Sukses Tak Harus Gengsi, Cerita Fandi Bangun Mimpi Lewat Roda Kopi Keliling di Tamansari

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Penjual kopi keliling, Fandi Ginanjar, melayani pembeli dengan memanfaatkan sepeda listrik hasil modifikasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Penjual kopi keliling, Fandi Ginanjar, melayani pembeli dengan memanfaatkan sepeda listrik hasil modifikasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Tren kopi keliling di Kota Bandung mulai bertransformasi. Di kawasan kampus Jalan Tamansari, kehadiran sepeda listrik yang menjajakan kopi dengan konsep kekinian mulai menggeser citra gerobak konvensional, terutama saat sore hari.

Konsep kekinian tersebut terlihat pada bagian depan dimana terpasang kotak berdesain modern, lengkap dengan logo usaha dan deretan botol sirup rasa. Dari kejauhan, bentuknya lebih mirip instalasi konten ketimbang gerobak jualan biasa. Namun ketika didekati, aroma kopi langsung menyeruak dari balik meja kecil tempat gelas-gelas plastik tersusun rapi.

Di tengah maraknya budaya nongkrong dan menjamurnya kedai kopi, konsep baru mulai mencuri perhatian anak muda: kopi keliling dengan roda sepeda.

Di balik usaha itu, ada Fandi Ginanjar, pria 27 tahun asal Bandung yang kini menjalani hari-harinya sebagai penjual kopi keliling. Ia menamai usahanya Tony’s Coffee. Sudah lebih dari setahun ia menjajakan minuman itu dari satu titik ke titik lain, terutama di kawasan kampus.

Sebelum berjualan kopi, Fandi bekerja di restoran. Namun, ia tertarik mencoba usaha dengan konsep berbeda yang menurutnya sedang memiliki peluang besar.

“Karena menarik, ya. Baru pertama kali juga jualan kopi keliling kayak gini. Jadi pengin cari pengalaman baru, suasana baru, hal baru,” katanya.

Menurut Fandi, usaha ini sebenarnya memiliki gerai tetap di ruko. Namun, konsep berkeliling dibuat agar produk mereka lebih dekat dengan pembeli dan mudah ditemui di ruang publik.

“Kita bukan cuma jual di kafe aja. Jadi kalau orang lagi nongkrong di mana, lagi di kampus, lagi di jalan, bisa langsung lihat kita dan beli. Enggak harus datang ke tempat,” ujarnya.

Fandi Ginanjar sedang meracik pesanan pelanggan di gerobak sepeda listrik Tony’s Coffee saat mangkal di kawasan kampus Jalan Tamansari, Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Fandi Ginanjar sedang meracik pesanan pelanggan di gerobak sepeda listrik Tony’s Coffee saat mangkal di kawasan kampus Jalan Tamansari, Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Sepeda yang digunakan pun bukan sepeda biasa. Awalnya kendaraan itu merupakan sepeda listrik yang kemudian dimodifikasi menjadi gerobak berjalan. Dari sanalah kopi diracik dan dijual.

“Ini awalnya sepeda listrik, terus dimodif jadi kayak gini. Konsep branding-nya dari owner, kalau saya fokus di produksi dan jualannya,” kata Fandi.

Menu yang ditawarkan beragam, dari kopi susu hingga minuman non-kopi. Harga yang dipatok pun jauh di bawah kebanyakan coffee shop.

“Kalau di sini mulai dari Rp8 ribu sampai Rp12 ribu. Favorit biasanya karamel, butterscotch. Kalau non-kopi banyak yang suka matcha sama cokelat juga,” ujarnya.

Dengan harga yang ramah di kantong, pembeli datang silih berganti. Dalam sehari, Fandi mengaku bisa menjual lebih dari 100 gelas, bahkan menyentuh 150 cup saat ramai.

“Kalau saya di sini bisa lebih dari 100 cup. Kadang sampai 150 juga,” katanya.

