Batujajar merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Bandung Barat. Daerah ini berada dekat dengan kaki Gunung Burangrang dan kerap kali digunakan sebagai lokasi acara kemiliteran TNI.
Pada 10 Agustus 2025, Batujajar menjadi tuan rumah untuk Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer.
Upacara ini dilaksanakan di lanud Suparlan, Pusdiklatpassus yang memang bertempat di Batujajar. Selain acara kemiliteran, Batujajar juga menjadi lokasi pusat pendidikan untuk para calon anggota Kopassus. Ini dibuktikan dengan berdirinya Pusdiklatpassus.
Hadirnya Militer Kolonial di Batujajar
Pasukan artileri Belanda awalnya berlatih menembak di sekitar pantai selatan Jawa Tengah. Namun, faktor cuaca yang panas dan lembap serta adanya angin laut yang kencang membuat para pasukan mengalami kesulitan. Belanda kemudian menemukan wilayah yang lebih sejuk di sebelah barat Bandung, yaitu desa Batujajar.
Di dekat sana, ada sebidang tanah datar yang memiliki lebar enam ratus meter dan panjang lima kilometer. Lapangan ini berbatasan dengan jurang di area belakangnya, dan dibalik jurang itu terdapat tanah datar lainnya. Kondisi ini menjadikan lahan tersebut sangat cocok untuk berlatih menembak. Oleh karena itu, pada tahun 1881, pemerintah Hindia Belanda resmi membangun sebauh kamp menembak di sana.
Pada tahun 1933, didirikan Kompi Artileri Anti-pesawat di Batujajar. Dilansir dari koran De Locomotief edisi 1 Februari 1933, upacara pembentukan Kompi Artileri Pertahanan Udara (Luchtdoel-Artillerie) dilaksanakan secara sederhana dengan dihadiri oleh inspektur artileri dan para perwira tinggi, termasuk Mayor Peltzer selaku komandan kompi juga memberikan pidato di upacara tersebut. Batujajar menjadi tempat uji coba meriam Bofors sebelum unit ini dipindahkan ke pelabuhan Surabaya.

Batujajar sebagai Pusat Pendidikan Militer
Pangkalan Pasukan Khusus Belanda (Korps Speciale Troepen) diambil alih oleh pemerintah Indonesia setelah terjadinya kesepakatan di Konferensi Meja Bundar yang mana mengharuskan Belanda menyerahkan semua fasilitas militernya ke Indonesia. Bekas pangkalan KST ini kemudian digunakan sebagai markas Kesatuan Komando TTIII/Siliwangi, cikal bakal Kopassus. Markas yang berlokasi di Batujajar ini digunakan pangkalan utama pasukan khusus beraktivitas, baik itu latihan ataupun pendidikan.
Kemudian pada tahun 1959, unsur pendidikan dan operasional dipisahkan. RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) nantinya berada langsung di bawah KSAD sementara Pussenif akan membawahi SPKAD (Sekolah Pasukan Komando Angkatan Darat). Lalu di tanggal 24 Juli 1967, SPKAD berganti nama menjadi Pusdiklatpassus (Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus) dan menandakan berdirinya Pusdiklatpassus di Batujajar. Pusdiklatpassus masih digunakan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi calon anggota Kopassus sampai hari ini.
Batujajar menjadi bukti perkembangan militer di Indonesia. Dari pembangunan kamp awal oleh Hindia Belanda sampai hari ini menjadi pusat pendidikan bagi para calon perwira Kopassus setelah Indonesia merdeka. Hasil dari perjalanan panjang ini menjadi pembentuk Batujajar pada masa sekarang. Ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa memisahkan Batujajar dan militer karena keduanya sudah seperti satu kesatuan utuh. (*)
De Graauw, K. (2022). De Commissie van Proefneming in Nederlands-Indië. VOAWEB.
Syabriya, N. (2022, September 6). Asal usul markas Kopassus di Batujajar, tempat Mayor Idjon Djanbi latih pasukan khusus. Okezone News.