Problem Deforestasi Mikro Kota Bandung

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Senin 27 Okt 2025, 16:29 WIB
Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

RUANG terbuka hijau di Kota Bandung kian menyusut. Bandung semakin padat. Bangunan menjamur. Halaman rumah menyempit.

Pohon-pohon ditebang pelan. Untuk kebutuhan lahan parkir. Untuk keperluan perluasan jalan. Untuk kepentingan proyek komersial.

Deforestasi mikro makin sering terjadi. Potong satu pohon. Tambah satu beton. Dampaknya, suhu kota merangkak naik. Malam terasa lebih hangat.  Siang semakin terik. Orang gampang gerah dan kepayahan.

Fenomena tersebut punya nama ilmiah: urban heat island. Teori tentangnya diapungkan oleh TR Oke, seorang pakar klimatologi perkotaan.  

Oke menjelaskan mekanisme urban heat island secara sederhana. Menurutnya, semakin banyak bahan yang menyimpan panas, sementara vegetasi berkurang, maka, suhu permukaan naik.

Di Bandung, hal tersebut nyata. Aspal semakin luas. Gedung semakin banyak. Adapun naungan pohon kian sedikit. 

Hasilnya, bukan cuma rasa tidak nyaman. Ada konsekuensi lain yang nyata pula. Konsumsi energi meningkat.  AC menjadi kebutuhan pokok.

Imbas susulannya, tagihan listrik rumah maupun kantor membengkak. Beban puncak PLN melonjak. Subsidi energi sulit dicegah. Dan krisis kecil membayangi.

Di sisi lain, kesehatan warga dapat ikut terganggu. Heat stress alias stres karena panas jadi ancaman. Orang lanjut usia kian rentan. Anak-anak pun bisa kena dampak buruknya.

Buntut lain minimnya vegetasi, air hujan sukar meresap. Aliran air cepat menuju sungai. Banjir cileuncang lebih sering menghampiri. Tanah kehilangan fungsi.

Biodiversitas kota pun menyusut. Burung-burung berpindah mencari tempat baru. Serangga berkurang. Jaringan ekologis rusak. 

Ketimpangan ruang hijau muncul. Kawasan elite terlihat rindang. Permukiman padat kering gersang. Keadilan lingkungan terlihat njomplang.

Dalam hal ini, perencanaan kota punya andil. Pemegang kebijakan sibuk merancang program. Pengembang perlu lahan. Profit menjadi alasan. Ruang hijau akhirnya kerap jadi korban.  

Peta tutupan lahan

Data soal tutupan lahan penting. Peta tutupan lahan harus terbuka. Kebijakan pohon kota harus tegas. Tidak sekadar menanam seremonial. Ada target kronologis.  Ada pengukuran nyata.

Skema insentif perlu dirancang. Pemilik lahan diberi kompensasi. Pengembang dipaksa menanam lebih. Corporate social responsibility (CSR) diarahkan ke penghijauan.

Rooftop garden sebaiknya digalakkan.  Subsidi material diberikan. Koridor hijau di sepanjang sungai juga penting. Sungai menjadi ruang ekologi, bukan tempat sampah. Riparian buffer harus dipulihkan.

Trotoar harus rindang. Naungan pohon mesti berjejer sepanjang jalan dan sejauh mata memandang. Pejalan kaki pasti lebih nyaman. Polusi juga berkurang.

Sekolah perlu pula lahan hijau. Anak-anak butuh bermain di lahan penuh pohon. Pendidikan lingkungan perlu dimulai sejak dini agar generasi berikut ikut peduli.

Kampung-kampung harus dilindungi. Permukiman tradisional punya pohon. Jangan digusur tanpa kompensasi.

Pasar tradisional juga bisa hijau. Atap pasar bisa menjadi taman. Udara di sekitar bakal lebih sejuk. Penjual senang, pembeli betah.

Transportasi ramah iklim mestinya menjadi kewajiban. Kurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Sepeda dan pejalan kaki dijadikan prioritas.

