Perutku, Makanan, dan Rasa Lapar yang Sia-sia

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Senin 03 Nov 2025, 10:01 WIB
Para pengungsi. (Sumber: Pexels/Ahmed akacha)

Para pengungsi. (Sumber: Pexels/Ahmed akacha)

Aku termasuk di antara orang yang yakin kalau perut adalah salah satu inti kehidupan manusia. Dari sanalah segalanya bermula, dan juga sering berakhir. Kebutuhan, keinginan, bahkan peradaban. Sembelit, diare, kerempeng, dan buncit. Rasa-rasanya tidak berlebihan jika aku menyebut perut jadi semacam titik eksistensial, menandai kesejahteraan, kesehatan, dan kemanusiaan-kesemestaan kita.

Banyak wacana besar tentang ekonomi, psikologi, politik, budaya sampai agama, yang pada akhirnya selalu mengajak kita untuk kembali ke urusan makan. Katanya kita makan untuk hidup, tapi juga hidup untuk makan.

Tentunya makanan adalah hal yang paling mendasar, Maslow sangat setuju. Tubuh memerlukan energi, gizi, vitamin, mineral. Dan karena makanan begitu dekat dengan kita, ia sering hilang dalam kesadaran. Dihambur-hambur lewat konten dan konsumerisme. Ditawar-tawar kandungannya lewat mi instan dan kopi kemasan, yang bisa diajak damai buat keluarga miskin.

Aku juga begitu. Makan gabres demi kenyang, asal enak, FOMO, tanpa berpikir lebih jauh. Makanan mancanegara, cepat saji, hidangan lokal yang eksotis, sampai jajanan super-pedas dan minuman legit yang kadung memerangkap hidup rakyat.

Kesehatan ternyata tidak bisa dipisahkan dari kesadaran. Dan yang lebih penting, kesehatan juga tidak lepas dari kelas sosial. Aksesnya terbatas dan hampir saja terjungkal-jungkal buat kita yang hidup dalam ambang ketidakmakmuran.

Ketika aku mulai mengatur makan, aku juga mulai belajar mengenali dunia dan diriku kembali. Saat aku mencoba membedakan antara lapar mata dan berisiknya perut yang keroncong, aku perlahan mengenali kebutuhan tubuh dan keinginan pikiran. Makan ternyata bisa menjadi bentuk refleksi yang sangat dalam.

Tinjauan Klasik

Freud mungkin akan mengatakan bahwa makan adalah bentuk ungkapan dari hasrat. Kebutuhan purba kita yang kemudian dibungkus rapi dalam panggung sosial, simbol bahkan seni kuliner. Meski pada dasarnya pakan (hewan) dan pangan (manusia) itu satu substansi. Orang bisa bunuh-bunuhan, meluapkan agresi atas dasar pembagian jatah makan.

Pertarungan di alam, sebagaimana hitungan Malthus. Pertumbuhan populasi mengikuti deret ukur (1, 2, 4, 8, ...), sedangkan pertumbuhan produksi bahan makanan mengikuti deret hitung (1, 2, 3, 4, ...). Artinya pertambahan makhluk hidup jauh lebih cepat daripada pertambahan makanan, yang pada akhirnya akan menyebabkan kekurangan bahan konsumsi, kelaparan, atau tragedi. Siapa yang kuat, dia yang menang.

Sedangkan Marx mungkin akan melihat makanan dari kacamata kelas. Siapa yang lapar? Siapa yang kenyang? Bukankah konsumsi adalah lanskap dasar dari roda ekonomi kita? Dan produksi tidak pernah berjalan dengan adil.

Aku jadi teringat soal kata-kata, "Yang penting perut". Dalam dunia pemilu, kita menyaksikannya lewat sembako, dan jujur saja perputaran nasi bungkus dalam aksi politik tertentu. Makan selalu ada di mana-mana, grup parkir hajar, rapat kerja, ataupun kedatangan tamu.

Semua ini memantik alam bawah sadar kita yang terdalam, pas kita pertama kali menjadi manusia. Tradisi psikoanalisis menyebutnya dengan fase oral, kala kecenderungan bayi yang memasukan benda apapun ke dalam mulumnya. Mengisap ASI, jempol, dan mainan adalah bentuk kenikmatan sensual yang pertama. Mungkin begitu juga kini kita yang menghisap vape, boba, kuah tomyam, iya kan?

