Usai Didemo Pengusaha Jasa Wisata, Gubernur Dedi Mulyadi Tetap Kukuh Larang Studi Tur Sekolah

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

AYOBANDUNG.ID - Menanggapi adanya tuntutan pencabutan larangan studi tur pelajar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan tidak akan mencabut kebijakan larangan kegiatan studi tur di sekolah. Ia menyebut keputusan tersebut diambil demi melindungi masyarakat, khususnya kalangan ekonomi kecil, dari beban biaya di luar kebutuhan pendidikan.

“Saya sampaikan hari kemarin ada demonstrasi di Gedung Sate, bahkan melakukan blokade jalan di jalan Flyover Pasopasti. Mereka adalah para pelaku jasa usaha kepariwisataan, baik penyelenggara travel, kemudian sopir bus, pengusaha bus, mendesak saya mencabut SK larangan studi tur. Yang protes itu adalah kegiatan pariwisata. SK saya adalah SK studi tur,” tutur Dedi di akun Instagram resminya, Selasa, 22 Juli 2025.

Ia menyoroti bahwa para peserta aksi bukan berasal dari kalangan pendidikan, melainkan pelaku industri pariwisata, sehingga menimbulkan pertanyaan atas substansi studi tur yang selama ini dilakukan.

"Yang dilarang adalah kegiatan studi tur yang kemudian dengan demonstrasi itu menunjukkan dengan jelas kegiatan studi tur itu sebenarnya kegiatan piknik. Kegiatan rekreasi bisa dibuktikan yang demonstrasi para pelaku jasa kepariwisataan," katanya.

Dedi juga mengungkapkan bahwa aksi demonstrasi tersebut mendapatkan dukungan dari asosiasi Jeep wisata di wilayah Yogyakarta, termasuk yang biasa melayani wisatawan di kawasan Gunung Merapi.

"Insya Allah saya Gubernur Jabar, akan tetapi berkomitmen menjaga ketenangan orang tua siswa agar tidak terlalu banyak pengeluaran biaya di luar kebutuhan pendidikan," ucapnya.

Ia menegaskan, larangan studi tur diterbitkan semata-mata untuk mengurangi beban biaya yang tidak berkaitan langsung dengan penguatan karakter dan nilai-nilai pendidikan, termasuk program Panca Waluya.

“Mudah-mudahan industri pariwisata tumbuh sehingga yang datang wisata orang luar negeri, orang yang punya uang, yang memang murni memiliki tujuan kepariwisataan dan memiliki berdasarkan kemampuan ekonomi yang dimiliki. Bukan orang yang memiliki kemampuan pas-pasan dengan alasan studi tur dipaksa piknik atau kalau tidak dipaksa anaknya malu di rumah karena tidak ikut piknik,” kata Dedi menegaskan.

Tuntutan Cabut Larangan Studi Tur

Sehari sebelumnya, Senin, 21 Juli 2025, ribuan orang dari berbagai kota di Jawa Barat menggelar aksi besar-besaran di depan Gedung Sate, Bandung. Mereka menuntut pencabutan Surat Keputusan Gubernur Nomor 45/PK.03.03/KESRA yang melarang sekolah mengadakan studi tur.

Sejak pukul 08.00 WIB, massa mulai memadati lokasi. Mereka datang menggunakan puluhan bus yang klaksonnya bersahut-sahutan. Suasana sempat meriah—ada yang berjoget di tengah suara telolet. Tapi di balik itu, tersimpan keresahan: banyak dari mereka terancam kehilangan pekerjaan.

Koordinator Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat, Herdi Sudardja, menyebut bahwa larangan studi tur telah memukul telak sektor transportasi dan UMKM di destinasi wisata. “Kami hanya menuntut satu hal: cabut larangan studi tur,” tegasnya. Menurut Herdi, sekitar 5.000 dari total 13.000 pekerja di sektor ini bekerja informal sebagai sopir dan kru bus, yang hanya mendapat bayaran jika ada pesanan.

Spanduk dari Massa Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat dipasang di pagar Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Spanduk dari Massa Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat dipasang di pagar Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Sebelum larangan diberlakukan, satu unit bus bisa meraup omzet hingga Rp80 juta per bulan. Tapi kini, pendapatan turun drastis hingga 60 persen. Banyak pengusaha bus kesulitan membayar cicilan dan operasional harian. “Kami lebih menderita dari masa Covid-19. Bedanya, waktu itu ada bantuan. Sekarang tidak ada,” ujar Herdi.

Ia menambahkan bahwa, tidak seperti Bali yang mengandalkan wisatawan mancanegara, pariwisata di Jabar bergantung pada pelajar sebagai wisatawan lokal. Karena itu, larangan studi tur mematikan sumber utama penghasilan mereka.

Unjuk rasa berlangsung sepanjang hari. Orasi bergantian disuarakan. Massa berkali-kali meneriakkan yel-yel: "Cabut SE, cabut SE!" Sekitar pukul 13.00 WIB, perwakilan Pemprov Jabar keluar menemui massa. Namun pertemuan itu tak menghasilkan solusi konkret.

Staf Kesra yang dikirim menyampaikan bahwa keputusan tetap berada di tangan Gubernur. Hal ini membuat Herdi dan massa aksi kecewa. Ia meminta agar bisa bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi, namun hingga sore tak juga mendapat kejelasan.

Sekitar pukul 15.00 WIB, massa mulai bergerak menuju Flyover Pasupati dan melakukan blokade jalan. Aksi ini menyebabkan kemacetan parah di sejumlah ruas seperti Jalan Diponegoro, Surapati, dan Sentot Ali Basyah. Dishub Kota Bandung pun terpaksa melakukan pengalihan arus.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasi Dishub Kota Bandung, Asep Kuswara, mengatakan pengalihan arus dilakukan untuk mencegah penumpukan kendaraan. “Kami turun ke lapangan bersama kepolisian untuk mengurai kemacetan,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, pukul 18.00 WIB massa bergeser ke gerbang Tol Pasteur dan kembali memblokade jalan. Aksi tersebut membuat arus lalu lintas lumpuh total. Berdasarkan pantauan CCTV ACTS Bandung, kondisi lalu lintas baru kembali normal sekitar pukul 21.00 WIB.

Meski aksi telah selesai, tuntutan massa belum menemui titik terang. Herdi dan rekan-rekannya menegaskan akan terus berjuang agar kebijakan yang mereka nilai merugikan ini dicabut. “Jangan biarkan sektor pariwisata kami mati perlahan karena satu kebijakan,” pungkas Herdi.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)