Memulangkan Bandung pada Purwadaksina Setelah Absen dalam Daftar 'Kota Hijau'

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Proses pengerukan sedimentasi Sungai Cikapundung oleh petugas menggunakan alat berat di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Proses pengerukan sedimentasi Sungai Cikapundung oleh petugas menggunakan alat berat di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kawasan yang dulu dielu-elukan sebagai laboratorium ide urban, pusat kreativitas, dan surga pendidikan ini, ternyata gagal menata relasi dasarnya dengan lingkungan. Bandung tidak ada dalam daftar pemeringkatan seperti UI Green City Metric 2025. Absensi itu bukan hanya soal angka melainkan soal cara kota besar memahami dirinya sendiri.

Bandung terjebak dalam bayangan yang ia ciptakan sendiri. Katanya selalu ada kuliner yang enak-enak, mode fesyen yang kekinian, sampai digitalisasi. Julukan seolah cukup jadi alat ukur untuk segalanya.

Khianat pada Leluhur

Bandung, jika menengok ke sejarah geologinya, lahir dari letusan dahsyat Gunung Sunda purba ribuan tahun lalu. Cekungan besar yang kemudian menjadi dataran Bandung adalah jejak luka bumi yang terbendung, pecah, mengendap, dan mengering lalu menjelma jadi ruang hidup.

Leluhur Sunda tahu betul makna kesakralan kawasan ini. Dalam sasakala Tangkuban Parahu, kisah Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Si Tumang bukan sekadar legenda romantik, melainkan narasi ekologis yang mendalam. Sebuah peringatan etik tentang hasrat, sekaligus kesadaran akan asal-usul lingkungan sekitar.

Namun, di peradaban kota modern hari ini, cerita-cerita itu kerap dianggap mitos irasional yang murahan belaka. Bukan narasi kosmologi, bukan petuah akan batas dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Bandung justru lebih memilih logika “pembangunan” yang memberangus memori genealogis geologinya. Kawasan resapan air diubah jadi perumahan mewah, perbukitan ditanami vila dan kafe, Sungai Cikapundung dan Citarum menyalurkan limbah dan sampah.

Lalu apa sebenarnya, "pembangunan" itu sungguh membangun atau merusak?

Hari ini, tampak jelas bahwa kita sedang menyaksikan pengkhianatan yang sunyi terhadap warisan leluhur. Pada nilai kesundaan yang sejati, terhadap tradisi dan kehendak semesta. Padahal andai saja Bandung mau mendengarkan kisahnya sendiri, ia akan paham pada disiplin yang kiwari disebut mitigasi bencana.

Gedebage sebagai kawasan resapan air, telah berselingkuh. Bandung Timur berada dalam genggaman impian futuristik di antara stadion, perumahan elit, mall besar, stasiun kereta, kampus-kampus, dan masjid provinsi. Ancaman Sesar Lembang diabaikan, ringkihnya modernitas tampak tenggelam dalam kalkulasi potensi kerugian besar, dan maut yang menanti.

Tanda-tanda itu ada di pelupuk mata. Banjir yang kian parah di Dayeuh Kolot, misal, malah dianggap sebagai kearifan lokal. Belum lagi jalan-jalan utama kota seperti Soekarno-Hatta, Buah Batu, dan Pasteur, bukan saja genangan air juga problem kemacetan dan polusi udara yang kian menyesakkan paru.

Bandung, pohon-pohon besar di sepanjang jalan tidak terurus. Kala hujan lebat datang, ia bisa saja membunuh pengendara. Bandung, kasus-kasus kebun binatang bahkan kaburnya macan, semuanya adalah bentuk-bentuk kecil dari hilangnya rasa hormat terhadap kehidupan.

Lebih Memilih Memuja Kolonialisme

Villa Isola di Universitas Pendidikan Indonesia, Kota Bandung. (Sumber: Pemkot Bandung)
Villa Isola di Universitas Pendidikan Indonesia, Kota Bandung. (Sumber: Pemkot Bandung)

Ketimbang peduli pada akar identitasnya, Bandung lebih memilih hidup dalam imajinasi yang dibangun oleh sejarah kolonial. Label seperti Paris van Java atau Kota Kembang begitu melekat di benak banyak orang. Kata-kata itu tampak manis, meluputkan kita pada glorifikasi permukaan. Kawasan ini terjebak dalam citra permai yang tidak pernah benar-benar berpijak pada realitas ekologisnya.

Bandung merasa bangga disebut kota “maju” dengan kereta cepat Whoosh. Begitu juga kampus ternama, tanda open minded, seperti ITB, UNPAD, UPI, POLBAN, UIN SGD, ISBI, UNPAS, Tel-U, ITENAS, UNPAR, MARANATHA, Muhammadiyah Bandung, NHI. Tapi kemajuan macam apa yang kita rayakan jika udara makin kotor, air makin tercemar, dan ruang hidup makin sesak? Bandung yang katanya kota terdidik justru gagal belajar dari tanah yang dipijaknya sendiri.

