Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)

Dalam konstelasi hubungan internasional kontemporer, proyeksi pengaruh sebuah bangsa tidak lagi semata bertumpu pada kapabilitas militer atau kekuatan ekonomi (hard power), melainkan pada kemampuannya mengorkestrasikan soft power yang persuasif. Gastronomi, dalam cakrawala ini, telah berevolusi dari sekadar pemenuhan asupan biologis menjadi instrumen diplomatik yang sangat mumpuni. Sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P. Marsudi, makanan adalah perwujudan identitas dan representasi budaya yang memiliki kekuatan niskala untuk memupuk persahabatan antarbangsa.

Filosofi "menangkan hati dan pikiran melalui perut" (win hearts and minds through stomachs) yang dipopulerkan oleh Paul S. Rockower menemukan relevansinya dalam jati diri politik luar negeri Indonesia. Melalui narasi rasa, sebuah negara mampu membangun koneksi emosional yang melampaui sekat-sekat formalitas perundingan. Di meja makan, pesan diplomatik disampaikan secara sensorik; aroma yang mengundang memori, tekstur yang memikat indra, dan rasa yang menghangatkan suasana. Kesadaran strategis inilah yang melahirkan inisiatif kolaboratif dalam penyusunan buku "Handrawina Adiboga Nusantara" sebagai manifesto gastrodiplomasi kita.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. Karya ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Luar Negeri RI dengan Indonesian Gastronomy Community (IGC). Bagi IGC, sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Umumnya, Ria Musiawan, inisiatif ini bertujuan untuk menjaga "ingatan kolektif bangsa" dan memastikan bahwa setiap perjalanan sejarah kuliner Nusantara tetap terjaga keberlanjutannya untuk generasi mendatang. Buku ini bukan sekadar kumpulan resep, melainkan pedoman resmi bagi perwakilan RI di seluruh penjuru dunia untuk menyajikan jamuan yang merepresentasikan keagungan budaya bangsa.

Efektivitas inisiatif ini berakar pada model kerja sama pentahelix yang solid—menyatukan visi pemerintah, komunitas profesional, akademisi, pelaku bisnis, hingga media. Dengan menyatukan berbagai perspektif ini, Indonesia berhasil membangun "narasi tunggal" yang kuat. Upaya ini pun menjadi legitimasi atas warisan adiluhung yang telah dimulai sejak setengah abad silam melalui buku "Mustikarasa" (1967), rujukan kuliner pertama yang mengodifikasi lebih dari 1.600 resep autentik atas arahan Presiden Sukarno. Dalam konstelasi ini, kuliner Sunda muncul sebagai pilar yang menawarkan karakteristik unik dalam strategi mapping taste nasional.

Esensi dan Karakteristik Masakan Sunda dalam Konteks Global

Khazanah kuliner Sunda merupakan simfoni rasa yang mengutamakan kesegaran sekaligus mencerminkan keharmonisan manusia dengan alam. Berakar pada kekayaan tanah Parahyangan yang subur, masakan Sunda banyak memanfaatkan bahan pangan lokal dalam kondisi segar, mulai dari sayur-mayur pegunungan yang renyah hingga aneka bumbu beraroma khas. Kehadiran lalapan tidak hanya memperkaya tekstur dan membangkitkan selera, tetapi juga merepresentasikan Indonesia sebagai bangsa yang menghargai keanekaragaman hayati serta keseimbangan dalam pola konsumsi.

Dalam konteks global, masakan Sunda memiliki keunggulan karena menawarkan cita rasa yang segar, ringan, dan relatif mudah diterima oleh lidah internasional. Perpaduan rasa pedas, asam, manis, dan gurih yang seimbang menjadikannya sebagai jembatan budaya yang efektif. Ketika disajikan dalam jamuan diplomatik, karakter hidangannya yang segar dan tidak berlebihan dapat membantu menciptakan suasana yang lebih terbuka dan rileks sehingga komunikasi antardelegasi berlangsung dengan lebih nyaman.

Hidangan Sunda yang tercantum dalam daftar Handrawina Adiboga Nusantara pun tidak sekadar berfungsi sebagai sajian, tetapi juga menjadi artefak budaya yang telah melalui proses kurasi untuk memenuhi standar cita rasa, estetika, dan kelayakan penyajian dalam jamuan resmi.

