Paradoks KDM: Dicintai Rakyat, Dikecam Pengamat

4 menit baca
Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Ditulis oleh Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom diterbitkan
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang banyak dikritik para pakar kebijakan publik. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang banyak dikritik para pakar kebijakan publik. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)

Panggung politik kita biasanya menyajikan retorika teknokratis dan janji-janji reformasi jangka panjang atau sering disederhanakan dengan istilah “omon-omon” belaka. Lalu muncullah sosok dengan pendekatan yang jauh berbeda. Kang Dedi Mulyadi, alias KDM, sosok kharismatik yang tidak menawarkan cetak biru rumit tentang pembangunan. Ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih konkret dan mendesak, yaitu solusi di tempat, orang sunda menyebutnya “pok torolong”.

Gaya kepemimpinannya yang turun langsung ke lapangan, menemui warga miskin, memediasi konflik antar kelompok masyarakat, hingga memberikan bantuan tunai meski dengan merogoh kantongnya sendiri menjadi ciri khas yang melekat padanya.

Hampir 5 bulan sudah sejak awal dilantik menjadi gubernur Jawa Barat, kontroversi atas kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM) tidak pernah berhenti setiap harinya. Datang banyak kritik dari para akademisi, pendekatan ini dianggap sebagai mimpi buruk tata kelola pemerintahan.

Para pengamat banyak melabeli KDM sebagai "populisme performatif", "narsistik-otokratis", dan hanya menawarkan solusi "tambal sulam" yang sama sekali tidak memperbaiki akar masalah dan hanya menyentuh permukaan saja. Pendekatan ini dinilai hanya mengobati gejala, bukan penyakitnya.

Namun dalam sudut pandang sebagian besar masyarakat jawa barat, gaya kepemimpinan inilah yang justru mereka dambakan. Terbukti dari survei yang secara konsisten menunjukkan tingkat kepuasan publik yang sangat tinggi terhadap kinerjanya.

Ketidaksinkronan persepsi masyarakat dan penilaian para pengamat, memunculkan pertanyaan baru dan menjadi PR besar bagi sistem birokrasi kita, siapa yang keliru disini? KDM atau sistemnya?

Hadirnya KDM sebagai “pemadam kebakaran” tidak bisa kita posisikan sebagai gimmick politik belaka. Ia lahir karena sistem yang menaunginya (birokrasi) seringkali berbelit dan lamban.

Bagi masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi maupun intelektual, pragmatisme KDM mungkin terlihat sebagai sebuah kemunduran. Namun, bagi rakyat jelata yang terhimpit kebutuhan mendesak, pendekatannya adalah harapan.

Logika sederhananya begini, warga yang rumahnya nyaris roboh tidak memiliki waktu untuk menunggu proses panjang pengajuan proposal bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu).

Contoh lain yang lebih tragis dari fenomena kakunya birokrasi kita adalah yang terjadi baru-baru ini, kematian seorang warga ex-TKI di Bulukumba, Sulawesi Selatan, saat mengurus perekaman E-KTP untuk berobat di rumah sakit. Intinya sama, tidak semua orang punya waktu untuk menunggu birokrasi.

Tindakan langsung yang menyelesaikan permasalahan dipermukaan dan tidak dulu bicara pada perbaikan jangka panjang memang adalah hal yang dangkal. Namun perlu diingat dengan tingkat pendidikan yang rendah, dan ekonomi yang pas-pasan tidak semua masyarakat dapat memiliki “kemewahan” untuk menunggu reformasi sistemik yang berjalan lambat.

Memahami Gaya Kepemimpinan KDM

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ppid.jabarprov.go.id)
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ppid.jabarprov.go.id)

Mirip dengan citra awal yang dibangun Jokowi, KDM secara sadar memosisikan dirinya sebagai pemimpin yang "merakyat". Ia berusaha menunjukan kesan kepada publik, bahwa dia bukan orang tipe pemimpin yang diam duduk di singgahsana dan menunggu laporan datang ke atas mejanya.

Lugas dan humanis itulah gaya komunikasi yang ditonjolkan. Atribut ini delengkapi dengan tampilan visual yang membumi dengan ikat kepala Sunda, secara efektif meruntuhkan jarak antara pemimpin dan rakyat, menciptakan kesan “melebur” dengan rakyat.

Ia tidak menampilkan diri sebagai seorang birokrat, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang kebetulan memiliki kuasa dan sumber daya untuk bertindak cepat.

Upaya KDM konstruksi citranya di masyarakat terbukti efektif. Sebanyak 85,51 persen responden meyakini bahwa pendekatan langsung yang ia lakukan mampu mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Data-data ini adalah wujud validasi publik terhadap metode kepemimpinan yang mengutamakan kecepatan serta hasil yang terlihat, yang dilakukan KDM.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Risiko Delegitimasi Institusi

Di balik citra merakyat dan popularitasnya, ada harga mahal yang harus dibayar. Pakar kebijakan publik memperingatkan bahwa gaya kepemimpinan "one-man show" berisiko melemahkan institusi pemerintahan.

Ketika KDM berulang kali melompati prosedur, ia secara tidak langsung mendelegitimasi birokrasi yang seharusnya juga ikut andil bertanggung jawab menjalankan roda pemerintahan bersamanya. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seringkali hanya harus “terima jadi” terhadap keputusan pimpinannya Dalam jangka panjang hal ini menghambat tata kelola yang kolaboratif dan proaktif.

Beberapa kebijakannya yang kontroversial dan masih menjadi sorotan hingga saaat ini seperti mengirim siswa "bermasalah" ke barak militer atau mengusulkan vasektomi sebagai syarat bantuan sosial, banyak dikritik sebagai solusi simplistis yang koersif dan tidak etis, diterapkan tanpa kajian mendalam.

Kepemimpinan KDM kini menjadi sebuah paradoks. Ia adalah sosok pemimpin yang populer justru karena metode dan gaya kepemimpinannya yang banyak dikritik oleh para ahli. Serba salah memang, tapi kita juga harus menyadari bahwa gaya kepemimpinannya ini juga lahir akibat sistem birokrasi yang seringkali gagal merespons kebutuhan mendesak warganya.

Ini menjadi PR besar dalam melakukan reformasi birokrasi di negeri ini. Menjadi tugas kita bersama untuk memastikan sistem birokrasi kita kedepannya lebih responsif, manusiawi, tepat guna dan tepat sasaran. (*)

Tonton Video Terbaru dari Ayobandung:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Pemerhati Budaya | Alumnus Universitas Padjadjaran

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)