Di luar kota, Bandung disebut-sebut. Lembang yang sejuk, kebun teh di Ciwidey dan Pangalengan, Kawah Putih yang asik, Puncak Bintang dan Dago tempat lihat city light kota. Semua menjadi konsumsi wisata, potret alam indah dieksotiskan tanpa kesadaran ekologis. Alam hanya dilihat sebagai latar estetis, bukan entitas yang memiliki hak hidup berkelindan dengan kita di dalamnya.

Sementara di dalam kota, manusianya pun diperlakukan serupa. Urang Bandung diobjektifikasi dalam stereotip yang terdengar seperti pujian, Aa-aa dan Tétéh-tétéh Bandung itu karasep dan gareulis, bersih lagi sensual. Alam kita, kota kita, dan tubuh kita, semuanya diubah menjadi komoditas visual.

Apakah ini yang patut dibanggakan? Bandung dipuja karena kenangan dan kenikmatannya, bukan karena martabatnya sebagai ruang hidup yang beradab.

Kota ini seperti hidup di panggung kolonial yang lama. Bandung dipoles, dihias, dan dijual, tanpa sempat berkontemplasi tentang luka dan tanggung jawabnya terhadap bumi.

Kita lupa bahwa semua pujian tentang Bandung yang “menawan” ini adalah hasil pandang mata kolonial yang dulu melihat Priangan sebagai taman tropis yang bisa dikuasai, dieksploitasi, dan dijadikan tempat peristirahatan kaum elite. Persepsi itulah yang kini dilanjutkan oleh warga kota sendiri, dalam bentuk self-colonialism yang memuja citra kemolekan yang berbahaya.

Kebanggaan yang Sebenarnya

Padahal dalam sejarah Indonesia modern, Bandung memiliki narasi yang istimewa. Peristiwa Bandung Lautan Api dan Konferensi Asia-Afrika menjadi ikon perjuangan, keberanian, dan solidaritas melawan kolonialisme yang abadi. Namun kini kedua peristiwa itu tinggal slogan. Semangatnya mungkin dikutip berkali-kali, diperingati tiap tahun, tetapi jarang direnungkan maknanya dalam konteks pengelolaan kawasan kekinian.

Spirit Bandung Lautan Api dulu lahir dari keberanian untuk menghancurkan penjajahan fisik, kini semestinya kita berani menyalakan api dalam rupa kesadaran baru. Ialah melawan penjajahan ekologis, kapitalisme ekstraktif, dan kolonialisme pengetahuan yang memisahkan manusia dari alam. Dari sini kita bisa pulang ke pangkuan Bandung, Sang Banda Indung. Sumber asali, air asi, dan identitas kita sendiri 

Demikian pula semangat Konferensi Asia-Afrika bisa diterjemahkan ulang sebagai solidaritas ekologis lintas bangsa, sebuah perjuangan bersama menghadapi krisis iklim yang mengancam seluruh umat manusia. Ibu kota dua benua yang berani memekik pembebasan dari imperialisme bangsa-bangsa yang mendaku lebih layak menentukan nasib bangsa yang lain.

Kiranya Bandung hari ini membutuhkan revolusi identitas yang mendalam, sebuah langkah balik pada kesadaran lingkungan yang berakar pada nilai-nilai lokal. 

“Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum”, ungkapan M.A.W. Brouwer yang terpampang di dinding jembatan penyeberangan di Jalan Asia Afrika Kota Bandung, bukan sekadar latar foto para pengunjung, tapi mesti jadi laku spiritual. Bahwa menjadi Bandung bukan soal justifikasi orang luar, melainkan prinsip hidup yang lestari, yang menjadi dasar bagi kebijakan publik, pendidikan, dan gaya hidup warga kawasan ini.

Bandung ketiadan namamu dalam status “hijau” di atas kertas harus jadi pemicu untuk mulai membangun kesadaran ekologis yang sejati. Ini berarti menata kembali relasi manusia dengan tanah airnya. Sikap nasionalisme yang hakiki, ialah mengembalikan fungsi kawasan sebagai ruang hidup, bukan ruang jual. Bandung segeralah berdamai dengan ingatanmu sendiri.

Barangkali saat ini, kegagalan Bandung dalam peringkat kota hijau justru merupakan anugerah. Sebuah tamparan agar kawasan ini berhenti membangun citra. Agar Bandung tidak lagi menyemayamkan ilusi kolonial, melainkan altar spiritual-ekologis yang mempraktikkan keseimbangan antara kekinian dan kearifan lokal.

Seperti api perjuangan yang pernah menyala di tahun 1946, semoga dari reruntuhan kesadaran ini lahir api baru. Api yang membakar nalar lama, menerangi jalan nurani menuju keberlanjutan yang berakar pada bumi dan budaya sendiri. Bandung tidak perlu menjadi Paris. Bandung cukup menjadi ibu sendiri, tempat bergelayut, dan inilah yang sebenar-benarnya sumber awal kita. Disebut dengan purwadaksi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)