Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

5 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Mintarsih, Komariah, dan Maliah merupakan tiga dari lima korban dalam tragedi pembunuhan brutal di kediaman Asep Berlian. (Sumber: Sin Po, 9 Februari 1935)
Mintarsih, Komariah, dan Maliah merupakan tiga dari lima korban dalam tragedi pembunuhan brutal di kediaman Asep Berlian. (Sumber: Sin Po, 9 Februari 1935)

AYOBANDUNG.ID - Kalau di Batavia ada tragedi Rumah Pondok Gede atau peristiwa pembantaian Jalan Kramat, maka di Bandung ada “Geger Bandung”, begitu Her Suganda menjulukinya. Sedangkan Haryoto Kunto menyebutnya “Guyur Bandung”. Nama boleh beda, tapi peristiwanya satu: pembunuhan sadis di rumah janda Asep Berlian, Kebonkalapaweg (kini Kebon Kalapa), pada suatu malam di bulan Juli 1934.

Tiga orang tewas dengan kepala remuk oleh hantaman linggis. Dua lainnya luka berat. Perkaranya ribut warisan dan gosip asmara. Pelakunya diduga cuma satu: seorang remaja berumur 18 tahun bernama Tarmidi. Tapi, seperti banyak perkara berdarah di masa kolonial, pertanyaan tentang siapa sesungguhnya otak pembantaian ini masih menyisakan kabut.

Harian Sipatahoenan menerbitkan reportase berseri mengenai pembunuhan tersebut. Surat kabar berbahasa Sunda yang pertama kali mengangkat berita ini secara detail menulis bahwa kondisi korban menunjukkan pola serangan brutal dan sistematis. “Siga geus dipigawe ku nu biasa maehan,” tulis wartawan Sipatahoenan edisi 24 Juli 1934.

Yang bikin geger: rumah itu milik keluarga Kiagoes Asep Abdoellah, lebih dikenal dengan nama Asep Berlian, seorang tuan tanah dan saudagar besar yang masih keturunan bangsawan Palembang. Ia dikenal punya banyak rumah, tanah, dan empat orang istri. Rumah-rumah ini milik para istri dan kerabat Asep yang hidup berdekatan.

Dalam laporan bertajuk "Drama Anoe Pohara Kedjemna" di Harian Sipatahoenan edisi Sabtu, 21 Juli 1934, disebutkan lima orang yang jadi korban sedang berada dalam kompleks rumah saat kejadian, sementara Kiagoes Tamim, adik Asep, sedang pergi ke Garut untuk ikut lomba pacuan kuda dan ngabedahkeun (panen ikan).

Tiga dari lima korban meninggal. Yang pertama adalah Nji Ajoe Maliah (istri dari Kiagoes Tamim), yang ditemukan meninggal di tempat dengan luka parah di kepala. Korban kedua adalah Ma Entjah, seorang pembantu rumah tangga, yang juga tewas seketika di lokasi kejadian. Korban ketiga, Komariah, istri ketiga Asep Berlian, sempat dilarikan ke rumah sakit namun akhirnya meninggal akibat luka berat yang dideritanya.

Sementara itu, dua korban lainnya mengalami luka parah namun berhasil selamat, yakni Mintarsih, istri pertama Asep Berlian, yang mengalami luka serius di bagian kepala, dan Raden Sapri, adik laki-laki Mintarsih yang masih berusia anak-anak, yang juga mengalami luka berat. Kelima korban diserang dengan senjata linggis dalam kondisi tertidur atau saat baru terbangun menjelang subuh.

Peristiwa jahanam tersebut mulanya diketahui tetangga mereka, seorang bernama Raden Soemantri. Sekitar pukul 03.30 dini hari, dia mendengar jeritan dan suara gaduh dari rumah tersebut. Ia mencoba mengetuk pintu, tapi tak ada yang menjawab.

Karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia kembali ke rumah mengambil tombak, lalu kembali lagi bersama pembantunya. Tak berani masuk sendiri, ia mencari bantuan. Kebetulan ada seorang polisi sedang patroli, dan akhirnya datanglah bala bantuan dari Mantri Politie Kring I di Gang Asmi.

Dengan masuk dari jendela yang tidak terkunci, petugas dan warga menemukan pemandangan mengerikan. Maliah ditemukan tak bernyawa di kamar, kepalanya retak dan tangan kirinya luka parah. Komariah, yang masih bernapas, segera dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal kemudian karena luka berat di kepala dan lengan. Ma Entjah juga ditemukan tewas. Mintarsih dan anaknya, Apit, masih hidup dengan luka-luka berat di kepala dan wajah.

