Damri dan Wisata Oase Kaum Marjinal di Dalamnya

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ilustrasi yang menggambarkan suasana dalam bus DAMRI (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi yang menggambarkan suasana dalam bus DAMRI (Sumber: Gemini AI)

DAMRI merupakan salah satu transportasi umum yang seolah sudah menjadi ikonik dari Kota Bandung. Tarif yang terjangkau, bisa mengakses beberapa tujuan jauh para penumpang juga sebagai tempat yang memberikan sumber kehidupan bagi banyak masyarakat. DAMRI tak sekedar transportasi yang bisa memenuhi mobilitas masyarakat tapi juga sebagai transportasi pilihan yang digunakan untuk kegiatan wisata ketika orang tua mengajak jalan-jalan anak kecil untuk mengitari Kota Bandung.

Bahkan DAMRI dalam sudut pandang anak kecil memiliki nama khusus yaitu "Bus Tayo". Bermula dari sebuah film kartun yang berasal dari Korea Selatan dengan warna bus yang sama dengan DAMRI yaitu biru. DAMRI menjadi pilihan bagi orang tua untuk memberikan akses wisata dengan harga yang murah tapi penuh pengalaman menyenangkan bagi anak kecil.

Siapa sangka dibalik beji-bakunya urusan orang dewasa dan rumitnya para kepala keluarga dalam mencari nafkah-- ada anak kecil yang punya sudut lain tentang DAMRI dengan penuh keceriaan. Saya perhatikan mereka banyak mempelajari jenis-jenis mobil atau motor yang mereka temui di jalanan. Dengan senyuman yang tulus, kebahagiaan yang terpancar dari wajah polosnya juga nyanyian lucu yang terlontar dari mulutnya menjadi hiburan tersendiri bagi sebagian orang dewasa yang punya kehidupan suntuk.

Sudah lama rasanya tidak menggunakan DAMRI trayek Cibereum--Cibiru setelah lulus kuliah. Siang hari kemarin di tengah langit yang tak menentu karena selalu berubah dari terang menuju gelap dan begitu sebaliknya. Sepanjang tempat duduk di terminal Leuwi Panjang sudah banyak berderet penumpang yang akan menggunakan DAMRI yang sama.

Duduk bersebelahan dengan orang asing sambil memandang arus lalu-lintas jalanan Seokarno Hatta yang kadang macet tapi kadang lenggang. Coba sesekali simpan ponselmu dan lihatlah fenomena yang terjadi disekitarmu. Beberapa ojek online yang menyerbu setiap bus dari luar kota yang datang. Terlihat wajahnya yang penuh harap dari setiap penumpang yang turun. Tapi harapan itu tidak selalu berujung manis, ada beberapa penumpang yang pergi begitu saja ketika ditanya "Mau Kemana ka?", ada yang menolak tawaran karena sudah memesan ojek via aplikasi jauh sebelum bus sampai di terminal Leuwi Panjang.

Ada seorang bapa yang menawarkan buah-buahan yang sudah dimasukkan kedalam bahan plastik fleksibel yang berlubang-- yang saya pribadi pun tidak ketahui apa nama plastik itu. Menawarkan secara paksa kepada mereka yang terlihat punya sifat tidak-enakan atau ditawarkan kepada pengunjung secara random. Tepat disamping saya ada seorang ibu yang ditawari buah pir yang sudah dikemas-- mulai dari Rp.45.000 hingga penjual menurunkan harganya menjadi Rp.20.000 saja.

Pada satu sisi saya ingin memberi tahu ibu tersebut untuk tidak membeli karena kualitasnya yang sudah dipastikan tidak baik. Saya pribadi pernah mengalaminya-- sekilas buah-buahan nampak segar tapi setelah dibuka di rumah beberapa bagian buah yang busuk atau penyok diatur sedemikian agar tidak terlihat oleh pembeli. Tak hanya kualitas yang buruk-- bahkan rasanya pun tidak segar-- sering berakhir menjadi makanan yang tidak layak dikonsumsi dan mubazir.

Tapi jika saya memberi tahu ibu yang duduk di samping saya--sudah jelas pasti akan terjadi sebuah keributan. Saya menyadari-- mungkin tidak semua penjual seperti itu tapi seringkali satu orang yang berbuat tidak jujur akan mencederai kepercayaan kita kepada manusia lainnya yang memiliki hubungan yang sama dengan para oknum.