Dari berbagai perspektif klasik ini aku makin curiga bahwa makanan bukan sekadar urusan perut, tapi juga cermin struktur sosial dan kebudayaan. Makanan, dengan segala yang menyertainya, menandai identitas dan tradisi. Aku masih ingat aroma terasi atau rendang padang. Berbagai soto, bubur, dan nasi goreng yang satu sama lain punya karakter kuat di penjuru Nusantara.

Di saat yang sama, aku menatap nasib makanan yang juga menjadi ruang seni. Dari plating modern di restoran mahal sampai kreativitas jajanan kaki lima yang tak pernah kehabisan ide. Makanan adalah bentuk ekspresi, cara manusia memberi makna pada bahan-bahan alam yang fana.

Termasuk di zaman kiwari, makanan dan gaya hidup. Aku pun masuk dalam euforia itu, memburu kuliner viral di media sosial, ikut tren diet baru, mencoba kopi kekinian, memotret makanan sebelum memakannya. Dalam dunia yang disesaki citra dan validasi, makanan tidak lagi hanya untuk tubuh, tapi juga untuk memuaskan egoisme, status diri. Aku tidak hanya memberi rasa kenyang pada perut, tapi pada stimulus yang seolah-olah bisa mencapai level "keberadaan". Apa yang kumakan menjadi semacam kode sosial, menandai kelas, selera, bahkan moralitas.

Dan itu, berbalik 180° dengan isi tudung saji di rumah orang tuaku.

Belajar Kehidupan Sehari-hari

Makan-makanlah sepuasnya. Makan-makanlah terus menerus, hingga kita lupa daratan, dan tenggelam dalam budaya rakus yang membandel.

Bungkus, jenama, dan foto-foto menyeret kita pada kebiadaban gaya baru, yang tampak elegan, kekinian, dan perlahan candu dipandang wajar.

Dari sinilah aku mulai merasa segalanya sia-sia. Segala seruan aksi kemanusiaan sepertinya tampak percuma. Kita bicara hak asasi, marginal, dan kemiskinan struktural. Tapi di atas piring, stok kulkas, kebiasaan hunting kuliner, kataku terlalu kebablasan buat diklaim sehagai self-reward.

Sekarang dan selamanya, tidak ada lagi perayaan makan-makan, yang membuat kita terlena. Aku kudu segera setop merutinkan dalih pemujaan pada nafsu ini. Terpanggil bergegas mengatur makanan sebagai latihan sekaligus seni abadi menjalani hidup.

Di level permukaan kita bicara soal hemat, tidak berlebihan, tidak boros, belajar berkecukupan. Kita bisa menyisakan banyak pengeluaran untuk banyal hal, seperti menabung, membuka usaha sampingan, atau jaga-jaga di saat sulit. Oke. Tapi beranikah aku menyisihkannya dengan sengaja untuk dihutangi? Untuk diberikan dengan cuma-cuma kepada sesama? Rasanya mustahil, aku masih pelit yang hanya mengutamakan perutku seorang.

Lalu soal kesehatan. Polanya sama kita bisa clean eating, bisa konsumsi yang berkualitas. Tapi ini bukan sekedar gaya-gayaan, apalagi cari muka. Aku mana sudi berpulang pada rumah sendiri. Padahak kan sehat bukan berarti yang mahal-mahal dan gengsi kelas. Justru langkah ini jadi sebaliknya. Menemukan kesederhanaan tempe dan tahu, mungkin telur ayam kampung di belakang pekarangan rumah sendiri. Kita bisa memetik pucuk-pucuk lalapan bersama tetangga, dan yang tak kalah pentingnya bisa berbagi semua pengalaman ini dengan bersama-sama.

Makan bukan cuma asal "enak" di aing. Ia juga sangat berkaitan dengan soal adab yang membumi. Tapi sayangnya, semuanya, aku masih gagal.

Padahal makan adalah tentang regulasi hasrat, mengendalikan keinginan yang terus menuntut lebih. Apakah semua langkah ini membuat kita nyaman? Oh tentu saja, tidak! Ia malah menuntut kita untuk memberikan kenyamanan itu ke orang lain. Jelas sebuah penderitaan ragawi. Tapi di situlah, kita boleh meneguk samudera keugaharian. Kemampuan menahan diri, hidup sederhana, dan semoga besok lusa tidak kehilangan rasa nikmatnya. Mengurangi porsi makan bukan berarti mengurangi daya jangkau kita pada sesama.

Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)
Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)

Banyak-banyaklah hidup dalam berkelaparan. Karena dengan memahami lapar, kita belajar memahami orang lain. Dengan lapar kita berhenti menjadi buas. Makanlah dan berhentilah sebelum kenyang. Sisakankah rasa itu, jadikanlah ia pembimbing batin.

