Hari Kebudayaan Nasional: Membuka Selubung Identitas Sinkretik Kita

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Kebudayaan tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)
Kebudayaan tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Penetapan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuai perdebatan yang menarik. Di satu sisi, keputusan itu tampak seperti langkah afirmatif untuk menegaskan kembali pentingnya kebudayaan sebagai landasan kehidupan berbangsa. Namun di sisi lain, publik tak bisa menahan tawa getir. Tanggal itu kebetulan sama dengan hari lahir Prabowo Subianto, sang presiden.

Sulit rasanya tidak curiga. Apa ini sekadar sama, atau justru simbol bagaimana kekuasaan di negeri ini kerap menjadikan kebudayaan sebagai panggung legitimasi?

Fadli Zon sendiri menegaskan bahwa penetapan tanggal 17 Oktober merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang lambang negara. Hari itu dianggap bersejarah karena Soekarno meresmikan Garuda Pancasila sebagai lambang negara, sekaligus memperkenalkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika selaku identitas pemersatu bangsa yang majemuk.

Alasan itu tampak mulia dan logis, mengaitkan hari kebudayaan dengan simbol nasional yang menggambarkan falsafah hidup bangsa, kekayaan budaya, toleransi, dan persatuan. Tapi bukankah narasi seperti itu sudah terlalu sering menjadi klise? Formal, penuh basa-basi, dan berputar-putar di sana.

Simbol dan Semboyan Negara

Sebab kalau benar menjadikan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional, maka kita perlu keberanian untuk menyingkap kebudayaan dari lapisan yang lebih dalam. Kita perlu menantang pemaknaannya, menggali sisi yang selama ini disembunyikan. Bahwa kebudayaan Indonesia tidak lahir dari kemurnian, melainkan dari percampuran, sinkretisme, dan perjumpaan lintas tradisi yang panjang dan rumit.

Garuda Pancasila, misalnya, berakar pada sosok yang sejak abad ke-6 muncul di relief Candi Dieng, Prambanan, dan Penataran sebagai kendaraan Dewa Wisnu, lambang kekuatan dan kesetiaan. Pada 1949, Sultan Hamid II merancangnya dalam bentuk antropomorfis, setengah manusia setengah burung. Namun Soekarno dan Natsir menolaknya karena dipandang terlalu mitologis, lalu mengubahnya menjadi rajawali yang lebih rasional.

Tapi bagaimanapun juga, Garuda tetaplah makhluk mitologis. Ia berasal dari tradisi Hindu, yang jejaknya mengakar di India dan menyeberang ke Nusantara. Dengan kata lain, bahkan simbol negara kita pun berdiri di atas fondasi sinkretik.

Demikian pula dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Frasa itu diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, dan lengkapnya berbunyi “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.” Artinya, “Berbeda-beda namun satu juga, tiada kebenaran yang mendua.” Jujur saja, kalimat itu bukan semboyan politik, melainkan ajaran religius yang ingin menyatukan dua tradisi besar di Nusantara. Agama Siwa dan Buddha. Ia adalah seruan bagi umat yang berbeda jalan untuk tetap menuju satu kebenaran.

Ironisnya, aspek religius dan sinkretik inilah yang sering dihapus dari wacana resmi kebangsaan. Kita hanya mengutip permukaannya, tetapi mengabaikan sukmanya. Kita seakan takut mengakui bahwa dasar identitas kita sendiri bersumber dari percampuran yang cair dan penuh paradoks. Garuda yang mitologis. Semboyan yang lahir dari teks keagamaan sinkretik.

Negeri Campur Baur

Karya seni berbentuk patung di tengah Hutan Maribaya yang diduga kuat merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat yaitu Tubagus Chutbani BA dan Unu Pandi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Karya seni berbentuk patung di tengah Hutan Maribaya yang diduga kuat merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat yaitu Tubagus Chutbani BA dan Unu Pandi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Indonesia, negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia, menempatkan Islam pada posisi istimewa dalam birokrasi dan kehidupan publik. Negara mengatur madrasah, pesantren, peradilan agama, haji, penentuan hilal, hingga sertifikasi halal. Dari bank syariah sampai Kantor Urusan Agama, seluruh sistem pelayanan umat tersedia, menunjukkan wajah modernitas Indonesia yang dibentuk dalam napas religiusitas Islam.

