Dekolonisasi Ateisme: Enggak Percaya Tuhan Belum Tentu Gak Beragama?

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Di Indonesia pun ada bentuk religiusitas tanpa agama. (Sumber: Pexels/ROCKETMANN TEAM)
Di Indonesia pun ada bentuk religiusitas tanpa agama. (Sumber: Pexels/ROCKETMANN TEAM)

Kita sering banget dengar, “Ateis itu gak percaya Tuhan.” Udah, titik. Kayak ateisme cuma urusan menolak Tuhan, selesai.

Tapi coba deh, kali-kali kita gali lebih dalam. Memang Tuhan yang kayak apa yang ditolak? Karena, percaya atau enggak, konsep Tuhan yang sering jadi acuan dalam obrolan banyak orang itu sangat khas Barat. Tuhan yang personal, pencipta semesta, dan duduk di kursi tertinggi jagat raya. Nah, ateisme modern itu muncul justru buat menolak Tuhan versi ini.

Inilah yang berkibar secara global pas awal tahun 2000-an. Gerakan yang disebut New Atheism, dibawa oleh Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dennett, sama Christopher Hitchens. Empat jenderal ateisme kontemporer. Suara mereka keras banget. Agama dianggap biang keladi perang, kebodohan, dan kemunduran peradaban manusia.

Tentu branding-nya keren, intelektual, ilmiah. Tapi makin dibaca, makin terasa kalau pandangan mereka ini lahir dari cara berpikir yang sangat Barat dan kolonial. Mereka menyerang agama seperti yang mereka kenal, utamanya Kekristenan dan jujur saja islamofobia. Padahal andai saja mereka tahu bahwa dunia ini enggak sesempit itu.

Halo! Dunia Itu Luas

Para kritikus kayak Talal Asad, Saba Mahmood, atau Stephen LeDrew menunjukkan hal menarik. Ateisme baru tuh sebenarnya masih “teistik” dalam cara berpikirnya, nalarnya cuma dibalik doang. Kalau agama bilang Tuhan ada, mereka bilang Tuhan enggak ada. Berputar di sekitar ide Tuhan personal yang jadi pusat segalanya.

Masalahnya nih, di luar Eropa dan Amerika Utara, banyak tradisi dan religi yang enggak punya konsep Tuhan kayak begitu. Jadi ketika ateis model ini bilang soal agama yang katanya enggak gunua, yang mereka maksud sebenernya cuma agama versi mereka sendiri. Mereka enggak lagi menyoal seluruh cara manusia menghayati realitas yang suci.

Kalau kita lepas dari kacamata Barat, ternyata dunia jauh lebih rumit. Banyak masyarakat tidak punya konsep Tuhan personal, tapi tetap hidup dalam nilai-nilai religius yang dalam.

Lihat aja Buddhadarma (Agama Buddha). Tidak ada Tuhan pencipta, tapi jelas bukan nihilistik. Fokusnya bukan menyembah yang vertikal, tapi membebaskan diri dari penderitaan lewat kesadaran. Dao Jiao (Agama Tao) juga mirip. Tidak butuh iman kepada sosok gaib, tapi pada prinsip hidup yang selaras dengan alam, dengan sadar dengan realitas yang ada, Dao.

Dari sini aja kita bisa sedikit melek. Kalau tidak percaya Tuhan bukan berarti tidak punya agama. Bisa jadi, justru karena mereka tidak menuhankan satu sosok, mereka lebih dekat dengan religiusitas itu sendiri.

Agama Tanpa Label di Jepang

Sekarang coba tengok Jepang. Survei bilang mayoritas orang Jepang tidak beragama (mushukyo). Tapi anehnya, mereka tetap rajin datang ke kuil Shinto, berdoa di altar rumah, dan menggelar upacara Buddha saat ada yang meninggal. Jadi, bagaimana nih ceritanya orang “tidak beragama” tapi ritualnya segitu hidup?

Jawabannya, buat orang Jepang, agama itu label asing. Kata shukyo (religion) baru dikenal abad ke-19, waktu Jepang mulai berhubungan dengan Barat. Mereka bingung, karena religiusitas lokal mereka berbeda dengan kategori agama ala Eropa. Maka, waktu bilang “aku enggak beragama”, yang mereka tolak itu bukan religiusitasnya, tapi kategorisasi kolonialnya.

Nyatanya mereka masih menghormati Kami, roh leluhur, masih merawat kesucian alam, cuma enggak butuh label “agama”. Itu semacam “ateisme” yang religius. Bingung kan?

Maori yang Menolak Agama

Hal serupa terjadi di kalangan Maori di Aotearoa (Selandia Baru). Banyak generasi muda Maori menyebut diri “tidak beragama”. Tapi itu bukan karena mereka rasionalis dingin kayak Dawkins, melainkan karena agama di mata mereka identik dengan kolonialisme. Dulu, misionaris Kristen datang bareng proyek penjajahan Inggris, menghancurkan sistem religiusitas lokal Maori.