Akhirnya DAMRI Cibereum--Cibiru datang-- semua duduk dikursi yang kosong. Berbeda dengan TMP dan TMB yang mewajibkan pembayaran secara cashless-- DAMRI masih setia dengan pembayaran tunai yang diambil secara berurutan oleh kondektur. Namun kali ini DAMRI sudah mulai menyesuaikan dengan perkembangan zaman dengan menyediakan pembayaran secara Qris.

Di tengah TMP dan TMB yang sesuai dengan standar kenyamanan penumpang dengan tidak memperbolehkan pedagang asongan atau pengamen masuk. Kedua jenis armada ini juga sudah menyediakan CCTV dan suara pengingat agar penumpang tidak terlewat halte tujuan dan yang terpenting terdapat himbauan untuk melaporkan jika melihat tindak pelecehan seksual terjadi.

Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Sementara berdasaran pengamatan saya DAMRI masih menjadi transportasi yang ramah bagi kaum marjinal. Bukan karena DAMRI tidak tahu soal peraturan ini tapi saya rasa supir dan kondektur tidak tega menolak mereka yang juga sama-sama sedang mencari nafkah bagi keluarga.

Di sekitaran Regol ada seorang pengamen yang naik. Berperawakan tinggi dan sedikit gempal-- menggunakan celana training dengan kaus merah dan tas hitam yang diselendangkan sekenanya. Pengamen itu mulai bernyanyi dengan suaranya yang tidak begitu ramah bagi telinga. Saya perhatikan ada penumpang yang sedikit terganggu dengan menunjukkan ekspresi tidak menyenangkan. Ada yang fokus dengan ponselnya, ada yang khusyu membaca buku dan ada juga yang menikmati lagu lewat earphone yang terpasang di kedua telinganya.

Dengan harapan lantunan shalawat yang menjadi simbol keagamaan itu bisa menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya. Bahkan setelah petikan gitar berhenti-- pengamen itu masih melantunkan shalawatnya sambil menadahkan plastik bekas permen kepada setiap penumpang. Ada yang masih berbaik hati memberikan tapi ada pula yang menolak dan mengabaikannya.

Sementara di Buah Batu masuklah seorang pedagang asongan untuk menjajakan jualannya. Sosok pria yang saya tebak usianya sudah menjelang 50-an tapi semangat dan keceriannya patut diberikan acungan jempol. Bahkan pria tersebut merupakan satu-satunya penjual asongan paling percaya diri yang pernah saya temui. Sejak kuliah saya sering melihat pria itu berjualan makanan atau kebutuhan kecil seperti peniti, gunting kuku, cukur jenggot dan masih banyak jenis lainnya.

Meski pedagang asongan tapi pria itu selalu mengenakan pakaian yang rapih bahkan sesekali terlihat modis. Dengan gaya berjualan yang khas dan unik sangat melekat pada dirinya. Bahkan ketika saya dalam keadaan terkantuk dan suaranya terdengar saya sudah tau siapa orang yang sedang berbicara. Pria ini juga sering menyematkan nama makanan yang unik kepada jualannya misalnya kacang korea, pang-pang cina, permen yuk-piknik dan berbagai nama lainnya yang menjadi hiburan tersendiri bagi beberapa penumpang.

DAMRI memang nampak seperti transportasi umum lainnya tapi jika kita selami lebih dalam maka begitu banyak cerita, kompleksitas, hingga banyak hal yang bisa menjadi bahan inspirasi bagi siapa yang ingin jeda sejenak dan merasakannya. Bahkan buku berjudul "Semua Ikan di Langit" yang ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie terinspirasi dari pengalamannya saat menggunakan Bus DAMRI ketika menjadi mahasiswa UNPAD.

Mungkin bagi sebagian orang DAMRI hanya transportasi biasa yang mengantarkan ke tempat dan tujuan masing-masing penumpang. Tapi DAMRI di mata anak kecil sebagai moda transportasi wisata yang menyenangkan. Sementara saya pribadi melihat bahwa DAMRI adalah wisata oase bagi kaum marjinal.

Sama seperti oase dalam padang pasir yang menjadi titik kehidupan di tengah gurun pasir yang kering dan tandus. DAMRI juga layaknya sebuah tempat, kondisi, atau pengalaman yang bisa saja menjadi sumber kelegaan, sumber rezeki, sumber penyegaran bahkan penghiburan di saat yang bersamaan mereka sedang menghibur orang lain. DAMRI menjadi tempat singgah sementara bagi kaum marjinal di tengah kerasnya kehidupan jalanan dan berbagai tantangan profesi mereka di mata society. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)