Benarkah Budidaya Maggot dalam Program 'Buruan Sae' Jadi Solusi Efektif Sampah Kota Bandung?

3 menit baca
Ismi Asita
Ditulis oleh Ismi Asita diterbitkan
Budidaya maggot di RW 9 Lebakgede menjadi upaya warga mengolah sampah organik agar bermanfaat bagi lingkungan sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Budidaya maggot di RW 9 Lebakgede menjadi upaya warga mengolah sampah organik agar bermanfaat bagi lingkungan sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Setiap hari, Kota Bandung bergulat dengan persoalan sampah yang kian menumpuk. Di balik hiruk pikuk aktivitas warganya, sekitar 60 persen timbulan sampah harian ternyata berasal dari limbah organik—sisa dapur, dedaunan, dan bahan mudah terurai lainnya.

Angka ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tak selalu hadir dari sesuatu yang jauh, melainkan dari rutinitas paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Persoalan sampah organik di Kota Bandung sejatinya tidak hanya terletak pada volumenya yang besar, tetapi juga pada minimnya kesadaran warga untuk memilah dan memilih sampah sejak dari rumah.

Banyak limbah organik yang seharusnya dapat diolah justru tercampur dengan sampah anorganik, sehingga menyulitkan proses pengelolaan lanjutan dan memperpanjang persoalan di hilir.

Rumah maggot di branghang RW 9, Kelurahan Lebakgede. Kasgot yang dihasilkan dari budidaya ini digunakan untuk pupuk tanaman hidpronik di sekitarnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Rumah maggot di branghang RW 9, Kelurahan Lebakgede. Kasgot yang dihasilkan dari budidaya ini digunakan untuk pupuk tanaman hidpronik di sekitarnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Melalui Program Buruan Sae, Pemerintah Kota Bandung mengintegrasikan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari strategi pengelolaan limbah. Program yang digagas oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung ini sejatinya merupakan model urban farming berbasis pekarangan, yang kini berkembang menjadi lebih dari sekadar gerakan menanam.

Padahal, ketika warga tergerak secara serentak untuk melakukan pemilahan sederhana—memisahkan sisa makanan dan limbah dapur dari sampah lainnya—rantai solusi dapat berjalan jauh lebih efektif. Sampah organik yang bersih dan terpilah menjadi bahan baku ideal bagi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), sebuah metode pengolahan yang cepat, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Di titik inilah, budidaya maggot tidak lagi sekadar menjadi solusi teknis pengolahan sampah, melainkan gerakan kolektif berbasis kesadaran. Ketika warga berperan aktif, limbah organik dapat diubah menjadi sumber daya baru—menghasilkan pakan ternak, mengurangi beban TPA, sekaligus membuka peluang ekonomi di tingkat komunitas.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Upaya membangun kesadaran pengelolaan sampah berbasis komunitas juga tumbuh di tingkat kelurahan. Di Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, budidaya maggot kini menjadi bagian dari ikhtiar warga dalam menghadapi persoalan limbah organik sehari-hari. Di balik gerakan ini, ada sosok Bapak Azun, seorang aktivis lingkungan yang konsisten mengajak warga untuk memulai perubahan dari rumah masing-masing.

Pada sesi wawancara ia mengungkapkan bahwa ketika warga sadar dan tergerak untuk memilah dan memilih sampah di rumahnya masing-masing, itu akan sangat membantu dalam mengatasi krisis sampah yang ada di Kota Bandung khususnya. 

“Kalau masyarakat memilah memilih, maka sampah bisa dikirimkan langsung supaya sampah di masing-masing rumah tidak menumpuk dan tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan tidak bau intinya tidak menjadi sarang penyakit.” Tuturnya.

Jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, pola ini akan membentuk ekonomi sirkular, di mana sampah tidak berhenti sebagai residu, melainkan kembali ke siklus produksi dan konsumsi. Dengan demikian, kunci keberhasilan budidaya maggot bukan hanya terletak pada teknologi atau fasilitas, tetapi pada perubahan perilaku warga dalam memandang dan mengelola sampah dari sumbernya.

Integrasi budidaya maggot dalam Program Buruan Sae menjadi penegasan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat. Hingga kini, program ini telah memfasilitasi pembangunan sarana budidaya maggot di 51 titik Buruan Sae. Dampaknya meluas, menginspirasi hadirnya 149 hanggar maggot yang kini tersebar di berbagai wilayah Kota Bandung.

Lebih dari sekadar inovasi teknis, Buruan Sae menunjukkan bahwa solusi lingkungan dapat lahir dari pekarangan rumah. Dari sana, kesadaran kolektif tumbuh—bahwa sampah bukan akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari nilai baru yang diciptakan bersama.

Baca Juga: Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Tengah Perebutan Ruang Hidup

Kehadiran tempat budidaya maggot di Cipadung Kulon menjadi contoh nyata bahwa solusi pengelolaan sampah tidak selalu harus berskala besar. Dengan kesadaran, konsistensi, dan keterlibatan masyarakat, perubahan dapat tumbuh dari lingkungan terkecil—dan perlahan membentuk ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Kota Bandung.

Di akhir wawancara, Azun mengajak masyarakat untuk lebih peka akan kebersihan lingkungan untuk dampak yang berkelanjutan dengan mulai memilah dan memilih sampah di masing-masing rumah guna menciptakan lingkungan bersih dan terhindar dari penyakit.

“Mari kita sama-sama membantu pemerintah untuk melaksanakan program maggotnisasi agar sampah yang ada menjadi lebih terkelola dengan baik.” Pungkasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)