Sekarang mereka mau membalik narasi itu. Orang muda menolak agama formal, tapi tetap menjaga hubungan sakral dengan tanah (whenua), bahasa (te reo), dan leluhur (tipuna). Jadi di sini kalau mereka bilang “aku enggak beragama”, maksudnya “aku menolak agama yang menjajah, bukan menolak religiusitas.” Ateisme mereka adalah bentuk perlawanan religius tapi anti-kolonial. Seru kan fun fact-nya?

India dan Tiongkok Klasik

India punya sejarah panjang ateisme yang jauh lebih tua dari Barat. Sejak abad ke-6 SEU, aliran Carvaka sudah bilang, “Tuhan itu ilusi, yang nyata cuma dunia ini.” Tapi mereka enggak berhenti di situ. Mereka mengajarkan kebahagiaan dan kebebasan berpikir.

Bahkan Buddha dan Jainis pun termasuk dalam satu gerakan dengan mereka, Sramana yang menolak otoritas Weda dan para Brahmana. Kelompok petapa mandiri ini enggak percaya pada Tuhan pencipta, tapi tetap punya sistem moral dan religiusitas yang mantap. Jadi ateisme di India bukan reaksi terhadap agama, tapi bagian dari keberagamaan itu sendiri. Pusing-pusing loh.

Daratan Tiongkok juga punya ceritanya. Dalam tradisi Ru Jiao (Agama Konghucu), enggak ada tuh konsep Tuhan personal. Langit (Tian) adalah prinsip moral, sumber asasi segalanya. Bahkan agama ini tidak banyak menyinggung tentang obrolan spekulatif akal baka dan dunia metafisik. Tapi uniknya hidup mereka tetap diwarnai ziarah, penghormatan pada leluhur, dan kesadaran akan harmoni. Bahkan ketika negara modern Tiongkok jadi “ateis”, kehidupan religiusitas masyarakatnya tetap jalan terus. Cuma enggak dilabeli agama.

Candi Siliwangi di Taman Sari, Bogor. (Sumber: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)
Candi Siliwangi di Taman Sari, Bogor. (Sumber: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)

Melihat Jawa

Di Indonesia pun ada bentuk religiusitas tanpa agama. Contohnya, Sedulur Sikep atau pengikut ajaran Samin Surosentiko di Jawa. Mereka menolak agama formal karena dianggap alat kekuasaan, tapi bukan berarti enggak religius ya. Bagi mereka, hidup jujur, sederhana, dan selaras dengan alam itu sudah cukup jadi jalan yang sakral.

Negara sempat bingung karena mereka enggak mau memilih satu dari enam agama besar. Tapi mereka tetap teguh.

Menariknya, fenomena serupa juga terlihat pada gerakan modern SUBUD (Susila, Budhi, Dharma) dan Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal). Keduanya menolak dilabeli sebagai agama, kebatinan, atau bahkan kepercayaan sekalipun. Mereka menekankan latihan batin dan pengalaman langsung dengan Yang Ilahi. Mereka terbuka dengan segala orang yang datang dari lintas agama dan iman. Keduanya memperlihatkan bahwa religiusitas bisa tumbuh di luar kategori agama maupun kepercayaan lokal. Mereka berdiri di ruang antara yang justru subur bagi religiusitas yang hidup, lentur, dan tidak terikat definisi negara modern.

Dunia Enggak Hitam Putih

Kalau kita lihat dari semua contoh tadi, kelihatan banget kan, ateisme itu enggak sesederhana “percaya atau enggak percaya Tuhan.” Di banyak tempat, sikap “tidak beragama” justru muncul sebagai cara menjaga religiusitas dari monopoli makna oleh sistem yang kaku dan sempit. Itu bukan penolakan terhadap apa yang disebut sistem religi, tapi bentuk keberanian untuk keluar dari nalar Barat yang sok iye.

Dan di situ letak pentingnya. Kemandirian untuk tetap mencari makna hidup tanpa harus tunduk pada label atau otoritas tertentu. Itulah keragaman yang sering luput kita rayakan. Bahwa betapa banyaknya cara manusia berhubungan dengan yang sakral.

Makanya, gaskeun enggak sih kita belajar agama-agama lagi, tapi kali ini dengan kepala yang lebih terbuka. Supaya kita enggak terjebak dalam dikotomi klise antara “beragama” dan “ateis”, seolah pengalaman religius cuma bisa valid kalau sesuai standar orang kulit putih saja. Karena kalau kita jujur, simpang-siur dan kontroversi soal ateisme itu sendiri banyak berakar dari narasi Barat modern, dengan sejarah kolonial dan epistemologi yang khas.

Nah, pertanyaannya sekarang, apa kita mau ikut-ikutan cara pikir yang bahkan enggak nyambung sama pengalaman budaya kita sendiri? Kayanya enggak perlu, deh. Iya kan? Soalnya kita punya dunia sendiri, dengan cara-cara unik buat memahami yang ilahi, yang manusiawi, dan yang di antaranya. Merdeka! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)