Melawan Dingin, Cerita Pedagang Kopi Starling yang Bertahan di Tengah Kota yang Tak Pernah Tidur

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Kurnia memulai usahanya sebagai pedagang kopi keliling sejak tahun 2020. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Lukman Hidayat)
Kurnia memulai usahanya sebagai pedagang kopi keliling sejak tahun 2020. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Lukman Hidayat)

AYOBANDUNG.ID - Sore mulai turun pelan di Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung. Langit menguning pucat, kepulan asap knalpot mengambang di antara deretan kendaraan yang merayap.

Di trotoar dekat pom bensin, deru kendaraan bersahutan dengan panggilan salat dari masjid terdekat. Di sanalah Kurnia (49) bersiap menutup hari, tapi termos airnya justru baru hangat-hangatnya.

Motor tua berwarna putih itu berdiri tegak di bawah pohon kantil, dengan rak kayu di jok belakang, tersimpan kopi dan minuman saset yang dipajang. Di dalamnya ada kotak berisikan belasan rokok.

Kurnia dengan semangat mulai berjualan kopi seduh. Tanpa promosi yang berlebih, pembeli datang satu per satu. Disuguhkanlah kopi instan menggunakan cup plastik. Uapnya mengepul pelan, membaur dengan langit Bandung yang mulai senja.

"Dari jam 5-an (sore) sampai subuh, biasanya jam 3 selesai dagangnya," kata dia dengan nada lugas, Kamis, 5 Juni 2025.

Ia berjualan setiap hari, di saat kebanyakan orang-orang sibuk bermimpi dalam tidur. Tapi Kurnia bermimpi sambil berdagang. Memimpikan suatu saat keluarganya bisa hidup serba ada. Oleh karena itu, ia tak mengenal hari libur. Setiap hari ia pulang-pergi dari Ujungberung ke Dago.

Dalam rentang waktu tersebut, Kurnia bisa mendapat keuntungan dari Rp100 hingga Rp150 ribu. Uang itu diakuinya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ia berhasil menguliahkan dua anaknya di perguruan tinggi ternama di Kota Bandung.

Namun usahanya tidak ia raih dengan mudah. Mang Toge—begitu ia disapa—memulai perjalanannya menjadi pedagang kopi starling sejak tahun 2020. Kala itu, Covid-19 mulai menyebar luas. Tapi hal tersebut tak membuat Kurnia mengurungkan niatnya mencari rezeki.

Bermodal uang Rp500 ribu yang ia pinjam dari temannya, beberapa renceng kopi dan satu bungkus rokok dia beli. Tak lupa juga membuat rak kayu sederhana yang dipasang di jok belakang. Dengan motor yang dimodifikasi itu, dia siap menjemput rezeki.

Awalnya, ia berkeliling dan mejeng di sekitaran Buahbatu. Sepi adalah yang paling diingat. Sebab dalam sehari, buat dapat Rp50 ribu saja jauh dari kata bisa.

Dari situ, ia mencoba ke daerah lain di Kota Bandung. Namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya firasatnya menyuruh untuk melaju ke daerah pusat kota.

"Pernah keliling ke Jalan Soekarno-Hatta tapi sepi. Masuklah ke jalur kota, ke Dago. Saya muter-muter. Akhirnya diam di sini," ungkapnya seraya mengisap rokok.

Ketika di Jalan Dago, pembeli mulanya tidak banyak. Ia pun putar otak. Setiap ada pembeli yang datang, pria bertopi itu mengajak ngobrol para pecinta kopi. Lewat komunikasi, lapaknya lambat laun ramai pembeli. Kebanyakan adalah komunitas pecinta motor.

Apalagi di hari libur, beberapa komunitas motor sengaja nongkrong di lapaknya. Menikmati kopi seduh di bawah indahnya malam Dago. Stok jualannya pun akhirnya ditambah hingga bisa meraup untung seratus ribu rupiah.

"Kalau ada kayak konvoi Persib, alhamdulillah pendapatan sampai Rp300 ribu," bebernya.

Kendati demikian, berjualan malam hari bukan tanpa rintangan. Persoalan pertama adalah rasa dingin. Pagi di Bandung memang sejuk, namun beda cerita pada malam hari: dingin.

Belum lagi masalah keamanan. Saat tengah malam, tindak kejahatan berisiko lebih tinggi muncul. Kurnia harus ekstra waspada. Tetapi ia bisa sedikit tenang sebab selalu ada pembeli yang nongkrong di lapak starling-nya.

"Ya ada aja yang kayak gitu, bahkan pernah malam-malam waktu pulang didempet sama orang lain, kayak mau begal, untungnya nggak apa-apa," ujarnya.

Selain itu, tantangannya adalah pedagang kopi starling modern. Pedagang ini menjual kopi susu ala kafe, namun harganya jauh lebih murah. Keberadaan pedagang tersebut memberikan dampak bagi usaha Kurnia.

"Sangat berpengaruh, apalagi ke langganan dan pendapatan," akunya.

Kurnia (49) penjual kopi keliling yang mangkal di kawasan Dago, Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Lukman Hidayat)
Kurnia (49) penjual kopi keliling yang mangkal di kawasan Dago, Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Lukman Hidayat)

Hidup di Antara Survei dan Jalanan

Jauh sebelum menjadi pedagang kopi starling, Kurnia telah berlanglang buana di dunia survei dan korporat. Ia mengawali kisahnya dengan lulus sekolah sekitar tahun 1998. Kurnia kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun tak selesai.

