Bandung di Persimpangan Kiri Jalan: Dari Ingatan ke Gerakan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar. (Sumber: Istimewa)
Buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar. (Sumber: Istimewa)

Bandung hari ini sering dijual dengan citra “kota kreatif,” penuh festival, kuliner, dan wisata belanja. Kota yang ramah bagi kaum muda urban, kota yang gemerlap di media sosial. Tetapi di balik citra itu, ada wajah lain yang sering terlupakan: Bandung sebagai kota perlawanan. Kota tempat lahir dan tumbuhnya jaringan gerakan kiri, media alternatif, hingga perempuan pelopor yang berani menentang norma zamannya.

Buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar hadir untuk membuka kembali lipatan sejarah itu. Ia mengingatkan bahwa Bandung bukan hanya soal Braga atau Gedung Sate, melainkan juga soal kelas pekerja, pelajar, dan aktivis yang pernah menantang kolonialisme dengan rapat, tulisan, dan solidaritas.

Bagi saya, buku ini tidak sekadar bacaan sejarah. Ia adalah semacam peta jalan—meski jalannya penuh simpang siur—yang memberi inspirasi bagi gerakan hari ini.

Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya mengungkap kontinuitas perlawanan yang kerap digusur dari narasi resmi. Dari arsip koran kolonial tahun 1920–30an, kita melihat bahwa perlawanan rakyat Bandung tidak hanya berwujud demonstrasi, melainkan juga muncul di ruang redaksi, tulisan tajam, hingga suara perempuan yang melampaui batas zamannya.

Menghadirkan kembali sejarah ini penting. Banyak gerakan masa kini sibuk dengan “isu kekinian” tanpa akar, padahal solidaritas lintas generasi hanya bisa dibangun jika kita tahu jejak langkah sebelumnya. Membaca buku ini seperti diajak belajar dari mereka yang dulu menghadapi represi dan propaganda, tetapi tetap menemukan cara untuk melawan.

Buku ini menyingkap bagaimana jaringan aktivis kiri Bandung membangun komunikasi lintas kelompok. Media alternatif—dulu berupa koran, pamflet, bacaan kolektif—menjadi senjata untuk menghadapi narasi kolonial yang dominan.

Pelajaran ini terasa dekat dengan situasi sekarang. Fragmentasi gerakan masa kini—antara isu buruh, lingkungan, gender, maupun urban—bisa dijembatani dengan jaringan komunikasi yang konsisten. Jika dulu ada Sinar Djawa atau Api, kini ada peluang di blog, podcast, kanal YouTube, hingga zine digital.

Masalahnya bukan lagi teknologi, melainkan kemauan: apakah kita mau menjadikan media sebagai alat mobilisasi, atau sekadar hiburan lalu-lintas algoritma?

Perempuan di Pinggir Panggung

Buku "Bandung Di Persimpangan Kiri Jalan" karya Hafidz Azhar, penulis temukan di Pasar Minggu edisi 14 Jl. Garut No. 2 Bandung. (Sumber: Komunitas Pasar Minggu Bandung)
Buku "Bandung Di Persimpangan Kiri Jalan" karya Hafidz Azhar, penulis temukan di Pasar Minggu edisi 14 Jl. Garut No. 2 Bandung. (Sumber: Komunitas Pasar Minggu Bandung)

Buku ini memang memberi ruang bagi tokoh-tokoh perempuan dalam gerakan kiri Bandung, tetapi bagi pembaca yang hidup di masa kini, ruang itu terasa belum cukup. Narasi tentang perempuan pekerja, buruh tani, atau anak muda marginal masih jarang muncul.

Gerakan sekarang butuh cara pandang yang lebih interseksional: bahwa penindasan tidak berdiri sendiri, melainkan saling bertaut antara kelas, gender, etnis, dan usia. Jika dulu ada keberanian menembus norma patriarki, maka tradisi itu mestinya dilanjutkan dengan lebih serius hari ini.

Sebagai bunga rampai, buku ini memang punya keterbatasan. Namun justru di situlah peluangnya. Buku ini menegaskan pentingnya penelitian kolektif di tingkat lokal: menulis ulang sejarah komunitas kelurahan, organisasi buruh, kelompok tani, atau kolektif seni.

