Secuil tentang Psikologi Agama

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Masuk jurusan studi agama-agama, kata orang memangnya belajar apa? Tapi duduk di kelas psikologi umum satu semester, dan tambah satu tahun anteng di mata kuliah psikologi agama jilid 1 dan 2 bikin aku melihat agama dari sisi yang benar-benar berbeda.

Aku sering banget lihat orang yang piawai menilai manusia lainnya, entah stigma “kurang beriman,” atau “gak serius beragama.” Tapi pelan-pelan, aku mulai mengerti bahwa literasi publik kita masih rendah soal beragama itu sebagai proses hidup yang sangat manusiawi. Aku belajar bahwa keberagamaan itu berkembang seiring usia, pengalaman, dan refleksi diri, bukan cuma soal kepatuhan ritual atau pengetahuan pada ajaran.

Memoriku masih membekas, saat tema diskusi membahas soal cara anak-anak yang mencerap Tuhan, aku terkejut sendiri. Anak-anak punya imaji kalau Tuhan itu duduk laksana raja di singgasana dan bermahkota. Bagi usia ini, agama identik dengan hukuman dan aturan yang menakutkan. Bandingkan dengan lansia, yang seringkali beragama dengan renungan kematian, hidup di alam baka, atau refleksi eksistensi. Pokoknya materi-materi ini adalah bagian terbaik di studi agama-agama yang pernah aku alami.

Satu hal lain yang paling bikin aku takjub ialah pengalaman beragama. Di sini aku belajar bahwa ini inti dari kehidupan religius seseorang yakni sesuatu yang benar-benar dirasakan, bukan sekadar dipikirkan atau dihafalkan. Dosen-dosen menjelaskan istilah mysterium tremendum et fascinans, pengalaman yang menakutkan sekaligus memikat, yang bikin kita tersedot ke sesuatu yang nirduniawi.

Kita pastinya pernah masuk sedikit atau banyaknya dalam momen itu mungkin saat meditasi, adorasi, merapal mantra, berdoa yang khusyu, atau sekadar melihat pemandangan alam. Rasanya hening banget kan? Semua fokus ke batin, seakan ada energi yang menarik kesadaranku ke pusat pengalaman itu. Kita sulit menjelaskannya dengan logika, tapi yakinlah tubuh dan pikiran meresponsnya.

Di kelas, kami juga belajar soal kenabian dan wahyu, pengalaman menerima wangsit atau pencerahan. Aku dan teman-teman sempat skeptis, “Apakah itu delusi?” Tapi banyak literasi yang menekankan, selama pengalaman itu enggak merugikan orang lain, tidak ada kriminalitas, kekerasan, atau motif uang, itu adalah bagian dari perjalanan psikologis dan keagamaan seseorang.

‘Enam agama resmi’ bertebaran di mana-mana, di setiap jenjang pendidikan. Kita Diajarkan untuk memahami hal ini. (Sumber: Pexels/Mochammad Algi)
‘Enam agama resmi’ bertebaran di mana-mana, di setiap jenjang pendidikan. Kita Diajarkan untuk memahami hal ini. (Sumber: Pexels/Mochammad Algi)

Begitupun dengan topik konversi agama, yang selalu jadi huru-hara di luar sana. Tapi dalam studi aku jadi mikir tentang orang yang goyah imannya, bergumul dengan pertanyaan besar, dan akhirnya melakukan adaptasi religius baru yang intens. Aku pikir mereka yang berpindah agama itu keren banget. Mereka penuh keberanian, mau menerima resiko penolakan sosial, dan pastinya keterguncangan jiwa. Bayangkan saja, sesuatu yang sejak kecil dibiasakan lalu kemudian ditinggalkan-diubah, pahamkan maksudku soal “keren” di sini?

Seiring waktu terjerembab masuk dunia psikologi agama, aku akhirnya mengenal tentang trauma religius. Ternyata ada loh orang yang pernah dididik keras atau terpapar kekerasan dalam konteks agama. Luka batin itu nyata, dan bisa muncul sebagai gangguan kejiwaan yang berat. Termasuk hal lain, soal komentar teologis pada masalah kesehatan mental. Wah, ini sih seru banget.

Lapisannya kompleks, dalam banyak hal bukan moral semata, dan perlu empati serta penyembuhan. Kita melihat polemik ini dari soal keragaman gender dan seksualitas, adiksi dan depresi, isu bunuh diri, kesendirian, korban pemerkosaan, demensia, disabilitas, sampai kerasukan hantu.

Struktur psikologi agama menarik kajian yang lebih kaya. Kita mengenal kategori baru yang disebut spiritualitas dan New Age, yang kadang dianggap di luar mainstream.

Tahukah kamu bahwa ada kluster agama-agama yang menegaskan porsi esoteris lebih banyak ketimbang dimensi yang lainnya? Agama-agama tertentu lebih suka mengulas perihal konsentrasi, disiplin, kultivasi diri, dan sentuhan ‘dalam’. Di situ aku betul-betul mengenal bahwa agama dan kesejahteraan psikologis itu punya dunianya sendiri. Buddha, Falun Dafa, Scientology, SUBUD, Yahudi Kabbalah, Teosofi, okultisme, gnostisisme, dan rumpun lainnya, boleh dicek ya.

Psikologi agama. Selalu berhasil bikin aku kangen menyelam ke dunianya lagi. Mungkin kajian ini jarang mendapat sambutan hangat dari generasi ke generasi para cendekia, bahkan langka dieksplorasi lebih dalam dalam lanskap studi agama. Semoga kelak mendapatkan jodoh, peminat setia yang bisa mengobok-obok kedalaman wahana ini.

Wahai para peminat studi agama, ingatkah kita dengan Freud yang selalu jago bikin merinding sekaligus tersenyum dalam ungkapan “Agama itu penyakit jiwa yang menjangkit manusia sedunia”. Meski gagasan babon ini sangat kontroversial, tapi keberadaanya kayak alarm refleksi dalam kamar studi agama.

Bahwa agama bukan cuma ritual, teks, atau doktrin, tapi juga cerminan pergulatan mental manusia. Dalam lanskap deretan teori agama klasik, dari Tylor-Frazer sampai Geertz, Freud Si Psikoanalis muncul sebagai pengingat bahwa pengalaman religius punya sisi psikologis yang dalam.

Psikologi agama kunci buat kita memahami hubungan internal-halus antara manusia dan yang ilahi, menyingkap lapisan emosional, kognitif, perilaku, kehendak, dan eksistensial yang biasanya tersembunyi, memberi ruang bagi narasi keagamaan yang kadung dilihat sebagai fenomena sosial, budaya, atau teologis semata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)