Hikayat Pembubaran Diskusi Ultimus, Jejak Paranoia Kiri di Bandung

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi pembubaran diskusi di Ultimus Bandung.
Ilustrasi pembubaran diskusi di Ultimus Bandung.

AYOBANDUNG.ID - Sore itu, 14 Desember 2006, udara Bandung tak sedang buruk-buruk amat. Di Jalan Lengkong Besar, sebuah toko buku kecil bernama Ultimus bersiap menggelar diskusi bertajuk Gerakan Marxisme Internasional. Acara ini bukan hal baru bagi mereka yang biasa nongkrong di sana. Ultimus sejak berdiri pada 2004 memang menjadi semacam oasis kecil bagi mahasiswa, aktivis, dan penggiat literasi yang haus bacaan alternatif. Di sana, buku-buku bertema sosialisme, gerakan buruh, dan filsafat kiri berdampingan dengan poster-poster tua yang mengingatkan kita pada semangat diskusi masa kampus yang hidup.

Tapi, bagi sebagian orang, kata Marxisme saja sudah cukup bikin keringat dingin. Bukan karena mereka benar-benar paham isi Das Kapital, tapi karena hantu 1965 masih berkeliaran dalam bentuk paranoia kolektif. Ketika Ultimus mdnghelat diskusi ihhal panorama gerakan kiri, banyak yang menganggapnya sebagai sinyal bahaya.

Sore berganti malam, sekitar pukul tujuh, halaman kecil toko buku itu sudah dipenuhi sekitar 50 orang. Mereka datang dari berbagai kampus di Bandung: Unpad, ITB, Unpas, dan UPI. Tak ada bendera merah, tak ada nyanyian revolusioner. Hanya orang-orang muda yang ingin tahu tentang gerakan buruh di luar negeri.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

Sekitar 30 orang berseragam loreng hijau kuning sudah muncul sebelum diskusi dimulai. Mereka datang beriringan, membawa spanduk dan logo Pemuda Panca Marga (PPM), organisasi yang dikenal dekat dengan kalangan veteran militer dan menolak keras segala yang berbau kiri. Di bawah komando Adang Supriyadi, mereka mengaku mewakili Persatuan Masyarakat Anti Komunis (Permak). Bagi mereka, diskusi ini bukanlah forum intelektual, melainkan rapat gelap untuk menghidupkan kembali komunisme.

Ketika diskusi baru berjalan 20 menit, Adang berdiri dan menerobos barisan kursi. Ia merebut mikrofon dan berteriak lantang, “Kegiatan komunis tidak relevan lagi. Kami sebagai warga Bandung tidak setuju ada kegiatan komunis di sini," kata Adang seperti yang diarsipkan dalam catatan Ultimus.

Suasana mendadak panas. Kursi beterbangan, dan dalam sekejap Ultimus berubah jadi arena kekacauan.

Para peserta berlarian ke luar toko, beberapa menyeberang ke kampus Unpas di seberang jalan. Tapi malam itu, batas antara “diskusi” dan “pemburuan” lenyap. Anggota Panca Marga melakukan penyisiran ke dalam kampus, mencari siapa saja yang diduga ikut diskusi. Delapan orang, ditangkap dan dibawa ke Markas Polwiltabes Bandung.

Lucunya, yang membawa mereka bukan polisi, tapi ormas itu sendiri.

Suasana diskusi di Ultimus Bandung. (Sumber: Ultimus)
Suasana diskusi di Ultimus Bandung. (Sumber: Ultimus)

Setelah situasi mereda, sekitar 10 orang peserta kembali lagi ke lokasi diskusi. Polisi kemudian datang. Begitu tiba, mereka malah ikut menyita barang-barang di lokasi: poster bergambar Karl Marx dan atribut lain yang masih tersisa. Ultimus pun disegel dengan police line selama sepuluh hari.

Baca Juga: Bandung di Persimpangan Kiri Jalan: Dari Ingatan ke Gerakan

Pembubaran diskusi Ultimus bukan sekadar insiden kecil di sebuah toko buku. Ia adalah potret kecil dari sesuatu yang lebih besar: trauma nasional yang tak pernah diobati. TAP MPRS No. XXV/1966, yang melarang penyebaran komunisme dan marxisme-leninisme, masih menjadi kartu sakti yang bisa dikeluarkan kapan saja untuk membungkam siapa pun yang dianggap kiri.

Bagi Pemuda Panca Marga, tindakan mereka malam itu dianggap bentuk kewaspadaan. Tapi bagi peserta diskusi, yang terjadi jelas bentuk intimidasi.

Delapan orang yang ditangkap akhirnya dibebaskan pada Jumat malam, 15 Desember 2006. Tidak ada satu pun tuduhan pidana yang bisa dibuktikan. Tapi dampaknya besar. Ultimus mengalami kerugian finansial, kehilangan buku, dan disegel hampir dua minggu. Lebih dari itu, peristiwa ini menanamkan rasa takut yang lebih dalam: bahwa bahkan di era Reformasi, kebebasan berpikir masih harus meminta izin kepada mereka yang merasa paling patriotik.

Suara berseberangan dengan tindak tanduk ormas juga muncul. Aliansi Bandung untuk Kebebasan Berpikir, Berpendapat, dan Berkumpul (ABK3B) menilai tindakan ormas dan polisi itu tidak dibenarkan oleh KUHAP. Pembubaran diskusi dinilai sebagai bentuk penyebaran kebencian dan keresahan di tengah masyarakat.

Yang menarik, Ultimus bukan satu-satunya korban. Sejak 2006 hingga 2014, ada sedikitnya sembilan kasus serupa di berbagai kota: Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Jombang. Polanya hampir sama: sebuah diskusi atau peluncuran buku yang menyebut nama Marx, Lenin, atau kiri sedikit saja, langsung dianggap ancaman negara. Pelakunya juga mirip: gabungan ormas, polisi, dan warga resah.

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

Pada Maret 2016, paranoia kiri di Bandung kembali muncul. Kala itu, monolog Tan Malaka di Institut Francais Indonesia (IFI) berjudul Saya Rusa Berbulu Merah dibubarkan setelah mendapat intimidasi dari Front Pembela Islam (FPI) yang ironisnya kini sudah dibubarkan pemerintah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)