Bayangkan jika tiap komunitas di Bandung punya “arsip rakyat” sendiri, lalu saling berbagi dalam forum kolektif. Sejarah tidak lagi jadi milik akademisi, melainkan milik rakyat. Arsip bukan hanya catatan, tetapi bahan bakar untuk aksi.

Baca Juga: Sunda dan Buddha yang Langka Kita Baca

Membicarakan perlawanan di Bandung tanpa menyinggung seni kontemporer tentu terasa pincang. Sejak 1990-an hingga hari ini, Bandung dikenal sebagai salah satu pusat seni kontemporer di Indonesia. Kolektif-kolektif seni, ruang alternatif, dan komunitas kreatif tumbuh bukan hanya sebagai wadah ekspresi estetik, tetapi juga sebagai ruang resistensi.

Melalui pameran, mural, zine, pertunjukan musik, hingga aksi performans, para seniman Bandung kerap menyingkap isu-isu sosial: penggusuran, ketidakadilan kelas, eksploitasi lingkungan, hingga represi politik. Seni menjadi bahasa lain dari perlawanan—bahasa yang mampu menembus audiens lebih luas dibanding jargon politik.

Yang menarik, banyak gerakan seni ini memilih bentuk kolektif. Mereka menolak hierarki formal, memilih cara kerja gotong royong, dan sering kali terhubung dengan isu-isu gerakan sosial lain: dari solidaritas buruh hingga advokasi ruang kota. Di sinilah peran seni kontemporer Bandung terasa signifikan dalam pergerakan pembebasan—ia tidak hanya menghibur, tetapi juga mengorganisir.

Persimpangan kiri jalan Bandung tidak bisa dipahami tanpa menengok jauh ke belakang. Multatuli dengan Max Havelaar (1860) memang bukan anarkis, tetapi kritiknya terhadap tanam paksa membuka jalan bagi kesadaran politik.

Jejaring internasional yang masuk kemudian membawa gagasan anarkisme ke Hindia Belanda. Buruh percetakan, pelabuhan, hingga kereta api di Bandung pernah bersentuhan dengan ide solidaritas lintas kelas dan swakelola komunitas.

Memang, arus itu kemudian nyaris tersapu oleh nasionalisme dan Marxisme, tetapi semangatnya tak pernah benar-benar mati. Jejaknya masih terasa—dari serikat buruh independen, kolektif seni, sampai zine-zine anarkis yang beredar di Bandung hari ini.

Pelajaran untuk Gerakan Kini

Apa yang bisa kita tarik dari semua ini?

  • Mengatasi fragmentasi. Gerakan dulu mampu membangun jejaring meski direpresi; gerakan sekarang harus belajar menyatukan isu tanpa mengorbankan keragaman.
  • Menghidupkan media alternatif. Dari Api hingga zine digital, media adalah alat perlawanan yang harus dihidupkan kembali.
  • Mengedepankan perempuan dan kelompok minoritas. Gerakan masa kini tidak bisa lagi menyingkirkan mereka ke pinggiran.
  • Menguatkan peran seni kontemporer. Seni bisa menjadi bahasa tandingan yang mengguncang kesadaran publik sekaligus ruang organisir yang cair.
  • Pendidikan sejarah aktivis. Buku ini bisa jadi bahan workshop dan diskusi bagi aktivis muda. Karena mengingat adalah tindakan politik.

Bandung di Persimpangan Kiri Jalan memberi kita potongan-potongan ingatan. Tapi tugas kita bukan berhenti pada nostalgia. Ingatan hanya bermakna jika dijahit menjadi bendera perjuangan.

Pertanyaan terpenting setelah membaca buku ini bukan “apa isinya,” melainkan “apa yang akan kita lakukan setelah menutupnya?” Jika lupa, kita akan mengulang kesalahan. Jika ingat, kita bisa melanjutkan perlawanan dengan cara-cara baru.

Seperti kata seorang kawan aktivis: “Mengingat adalah tindakan politik. Nostalgia tidak pernah mengubah apa-apa. Tetapi ingatan yang dihidupkan bersama bisa menjadi senjata.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)