Apakah ini merugikan? Pastinya, sangat jelas, hasrat hewani kita mana mau mengalah. Tapi begitulah. Aku selalu memikirkan bahwa kenyang tak kenyang, dalam beberapa waktu ke depan aku pasti akan lapar lagi. Kalau begitu, kenapa tak memilih dari "lapar" ke lapar? Toh rasa ini akan selalu ada. Sengajalah, ciptakanlah kelaparan itu agar selalu tersisa di tubuh kita.

Sebab lapar itu merekam dunia yang pilu derita. Ia mendengar suara perut kosong. Ia melihat hidangan rumahan dengan ketakjuban dan penuh syukur. Ia merelakan kepemilikan, ia memindah-alihkan jatah pribadi. Ia menderita sebagaimana orang-orang di sekitarnya.

Islam yang Kupahami

Dalam setiap agama, boleh jadi ada aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Tapi bagiku, tabu makan bukan hanya soal halal atau haram. Dalam Islam yang kupahami, misalnya, aku menemukan rangkaian konsep halal, tayyib, dan makruf. Halal menandai batas hukum, tayyib menandai kualitas dan kebersihan, sedangkan makruf menandai kebajikan sosial. Sesuatu yang baik bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sesama dan lingkungan.

Nasi boleh saja halal, tapi ia barangkali tidak tayyib sebab berat badan atau fobia tertentu. Tapi lebih dari itu, kepantasan juga harus kita ukur. Mungkin kita menyantapnya, tak peduli pada status kesehatan sendiri, apalagi tetangga yang sudah dua hari tidak berjumpa dengan sesuap remah-remah putih itu. Inilah kepantasan, inilah agama yang aku anut.

Jadi, makan yang benar bukan hanya tentang diri, tapi tentang dunia yang lebih luas. Ketika aku mempercakapkannya hal ini dalam konteks modern, di tengah isu keberlanjutan, krisis iklim, dan ketimpangan pangan, aku merasa konsep itu kian relevan.

Aku mau melampaui halal dan haram. Aku mau makan tayyib yang berarti sehat dan tidak merusak bumi, menghindari pemborosan, menghargai hasil bumi lokal. Aku mau makan makruf yang memikirkan dampak sosial, yang memberi manfaat bagi petani kecil, yang proses produksinya seadil-adilnya.

Aku mau bertaubat. Aku mau makan yang berkah dan yang menghindarkanku dari api neraka, sebagaimama doa sebelum makan yang aku kenal sejak kecil.

Aku mau menghayati pengalaman kecil ini. Aku mau menahan diri untuk tidak membeli makanan yang tidak kubutuhkan. Aku mau membayar makanan spesial demi sesamaku. Aku mau memilih memasak sendiri dengan bahan sederhana. Dan di sana mungkin aku bisa memperoleh semacam ketenangan yang tak bisa dijelaskan, bukan karena menahan, tapi karena merasa cukup.

Aku mau dekat dengan waktu, dengan bahan-bahan yang kupotong, dengan aroma yang muncul. Aku mau kembali ke ritme alami kehidupan yang sering hilang di tengah kesibukan dan konsumsi instan. Aku mau, aku dan tamuku makan dengan sajian yang sama, dengan yang tak ada disembunyikan di dapur bahkan kalau bisa stokku kuolah semaksimalnya menjadi hidangan yang terbaik.

Inilah isyarat tentang kesalingan memberi energi untuk hidup. Aku melihat potensi makanan yang bisa menjadi jembatan sosial yang nyata. Aku pun masih percaya bahwa makanan adalah salah satu bentuk kenikmatan yang paling jujur. Menikmati makanan enak bukan dosa, yang penting adalah keberanian. Keberanian untuk membagikan makanan, bukan digenggam sendirian.

Dua Doa yang Menjadi Penutup Tulisan Ini

Dalam lintasan pengalamanku yang berjumpa banyak dengan pertemuan dialog antaragama, aku sempat menemukan secarik catatan perenungan sebelum makan. Di sebuah vihara di Lembang, Bandung.

"Merenungkan tujuan sebenarnya saya memakan makanan ini: bukan untuk kesenangan, bukan untuk memabukkan, bukan untuk menggemukkan badan, atau pun untuk memperindah diri; tetapi hanya untuk kelangsungan dan menopang tubuh ini, untuk menghentikan rasa tidak enak (karena lapar) dan untuk membantu kehidupan bersusila. Saya akan menghilangkan perasaan yang lama (lapar) dan tidak akan menimbulkan perasaan baru (akibat makan berlebih-lebihan). Dengan demikian akan terdapat kebebasan bagi tubuhku dari gangguan-gangguan dan dapat hidup dengan tentram."

