Seperti Kita, Gie Juga Manusia Biasa

3 menit baca
Luther
Ditulis oleh Luther diterbitkan
Poster film GIE (2005). (Sumber: IMDB)
Poster film GIE (2005). (Sumber: IMDB)

Di tengah hiruk pikuk politik Indonesia, GIE hadir sebagai film biopik tentang seorang aktivis keturunan Tionghoa, Soe Hok-gie, yang hidup pada era 1960-an.

Film ini diadaptasi dari buku hariannya yang dibukukan berjudul "Catatan Seorang Demonstran" dan disutradarai oleh Riri Riza, serta diproduseri oleh Mira Lesmana. Kisahnya dimulai sejak masa remaja Gie di SMP Strada, tahun 1956.

Remaja dari Kebon Jeruk

Soe Hok-gie (Nicholas Saputra) dikenal sebagai seorang pemuda yang berani, bahkan sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Misalnya, ada adegan ketika Pak Arifin—guru sekolahnya—menyebut bahwa pengarang "Pulanglah Dia si Anak Hilang" adalah Chairil Anwar karena tidak ada perbedaan antara pengarang dan penerjemah.

Hal itu ditentang oleh Gie remaja (Jonathan Mulia) karena ia tahu pengarang aslinya, namun teman-teman sekelasnya tidak. Karena berdebat dengan gurunya itu, Gie dijemur di bawah terik matahari di lapangan.

Ketika Han remaja bertanya pada Gie, kenapa dirinya terus melawan, Gie remaja menjawab bahwa tidak mungkin mereka bisa hidup bebas jika tidak karena melawan, seperti Sukarno, Hatta, atau Syahrir yang berani memberontak dan melawan kesewenang-wenangan.

Cerita kemudian berlanjut dari masa SMP-SMAnya ke masa kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, di mana sifat "melawan" dan "kritis"nya juga ikut terbawa ke bangku kuliah.

Kalau kita hanya menunggu, menerima nasib, kita tidak akan pernah tahu kesempatan apa yang sebenarnya kita miliki di hidup ini. Sederhananya, gua cuma ingin perubahan, supaya hidup kita lebih baik." — Soe Hok-gie kepada Herman Lantang di film GIE (2005).

image_2025-10-22_151807116.png
Foto stills dari film GIE (2005). Sumber: X/@FilmIndoSource

Kelahiran dan Kematian Sang Demonstran

Ketika berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ia semakin giat menulis dan mengkritik pemerintah atau kebijakan yang dirasanya tidak sesuai, bahkan sampai menulis untuk Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos). Ia juga terkadang menggelar diskusi bersama teman-temannya.

Sifat kritis dalam dirinya tidak langsung muncul. Sejak remaja, Gie sudah senang membaca buku. Dari situlah tumbuh rasa "kepedulian" dan "kemanusiaan"-nya. Ketika ada yang tidak beres dan tidak terasa benar, ia tidak segan untuk mengoreksi hal tersebut.

Dari apa yang telah ia perbuat, seperti menulis di surat kabar (misalnya Gerakan Pembaharuan, Sinar Harapan, atau Kompas), berdiskusi, atau mengikuti demonstrasi, dirinya malah mendapat musuh, bukan dukungan. Ketika Orde Baru dimulai, ia sempat hampir ditabrak mobil, dilempari kertas yang berisi tulisan ancaman pembunuhan dan dibuntuti oleh pria asing sewaktu hendak pulang.

Salah satu adegan dalam film GIE (2005). Sumber: X/@Aottacca (Sumber: X/@Aottacca)
Salah satu adegan dalam film GIE (2005). Sumber: X/@Aottacca (Sumber: X/@Aottacca)


Universitas Indonesia tempatnya mengabdi pun tidak luput dari sasaran kritiknya. Terlihat dari tulisannya yang berjudul "Wadjah Mahasiswa UI Jang Bopeng Sebelah". Alasan menulisnya disampaikan lewat monolog yang sebenarnya adalah surat untuk Herman, yaitu:

"Sastra telah banyak berubah. Banyak teman-teman dosen yang tidak punya dedikasi dalam pekerjaannya, dan membuat mahasiswa tidak kalah malasnya. [...] Banyak yang mengeluh saya keras kepala dan selalu mencari masalah."

Akibatnya, ia mulai dijauhi oleh orang-orang di kampus (termasuk rekan dosen), dan hal-hal itu dituangkan dirinya dalam catatan hariannya yang merupakan satu-satunya teman ia bisa bebas bercerita dan berbicara, meski ia tahu tidak akan ada balasan apa-apa.

Kembali dari Tiada ke Tiada

Selain orang-orang di kampus, Gie juga ditinggalkan oleh Sinta, kekasih barunya. Ia juga mendengar kabar Han diculik karena aktivitas politik dari tantenya Han. Sementara teman-temannya kembali pada kehidupan masing-masing, ia tak punya teman untuk bercerita sama sekali. Di titik ini, kita melihat Gie sebagai manusia biasa yang sendiri dalam keyakinannya.

Pada akhirnya, GIE bukan sekadar kisah seorang aktivis, melainkan potret manusia yang rapuh dan sunyi di tengah idealisme. Keberaniannya menunjukkan bahwa melawan ketidakadilan sering kali berarti berjalan sendiri. Namun justru dari kesendirian itulah nilai perjuangan menjadi nyata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Luther
Tentang Luther
Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi UAJY yang senang membaca, menulis, dan musik.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)