Antara Kata dan Fakta: Ujian Komunikasi Publik KDM di Tengah Musibah Pernikahan

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, belakangan tengah jadi sorotan terkait "pesta rakyat". (Sumber: ppid.jabarprov.go.id)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, belakangan tengah jadi sorotan terkait "pesta rakyat". (Sumber: ppid.jabarprov.go.id)

Peristiwa meninggalnya sejumlah warga saat acara “Balakecrakan” yang digelar putra Gubernur Jabar KDM, Maulana Akbar, di Garut pada Jumat (18/7), menyisakan duka mendalam.

Namun di balik tragedi tersebut, sebagai pemerhati komunikasi publik, penulis melihat ada persoalan lebih serius: bagaimana seorang pejabat berkomunikasi di ruang publik ketika krisis terjadi.

Video bertanggal 14 Juli di kanal KDM Channel berjudul “Ini Pesan KDM Pada A Ula – Menjelang Pernikahan Dengan Teh Putri Karlina di Garut” menunjukkan secara gamblang rencana penyelenggaraan acara yang dibuka untuk umum, lengkap dengan hiburan dan sajian makanan gratis.

Dalam video itu, KDM bahkan menanyakan kapasitas konsumsi untuk ribuan orang, dan sang anak menjawab, “sekuat-kuatnya.” Makanan yang disebutkan termasuk klepon, mie ayam, bakso, hingga burayot. Semuanya disiapkan untuk warga.

Namun ironisnya, setelah tragedi terjadi, KDM dalam wawancaranya menyebut bahwa ia telah melarang adanya makan-makan, namun panitia mengabaikan. Lebih jauh lagi, dalam pernyataan lain, ia mengaku tidak mengetahui adanya acara makan gratis.

Dua pernyataan yang saling bertolak belakang itu menggambarkan ketidakselarasan antara komunikasi dan kenyataan. Ditambah janji santunan Rp150 juta per korban, narasi seakan diarahkan bahwa tragedi ini bisa selesai dengan kompensasi materi.

Pola komunikasi yang tidak konsisten seperti ini berbahaya, apalagi dilakukan oleh pejabat publik. Saat ucapan dan tindakan tidak sejalan, masyarakat berisiko kehilangan pegangan informasi yang benar. Dalam konteks krisis, hal ini bukan sekadar salah bicara, ia menyangkut nyawa, tanggung jawab, dan kepercayaan publik.

Yang tak kalah memprihatinkan adalah respons warganet yang justru menyalahkan para korban. Di berbagai media sosial, warga Garut dicap “tidak tertib”, “susah diatur”, hingga “belum dewasa secara sosial”. Kritik terhadap panitia atau penyelenggara hampir tak terdengar.

Padahal, pertanyaan-pertanyaan krusial seperti: apakah ada petugas pengaman? bagaimana alur evakuasi? berapa kapasitas lokasi? dan bagaimana pengendalian massa? Ini semestinya jadi perhatian utama sedari awal.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana citra pemimpin bisa membentuk fanatisme digital yang membutakan. KDM, yang populer berkat gaya komunikasi populis dan visualnya, nyatanya telah melahirkan pengikut yang cenderung anti-kritik dan mudah menyerang mereka yang berbeda pandangan.

Ini bukan semata urusan komunikasi, tapi juga soal relasi kuasa yang tak sehat antara rakyat dan pejabat publik.

Tangkapan layar kekacauan pesta pernikahan anak KDM di Garut. (Sumber: Istimewa)
Tangkapan layar kekacauan pesta pernikahan anak KDM di Garut. (Sumber: Istimewa)

Apakah kondisi ini harus dibiarkan? Jawabannya tentu tidak. Pemulihan bisa dimulai dari dua arah.

Pertama, dalam jangka pendek, ruang digital perlu dijadikan arena pertukaran gagasan, bukan ladang serangan. Jurnalis, akademisi, dan aktivis harus hadir secara konsisten menawarkan narasi tandingan, bukan hanya dengan argumen kuat, tapi juga dengan format yang mudah dipahami (video pendek, podcast, infografik).

Di situ, penting disampaikan bahwa integritas pejabat publik tak cukup hanya tampil di kamera, tapi harus dibuktikan lewat keselarasan kata dan tindakan.

Kedua, dalam jangka panjang, pendidikan kewargaan perlu direvitalisasi. Sekolah dan universitas harus kembali menanamkan nalar demokrasi: bahwa pemimpin sejati bukan yang populer semata, tapi yang mampu membangun sistem kerja yang andal.

Termasuk dalam hal ini adalah sistem penyelenggaraan acara publik yang aman, tertib, dan manusiawi, dari pesta pernikahan hingga festival budaya.

Kita butuh warga negara yang berpikir kritis, bukan hanya penggemar yang memuja figur. Kita juga memerlukan partai politik dan lembaga negara yang berhenti menjual sosok, dan mulai menanamkan pentingnya sistem.

Demokrasi yang matang tak lahir dari pencitraan belaka, tapi dari keberanian menyandingkan nilai, etika, dan mekanisme.

Saatnya publik mendewasa. Membedakan mana komunikasi yang jujur dan mana yang sekadar memikat. Karena nyawa tak bisa dibayar dengan narasi, apalagi jika narasi itu berubah-ubah tergantung situasi. (*)

Video Terbaru Ayobandung:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)