Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)

Komunitas Imaji Papua menggelar Imaji Papua Goes to Bandung, bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi melalui pemutaran dan diskusi film dokumenter di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2, Bandung, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan bertajuk “Silaturahmi Caraka Sundanologi” tersebut menjadi ruang pertemuan antara komunitas Papua dan komunitas Kesundaan. Selain pemutaran film, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk berbagi cerita, pengalaman, serta perspektif mengenai Papua melalui medium film dokumenter.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai itu juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-9 Imaji Papua.

Papua bukan hanya tentang bentang alam yang memesona. Dari pegunungan yang menjulang, lembah yang hijau, hutan yang luas, hingga pesisir dan laut yang membentang, Tanah Papua menyimpan kekayaan alam sekaligus keragaman budaya dan kisah kehidupan masyarakatnya.

Di balik keindahan alam tersebut terdapat manusia yang terus bekerja, mengolah tanah, merawat tradisi, menghidupi keluarga, dan menjaga hubungan dengan lingkungan. Cerita-cerita tentang kehidupan itulah yang ingin diperkenalkan Imaji Papua kepada masyarakat melalui karya audiovisual.

Head of Imaji Papua, Yulika Anastasia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan 9th Anniversary Imaji Papua, sekaligus ruang silaturahmi dan dialog kebudayaan antara komunitas Papua dan komunitas Kesundaan.

Menurut Yulika, Bandung dipilih sebagai titik awal rangkaian tur karena memiliki jejaring komunitas yang kuat, sekaligus menjadi salah satu daerah tujuan pelajar dan mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Jawa Barat.

“Kami ingin berdiskusi lebih banyak tentang Papua dari sudut pandang yang jarang diberitakan oleh media massa,” ujar Yulika.

Noken dan Kehidupan Perempuan Papua

Salah satu film yang diputar dalam kegiatan tersebut adalah “Noken: Rahim Kedua”, yang mengangkat kehidupan masyarakat Papua Pegunungan serta makna noken dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Papua.

Film ini mengajak penonton mengenal makna filosofis noken dalam kehidupan perempuan Suku Hubula di Lembah Baliem.

Bagi perempuan Papua, noken bukan sekadar tas atau wadah untuk membawa berbagai keperluan. Noken memiliki makna yang lebih dalam sebagai bagian dari kehidupan, simbol kedekatan, sekaligus sesuatu yang dirawat dan menyertai keseharian perempuan Papua.

Melalui kisah Mama Yowan, seorang ibu muda, film ini memperlihatkan bagaimana noken hadir dalam berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari kebun hingga menemani proses mengasuh sang buah hati.

Noken kemudian menjadi semacam ruang kehidupan yang menyimpan cerita tentang perempuan, keluarga, tradisi, serta hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.

Film tersebut mendapat perhatian dari Nonon Rachnaya dari Caraka Sundanologi. Ia mengapresiasi film yang dinilai memberikan informasi edukatif mengenai Papua.

Nonon juga melihat adanya kedekatan fungsi sosial antara noken dalam budaya Papua dengan kain panjang dalam budaya Sunda. Kesamaan tersebut menjadi salah satu titik perjumpaan budaya yang menarik untuk diperbincangkan dalam forum silaturahmi tersebut.

Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk terus dilakukan agar masyarakat di luar Papua dapat mengenal Papua secara lebih utuh, tidak hanya melalui pemberitaan, tetapi juga melalui kebudayaan, kehidupan masyarakat, dan kekayaan alamnya.

Tiga Film Dokumenter dari Tanah Papua

Menurut Nunung Kusmiaty, bagian dari tim produksi yang menginisiasi dan membawa film-film dokumenter Papua dalam rangkaian tur di Jawa Barat, Imaji Papua menghadirkan tiga film dokumenter, yakni “Noken: Rahim Kedua”, “Tong Masih di Sini”, dan “Yawa Datum (Sedang Bertumbuh)”.

Selain di Kota Bandung, pemutaran film dokumenter tersebut juga dilakukan di Kabupaten Bandung, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Pangandaran.

Ketiga film tersebut menghadirkan cerita yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama, yakni kehidupan manusia Papua, kebudayaan, lingkungan, serta hubungan masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup.

Film “Tong Masih di Sini”, misalnya, mengikuti perjalanan berbagai komoditas pangan Papua yaitu kopi, sayur, sagu, dan pinang dari tanah hingga ke meja keluarga.

Film ini menghadirkan kisah Moses Yigibalom dan Piet Yigibalom di Tiom, Lanny Jaya; Wene Kalolik di Wamena, Jayawijaya; Mama Agustina Rontini di Jayapura; serta Yakobus Yatmop di Merauke.

Mereka tidak saling mengenal, tetapi kehidupan mereka terhubung melalui satu rantai ekonomi dan pangan di Tanah Papua.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan, mereka terus bekerja, menghidupi keluarga, mengolah potensi tanah, dan memberikan dampak bagi lingkungan sosial di sekitarnya.

