Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

6 menit baca
erni driyantini
Ditulis oleh erni driyantini diterbitkan
Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)

Di tengah gencarnya narasi transformasi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan ambisi menuju Indonesia Emas 2045, sebuah ironi kembali muncul ke permukaan adalah imbauan agar masyarakat menyiapkan lilin dan senter sebagai antisipasi pemadaman listrik di sejumlah wilayah.

Imbauan semacam ini mungkin tampak sederhana, bahkan bersifat antisipatif dalam situasi darurat. Namun, ia menyimpan pertanyaan yang jauh lebih mendasar tentang arah pembangunan kita yaitu seberapa kokoh fondasi infrastruktur yang menopang cita-cita menjadi negara digital? Sebab dalam kenyataannya, transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh prasyarat paling elementer yang sering dianggap selesai yaitu listrik yang andal.

Listrik hari ini bukan lagi hanya layanan publik. Ia telah menjadi infrastruktur dasar yang menentukan hampir seluruh aktivitas modern. Dari sistem pendidikan, pelayanan pemerintahan, industri manufaktur, layanan kesehatan, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan yang mulai berkembang, semuanya bergantung pada satu hal yang sama: energi yang stabil dan dapat diandalkan. Tanpa itu, digitalisasi hanya menjadi lapisan permukaan yang mudah rapuh ketika fondasinya terganggu.

Dalam beberapa waktu terakhir, gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah memperlihatkan bahwa persoalan energi tidak dapat lagi dipahami semata sebagai urusan teknis operasional. Ia telah berkembang menjadi isu struktural yang menyentuh cara negara mengelola pembangunan secara keseluruhan. Gangguan yang terjadi berulang, meskipun dalam skala berbeda, memberi sinyal bahwa ada tantangan dalam menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan energi, kebutuhan industri, dan tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks.

Indonesia berada dalam posisi yang unik sekaligus paradoksal. Sebagai salah satu produsen energi berbasis batu bara terbesar di dunia, Indonesia secara teoritis memiliki sumber daya yang memadai. Namun, ketersediaan sumber daya tidak selalu berbanding lurus dengan keandalan pasokan domestik. Dalam praktiknya, sistem energi harus menghadapi dinamika yang lebih kompleks, termasuk fluktuasi harga global, struktur insentif ekonomi, serta kebutuhan untuk menjaga keterjangkauan listrik bagi masyarakat.

Ketika harga energi global meningkat, sementara kebijakan domestik berupaya menjaga stabilitas tarif, muncul ketegangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, produsen energi menghadapi tekanan biaya produksi dan peluang pasar internasional yang lebih menguntungkan. Di sisi lain, negara harus memastikan bahwa pasokan domestik tetap terjaga dan tidak terganggu. Dalam situasi seperti ini, keseimbangan kebijakan menjadi sangat krusial.

Namun yang sering kali luput dari perhatian adalah bahwa persoalan listrik tidak berhenti pada sisi produksi dan distribusi energi. Dampaknya menjalar jauh ke dalam struktur kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Listrik kini telah menjadi bagian dari infrastruktur sosial yang menentukan kualitas hidup sehari-hari.

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, gangguan listrik dapat berarti terhentinya proses produksi, rusaknya bahan baku, dan hilangnya pendapatan harian yang sulit digantikan. Bagi pedagang kecil, pemadaman dapat merusak stok barang yang bergantung pada pendinginan. Bagi pelaku usaha berbasis digital, listrik yang tidak stabil berarti terganggunya transaksi dan hilangnya kepercayaan pelanggan.

Di sektor pelayanan publik, dampaknya bahkan lebih luas. Sistem administrasi kependudukan, perizinan, hingga layanan berbasis elektronik sangat bergantung pada sistem digital yang membutuhkan listrik stabil. Ketika terjadi gangguan, pelayanan publik ikut terhenti atau melambat, dan masyarakat yang datang untuk mendapatkan layanan harus menanggung biaya tambahan berupa waktu, tenaga, dan ketidakpastian.

Di sektor kesehatan, ketergantungan pada listrik menjadi lebih kritis. Meskipun rumah sakit umumnya memiliki sistem cadangan, setiap gangguan tetap membawa risiko, terutama bagi peralatan medis yang membutuhkan kestabilan daya. Dalam konteks ini, listrik bukan hanya infrastruktur pendukung, tetapi bagian dari sistem keselamatan publik.

Dengan demikian, gangguan listrik tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan sektoral yang berdiri sendiri. Ia telah menjadi gangguan sistemik yang merambat ke berbagai dimensi kehidupan. Inilah yang membuat isu energi menjadi sangat strategis dalam konteks pembangunan nasional.

