Polemik Penerapan Restorative Justice di Indonesia sebagai Upaya Penyelesaian Perkara

7 menit baca
Najla Maharani
Ditulis oleh Najla Maharani diterbitkan
Ilustrasi hukum. (Sumber: Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA)
Ilustrasi hukum. (Sumber: Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA)

Hukum di Indonesia saat ini menegakkan keadilan yang sesuai dengan pedoman pancasila, salah satu hukum yang diatur dalam upaya menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan untuk melindungi hak saksi, dan juga korban adalah Restorative Justice atau dikenal juga dengan hukum restitusi. Restorative Justice adalah sebuah hukum yang mengatur ganti rugi atas kerugian pada seorang korban dari sebuah kasus.

Hukum restitusi sudah ada di Indonesia sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang selanjutnya diperjelas lagi dengan terbitnya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2022 tentang tata cara Penyelesaian Permohonan dan Pemberian Restitusi dan Kompensasi Kepada Korban Tindak Pidana. Restitusi yang diajukan oleh korban bisa berbentuk materil maupun non-materil, ganti rugi yang diajukan juga memiliki potensi untuk tidak dikabulkan oleh. Dalam beberapa kasus hal tersebut menjadi salah satu pemicu kontroversi dan protes di kalangan masyarakat.

Menurut jurnal yang ditulis oleh R. Rahaditya et al, alasan ditegakkannya hukum restitusi adalah untuk menerapkan pemulihan dibanding pembalasan dan disamping itu juga bertujuan untuk mengurangi massa di lembaga pemasyarakatan (over capacity). Restitusi atau restorative justice menawarkan prinsip yang sejalan dengan sila keempat dan kelima pancasila yang berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” dan juga “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Bersama dengan itu restitusi juga menggunakan strategi yang berfokus pada pertanggungjawaban dari pelaku, berkurangnya kejahatan dan efisiensi biaya yang keluar dari kantong pemerintah. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Norbertus dan Susana yang mengutip ucapan Abdullah maka ada syarat untuk mengajukan restitusi yaitu sebagai berikut ; pertama, jika pelaku yang menyebabkan kerugian bagi korban adalah pelaku yang baru pertama kali terjerat kasus pidana. Dan yang kedua, pidana dianggap kejahatan ringan dengan ketentuan denda minimal 7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah) dan maksimal 2,500.000,00 (dua juta lima ratus) atau hukuman kurungan minimal 3 (tiga) bulan atau penjara maksimal 5 (lima) tahun, dengan catatan kejahatan yang dilakukan bukanlah kejahatan seksual.

Pada penegakannya hukum restitusi membebani ganti rugi kepada pihak ketiga atau pelaku, sehingga segala kerugian yang harus dipulihkan adalah tanggung jawab dari pelaku yang melakukan tindak pidana. Sedangkan ada perbedaan antara hal tersebut dengan kerugian yang dialami oleh korban dan kewajiban pemulihan kerugian tersebut dibebankan pada negara atau lembaga yang berwenang.

Menurut seorang penegak hukum negara harus menggantikan kerugian yang dialami masyarakat dengan restorative justice karena saat masyarakat mengalami kerugian akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku maka negara dianggap gagal dalam melindungi rakyatnya. Pada kasus tersebut kerugian korban baik secara materiil maupun imateriil seperti pengembalian hak, martabat, serta kedudukan karena kesalahan penangkapan atau penahanan wajib dipulihkan kembali oleh negara jika diajukan melalui sidang praperadilan, maka hal ini disebut rehabilitasi.

Baca Juga: Babakan Siliwangi Perlu Cahaya: Jalur Populer, Penerangan Minim

Ambiguitas Pengaturan Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban

Dalam Undang - Undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban Nomor 13 tahun 2006 yang diubah oleh Undang - Undang Nomor 31 tahun 2014 telah dijelaskan bahwasanya saksi, saksi pelaku, korban, ahli, pelapor, termasuk orang yang bisa memberikan kesaksian tentang tindak pelanggaran akan dilindungi secara hukum, dan diberikan hak restitusi. Berdasarkan pernyataan pada jurnal yang ditulis oleh Rif’an Baihaqy faktanya masih banyak masyarakat Indonesia yang memaknai sempit restorative justice sebagai penghentian pidana sehingga menimbulkan rasa resah akan tidak tercapainya keadilan bagi korban.

Berdasarkan pernyataan dari seorang penegak hukum, pemberian restitusi kepada korban tidak serta merta menghapuskan hukuman bagi pelaku, pelaku tetap akan dijatuhkan hukuman sesuai dengan putusan hakim setelah jalannya persidangan. Contohnya seperti pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001, pasal 4 menyatakan bahwasanya pengembalian kerugian keuangan negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana. Begitupun dalam undang-undang yang mengatur hukum restitusi tidak menyebutkan klausul yang meyatakan bahwa pembayaran restitusi akan menghapuskan pidana pokok pada pelaku. Sehingga, dengan itu diharapkan akan terwujudnya keadilan bagi korban dan memberikan pidana yang adil bagi pelaku.   

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, restorative justice telah memenuhi sila keempat dalam pancasila yang berbunyi “kerakyatan yang dimpimpin oleh khidmat kebijaksanaan   dalam permusyawaratan perwakilan” sehingga proses pelaksanaan restitusi ini dimulai dari mediasi antara kedua pihak yaitu korban dan terdakwa untuk mencapai keuntungan bersama atau win-win solution, hal ini telah dijabarkan dalam jurnal yang ditulis oleh Rif’an Baihaqy.

