Menilik Kasus Pernikahan Anak KDM: Hukum Tajam ke Bawah dan Tumpul ke Atas?

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Tangkapan layar kekacauan pesta pernikahan anak KDM di Garut. (Sumber: Istimewa)
Tangkapan layar kekacauan pesta pernikahan anak KDM di Garut. (Sumber: Istimewa)

Tragedi pesta rakyat dalam rangka pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Bupati Garut Karlinah beberapa waktu lalu menyisakan luka yang dalam. Tiga orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka luka.

Kejadian di Garut itu seharusnya sudah menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena menyangkut keselamatan masyarakat dalam sebuah acara besar yang melibatkan pejabat publik.

Namun hingga kini, publik melihat penanganan kasus tersebut masih lamban dan kabur. Tidak ada kejelasan apakah sudah ada tersangka atau setidaknya penetapan pihak yang bertanggung jawab. Padahal kehilangan nyawa tidak bisa dianggap sepele, apalagi terjadi dalam acara resmi yang dihadiri banyak tokoh.

Lambannya penyidikan menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah hukum di negeri ini benar benar bekerja secara adil? Masyarakat mencatat betapa sering hukum bergerak cepat ketika rakyat kecil terlibat, tetapi menjadi lamban dan tumpul ketika kasus menyentuh lingkaran pejabat.

Dalam kasus Garut, wajar jika publik beranggapan bahwa ada perlindungan tidak kasat mata terhadap orang orang yang punya kuasa, padahal seharusnya hukum berdiri tegak tanpa pandang bulu.

Perbandingan mencolok muncul ketika publik mengingat kasus di Kota Pasuruan pada September 2008. Kala itu, pembagian zakat oleh keluarga Haji Syaichon berakhir tragis. Ada orang yang meninggal dunia juga karena kerumunan massa yang tidak terkendali.

Polisi bergerak cepat, dan Haji Ahmad Farouk yang merupakan anak Haji Syaichon sekaligus ketua panitia langsung ditetapkan sebagai tersangka atas kelalaiannya. Proses hukum berjalan, dan pada tahun yang sama ia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Meski vonis tersebut masih lebih ringan daripada tuntutan jaksa, setidaknya ada kepastian hukum dan tanggung jawab yang jelas.

Apa yang terjadi di Pasuruan menunjukkan bahwa hukum bisa tegas sekalipun menyangkut keluarga tokoh berpengaruh. Masyarakat menerima bahwa tragedi tersebut adalah kelalaian yang membawa korban, dan negara hadir dengan memastikan ada konsekuensi hukum.

Namun di Garut, kasus yang tidak kalah serius justru terkesan jalan di tempat. Tidak ada kejelasan apakah keluarga pejabat yang terlibat akan diperiksa secara serius atau tidak. Perbedaan respons inilah yang memperkuat anggapan bahwa hukum masih tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Ketidakadilan semacam ini sangat berbahaya. Ia meruntuhkan kepercayaan publik terhadap institusi hukum, sekaligus menciptakan jurang antara rakyat dan pejabat. Jika rakyat kecil bisa langsung ditangkap karena kasus kelalaian yang menimbulkan korban, mengapa pejabat bisa begitu lama tanpa kepastian? Pertanyaan semacam ini akan terus menggerogoti legitimasi pemerintah jika tidak dijawab dengan tindakan nyata.

Peran Humas

Gubernur Jawa Barat, Deddy Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)
Gubernur Jawa Barat, Deddy Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)

Dalam konteks ini, peran Humas Polri/Polda Jabar menjadi sangat penting. Publik butuh kepastian, bukan diam. Namun sayangnya, sejauh ini humas kepolisian terlihat pasif. Padahal seharusnya Humas tampil ke depan menjelaskan langkah langkah yang sudah dan akan diambil, memastikan bahwa proses hukum berjalan transparan, serta menegaskan bahwa tidak ada kekebalan hukum bagi siapa pun.

Diamnya humas polisi hanya memperkuat persepsi publik bahwa ada upaya melindungi pejabat. Padahal kepercayaan publik tidak akan pernah bisa pulih tanpa komunikasi yang terbuka dan komitmen yang jelas.

Humas Polri/Polda Jabar seharusnya proaktif menyampaikan bahwa kasus ini tetap diselidiki serius, menjelaskan perkembangan penyidikan, dan menunjukkan sikap tegas bahwa hukum berlaku sama bagi semua orang. Bukan hanya demi korban, tetapi juga demi menjaga nama baik institusi kepolisian itu sendiri.

Jika Humas memilih diam, maka publik akan menganggap bahwa Polri tidak independen, hanya berani kepada rakyat kecil tetapi ciut menghadapi pejabat.

Lebih jauh lagi, tragedi Garut ini menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi krisis keadilan yang nyata. Keadilan seharusnya ditegakkan berdasarkan fakta, bukan berdasarkan status sosial atau politik. Demokrasi akan lumpuh jika hukum hanya menjadi instrumen untuk melindungi elite.

Sebaliknya, demokrasi akan tumbuh jika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, dan negara hadir melindungi warganya yang paling lemah sekalipun.

Kasus di Garut seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki wajah penegakan hukum kita. Aparat harus berani menegakkan hukum dengan adil meski menyangkut keluarga pejabat. Proses hukum harus transparan, komunikasi publik harus terbuka, dan korban beserta keluarganya harus mendapat kepastian. Inilah ukuran sejati sebuah negara hukum.

Masyarakat tidak butuh klaim bahwa hukum adil jika dalam praktiknya berbeda. Mereka butuh bukti nyata bahwa hukum memang ditegakkan dengan setara. Tragedi Pasuruan pada 2021 sudah menjadi preseden bahwa kasus kelalaian besar bisa diproses hingga tuntas.

Maka kasus Garut pun seharusnya bisa berjalan dengan kecepatan dan ketegasan yang sama. Jika tidak, maka publik hanya akan semakin yakin bahwa pepatah lama masih berlaku: hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)