Linggis sepanjang satu meter ditemukan di halaman belakang, berlumuran darah. Barang-barang dari kamar seperti bantal, kasur, baju tidur, semuanya basah oleh darah. Petugas forensik Belanda kala itu menyimpulkan luka para korban berasal dari benda tumpul yang berat.

Tarmidi, remaja pembantu di rumah itu, langsung menjadi buruan. Ia tak terlihat sejak dua hari sebelumnya. Petugas mencurigai keterlibatannya karena ia mengenal betul tata letak rumah dan bahkan bisa mengurung anjing penjaga keluarga itu yang biasanya galak. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku adalah orang dalam rumah.

Tarmidi akhirnya ditangkap oleh dua polisi, Oemen dan Radjimin, di Regentsweg (kini Jalan Wastukencana). Ia tak melakukan perlawanan. Dalam pemeriksaan awal, ia mengaku sebagai pelaku tunggal. Polisi sempat meragukan pengakuan ini.

Tarmidi disebut sebagai tersangka utama dalam kasus ini, sementara rumah korban di Kebonkalapaweg menjadi pusat perhatian dan ramai didatangi warga. (Sumber: (Sipatahoenan, 25 Juli 1934)
Tarmidi disebut sebagai tersangka utama dalam kasus ini, sementara rumah korban di Kebonkalapaweg menjadi pusat perhatian dan ramai didatangi warga. (Sumber: (Sipatahoenan, 25 Juli 1934)

Seorang pemuda bertubuh kurus tampak mustahil bisa memukuli lima orang dengan linggis berat secara berurutan. Namun, pengakuan itu akhirnya diterima, walaupun hingga kini tak ditemukan berita lanjutan soal hasil pengadilannya.

Cinta Segitiga atau Perkara Warisan?

Soal motif, ada beberapa versi yang beredar. Versi paling banyak dikutip berasal dari pengakuan Tarmidi sendiri. Ia disebut jatuh cinta kepada Komariah. Malam sebelum kejadian, ia mendengar pembicaraan antara Mintarsih dan Komariah soal rencana lamaran dari seorang pria bernama Oetja.

Komariah kemungkinan sudah berstatus janda dari Asep Berlian saat pembunuhan terjadi. Menurut Her Suganda, Asep wafat pada 1936, namun Sipatahoenan menyebutkan bahwa ia meninggal beberapa bulan sebelum tragedi, kemungkinan besar masih di 1934 atau paling lambat 1933.

Tarmidi yang diduga cemburu, keluar rumah dan duduk di Oranjepark (sekarang sekitar Jalan Cikakak) untuk menenangkan diri. Namun saat kembali, pembicaraan soal lamaran itu masih berlangsung. Dalam amarah dan kecemburuan, ia lalu mengambil linggis dan menyerang satu per satu penghuni rumah.

Tapi, Sipatahoenan juga mengutip dugaan lain. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah wafatnya Asep Berlian. Harta kekayaan Asep yang luar biasa sedang diperebutkan oleh keluarga dan janda-jandanya.

Sengketa warisan ini bahkan sampai ke pengadilan, dan dua tahun setelah tragedi berdarah itu, belum juga selesai. Ada yang meyakini pembantaian tersebut berkaitan dengan konflik internal keluarga terkait harta warisan, meski hal ini tidak pernah terbukti secara hukum.

”Ti pihak familie noe boga kapentingan tina ieu perkara katjida hesena rek meunang katerangan teh, rereana henteu daek mere katerangan keur soerat kabar. Ti pihak politie nja kitoe deui, djiga pisan sagala oge dirasiahkeun pisan dina sagala laratan teh henteu meunang kanjahoan koe publiek,” tulis Sipatahoenan, 25 Juli 1934.

Setelah tragedi itu, rumah besar milik keluarga Asep di Kebon Kalapa mulai dihindari orang. Konon, bahkan pada siang hari pun warga enggan melintasi depannya. Mereka percaya rumah itu angker, dihuni roh-roh penasaran dari para korban yang dibantai dengan keji.

Isu-isu semacam ini lazim beredar di masa lalu, ketika pengetahuan forensik dan psikologi kriminal belum dikenal luas. Namun, seiring waktu, rumah itu akhirnya dibongkar dan kawasan itu berkembang menjadi kawasan pertokoan dan pemukiman seperti sekarang.

Kini, tak banyak yang tahu bahwa jalan kecil yang melengkung dari Jalan Ahmad Yani menuju Yudhawastu Pramuka I itu pernah menjadi lokasi salah satu tragedi pembunuhan paling berdarah di Bandung era kolonial. Jalan itu dinamai sesuai nama pemilik rumah: Jalan Asep Berlian.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)