Lebih jauh, situasi ini juga memperlihatkan adanya tantangan dalam tata kelola kebijakan publik. Kebijakan di bidang energi, digitalisasi, industri, dan pelayanan publik sering kali dirancang dalam ruang yang terpisah, dengan indikator dan target masing-masing. Padahal, dalam praktiknya, semua sektor tersebut saling terhubung dan saling memengaruhi.

Keterpisahan ini menimbulkan apa yang dapat disebut sebagai ketidaksinkronan kebijakan lintas sektor. Ketika satu sektor bergerak maju lebih cepat tanpa diimbangi oleh sektor lain, maka akan muncul ketimpangan yang berpotensi melemahkan sistem secara keseluruhan. Dalam konteks ini, tantangan utama bukan hanya terletak pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada kemampuan negara untuk mengintegrasikan kebijakan secara menyeluruh.

Lebih jauh lagi, kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital Indonesia menghadapi sebuah paradoks yang khas. Di satu sisi, perkembangan teknologi berlangsung cepat. Layanan publik semakin terdigitalisasi, penggunaan kecerdasan buatan mulai diperkenalkan, dan berbagai inovasi berbasis data berkembang di banyak sektor. Namun di sisi lain, fondasi infrastruktur dasar yang menopang semua itu belum sepenuhnya berada pada tingkat keandalan yang sama.

Paradoks ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara berkembang menghadapi tantangan serupa dalam proses transisi menuju ekonomi digital. Namun, karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menambah kompleksitas tersendiri, terutama dalam hal distribusi energi dan pemerataan infrastruktur.

Karena itu, ketahanan energi tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kemampuan menyediakan listrik dalam jumlah yang cukup. Ia harus dilihat sebagai kemampuan sistem untuk tetap berfungsi secara konsisten dalam berbagai kondisi. Ketahanan energi mencakup keandalan jaringan, fleksibilitas sistem, diversifikasi sumber energi, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan permintaan dan kondisi eksternal.

Dalam konteks ini, modernisasi sistem kelistrikan menjadi sangat penting. Banyak gangguan listrik tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan produksi energi, tetapi juga oleh keterbatasan jaringan distribusi dan sistem pengelolaan beban. Investasi pada sistem jaringan yang lebih cerdas, otomatisasi, dan digitalisasi infrastruktur energi menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.

Selain itu, percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan perlu ditempatkan dalam kerangka ketahanan energi nasional, bukan hanya sebagai agenda lingkungan. Indonesia memiliki potensi besar dalam energi surya, panas bumi, angin, dan biomassa. Jika dikelola secara terintegrasi, potensi ini dapat memperkuat sistem energi yang lebih tersebar dan tidak terlalu bergantung pada satu sumber utama.

Model energi yang lebih terdesentralisasi juga relevan bagi wilayah kepulauan, di mana ketergantungan pada sistem terpusat sering kali menimbulkan kerentanan. Dengan dukungan teknologi penyimpanan energi seperti battery energy storage system (BESS), sistem energi masa depan dapat menjadi lebih fleksibel dan tahan terhadap gangguan.

Di sisi lain, transparansi informasi publik juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Dalam era digital, masyarakat tidak hanya menuntut layanan yang tersedia, tetapi juga kepastian dan keterbukaan informasi. Penjelasan yang jelas mengenai kondisi pasokan, potensi gangguan, serta langkah penanganan akan sangat memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap penyelenggara layanan.

Pada akhirnya, persoalan listrik mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat di permukaan, tetapi oleh kekuatan fondasi yang menopangnya. Ambisi untuk membangun negara digital, mengembangkan kecerdasan buatan, dan memperluas ekonomi berbasis teknologi tidak akan memiliki makna yang kuat jika tidak ditopang oleh sistem energi yang stabil dan andal.

Lilin, dalam konteks ini, tidak hanya alat penerangan darurat. Ia menjadi simbol refleksi atas batas kemajuan kita saat ini. Sebuah bangsa dapat memiliki visi besar tentang masa depan, tetapi tetap rentan terhadap guncangan masa kini jika fondasi dasarnya belum cukup kuat.

Indonesia tidak kekurangan visi. Yang menjadi tantangan adalah memastikan bahwa visi tersebut memiliki pijakan yang kokoh dan konsisten. Karena pada akhirnya, kemajuan bukan hanya soal seberapa cepat kita melangkah ke depan, tetapi juga seberapa kuat kita menjaga agar langkah itu tidak goyah di atas fondasi yang rapuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

erni driyantini
Tentang erni driyantini
Pengamat Publik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)