Energi terbarukan harus masuk kota. Misalnya, panel surya dan microgrid untuk fasilitas publik.

Bank tanah hijau bisa dipertimbangkan, yakni tanah khusus untuk ruang hijau. Komunitas diberi hak untuk akses dan pengelolaannya.

Menanam saja tidak cukup

Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)
Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)

Inventaris pohon kudu dibuat. Data setiap batang tercatat. Jenis, diameter, dan manfaatnya. Agar tidak mudah ditebang. Agar nilai ekologinya terlihat.

Pemeliharaan jangan disepelekan. Menanam saja tidak cukup. Siram teratur. Pupuk berkala. Pohon sehat memperkuat kota.

Setiap izin bangun mesti punya syarat hijau. Rasio lahan terbuka wajib dipenuhi. Ada sanksi bagi yang melanggar. Tegas tanpa kompromi.

Ruang hijau publik perlu merata. Jangan hanya terkonsentrasi di pusat kota. Wilayah pinggiran juga penting. Keadilan ekologis harus hadir nyata.

Taman lingkungan bisa ikut menjadi solusi. Lahan sempit pun bisa hijau. Kebun komunitas dapat mempererat warga, sepanjang dijaga dan dipelihara bersama.

Konsep kota spons relevan diterapkan. Permukaan harus berpori. Air cepat masuk tanah. Sungai tidak kewalahan. Banjir menjauh.

Material ramah iklim perlu dipakai. Batu berongga. Paving grass. Fasad hijau. Dinding gedung pun bisa ditanami.

Drainase berkelanjutan wajib disiapkan. Kolam retensi disebar luas. Air tidak langsung dibuang. Air disimpan untuk masa kering.

Kolaborasi adalah kunci. Pemerintah merumuskan aturan. Swasta mendukung pembiayaan. Warga menjadi pengawas.

Gerakan menanam mesti rutin. Satu rumah, satu pohon. Satu gang, satu taman kecil. Semua ikut andil. Semua bangga berkontribusi.

Narasi ruang hijau harus kuat. Media mengabarkan manfaatnya. Influencer ikut bersuara. 

Bandung mungkin perlu teladan kota lain. Melihat kota yang berhasil. Mempelajari yang gagal. Bandung bisa melakukan adaptasi. Jangan malu meniru.

Kota nyaman atau pengap

Kota Bandung bisa lebih hijau tanpa menunggu krisis besar. Keputusan sekarang menentukan esok. Jika kita menunda, kerusakan makin parah.

Pilihan sekarang di depan mata. Mau kota nyaman atau kota pengap. Mau anak cucu menikmati udara segar atau menanggung siksaan panas.

Bandung dikenal sebagai kota kembang. Julukan itu jangan dibiarkan sekadap basa-basi. Buktikan melalui tindakan. Pertahankan pesona hijau yang tersisa.

Setiap batang pohon punya cerita. Ia penyelamat kecil. Ia penyaring udara. Ia pelindung pejalan kaki. Ia harapan masa depan.

Mari menjaga pohon yang ada. Jangan biarkan ia tumbang sia-sia. Karena ketika satu hilang, panas bertambah.

Ruang hijau bukan bonus. Ia fondasi kota sehat. Ia kebutuhan pokok. Ia hak semua warga.

Menghijaukan kota bukan utopia. Ia bisa dicapai. Sedikit demi sedikit. Terus menerus. Tanpa putus asa.

Bandung, masih punya waktu. Jangan menyerah pada beton. Maju serentak sambil merawat Bumi. Rindang adalah kemajuan. Sejuk adalah kemewahan yang harus dibagi merata.

Kota yang baik adalah kota yang peduli. Peduli pada bumi. Peduli pada sesama. Peduli pada generasi berikutnya.

Mulai dari hari ini. Dari halaman sendiri. Dari sekolah. Dari kantor tempat bekerja. Dari taman lingkungan.

Jika semua bergerak, perubahan tidak lagi wacana. Ia akan tumbuh. Seperti pohon. Perlahan, pasti, menghidupkan. Dan kota Bandung kembali rindang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)