Perempuan Pemuka Agama, Kenapa Tidak?

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Dalam Islam, Fatimah az-Zahra, putri Nabi, berdiri sebagai teladan kesetiaan, keberanian, dan pengetahuan. (Sumber: Pexels/Mohamed Zarandah)
Dalam Islam, Fatimah az-Zahra, putri Nabi, berdiri sebagai teladan kesetiaan, keberanian, dan pengetahuan. (Sumber: Pexels/Mohamed Zarandah)

Agama, selama berabad-abad, seperti kapal besar yang dinahkodai laki-laki. Dari mimbar, altar, podium, hingga majelis fatwa, suara yang terdengar dominan adalah suara maskulin. Seolah hanya mereka yang punya akses sah kepada yang Ilahi. Seolah tafsir, arah umat, dan keputusan etis hanya valid bila keluar dari bibir laki-laki dewasa.

Dalam struktur seperti itu, pengalaman perempuan terutama pengalaman ketubuhan, spiritualitas feminis, kasih, dan pergulatan hidupnya, sering dianggap tidak universal, relevan, bahkan sesat. Padahal, bukankah yang berlaku bagi semua orang itu selama ini hanya cermin dari yang hegemonik maskulin?

Dominasi ini bukan sekadar ketimpangan angka. Ia menjelma dalam bentuk patriarkis teologis yang membatasi siapa yang boleh menafsir, berbicara, atau bahkan menjadi simbol kesucian. Efeknya nyata, kekerasan fisik hingga epistemik, suara dan pengalaman perempuan dikeluarkan dari sumber pengetahuan agama.

Kekerasan selalu hadir dalam bentuk pengajaran keagamaan yang kerap menyalahkan tubuh perempuan, menyingkirkan kepemimpinan mereka, atau menempatkan mereka sebagai “pengikut setia” yang dikebiri daya kritisnya.

Tradisi Agama-Agama

Namun sejarah dan bahkan tradisi suci sendiri, tidak sepenuhnya kering dari figur perempuan suci. Di hampir semua agama, ada jejak perempuan yang kuat. Ikon dan inspirasi iman.

Dalam tradisi Kristen khususnya Katolik, ada Bunda Maria, simbol kasih, keteguhan, dan keluhuran. Dalam Islam, Fatimah az-Zahra, putri Nabi, berdiri sebagai teladan kesetiaan, keberanian, dan pengetahuan. Dalam Hindu, kita temui Dewi Saraswati, Durga, dan Parwati, manifestasi Shakti ialah daya ilahi yang menjadi sumber kehidupan dan pengetahuan.

Dalam Buddhisme Mahayana, Guanyin atau Kwan Im adalah lambang welas asih tanpa batas, dewi yang mendengar jeritan dunia. Dalam tradisi Yahudi, Deborah dan Ester hadir sebagai nabiah dan ratu yang menegosiasikan kuasa politik dengan religi. Di tanah Sunda, Sunan Ambu menjadi figur keibuan dan Sang Ilahi Tertinggi. Dan dalam Shinto Jepang, Amaterasu, dewi matahari, menjadi pusat tatanan dunia spiritual.

Dari semua itu, jelas bahwa agama selalu menyisakan ruang bagi religiusitas perempuan. Hanya saja ruang itu sering dipersempit oleh pandangan dan sistem sosial yang berlapis.

Tokoh Perempuan Religius di Indonesia

Ilustrasi tradisi budaya. (Sumber: Pexels/Arjun Adinata)
Ilustrasi tradisi budaya. (Sumber: Pexels/Arjun Adinata)

Tapi iman kita tak berhenti di situ. Di Indonesia modern, kian banyak perempuan yang menegaskan haknya untuk bukan sekadar penganut, tapi pemuka, pengajar, teladan, dan penjaga makna agama.

