Secuil tentang Psikologi Agama

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 28 Okt 2025, 09:04 WIB
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Masuk jurusan studi agama-agama, kata orang memangnya belajar apa? Tapi duduk di kelas psikologi umum satu semester, dan tambah satu tahun anteng di mata kuliah psikologi agama jilid 1 dan 2 bikin aku melihat agama dari sisi yang benar-benar berbeda.

Aku sering banget lihat orang yang piawai menilai manusia lainnya, entah stigma “kurang beriman,” atau “gak serius beragama.” Tapi pelan-pelan, aku mulai mengerti bahwa literasi publik kita masih rendah soal beragama itu sebagai proses hidup yang sangat manusiawi. Aku belajar bahwa keberagamaan itu berkembang seiring usia, pengalaman, dan refleksi diri, bukan cuma soal kepatuhan ritual atau pengetahuan pada ajaran.

Memoriku masih membekas, saat tema diskusi membahas soal cara anak-anak yang mencerap Tuhan, aku terkejut sendiri. Anak-anak punya imaji kalau Tuhan itu duduk laksana raja di singgasana dan bermahkota. Bagi usia ini, agama identik dengan hukuman dan aturan yang menakutkan. Bandingkan dengan lansia, yang seringkali beragama dengan renungan kematian, hidup di alam baka, atau refleksi eksistensi. Pokoknya materi-materi ini adalah bagian terbaik di studi agama-agama yang pernah aku alami.

Satu hal lain yang paling bikin aku takjub ialah pengalaman beragama. Di sini aku belajar bahwa ini inti dari kehidupan religius seseorang yakni sesuatu yang benar-benar dirasakan, bukan sekadar dipikirkan atau dihafalkan. Dosen-dosen menjelaskan istilah mysterium tremendum et fascinans, pengalaman yang menakutkan sekaligus memikat, yang bikin kita tersedot ke sesuatu yang nirduniawi.

Kita pastinya pernah masuk sedikit atau banyaknya dalam momen itu mungkin saat meditasi, adorasi, merapal mantra, berdoa yang khusyu, atau sekadar melihat pemandangan alam. Rasanya hening banget kan? Semua fokus ke batin, seakan ada energi yang menarik kesadaranku ke pusat pengalaman itu. Kita sulit menjelaskannya dengan logika, tapi yakinlah tubuh dan pikiran meresponsnya.

Di kelas, kami juga belajar soal kenabian dan wahyu, pengalaman menerima wangsit atau pencerahan. Aku dan teman-teman sempat skeptis, “Apakah itu delusi?” Tapi banyak literasi yang menekankan, selama pengalaman itu enggak merugikan orang lain, tidak ada kriminalitas, kekerasan, atau motif uang, itu adalah bagian dari perjalanan psikologis dan keagamaan seseorang.

‘Enam agama resmi’ bertebaran di mana-mana, di setiap jenjang pendidikan. Kita Diajarkan untuk memahami hal ini. (Sumber: Pexels/Mochammad Algi)
‘Enam agama resmi’ bertebaran di mana-mana, di setiap jenjang pendidikan. Kita Diajarkan untuk memahami hal ini. (Sumber: Pexels/Mochammad Algi)

Begitupun dengan topik konversi agama, yang selalu jadi huru-hara di luar sana. Tapi dalam studi aku jadi mikir tentang orang yang goyah imannya, bergumul dengan pertanyaan besar, dan akhirnya melakukan adaptasi religius baru yang intens. Aku pikir mereka yang berpindah agama itu keren banget. Mereka penuh keberanian, mau menerima resiko penolakan sosial, dan pastinya keterguncangan jiwa. Bayangkan saja, sesuatu yang sejak kecil dibiasakan lalu kemudian ditinggalkan-diubah, pahamkan maksudku soal “keren” di sini?

Seiring waktu terjerembab masuk dunia psikologi agama, aku akhirnya mengenal tentang trauma religius. Ternyata ada loh orang yang pernah dididik keras atau terpapar kekerasan dalam konteks agama. Luka batin itu nyata, dan bisa muncul sebagai gangguan kejiwaan yang berat. Termasuk hal lain, soal komentar teologis pada masalah kesehatan mental. Wah, ini sih seru banget.

Lapisannya kompleks, dalam banyak hal bukan moral semata, dan perlu empati serta penyembuhan. Kita melihat polemik ini dari soal keragaman gender dan seksualitas, adiksi dan depresi, isu bunuh diri, kesendirian, korban pemerkosaan, demensia, disabilitas, sampai kerasukan hantu.

Struktur psikologi agama menarik kajian yang lebih kaya. Kita mengenal kategori baru yang disebut spiritualitas dan New Age, yang kadang dianggap di luar mainstream.

Tahukah kamu bahwa ada kluster agama-agama yang menegaskan porsi esoteris lebih banyak ketimbang dimensi yang lainnya? Agama-agama tertentu lebih suka mengulas perihal konsentrasi, disiplin, kultivasi diri, dan sentuhan ‘dalam’. Di situ aku betul-betul mengenal bahwa agama dan kesejahteraan psikologis itu punya dunianya sendiri. Buddha, Falun Dafa, Scientology, SUBUD, Yahudi Kabbalah, Teosofi, okultisme, gnostisisme, dan rumpun lainnya, boleh dicek ya.

Psikologi agama. Selalu berhasil bikin aku kangen menyelam ke dunianya lagi. Mungkin kajian ini jarang mendapat sambutan hangat dari generasi ke generasi para cendekia, bahkan langka dieksplorasi lebih dalam dalam lanskap studi agama. Semoga kelak mendapatkan jodoh, peminat setia yang bisa mengobok-obok kedalaman wahana ini.

