Menengok Penderitaan dalam Kacamata Agama-Agama

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi orang dengan gangguan kesehatan mental. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ilustrasi orang dengan gangguan kesehatan mental. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)

Topik kesehatan mental naik daun. Dari obrolan serius di ruang akademik sampai konten receh di media sosial, semua terasa punya pendapat. Menjadi aware soal mental health sekarang bukan cuma tanda kepekaan, tapi juga bagian dari gaya hidup orang muda yang dianggap open minded dan “keren.” Fenomena ini tentu positif, menumbuhkan kesadaran baru tentang kesejahteraan jiwa. Tapi di sisi lain, tren ini juga kadang ditumpangi mereka yang cuma ikut-ikutan tanpa pemahaman yang dalam.

Salah satu isu yang cukup sering muncul di tengah perbincangan kesehatan mental ialah toxic positivity, semangat positif yang justru berbalik menjadi jebakan bagi orang yang sedang terluka. Alih-alih menyembuhkan, sikap ini malah membuat seseorang makin terpuruk karena merasa bersalah telah merasa sedih. Di dalamnya semua emosi negatif dianggap buruk. Mengeluh dipandang lemah. Meski sebetulnya kesedihan dan kerentanan itulah yang menemukan sisi kemanusiaan yang paling jujur.

Masalahnya, toxic positivity sering kali diperkuat oleh pembenaran moral dan bahkan keagamaan. Kalimat seperti “Kamu kurang bersyukur” atau “Itu pasti karma”, sering diucapkan dengan niat baik, tapi malah jadi beban baru bagi orang yang sedang berduka.

Pertanyaannya, benarkah agama-agama mengajarkan bahwa penderitaan adalah kesalahan pribadi atau bukti lemahnya iman? Atau jangan-jangan, itu cuma bias yang menempel pada pemahaman keagamaan kita. Semacam imajinasi sosial yang memaksa semua orang harus always fine demi terlihat beragama?

Carl Olson dalam bukunya Religious Studies: The Key Concepts menjelaskan penderitaan sebagai pengalaman universal dari rasa sakit, baik fisik maupun mental. Ia muncul dari kekerasan, kecemasan, kehilangan, kesepian, ketakutan, bahkan frustasi atas keinginan yang tak terpenuhi. Dalam konteks agama, kata Olson, penderitaan justru mengundang agama-agama untuk hadir. Buat memberi jalan, makna, dan pengharapan dalam menghadapi realitas getir kehidupan. Dari sinilah lahir pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang keadilan, kasih, dan hakikat Ilahi.

Dengan kata lain, penderitaan bukan hanya “masalah” yang harus dihindari, melainkan ruang reflektif tempat agama-agama berbicara paling dalam. Lewat ritus, kisah, doa, dan filsafatnya, agama berupaya memahami dan menuntun manusia menafsirkan derita. Bahkan seringkali, justru dari penderitaanlah agama-agama menemukan bentuk kasih dan kebijaksanaan tertingginya.

Lihat saja bagaimana Buddhadharma memusatkan seluruh ajarannya pada realitas penderitaan (dukkha). Penderitaan dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari keberadaan, bersama dengan ketidakkekalan (anicca) dan ketiadaan diri sejati (anatta). Ketiga hal ini disebut tilakkhana, tiga corak universal kehidupan. Menurut Buddha, penderitaan muncul karena tanha (keinginan atau hasrat) yang didorong oleh tiga racun batin. Ialah keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha). Selama manusia terikat pada hasrat itu, roda sebab-akibat (kamma) terus berputar. Tapi melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan, seseorang bisa belajar melepaskan kemelekatan itu dan mencapai nibbana, kebebasan dari penderitaan.

Kebebasan beragama sejati berarti memiliki kedua hak itu sekaligus, hak untuk berubah, dan hak untuk tidak diubah. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Kebebasan beragama sejati berarti memiliki kedua hak itu sekaligus, hak untuk berubah, dan hak untuk tidak diubah. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Dalam tradisi Yahudi, penderitaan juga punya posisi teologis yang kompleks. Ia bisa dipahami sebagai hukuman, tapi juga sebagai sarana pemurnian. Kisah Ayub dalam Tanakh menunjukkan bahwa penderitaan tak selalu berkaitan dengan dosa. Ayub menderita bukan karena kesalahan moral, tapi sebagai kesempatan untuk memahami kebijaksanaan Ilahi yang melampaui logika manusia. Di sini, penderitaan justru membuka ruang dialog antara manusia dan Tuhan. Sebuah dialog yang penuh kejujuran, marah, kecewa, tapi juga keintiman spiritual.

Sementara itu, Kekristenan menempatkan penderitaan pada pusat imannya yakni salib. Yesus Kristus, sosok yang menanggung penderitaan dan kematian, menjadikan salib sebagai simbol teologis yang paradoksal. Tempat pertemuan antara penderitaan terdalam dan kasih terbesar. Sejarah Gereja purba penuh dengan kisah martir, orang-orang yang rela menderita demi iman mereka. Tapi bukan hanya soal heroisme, melainkan kesadaran bahwa dalam penderitaan, manusia bisa turut serta dalam penderitaan Kristus, dan dengan begitu mengalami penebusan yang sejati.

Kosmologi Tiongkok juga punya cara khas memahami derita. Melalui konsep Yin dan Yang, segala hal di dunia dipahami sebagai keseimbangan antara dua kutub yang saling melengkapi. Penderitaan bukan kesalahan kosmos, melainkan bagian dari harmoni alam semesta. Titik hitam di tengah putih yang membuat keseluruhan menjadi utuh. Ajaran Tao mengajarkan wu wei, hidup selaras dengan alam, tidak memaksa, tidak melawan arus kehidupan. Itu bukan sikap apatis, tapi bentuk kebijaksanaan untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya, termasuk penderitaan.

Dalam Islam, penderitaan juga dilihat sebagai bagian alami dari perjalanan hidup. Nabi Muhammad sendiri mengalami ‘Aamul Huzni’, “tahun kesedihan,” saat kehilangan orang-orang yang paling dicintainya. Kisah ini memandang Sang Nabi sendiri merupakan sosok yang bisa masuk ke dalam penderitaan. Ia mengalami, ia merasakan. Dan Nabi berpilu batin dalam masa tersebut. Sebuah sisi lain, keteladan yang paling manusiawi.

Dari berbagai religi itu, satu hal jadi jelas. Agama-agama tidak nol empati pada penderitaan. Mereka tidak menafikan luka, tidak selalu menyuruh manusia berpura-pura bahagia. Justru sebaliknya, agama hadir untuk menemani manusia menatap luka itu. Kadang dengan doa, kadang dengan perenungan, kadang dengan penerimaan yang menyakitkan, kadang diam yang mendalam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)