Keramaian itu bukan tanpa alasan. Kawasan kampus menjadi pasar yang tepat bagi usaha seperti ini. Mayoritas pembeli adalah mahasiswa yang mencari kopi cepat, murah, dan tetap enak.

“Karena di sini mayoritas kampus. Anak-anak muda itu kalau sudah tahu rasanya enak, pasti balik lagi. Mereka langganan,” ujarnya.

Panisa, mahasiswa semester lima asal Majalengka yang kini tinggal di kos dekat kampus, menjadi salah satu pelanggan. Ia pertama kali membeli karena penasaran setelah melihatnya ramai di media sosial.

“Aku awalnya lihat di TikTok, sempat lewat di FYP juga. Banyak yang bilang kopi keliling ini rasanya mirip coffee shop, jadi makin penasaran dan akhirnya coba langsung,” katanya.

Menurut Panisa, yang membuat usaha ini menonjol bukan hanya soal rasa, melainkan konsep visual yang dekat dengan selera anak muda.

“Yang paling menarik itu konsepnya. Ini bukan sekadar jual kopi, tapi sudah punya branding. Mulai dari desain gerobaknya, cara penyajiannya, sampai packaging-nya berasa kekinian banget. Jadi walaupun keliling, tetap estetik dan cocok banget buat anak muda yang suka bikin konten,” ujarnya.

Ia mengaku sempat berekspektasi biasa saja terhadap rasanya. Namun setelah mencoba, kesannya berubah.

“Jujur aku cukup kaget. Aku kira bakal standar aja, ternyata enak dan enggak kalah sama coffee shop. Kopinya masih terasa, enggak terlalu manis, balance menurut aku,” katanya.

Harga yang murah juga menjadi nilai lebih bagi mahasiswa.

“Buat mahasiswa kayak aku ini affordable banget. Tapi kualitasnya tetap dapat. Jadi value for money-nya oke,” ujarnya.

Mahasiswi lain, Belinda (23) asal Bandung, punya alasan berbeda. Baginya, kopi keliling menjawab kebutuhan anak muda yang serba cepat.

“Karena kopi di sini praktis. Enggak perlu masuk tempat dan cepat kalau misalkan mau beli. Tinggal datang, pesan, terus langsung lanjut aktivitas lagi,” katanya.

Ia mengaku sudah sering melihat tren kopi gerobakan di jalan dan akhirnya ikut mencoba karena penasaran.

“Sekarang banyak banget kopi gerobakan. Jadi pengin tahu rasanya kayak gimana. Ternyata enak sih, enggak kalah sama coffee shop lain. Variannya juga banyak, enggak cuma kopi doang,” ujarnya.

Menurut Belinda, pilihan antara kopi keliling dan coffee shop bergantung pada situasi.

“Kalau lagi butuh cepat sih lebih pilih kopi keliling. Apalagi kalau malas masuk tempat atau enggak mau ribet. Tapi kalau memang mau nongkrong lama sama teman-teman, baru ke coffee shop,” katanya.

Ia menilai konsep seperti ini sangat cocok dengan gaya hidup generasi muda saat ini.

“Anak muda sekarang sukanya yang praktis, murah, dan gampang dibeli. Jadi cocok banget sih,” ujarnya.

Meski terlihat sederhana, usaha ini juga menghadapi tantangan. Cuaca hujan bisa membuat pembeli berkurang, sementara persaingan dengan kedai kopi besar terus ada. Namun, Fandi yakin produknya tetap punya tempat.

“Kalau dari rasa sebenarnya enggak kalah sama coffee shop. Bedanya di harga aja. Kalau sana mulai Rp15 ribu sampai Rp20 ribu lebih. Kalau kita cukup Rp8 ribu sampai Rp12 ribu,” katanya.

Selain berjualan langsung, ia juga menerima pesanan antar ke kos, kampus, hingga rumah pelanggan.

“Kalau pesan banyak, kita antar juga. Mau satu liter, setengah liter, atau satuan bisa,” ujarnya.