Alasannya karena biaya. Di awal kuliah, biaya ditanggung oleh sang kakak. Namun menjelang pertengahan semester, ia harus membayar UKT sendiri.

Namun uang memang sering kali jadi tembok yang tak bisa dipanjat hanya dengan niat. Kurnia berhenti di tengah jalan, semester empat. Ia mulai mencari rezeki sendiri, apa saja, asal halal dan bisa bertahan.

"Mungkin karena sudah tahu uang, jadi kuliah terasa jauh,” gumamnya.

Tahun 2002 jadi titik baliknya. Ia ditawari kerja pertama kali sebagai tenaga survei di Lembaga Survei Indonesia (LSI). “Kalau sekarang mah disebutnya freelance. Kami keliling, mencatat data produk, mencari outland,” kenangnya.

Lima tahun ia bergulat dengan pekerjaan itu, sebelum akhirnya pindah ke perusahaan distributor makanan dan minuman. Di sana ia bekerja sebagai sales selama tiga bulan. Lalu dia dipindahkan ke bagian survei berkat pengalamannya.

Bakatnya memang di survei. Dari survei, ia naik ke posisi audit. Sebuah lompatan yang jarang terjadi tanpa latar pendidikan tinggi.

Lalu datang tawaran baru dari perusahaan bir di Cimareme, Cimahi. Dua tahun ia bertahan di sana, sebelum kembali lagi ke dunia survei dan audit. Dunia yang akrab dengannya. Dunia di mana ia merasa berguna. Hingga badai pandemi datang.

"2019 menjelang Covid, saya putus kontrak. Perusahaan goyang, semua ekonomi hancur,” ceritanya.

Ia kehilangan pekerjaan. Dunia yang dibangun dari lapis-lapis pengalaman itu runtuh hanya dalam hitungan bulan. Akibatnya, ia sempat menganggur nyaris setahun. Bahkan ia sempat menjadi juru parkir di kawasan Tegalega.

Kurnia adalah satu dari banyak wajah yang tak masuk statistik kemajuan ekonomi. Namanya tak tercatat dalam berita besar, tapi kisahnya menggambarkan ketangguhan tanpa selempang kehormatan. Dari survei, sales, audit, hingga pengangguran karena pandemi. Ia hidup dalam jeda antara harapan dan realita.

“Saya cuma mau kerja yang halal. Itu saja,” tutupnya pelan.

Tubuhnya tegap meski raut lelah tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia bukan siapa-siapa di panggung gemerlap media, tapi kisah hidupnya adalah potret getir dari banyak orang yang bertarung dalam sunyi, di antara kerasnya kota dan laparnya perut.

Dan di hari itu, di lapak kopi starling-nya, Kurnia kembali menyesap kopinya. Pahit, seperti hidup, tapi tetap hangat—karena ia belum berhenti berjuang.

Menjadi Penjual Kopi Starling Ketimbang Nganggur

Namun bukan hanya Kurnia yang menaruh asa lewat kopi starling. Di Kota Bandung, hampir di pusat keramaian terdapat pedagang ini. Misalnya di Jalan Dipatiukur, Jalan Riau, hingga Jalan Asia-Afrika. Salah satunya adalah Rizky (32).

Ia telah menjadi penjual kopi starling sejak setahun yang lalu. Dia bilang, berjualan di malam hari memberi cerita berbeda. "Kalau pagi orang buru-buru, kalau malam mereka santai. Ngobrol bisa lama,” katanya sambil menyeduh kopi pesanan malam itu, Jumat, 6 Juni 2025.

Rizky berjualan mulai pukul 5 sore hingga lewat tengah malam, tergantung ramainya pembeli. Ia biasa mangkal di sekitar taman kota, perempatan ramai, atau depan minimarket 24 jam. Tapi paling sering di Jalan Dipatiukur. Targetnya jelas: sopir ojek daring, pasangan muda, dan anak-anak nongkrong yang malas masuk kafe tapi tetap ingin kopi.

Motornya sudah tak muda, suara knalpotnya berat, tapi ia merawatnya sepenuh hati. Di belakang motor, rak plastik dipasang berisi kopi berbagai merek. Di sampingnya, termos air panas berdiri.

“Kadang saya bikin kopi lebih dari 60 gelas semalam,” ujar Rizky. Ia menjualnya dengan harga Rp5.000 per gelas.

Meski kelihatan santai, menjadi pedagang kopi malam tidak selalu romantis. Sebab hawa dingin kerap menembus jaketnya, membuatnya menggigil. Tapi ia tetap bertahan. Baginya, ini lebih baik daripada menganggur. Rizky memilih kerja, walau di jalan.

Ia pernah mencoba kerja di toko ponsel, tapi hanya bertahan tiga bulan. Upah kecil dan waktu kerja panjang membuatnya kembali ke jalan.

"Di sini saya bebas. Kalau sepi bisa pindah. Kalau capek ya istirahat di pinggir jalan,” ujarnya.

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Rizky baru saja melayani dua pemuda yang minta kopi tubruk, lalu duduk di trotoar sambil bercanda. Malam semakin sunyi, hanya diselingi suara motor melintas dan gelak tawa sesekali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)