Selepas itu, aku berdiam. Bergetar dan mengutuki diri sendiri.

Begitupun aku sering terenyuh mendengar Doa Bapa Kami, yang sering dikaulkan oleh sahabat-sahabat kristianiku.

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."

Dan dua doa ini, kujadikan buat pemungkas tulisanku kali ini. Sebuah bahan renungan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Beranda 13 Des 2025, 20:36 WIB

Arif Budianto dari Ayobandung.id Raih Juara 1 Nasional AJP 2025, Bukti Kualitas Jurnalisme Lokal

Arif Budianto, jurnalis dari Ayobandung.id, tampil gemilang dengan meraih Juara 1 Nasional Kategori Tulis Bisnis sekaligus Juara 1 Regional Jawa Bagian Barat dalam AJP 2025.
Arif Budianto, jurnalis dari Ayobandung.id, tampil gemilang dengan meraih Juara 1 Nasional Kategori Tulis Bisnis sekaligus Juara 1 Regional Jawa Bagian Barat dalam AJP 2025. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 13 Des 2025, 17:34 WIB

Jawa Barat Siapkan Distribusi BBM dan LPG Hadapi Lonjakan Libur Nataru

Mobilitas tinggi, arus mudik, serta destinasi wisata yang ramai menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Ilustrasi. Mobilitas tinggi, arus mudik, serta destinasi wisata yang ramai menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 13 Des 2025, 14:22 WIB

Di Balik Gemerlap Belanja Akhir Tahun, Seberapa Siap Mall Bandung Hadapi Bencana?

Lonjakan pengunjung di akhir tahun membuat mall menjadi ruang publik yang paling rentan, baik terhadap kebakaran, kepadatan, maupun risiko teknis lainnya.
Lonjakan pengunjung di akhir tahun membuat mall menjadi ruang publik yang paling rentan, baik terhadap kebakaran, kepadatan, maupun risiko teknis lainnya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 21:18 WIB

Menjaga Martabat Kebudayaan di Tengah Krisis Moral

Kebudayaan Bandung harus kembali menjadi ruang etika publik--bukan pelengkap seremonial kekuasaan.
Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang
Ayo Netizen 12 Des 2025, 19:31 WIB

Krisis Tempat Parkir di Kota Bandung Memicu Maraknya Parkir Liar

Krisis parkir Kota Bandung makin parah, banyak kendaraan parkir liar hingga sebabkan macet.
Rambu dilarang parkir jelas terpampang, tapi kendaraan masih berhenti seenaknya. Parkir liar bukan hanya melanggar aturan, tapi merampas hak pengguna jalan, Rabu (3/12/25) Alun-Alun Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 19:20 WIB

Gelaran Pasar Kreatif Jawa Barat dan Tantangan Layanan Publik Kota Bandung

Pasar Kreatif Jawa Barat menjadi pengingat bahwa Bandung memiliki potensi luar biasa, namun masih membutuhkan peningkatan kualitas layanan publik.
Sejumlah pengunjung memadati area Pasar Kreatif Jawa Barat di Jalan Pahlawan No.70 Kota Bandung, Rabu (03/12/2025). (Foto: Rangga Dwi Rizky)
Ayo Jelajah 12 Des 2025, 19:08 WIB

Hikayat Paseh Bandung, Jejak Priangan Lama yang Diam-diam Punya Sejarah Panjang

Sejarah Paseh sejak masa kolonial, desa-desa tua, catatan wisata kolonial, hingga transformasinya menjadi kawasan industri tekstil.
Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 18:57 WIB

Kota untuk Siapa: Gemerlap Bandung dan Sunyi Warga Tanpa Rumah

Bandung sibuk mempercantik wajah kota, tapi lupa menata nasib warganya yang tidur di trotoar.
Seorang tunawisma menyusuri lorong Pasar pada malam hari (29/10/25) dengan memanggul karung besar di Jln. ABC, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung. (Foto: Rajwaa Munggarana)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 17:53 WIB

Hubungan Diam-Diam antara Matematika dan Menulis

Penjelasan akan matematika dan penulisan memiliki hubungan yang menarik.
Matematika pun memerlukan penulisan sebagai jawaban formal di perkuliahan. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Caroline Jessie Winata)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 16:44 WIB