Tiga film, tiga cerita, satu perjalanan untuk mengenal Papua lebih dekat. Dalam rangkaian Imaji Papua Goes to Jawa Barat, tiga film dokumenter yang diputar adalah Yawa Datum (Sedang Bertumbuh), Tong Masih di Sini, dan Noken Rahim Kedua. (Sumber: Imaji Papua)
Tiga film, tiga cerita, satu perjalanan untuk mengenal Papua lebih dekat. Dalam rangkaian Imaji Papua Goes to Jawa Barat, tiga film dokumenter yang diputar adalah Yawa Datum (Sedang Bertumbuh), Tong Masih di Sini, dan Noken Rahim Kedua. (Sumber: Imaji Papua)

Film ini memperlihatkan bahwa di balik bahan pangan yang sampai ke meja makan, terdapat kerja keras, ketekunan, serta kehidupan banyak orang yang terus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Tentang kopi, sayur, sagu, dan pinang. Tentang tanah yang terus memberi kehidupan. Serta tentang mereka yang memilih untuk tetap bekerja, tetap bertumbuh, dan tetap berada di tanahnya.

Sementara itu, “Yawa Datum (Sedang Bertumbuh)” membawa penonton menyelami perjalanan pertumbuhan kehidupan dari Tanah Papua.

Melalui bahasa visual film dokumenter, cerita yang dihadirkan menjadi jendela untuk melihat Papua secara lebih dekat, tentang manusia, lingkungan, kebudayaan, serta proses kehidupan yang terus bergerak dan bertumbuh.

Ketiga film tersebut menjadi medium untuk memperkenalkan Papua melalui cerita-cerita yang lahir dari masyarakatnya sendiri. Papua tidak hanya hadir sebagai sebuah wilayah dengan alam yang indah, tetapi juga sebagai ruang kehidupan dengan manusia, kebudayaan, tradisi, kerja, persoalan, dan harapan.

Mempertemukan Papua dan Sunda

Imaji Papua Goes to Bandung bukan sekadar agenda pemutaran film. Pertemuan dengan Caraka Sundanologi menjadi ruang untuk mempertemukan dua latar budaya yang berbeda dalam suasana yang akrab.

Film menjadi jembatan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, sekaligus memperluas percakapan mengenai kebudayaan dan keberagaman Indonesia.

Kehadiran Imaji Papua di Jawa Barat sebelumnya juga telah berlangsung di Rumah Tumbuh Farm, Bojongloa–Wanayasa, Purwakarta, serta Kafe Rasta, Babakan Siliwangi, Kota Bandung. Selanjutnya di Parigi dan Pangandaran.

Dalam kegiatan di Perpustakaan Ajip Rosidi kali ini, cerita dari Tanah Papua hadir dalam suasana yang hangat, di antara kopi, obrolan, dan layar film.

Pemutaran dan diskusi tersebut dihadiri Yulika Anastasia, Director of Photography Alfonso Dimara, dan entrepreneur muda Papua Jonathan Warinussy. Hadir pula Doddi Kiwari dari Teater Sunda Kiwari, Edi Sasmita, Zaki Wungkul dari Fikom Unpad, serta Deddy Koral.

Dari Caraka Sundanologi hadir Ceu Etty RS, Euis Balebat, Rinrin Candraresmi, Nonon Rachnaya, dan Apip Catrik, serta Dadan Sutisna dari Yayasan Rancage.

Kehadiran berbagai kalangan tersebut memperlihatkan bahwa film dokumenter dapat menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas. Cerita tentang Papua tidak berhenti ketika film selesai diputar, tetapi berlanjut melalui percakapan dan pertukaran pengalaman di antara para peserta.

Melalui “Tong Masih di Sini”, misalnya, penonton diajak melihat bagaimana kehidupan bergerak dari kebun hingga ke meja makan. Ada tanah yang diolah, hasil bumi yang dipanen, keluarga yang dihidupi, dan rantai ekonomi yang menghubungkan banyak kehidupan.

Sementara “Noken: Rahim Kedua” menghadirkan sisi Papua melalui kehidupan perempuan dan warisan budaya yang melekat dalam keseharian. Adapun “Yawa Datum (Sedang Bertumbuh)” membuka ruang untuk melihat kehidupan yang terus berkembang bersama lingkungan dan kebudayaan.

Ketiganya memperlihatkan bahwa cerita tentang Papua tidak pernah tunggal. Ada banyak wajah, suara, pengalaman, dan kisah yang dapat dikenali melalui karya dokumenter.

Melalui kegiatan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Imaji Papua kembali membawa cerita dari Tanah Papua ke Bandung. Bukan sekadar untuk memperlihatkan Papua melalui layar, tetapi juga mengajak penonton mengenal lebih dekat kehidupan masyarakatnya, tentang manusia yang bekerja, tradisi yang dirawat, alam yang menjadi bagian dari kehidupan, serta kebudayaan yang terus tumbuh.

Dari Tanah Papua menuju tanah Pasundan, film menjadi ruang untuk bertemu, mendengar, dan saling mengenal.

Sebuah perjalanan untuk merayakan keberagaman Indonesia melalui cerita, kebudayaan, karya, dan silaturahmi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)