Namun di balik identitas religius itu, tersimpan lapisan makna yang lebih tua dan beragam. Sang Saka Merah Putih, misalnya, dalam kosmologi lokal bukan sekadar lambang keberanian dan kesucian, melainkan simbol asal-usul kehidupan. Darah ibu dan sperma bapak, perpaduan unsur yang melahirkan dunia. Bahkan tanah air yang kita panggil Ibu Pertiwi adalah personifikasi seorang Dewi, sosok ilahi feminin yang menjiwai bumi Nusantara.

Di sinilah paradoks Indonesia menemukan bentuknya. Sebuah bangsa modern yang melantangkan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa,” namun fondasi imajinatifnya tetap berdenyut dari akar spiritualitas leluhur.

Asas negara memang berpijak pada sila “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tetapi penyebutan Sang Ilahi dengan istilah “Tuhan” justru lahir dari jejak sejarah lintas budaya dan kolonial. Kata “Tuhan” berasal dari Melayu tuan, sebutan bagi orang berpangkat atau majikan, yang diangkat oleh penerjemah Alkitab Belanda abad ke-17 sebagai padanan Lord atau Kyrios. Dari sanalah istilah ini menyebar dan menjadi bahasa bersama lintas agama di Indonesia, menandai konsep ketuhanan kita pun lahir dari perjumpaan seperti ini.

Seolah-olah Aib

Namun dalam praktik bernegara hari ini, kecenderungannya justru berlawanan. Sinkretisme yang sesungguhnya menjadi nadi kebudayaan Nusantara sering dianggap najis, tak murni, atau menodai iman. Kita dididik untuk memalsukan ucapannya dengan istilah yang terdengar lebih halus seperti “akulturasi” atau “asimilasi”, seolah-olah perpaduan agama dan tradisi hanya bisa diterima bila dibersihkan dari kesan religius. Padahal justru dari ketegangan dan percampuran itulah lahir keindonesiaan kita yang paling hakiki.

Di samping itu, tradisi spiritual lokal disederhanakan menjadi “kebudayaan” semata, dipisahkan dari ranah agama, dari “kepercayaan” yang dianggap tak resmi. Negara modern kita berusaha memurnikan warganya dalam kategori tungga, satu agama, satu kepercayaan, satu cara beriman. Padahal kenyataannya, kehidupan sehari-hari kita masih dijalani secara multiple religious belonging. Kita muslim tapi tetap percaya pada kesaktian dan jimat, kita kristiani tapi sembahyang di altar leluhur.

Di titik ini, perayaan Hari Kebudayaan Nasional seharusnya menjadi ruang untuk bercermin. Di balik slogan toleransi dan keberagaman, terdapat kenyataan religius yang kompleks tentang siapa kita sebenarnya. Lalu beranikah negara dan kita mengakui kenyataan itu sebagai bagian yang sah dari kebudayaan nasional?

Inilah ujian sesungguhnya bagi peringatan Hari Kebudayaan Nasional, apakah ia sekadar seremoni kosong atau momentum untuk jujur terhadap identitas bangsa yang lahir dari racikan, adaptasi, bahkan penaklukan, yang memuat lapisan-lapisan lokal, Hindu-Buddha, Tiongkok, Islam, Kristen, kolonialisme Barat, modernitas, Jawa-sentrisme, mayoritarisme? Semua itu sudah saling menembus, membentuk identitas kita yang ambigu sekaligus kaya.

Marilah kita bertaubat, marilah kita waspada pada retorika tentang “kebudayaan yang asli” atau “jati diri bangsa yang murni”. Narasi semacam itu sering menjadi alat kuasa, membungkam yang berbeda, menolak perubahan, atau menutupi sejarah percampuran yang sebenarnya menjadi sumber kekuatan kita.

Negara berisiko menstandarkan sesuatu yang boleh disebut budaya dan menyingkirkan yang dianggap benalu. Padahal kebudayaan kita adalah hasil silang perjumpaan yang hidup, identitas yang terus bergerak, bernegosiasi, menyerap tanpa batas.

Tanggal 17 Oktober sudah ditetapkan. Maka kini tinggallah pertanyaan, apakah kita cukup berani menjadikan kebudayaan sebagai cermin untuk mengakui bahwa kita lahir dari dunia yang sinkretik, religius, dan paradoksal? Baru ketika keberanian itu muncul, Hari Kebudayaan Nasional pantas dirayakan sebagai cara menjadi manusia Indonesia. Manusia Nusantara yang jujur pada kerumitan asal-usulnya, bukan sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai pengakuan atas kekayaan identitas yang sebenarnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)