Banjir Orderan Cucian Tarif Murah, Omzet Tembus Jutaan Sehari

Laundrypedia di Kampung Sukabirus, Kabupaten Bandung, tumbuh cepat dengan layanan antar-jemput tepat waktu dan omzet harian lebih dari Rp3 juta.
Laundrypedia hadir diperumahan padat menjadi andalan mahasiswa, di kampung Sukabirus, Kabupaten Bandung, Kamis 06 November 2025. (Sumber: Fadya Rahma Syifa | Foto: Fadya Rahma Syifa)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 16:29 WIB

Kedai Kekinian yang Menjadi Tempat Favorit Anak Sekolah dan Mahasiswa Telkom University

MirukiWay, UMKM kuliner Bandung sejak 2019, tumbuh lewat inovasi dan kedekatan dengan konsumen muda.
Suasana depan toko MirukiWay di Jl. Sukapura No.14 Desa Sukapura, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa, (28/10/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nasywa Hanifah Alya' Al-Muchlisin)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 15:53 WIB

Bandung Kehilangan Arah Kepemimpinan yang Progresif

Bandung kehilangan kepemimpinan yang progresif yang dapat mengarahkan dan secara bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 15:31 WIB

Tren Olahraga Padel Memicu Pembangunan Cepat Tanpa Menperhitungkan Aspek Keselamatan Jangka Panjang?

Fenomena maraknya pembangunan lapangan padel yang tumbuh dengan cepat di berbagai kota khususnya Bandung.
Olahraga padel muncul sebagai magnet baru yang menjanjikan, bukan hanya bagi penggiat olahraga, tapi juga bagi pelaku bisnis dan investor. (Sumber: The Grand Central Court)
Beranda 12 Des 2025, 13:56 WIB

Tekanan Biological Clock dan Ancaman Sosial bagi Generasi Mendatang

Istilah biological clock ini digunakan untuk menggambarkan tekanan waktu yang dialami individu, berkaitan dengan usia dan kemampuan biologis tubuh.
Perempuan seringkali dituntut untuk mengambil keputusan berdasarkan pada tekanan sosial yang ada di masyarakat. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Jones)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 13:39 WIB

Jalan Kota yang Redup, Area Gelap Bandung Dibiarkan sampai Kapan?

Gelapnya beberapa jalan di Kota Bandung kembali menjadi perhatian pengendara yang berkendara di malam hari.
Kurangnya Pencahayaan di Jalan Terusan Buah Batu, Kota Bandung, pada Senin, 1 Desember 2025 (Sumber: Dok. Penulis| Foto: Zaki)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 12:56 WIB

Kegiatan Literasi Kok Bisa Jadi Petualangan, Apa yang Terjadi?

Kegiatan literasi berubah menjadi petualangan tak terduga, mulai dari seminar di Perpusda hingga jelajah museum.
Kegiatan literasi berubah menjadi petualangan tak terduga, mulai dari seminar di Perpusda hingga jelajah museum. (Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 10:28 WIB

Bandung Punya Banyak Panti Asuhan, Mulailah Berbagi dari yang Terdekat

Bandung memiliki banyak panti asuhan yang dapat menjadi ruang berbagi bagi warga.
Bandung memiliki banyak panti asuhan yang dapat menjadi ruang berbagi bagi warga. (Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 09:20 WIB

Menikmati Bandung Malam Bersama Rib-Eye Meltique di Justus Steakhouse

Seporsi Rib-Eye Meltique di Justus Steakhouse Bandung menghadirkan kehangatan, aroma, dan rasa yang merayakan Bandung.
Ribeye Meltique, salah satu menu favorit di Justus Steakhouse. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Seli Siti Amaliah Putri)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 09:12 WIB

Seboeah Tjinta: Surga Coquette di Bandung

Jelajahi Seboeah Tjinta, kafe hidden gem di Cihapit yang viral karena estetika coquette yang manis, spot instagramable hingga dessert yang comforting.
Suasana Seboeah Tjinta Cafe yang identik dengan gaya coquette yang manis. (Foto: Nabella Putri Sanrissa)
Ayo Jelajah 12 Des 2025, 07:14 WIB

Hikayat Situ Cileunca, Danau Buatan yang Bikin Wisatawan Eropa Terpesona

Kisah Situ Cileunca, danau buatan yang dibangun Belanda pada 1920-an, berperan penting bagi PLTA, dan kini menjadi ikon wisata Pangalengan.
Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)