Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Benarkah Budidaya Maggot dalam Program 'Buruan Sae' Jadi Solusi Efektif Sampah Kota Bandung?

Ismi Asita
Ditulis oleh Ismi Asita diterbitkan Senin 15 Des 2025, 08:31 WIB
Budidaya maggot di RW 9 Lebakgede menjadi upaya warga mengolah sampah organik agar bermanfaat bagi lingkungan sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Budidaya maggot di RW 9 Lebakgede menjadi upaya warga mengolah sampah organik agar bermanfaat bagi lingkungan sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Setiap hari, Kota Bandung bergulat dengan persoalan sampah yang kian menumpuk. Di balik hiruk pikuk aktivitas warganya, sekitar 60 persen timbulan sampah harian ternyata berasal dari limbah organik—sisa dapur, dedaunan, dan bahan mudah terurai lainnya.

Angka ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tak selalu hadir dari sesuatu yang jauh, melainkan dari rutinitas paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Persoalan sampah organik di Kota Bandung sejatinya tidak hanya terletak pada volumenya yang besar, tetapi juga pada minimnya kesadaran warga untuk memilah dan memilih sampah sejak dari rumah.

Banyak limbah organik yang seharusnya dapat diolah justru tercampur dengan sampah anorganik, sehingga menyulitkan proses pengelolaan lanjutan dan memperpanjang persoalan di hilir.

Rumah maggot di branghang RW 9, Kelurahan Lebakgede. Kasgot yang dihasilkan dari budidaya ini digunakan untuk pupuk tanaman hidpronik di sekitarnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Rumah maggot di branghang RW 9, Kelurahan Lebakgede. Kasgot yang dihasilkan dari budidaya ini digunakan untuk pupuk tanaman hidpronik di sekitarnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Melalui Program Buruan Sae, Pemerintah Kota Bandung mengintegrasikan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari strategi pengelolaan limbah. Program yang digagas oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung ini sejatinya merupakan model urban farming berbasis pekarangan, yang kini berkembang menjadi lebih dari sekadar gerakan menanam.

Padahal, ketika warga tergerak secara serentak untuk melakukan pemilahan sederhana—memisahkan sisa makanan dan limbah dapur dari sampah lainnya—rantai solusi dapat berjalan jauh lebih efektif. Sampah organik yang bersih dan terpilah menjadi bahan baku ideal bagi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), sebuah metode pengolahan yang cepat, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Di titik inilah, budidaya maggot tidak lagi sekadar menjadi solusi teknis pengolahan sampah, melainkan gerakan kolektif berbasis kesadaran. Ketika warga berperan aktif, limbah organik dapat diubah menjadi sumber daya baru—menghasilkan pakan ternak, mengurangi beban TPA, sekaligus membuka peluang ekonomi di tingkat komunitas.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Upaya membangun kesadaran pengelolaan sampah berbasis komunitas juga tumbuh di tingkat kelurahan. Di Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, budidaya maggot kini menjadi bagian dari ikhtiar warga dalam menghadapi persoalan limbah organik sehari-hari. Di balik gerakan ini, ada sosok Bapak Azun, seorang aktivis lingkungan yang konsisten mengajak warga untuk memulai perubahan dari rumah masing-masing.

Pada sesi wawancara ia mengungkapkan bahwa ketika warga sadar dan tergerak untuk memilah dan memilih sampah di rumahnya masing-masing, itu akan sangat membantu dalam mengatasi krisis sampah yang ada di Kota Bandung khususnya. 

“Kalau masyarakat memilah memilih, maka sampah bisa dikirimkan langsung supaya sampah di masing-masing rumah tidak menumpuk dan tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan tidak bau intinya tidak menjadi sarang penyakit.” Tuturnya.

Jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, pola ini akan membentuk ekonomi sirkular, di mana sampah tidak berhenti sebagai residu, melainkan kembali ke siklus produksi dan konsumsi. Dengan demikian, kunci keberhasilan budidaya maggot bukan hanya terletak pada teknologi atau fasilitas, tetapi pada perubahan perilaku warga dalam memandang dan mengelola sampah dari sumbernya.

Integrasi budidaya maggot dalam Program Buruan Sae menjadi penegasan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat. Hingga kini, program ini telah memfasilitasi pembangunan sarana budidaya maggot di 51 titik Buruan Sae. Dampaknya meluas, menginspirasi hadirnya 149 hanggar maggot yang kini tersebar di berbagai wilayah Kota Bandung.

Lebih dari sekadar inovasi teknis, Buruan Sae menunjukkan bahwa solusi lingkungan dapat lahir dari pekarangan rumah. Dari sana, kesadaran kolektif tumbuh—bahwa sampah bukan akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari nilai baru yang diciptakan bersama.

Baca Juga: Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Tengah Perebutan Ruang Hidup

Kehadiran tempat budidaya maggot di Cipadung Kulon menjadi contoh nyata bahwa solusi pengelolaan sampah tidak selalu harus berskala besar. Dengan kesadaran, konsistensi, dan keterlibatan masyarakat, perubahan dapat tumbuh dari lingkungan terkecil—dan perlahan membentuk ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Kota Bandung.

Di akhir wawancara, Azun mengajak masyarakat untuk lebih peka akan kebersihan lingkungan untuk dampak yang berkelanjutan dengan mulai memilah dan memilih sampah di masing-masing rumah guna menciptakan lingkungan bersih dan terhindar dari penyakit.

“Mari kita sama-sama membantu pemerintah untuk melaksanakan program maggotnisasi agar sampah yang ada menjadi lebih terkelola dengan baik.” Pungkasnya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ismi Asita
Tentang Ismi Asita
Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang gemar menulis tentang lifestyle, kuliner, buku, dan berbagai hal menarik lainnya.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)