Di balik roda yang terus berputar, Fandi menyimpan harapan lebih besar. Ia ingin suatu hari memiliki usaha sendiri dari hasil kerja kerasnya sekarang.

“Kalau punya modal, saya pengin buka sendiri. Bikin karya sendiri. Saya orang yang punya keluarga, jadi mau enggak mau harus mulai dari nol. Kita enggak perlu gengsi. Karena sukses itu bukan lewat orang lain, tapi dari diri kita sendiri,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 21:00

Selat Solo, Steak Jawa yang Lahir dari Pertemuan Dua Tradisi Kuliner

Selat Solo merupakan perpaduan steak, salad, dan sup dengan kuah manis khas Jawa. Pelajari sejarah, keunikan, dan filosofi kuliner legendaris ini.

Selat Solo. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 20:40

Memahami Strategi Komunikasi dalam Membangun Citra Merek Melaui Figur Publik di Era Digital

Analisis ini membahas pemanfaatan figur publik dan komunikasi lintas platform dalam membangun citra merek yang konsisten melalui media online sebagai bagian dari strategi komunikasi di era digital.

Rose BlackPink sebagai figur publik dalam membangun citra merek yang konsisten melalui media sosial sebagai bagian dari strategi komunikasi di era digital. (Sumber: PUMA)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 18:31

Dulu Debu Pasir Kini Kapur

Memori saat Bandung Raya diserbu debu Gunung Galunggung tasikmalaya tahun 1980-an, kini daerah Cipatat diserang debu tambang kapur

Debu halus dari aktivitas pengolahan batu gamping menempel di telapak tangan warga setempat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 17:05

KDM Perlu Langkah Cepat Atasi Bencana Kekeringan di Jawa Barat

Masyarakat berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ( KDM ) segera mengatasi bencana kekeringan yang kian meluas di daerahnya

Ilustrasi mengatasi bencana kekeringan dengan teknologi tepat guna (Sumber: Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 16:37

Romantisme Mendengarkan Sandiwara Radio Saur Sepuh di Radio Bandung Era 1990-an

Popularitas Saur Sepuh kemudian melahirkan berbagai adaptasi ke layar lebar dan layar kaca, sehingga kisah legendaris tersebut dapat dinikmati generasi berikutnya.

Sandiwara Radio Saur Sepuh, salah satu program radio paling legendaris pada era 1990-an. (Sumber: Tabloid Monitor, edisi 4 Juni 1987)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:52

Merentas Kesenjangan Mutu Pendidikan

Keberadaan SNT, setidaknya bisa menjadi solusi sekaligus penyegaran bagi sekolah-sekolah yang sudah ada.

Pelajar sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: KyoRa Kee)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:13

Konstruksi Sosial dalam Pernikahan: Antara Kebutuhan dan Keinginan

Pernikahan muda sebagai solusi yang justru banyak mengakibatkan perceraian, kekerasan, dan penderitaan.

Ilustrasi Pernikahan (Sumber: pexels | Foto: Aydin Photografi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 13:57

Dari Viral Menjadi Pembelajaran: Memahami Fungsi Pelican Crossing

Di balik kasus viral pelican crossing di Bundaran HI Jakarta, tersimpan pelajaran penting tentang hak pejalan kaki, keselamatan jalan, dan tanggung jawab pengendara dalam ruang publik.

Tangkapan layar video satpam menegur pengemudi mobil Toyota Alphard yang diduga menerobos pelican crossing di kawasan Halte Transjakarta Bundaran HI, (23/7/2026). (Sumber: Instagram/@infojktku)
Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 13:06

Panduan Tamasya ke Lembah Harau, Yosemite-nya Indonesia di Sumatra Barat

Lembah Harau dikenal sebagai Yosemite Indonesia berkat tebing setinggi 300 meter dan panorama alamnya. Ketahui daya tarik, rute, dan fasilitas wisata di sini.

Lembah Harau. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 10:15

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi.

Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 07:38

Uno, Lego, dan Ogo!

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)