Wahai para peminat studi agama, ingatkah kita dengan Freud yang selalu jago bikin merinding sekaligus tersenyum dalam ungkapan “Agama itu penyakit jiwa yang menjangkit manusia sedunia”. Meski gagasan babon ini sangat kontroversial, tapi keberadaanya kayak alarm refleksi dalam kamar studi agama.

Bahwa agama bukan cuma ritual, teks, atau doktrin, tapi juga cerminan pergulatan mental manusia. Dalam lanskap deretan teori agama klasik, dari Tylor-Frazer sampai Geertz, Freud Si Psikoanalis muncul sebagai pengingat bahwa pengalaman religius punya sisi psikologis yang dalam.

Psikologi agama kunci buat kita memahami hubungan internal-halus antara manusia dan yang ilahi, menyingkap lapisan emosional, kognitif, perilaku, kehendak, dan eksistensial yang biasanya tersembunyi, memberi ruang bagi narasi keagamaan yang kadung dilihat sebagai fenomena sosial, budaya, atau teologis semata. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Mar 2026, 20:22

Gerakkan Selasa BERSERI dari SMPN 1 Kasokandel

Dari ASRI, untuk Kepedulian bersama menjaga lingkungan.

Kegiatan ASRI (Selasa Berseri) (Foto: Penulis)
Seni Budaya 11 Mar 2026, 18:46

Sejarah Silat Cimande, Bela Diri Legendaris Tradisional Sunda

Berawal dari desa Cimande di Bogor, aliran silat ini berkembang sejak ratusan tahun lalu dan melahirkan banyak cabang di Nusantara, membawa warisan teknik bertarung sekaligus nilai budaya Sunda.

Ilustrasi Silat Cimande
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 18:05

Jalan Rusak dan Tambal Sulam, Tingkat Kepuasan Pemudik Bisa Merosot

Faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan mudik Lebaran bisa diukur dari kondisi jalan yang mulus hingga ke kampung halaman para pemudik.

Ilustrasi jalan rusak di Desa Banjaran Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Bandung 11 Mar 2026, 17:45

Geliat Bolu Susu Asli Lembang di Tengah Kemeriahan Bazar Ramadhan

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran.

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 11 Mar 2026, 16:01

Harmoni Dua Benua dalam Sepiring Hangat Ambara Biru, Hadirkan Sensasi Kuliner Fusion Sunda–Brazil

Meski masyarakat Indonesia gemar bereksplorasi dengan rasa, kuliner Negeri Samba masih sering dianggap asing atau sebatas hidangan daging panggang semata.

Sebuah narasi kuliner baru sedang dirajut oleh Ambara Biru, sebuah destinasi yang memadukan eksotisme Brasil dengan keramahan tanah Sunda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 15:28

Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 14:49

Pasar Ilmu dan Golden Tiket Pulang: Romantisme Ngaji Pasaran di Pesantren

Mengenal istilah pengajian rutin di Pondok Pesantren yang hanya ada pada bulan Ramadan.

Ilustrasi keseruan santri saat mengaji di pondok pesantren. (Sumber: Unplash | Foto: Muhammad Azzam)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 12:25

Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ikon 11 Mar 2026, 11:43

Jejak Sejarah Blewah dan Timun Suri, Bagaimana Keduanya jadi Takjil Ramadan Favorit di Indonesia

Blewah dan timun suri berasal dari keluarga melon yang menyebar lewat jalur perdagangan sebelum menjadi takjil Ramadan populer.

Penjual timun suri. (Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 11:09

Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Hiruk pikuk warga Kota Bandung belanja baju Lebaran tahun 1980-an.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Beranda 11 Mar 2026, 10:39

Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Data Komnas Perempuan menunjukkan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat di 2025. Aktivis menilai akar masalahnya berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki.

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 11 Mar 2026, 10:22

Pasar Takjil Ramadan Mekarwangi Bandung, Surga Kuliner Sore di Cibaduyut

Jalan Indrayasa di kawasan Mekarwangi, Bandung, berubah menjadi pasar takjil setiap sore selama Ramadan. Ratusan pedagang menjual kolak, minuman segar, hingga jajanan kekinian.

Suasana pasar takjil Ramadan di Jalan Indrayasa, Mekarwangi, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 11 Mar 2026, 10:12

Pesona Batu Tumpang di Perkebunan Teh yang Bisa Melihat Pantai Selatan

Batu Tumpang di Garut Selatan menawarkan pemandangan unik berupa batu raksasa di tengah hamparan perkebunan teh. Dari puncaknya, pengunjung bahkan bisa melihat garis biru Pantai Selatan saat cerah.

Batu Tumpang (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 09:16

Air Lindih Menggenang di Jalan Pasar Gedebage, Warga Siap Laporkan ke Polda Jabar

Kondisi sampah di kawasan Pasar Gedebage, Kota Bandung, kembali dikeluhkan para pedagang pada pekan ini.

Satu sudut pasar Gedebage yang digenangi air lindih dari sampah. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:44

Berkah Caruluk

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Bandung 10 Mar 2026, 20:44

Cerita Kimirai Fashion Menjemput Peluang di Tengah Semarak Pameran Menjelang Lebaran

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa.

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:01

Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memandang masa depan.

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)
Linimasa 10 Mar 2026, 18:55

Open Iftar Trafalgar Square, Buka Bersama Puasa Ramadan di Jantung London

Open Iftar di Trafalgar Square bermula dari tenda kecil mahasiswa SOAS dan kini menjadi tradisi buka puasa Ramadan terbesar di London.

Suasana Open Iftar di Trafalgar Square, London.
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)