Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Bandung di Persimpangan Kiri Jalan: Dari Ingatan ke Gerakan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Minggu 28 Sep 2025, 18:01 WIB
Buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar. (Sumber: Istimewa)

Buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar. (Sumber: Istimewa)

Bandung hari ini sering dijual dengan citra “kota kreatif,” penuh festival, kuliner, dan wisata belanja. Kota yang ramah bagi kaum muda urban, kota yang gemerlap di media sosial. Tetapi di balik citra itu, ada wajah lain yang sering terlupakan: Bandung sebagai kota perlawanan. Kota tempat lahir dan tumbuhnya jaringan gerakan kiri, media alternatif, hingga perempuan pelopor yang berani menentang norma zamannya.

Buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar hadir untuk membuka kembali lipatan sejarah itu. Ia mengingatkan bahwa Bandung bukan hanya soal Braga atau Gedung Sate, melainkan juga soal kelas pekerja, pelajar, dan aktivis yang pernah menantang kolonialisme dengan rapat, tulisan, dan solidaritas.

Bagi saya, buku ini tidak sekadar bacaan sejarah. Ia adalah semacam peta jalan—meski jalannya penuh simpang siur—yang memberi inspirasi bagi gerakan hari ini.

Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya mengungkap kontinuitas perlawanan yang kerap digusur dari narasi resmi. Dari arsip koran kolonial tahun 1920–30an, kita melihat bahwa perlawanan rakyat Bandung tidak hanya berwujud demonstrasi, melainkan juga muncul di ruang redaksi, tulisan tajam, hingga suara perempuan yang melampaui batas zamannya.

Menghadirkan kembali sejarah ini penting. Banyak gerakan masa kini sibuk dengan “isu kekinian” tanpa akar, padahal solidaritas lintas generasi hanya bisa dibangun jika kita tahu jejak langkah sebelumnya. Membaca buku ini seperti diajak belajar dari mereka yang dulu menghadapi represi dan propaganda, tetapi tetap menemukan cara untuk melawan.

Buku ini menyingkap bagaimana jaringan aktivis kiri Bandung membangun komunikasi lintas kelompok. Media alternatif—dulu berupa koran, pamflet, bacaan kolektif—menjadi senjata untuk menghadapi narasi kolonial yang dominan.

Pelajaran ini terasa dekat dengan situasi sekarang. Fragmentasi gerakan masa kini—antara isu buruh, lingkungan, gender, maupun urban—bisa dijembatani dengan jaringan komunikasi yang konsisten. Jika dulu ada Sinar Djawa atau Api, kini ada peluang di blog, podcast, kanal YouTube, hingga zine digital.

Masalahnya bukan lagi teknologi, melainkan kemauan: apakah kita mau menjadikan media sebagai alat mobilisasi, atau sekadar hiburan lalu-lintas algoritma?

Perempuan di Pinggir Panggung

Buku "Bandung Di Persimpangan Kiri Jalan" karya Hafidz Azhar, penulis temukan di Pasar Minggu edisi 14 Jl. Garut No. 2 Bandung. (Sumber: Komunitas Pasar Minggu Bandung)
Buku "Bandung Di Persimpangan Kiri Jalan" karya Hafidz Azhar, penulis temukan di Pasar Minggu edisi 14 Jl. Garut No. 2 Bandung. (Sumber: Komunitas Pasar Minggu Bandung)

Buku ini memang memberi ruang bagi tokoh-tokoh perempuan dalam gerakan kiri Bandung, tetapi bagi pembaca yang hidup di masa kini, ruang itu terasa belum cukup. Narasi tentang perempuan pekerja, buruh tani, atau anak muda marginal masih jarang muncul.

Gerakan sekarang butuh cara pandang yang lebih interseksional: bahwa penindasan tidak berdiri sendiri, melainkan saling bertaut antara kelas, gender, etnis, dan usia. Jika dulu ada keberanian menembus norma patriarki, maka tradisi itu mestinya dilanjutkan dengan lebih serius hari ini.

Sebagai bunga rampai, buku ini memang punya keterbatasan. Namun justru di situlah peluangnya. Buku ini menegaskan pentingnya penelitian kolektif di tingkat lokal: menulis ulang sejarah komunitas kelurahan, organisasi buruh, kelompok tani, atau kolektif seni.