Kita bisa menyebut beberapa nama. Gedong Bagoes Oka, tokoh perempuan Hindu Bali yang sejak awal abad ke-20 memperjuangkan perdamaian lintas agama dan hak asasi manusia berbasis dharma khususnya ahimsa. Ia sebagai salah seorang presiden dari World Conference on Religion and Peace. Dalam Buddha, Bhikkhuni Santini Mahatheri menjadi bhikkhuni pertama Indonesia yang ditahbiskan di Sri Lanka pada 1998. Sebuah langkah berani memulihkan tradisi bhikkhuni yang hilang selama berabad-abad.

Dalam teologi Kristen, Marianne Katoppo adalah nama yang tak tergantikan. Ia juga seorang jurnalis dan pelaku sastra perempuan Indonesia. Salah satu karyanya seperti Compassionate and Free: An Asian Woman's Theology (1979), menegaskan pentingnya otoritas perempuan sebagai subjek beragama. Islam dan dunia cendekianya, memunculkan tokoh seperti Nyai Nur Rofiah, ulama perempuan yang tak lelah mengajarkan tafsir keadilan hakiki perempuan. Bersama gerakannya berhasil memperlengkapi metode khas di Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Di ranah agama lokal ada Mama Aleta Baun dari Nusa Tenggara Timur. Ia memimpin perlawanan terhadap tambang batu marmer yang merusak tanah leluhur, dengan keyakinan dan tenunan tangan, spiritualitasnya menjelma jadi aksi politik. Auw Tjoei Lan, seorang pejuang perempuan Tionghoa, menerima penghargaan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) atas kiprahnya dalam memberantas perdagangan perempuan di Indonesia. Ia dikenal karena dedikasinya mengangkat martabat perempuan dan menampilkan wajah kemanusiaan ajaran Konghucu yang berjiwa sosial dan berkeadilan.

Gerakan perempuan dalam agama juga mulai menata dirinya sendiri. Dalam Islam Indonesia, sebagaimana telah disebutkan ada KUPI, wadah ulama perempuan yang menghasilkan fatwa-fatwa progresif. Dalam lingkup penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, lahir Puanhayati, wadah perempuan penghayat yang menegaskan agama Nusantara sebagai ruang hidup yang menghargai tubuh dan bumi. Di lingkungan gereja dan Kekristenan Protestan, lahir Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) yang berkomitmen mengembangkan teologi berbasis pengalaman perempuan.

Kemanusiaan Perempuan

Satu per satu dari semua kenyataan di atas menunjukkan bahwa agama bukan ruang monopoli laki-laki, dan religiusitas perempuan bukan sekadar pelengkap. Justru, perempuan membawa warna, kedalaman, dan perspektif yang memperkaya kehidupan umat beragama. Mereka menghadirkan agama yang peduli pada tubuh, bumi, dan kehidupan, bukan hanya pada dogma dan kuasa.

Lalu pertanyaannya kini, mengapa masih banyak yang memandang perempuan pemuka agama sebagai anomali? Mungkin karena kita belum siap menerima bahwa kehadiran perempuan dalam ruang sakral mengganggu tatanan lama, yang menempatkan Tuhan dalam bingkai maskulin. Padahal kalau kita berani membuka diri, kita akan melihat bahwa perempuan tidak sedang merebut kuasa laki-laki. Mereka sedang mengembalikan keseimbangan religiusitas manusia yang selama ini timpang.

Agama, kalau ia sungguh hidup, mestinya membuka diri pada situasi-situasi yang berkembang seiring zaman. Termasuk pada masalah kekerasan terhadap perempuan yang kerap terjadi dalam nuansa keagamaan. Perempuan harus kembali pada martabatnya sebagai manusia yang utuh.

Perempuan pemuka agama meneratas kebuntuan tersebut, mereka bukan ancaman bagi iman kita, tapi peluang bagi agama yang menjadi lebih manusiawi. Mereka tidak sekadar berdiri di mimbar, tapi menenun kehidupan baru. Penuh dengan kasih, kebijaksanaan, dan keberanian, di tengah dunia yang makin maju sekaligus ambigu meminggirkan perempuan di tepi kekuasaan.

Jadi, perempuan pemuka agama, kenapa tidak? Marilah dukung dengan sehat, marilah berkhidmat dalam cahaya kita masing-masing. Dalam keyakinan bersama bahwa agama juga datang bagi perempuan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)