Karena jika hanya berfokus untuk menjatuhkan pidana pada terdakwa maka kerugian yang dialami korban akan menjadi fokus kesekian sehingga belum tentu kerugian yang dialami bisa dipulihkan kembali, oleh karena itu restorative justice juga hadir bukan hanya sebagai upaya terakhir dalam menegakkan keadilan tapi juga menjadi upaya pertama untuk menegakkan keadilan dan mengembalikan hak dan martabat korban.

Namun, penegakan hukum restitusi di Indonesia memunculkan kritik dan kontroversi di kalangan masyarakat terutama dari para korban yang mengajukan permohonan restitusi ke pengadilan. Problem terkini yang mendasari kritik adalah kekurangjelasan dalam pengaturan hukum restitusi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis bernama Rofiq Hidayat walaupun restorative justice bisa diterapkan di setiap tahap peradilan bagian pidana, kekurangjelasan dari pengaturan undang undang tersebut akhirnya menimbulkan kritik dalam implementasi restitusi karena memicu keraguan bagi penegak hukum tentang apakah restitusi bisa diterapkan di seluruh tindak pidana termasuk yang tertulis di KUHP atau hanya tindak pidana tertentu yang tertulis di Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Maka dalam kasus ini muncul kritik atas pengaturan yang dianggap kurang merinci dan kurang jelas yang pada akhirnya berdampak pada diterimanya permohonan restitusi para korban tindak pidana.

Baca Juga: Kunci 'Strong Governance' Bandung

Isu Polemik yang Memunculkan Pro dan Kontra di Kalangan Masyarakat

Ada beberapa alasan penegakan restitusi mengalami pro dan kontra di kalangan warga sipil, akademisi, hingga penegak hukum, yang pertama telah dituliskan dalam jurnal R. Rahaditya yang menyebutkan bahwasanya restorative justice kurang efektif dalam memberikan efek jera sebab menurut penulis ada kemungkinan pelaku merasa leluasa dan bersifat sewenang-wenang  karena bisa menyelesaikan perkara dengan mudah lewat mediasi dan keputusan berdamai dalam proses berjalannya restorative justice atau menurut jurnal rahaditya ada pelaku yang merasa lebih baik hidup didalam penjara daripada diluar penjara.

Penyebab lain dari kontra penerapan restitusi dalam upaya penyelesaian perkara di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang restorative justice  sebab penegakannya di Indonesia tergolong masih baru dibandingkan dengan negara lain, sehingga masyarakat kurang familiar dengan istilah tersebut.

Alasan kedua munculnya kontra atau kritik karena kemungkinan tidak disetujuinya permohonan restitusi korban oleh pengadilan yaitu faktor penyebab kerugiannya. Jika kerugian yang dialami oleh korban disebabkan sepenuhnya karena tindakan dari pelaku maka pelaku atau negara harus memulihkan kerugian korban dalam bentuk materiil atau non-materiil.

Namun jika kerugian yang dialami oleh korban dipicu oleh tindakan dari korban tersebut maka permohonan restitusi yang diajukan oleh korban akan dipertimbangkan lagi oleh hakim apakah akan disetujui atau tidak, namun pada umumnya permohonan akan ditolak karena disebabkan oleh tindakan pemicu juga muncul dari tindakan korban. Menurut penegak hukum yang sama limitatifnya keputusan yang diambil oleh hakim ditarik sesuai dengan yang tertulis pada undang undang perlindungan saksi dan korban.

 Yang ketiga sekaligus terakhir adalah putusan hakim yang berbeda-beda dan terkesan kurang tegas saat memutuskan perkara disebutkan juga dalam jurnal R, Rahaditya yang mengutip contoh kasus penggunaan narkotika yang dialami oleh segelintir artis seperti; Reza Artamevia yang diduga menggunakan 0,78 gram sabu dan menjalani masa rehabilitasi selama bulan, Ridho Roma dengan kasus serupa menggunakan narkotika jenis lain  di rehabilitasi 10 bulan, Dwi Sasono  seorang public figure yang menggunakan 16 gram ganja dan di rehabilitasi selama 6 bulan, hingga kasus Jefri Nichol yang cukup ramai diperbincangkan mengonsumsi ganja dan berakhir di rehabilitasi dalam rentang waktu 7 bulan.

Sedangkan jika warga sipil yang terjerat kasus narkotika akan langsung dipenjarakan seperti ratusan PNS yang tertangkap menggunakan narkoba dan langsung dipenjarakan pada tahun 2016. berdasarkan fakta tersebut penulis menganggap tindakan hakim tidak memenuhi standar keadilan karena putusan yang terkesan kurang tegas tersebut.

Dengan begitu, walaupun banyak hal positif yang bisa ditarik dan dinikmati masyarakat dari berlakunya restorative justice di Indonesia, menurut penulis masih banyak hal yang perlu dibenahi dan diperjelas dalam penerapan hukum restitusi di Indonesia seperti penyusunan undang undang yang diperjelas, penjelasan soal restorative justice pada masyarakat dengan efektif, hingga memastikan bahwa setiap masyarakat Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama dan berkedudukan setara dimata hukum atau equality before the law  (semua orang sama dimata hukum),  yang bertujuan agar meningkatkan stabilitas hukum, meningkatkan kepastian hukum yang bisa didapatkan baik oleh korban maupun terdakwa, hingga meningkatkan kepercayaan khalayak ramai akan terciptanya keadilan bagi mereka yang membutuhkannya. Sehingga penerapan restitusi yang dijalankan di Indonesia akan lebih tertata dan semakin berjalan efektif sebagai upaya pertama untuk menegakkan hukum dan juga pemulihan bagi korban yang mengalami kerugian. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)