Bayangkan jika tiap komunitas di Bandung punya “arsip rakyat” sendiri, lalu saling berbagi dalam forum kolektif. Sejarah tidak lagi jadi milik akademisi, melainkan milik rakyat. Arsip bukan hanya catatan, tetapi bahan bakar untuk aksi.

Baca Juga: Sunda dan Buddha yang Langka Kita Baca

Membicarakan perlawanan di Bandung tanpa menyinggung seni kontemporer tentu terasa pincang. Sejak 1990-an hingga hari ini, Bandung dikenal sebagai salah satu pusat seni kontemporer di Indonesia. Kolektif-kolektif seni, ruang alternatif, dan komunitas kreatif tumbuh bukan hanya sebagai wadah ekspresi estetik, tetapi juga sebagai ruang resistensi.

Melalui pameran, mural, zine, pertunjukan musik, hingga aksi performans, para seniman Bandung kerap menyingkap isu-isu sosial: penggusuran, ketidakadilan kelas, eksploitasi lingkungan, hingga represi politik. Seni menjadi bahasa lain dari perlawanan—bahasa yang mampu menembus audiens lebih luas dibanding jargon politik.

Yang menarik, banyak gerakan seni ini memilih bentuk kolektif. Mereka menolak hierarki formal, memilih cara kerja gotong royong, dan sering kali terhubung dengan isu-isu gerakan sosial lain: dari solidaritas buruh hingga advokasi ruang kota. Di sinilah peran seni kontemporer Bandung terasa signifikan dalam pergerakan pembebasan—ia tidak hanya menghibur, tetapi juga mengorganisir.

Persimpangan kiri jalan Bandung tidak bisa dipahami tanpa menengok jauh ke belakang. Multatuli dengan Max Havelaar (1860) memang bukan anarkis, tetapi kritiknya terhadap tanam paksa membuka jalan bagi kesadaran politik.

Jejaring internasional yang masuk kemudian membawa gagasan anarkisme ke Hindia Belanda. Buruh percetakan, pelabuhan, hingga kereta api di Bandung pernah bersentuhan dengan ide solidaritas lintas kelas dan swakelola komunitas.

Memang, arus itu kemudian nyaris tersapu oleh nasionalisme dan Marxisme, tetapi semangatnya tak pernah benar-benar mati. Jejaknya masih terasa—dari serikat buruh independen, kolektif seni, sampai zine-zine anarkis yang beredar di Bandung hari ini.

Pelajaran untuk Gerakan Kini

Apa yang bisa kita tarik dari semua ini?

  • Mengatasi fragmentasi. Gerakan dulu mampu membangun jejaring meski direpresi; gerakan sekarang harus belajar menyatukan isu tanpa mengorbankan keragaman.
  • Menghidupkan media alternatif. Dari Api hingga zine digital, media adalah alat perlawanan yang harus dihidupkan kembali.
  • Mengedepankan perempuan dan kelompok minoritas. Gerakan masa kini tidak bisa lagi menyingkirkan mereka ke pinggiran.
  • Menguatkan peran seni kontemporer. Seni bisa menjadi bahasa tandingan yang mengguncang kesadaran publik sekaligus ruang organisir yang cair.
  • Pendidikan sejarah aktivis. Buku ini bisa jadi bahan workshop dan diskusi bagi aktivis muda. Karena mengingat adalah tindakan politik.

Bandung di Persimpangan Kiri Jalan memberi kita potongan-potongan ingatan. Tapi tugas kita bukan berhenti pada nostalgia. Ingatan hanya bermakna jika dijahit menjadi bendera perjuangan.

Pertanyaan terpenting setelah membaca buku ini bukan “apa isinya,” melainkan “apa yang akan kita lakukan setelah menutupnya?” Jika lupa, kita akan mengulang kesalahan. Jika ingat, kita bisa melanjutkan perlawanan dengan cara-cara baru.

Seperti kata seorang kawan aktivis: “Mengingat adalah tindakan politik. Nostalgia tidak pernah mengubah apa-apa. Tetapi ingatan yang dihidupkan bersama bisa menjadi senjata.” (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)