di zaman digitalisasi DAMRI masih menyediakan pembayaran secara tunai yang mempermudah pengguna lansia yang tidak memiliki m-banking atau Qris. Namun DAMRI juga tetap harus mengikuti perkembangan zaman dengan menyiapkan pembayaran secara Qris atau tap kartu e-money. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita hari ini lebih suka dengan pembayaran digital dibandingkan uang secara tunai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jul 2026, 20:11

Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Sektor logistik merupakan asa bagi karyawan Posindo.

Ilustrasi kondisi Posindo yang sedang menghadapi badai disrupsi namun masih ada harapan yang tersisa. (Sumber: Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:20

Saat Medium Musik Menjadi Jembatan Emosi antara Institusi dan Publik

Konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik.

konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik. (Sumber: https://newsroom.spotify.com)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:01

Bagaimana Perusahaan Kosmetik Global Membentuk Opini Publik di Era Media Sosial?

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan.

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan. (Ilustrasi oleh AI)
Wisata & Kuliner 22 Jul 2026, 17:45

Wisata Edukasi Museum ITB Sabuga: Lokasi, Harga Tiket, dan Fasilitas

Berencana mengunjungi Museum ITB? Ketahui harga tiket, cara pemesanan online, jam buka, lokasi, dan fasilitas museum terbaru di Kampus Ganesha Bandung.

Museum ITB. (Sumber: Instagram @indonesiaartdocumentary)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 17:15

Butiran Debu Kapur yang Mengundang Gangguan Saluran Pernapasan

Sepanjang jalan dengan pemandangan pohon berwarna putih saya kira karena warnanya ternyata ada serpihan debu dari pertambangan. Dampaknya terhadap gangguan pernapasan perlu diperhatikan

Pohon yang penuh debu halus dari pertambangan kapur. (Minggu, 19/06/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 16:48

Festival Film Bandung, Jejak Panjang Apresiasi Independen Perfilman Indonesia

Selama hampir empat dekade, Festival Film Bandung terus bertahan melewati berbagai fase perkembangan sinema nasional.

Pengumuman daftar nominasi Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang digelar di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis, 16 Juli 2026. (Foto: Ratna Ayu Budhiarti)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 15:10

Parkir Kendaraan Konvensional di Area Pengisian Daya: Pelanggaran Etika dan Mengganggu Fungsi SPKLU

Parkir kendaraan konvensional di area pengisian daya bukan sekadar pelanggaran etika. Praktik ini dapat mengganggu fungsi SPKLU, mengurangi keandalan layanan, dan menurunkan kenyamanan pengguna.

Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 13:14

Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang nyaris sempurna.

Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ikon 22 Jul 2026, 12:58

Pempek Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Sejarah dari Era Sriwijaya

Pempek Palembang bukan sekadar makanan khas Sumatera Selatan. Simak sejarah, bahan utama, jenis-jenis pempek, dan kisah cuko yang membuatnya mendunia.

Pempek Palembang, salah satu kuliner legendaris Indonesia.
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 11:02

Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

Pendakian tektok ke Gunung Pangradinan membuktikan bahwa perjalanan terbaik bukan hanya soal puncak, tetapi juga orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.

Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 22 Jul 2026, 08:33

Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

Kemarau panjang yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober membuat debit air Situ Ciburuy terus surut, hingga dasar bendungan bersejarah berusia satu abad itu mulai terlihat.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 08:00

Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

Bagaimana membaca ingatan antara masa lalu dan kini. Titik pertemuan ini adalah sebuah rendezvous.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)