Salah satu hidangan tersebut adalah Sate Maranggi atau daging berbumbu maranggi. Hidangan ini mencerminkan ketelitian teknik pengolahan tradisional Jawa Barat. Sebelum dibakar, potongan daging direndam dalam racikan rempah yang meresap sehingga menghasilkan cita rasa kuat tanpa terlalu bergantung pada saus pendamping. Aroma khas dari pembakaran menggunakan arang memberikan sensasi hangat dan menggugah selera. Sementara itu, ketepatan pemotongan, penataan, dan penyajiannya memperlihatkan kualitas artistik yang menjadi salah satu unsur penting dalam konsep “Adiboga”.

Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)
Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)

Laksa Bogor juga menjadi representasi menarik dari perjumpaan berbagai budaya kuliner di Nusantara. Kompleksitas kuah kuning yang memadukan kunyit, lengkuas, kemiri, dan berbagai rempah lainnya menghasilkan kedalaman rasa yang kaya dan mewah. Dalam protokol jamuan resmi, Laksa Bogor memiliki fleksibilitas penyajian yang tinggi. Hidangan ini dapat disajikan dalam porsi individual pada state luncheon yang formal ataupun ditempatkan sebagai salah satu sajian utama di meja prasmanan kenegaraan.

Hidangan lainnya adalah Asinan Buah, yang berperan penting sebagai palate cleanser atau penyegar indra pengecap. Perpaduan buah-buahan tropis bertekstur renyah dengan kuah asam, manis, dan pedas mampu menyegarkan mulut sekaligus mempersiapkan tamu untuk menikmati rangkaian hidangan berikutnya. Kehadiran asinan memperlihatkan kecerdasan gastronomi masyarakat Sunda dalam mengatur ritme dan keseimbangan rasa selama perjamuan berlangsung.

Sate Maranggi, Laksa Bogor, dan Asinan Buah pada akhirnya menunjukkan bagaimana resep-resep yang juga terdokumentasikan dalam Mustika Rasa dapat ditransformasikan menjadi sajian berkelas dunia. Ketiganya tidak hanya menawarkan kelezatan, tetapi juga menyimpan nilai estetika, identitas budaya, serta narasi sejarah yang mendalam.

Melalui penyajian yang tepat, masakan Sunda berpotensi menjadi bagian penting dari diplomasi kuliner Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan gastronomi Nusantara kepada masyarakat global.

Adiboga Sunda sebagai Strategi Diplomasi dan Penguatan Identitas Bangsa

Mengintegrasikan adiboga Sunda ke dalam protokol diplomasi merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, setiap jamuan yang diselenggarakan oleh perwakilan Republik Indonesia perlu mencerminkan kehormatan dan martabat bangsa. Dalam berbagai format acara, mulai dari state luncheon yang formal, cocktail party yang dinamis, hingga resepsi berdiri untuk memperingati hari-hari besar nasional, hidangan Sunda dapat disajikan secara fleksibel tanpa kehilangan cita rasa dan identitas autentiknya.

Konsistensi penyajian adiboga Sunda dalam jamuan diplomatik juga dapat memberikan manfaat ekonomi, terutama dalam mendukung program “Indonesia Spice Up the World”. Pengenalan rempah-rempah khas yang digunakan dalam masakan Sunda, seperti lengkuas, kunyit, dan kemiri, kepada para diplomat serta tamu internasional berpotensi membuka peluang yang lebih luas bagi promosi dan ekspor rempah Indonesia.

Ketika seorang diplomat menikmati dan terkesan oleh kekayaan rasa Sate Maranggi, misalnya, pengalaman tersebut tidak berhenti pada kenikmatan kuliner, tetapi dapat menjadi bagian dari diplomasi ekonomi yang memperkuat citra dan nation branding Indonesia di mata dunia.

Keberhasilan gastrodiplomasi Indonesia di panggung internasional membutuhkan sinergi, inovasi, dan konsistensi yang berkelanjutan. Buku Handrawina Adiboga Nusantara menjadi salah satu langkah penting dalam mendokumentasikan sekaligus mengomunikasikan kekayaan identitas kuliner bangsa. Sebagaimana disampaikan oleh Ria Musiawan, gastronomi merupakan “rekaman perjalanan sejarah bangsa” yang perlu dijaga dan diperkenalkan dengan penuh kebanggaan.

Pada akhirnya, setiap hidangan Sunda yang disajikan oleh perwakilan Republik Indonesia di luar negeri membawa pesan yang melampaui cita rasa. Di dalamnya terkandung narasi tentang perdamaian, persahabatan, keragaman, dan keluhuran budaya Indonesia. Dengan menjaga konsistensi rasa, kualitas penyajian, dan narasi yang menyertainya, adiboga Sunda dapat semakin dikenal, dicintai, dan dihormati di berbagai meja perundingan dunia sekaligus memperkuat kedudukan Indonesia dalam diplomasi kebudayaan global.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)