Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Revisi Salah Kaprah tentang Pluralisme Agama

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Rabu 29 Okt 2025, 16:03 WIB
Ilustrasi tradisi budaya. (Sumber: Pexels/Arjun Adinata)

Ilustrasi tradisi budaya. (Sumber: Pexels/Arjun Adinata)

Sering kali, istilah pluralisme agama dipahami secara keliru. Di telinga sebagian orang, pluralisme terdengar seperti upaya mencampuradukkan berbagai ajaran, menyejajarkan semua agama seolah tak ada lagi batas kekhasan, bahkan dianggap ancaman bagi religi yang sudah mapan.

Padahal justru sebaliknya. Pluralisme agama bukanlah proyek penyamarataan, melainkan cara merayakan agama-agama dalam keunikannya masing-masing. Ia bukan agenda untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk menumbuhkan kedewasaan dalam memaknai perbedaan itu sendiri.

Di dunia yang kian terhubung dan serbacepat, manusia berjumpa dengan keragaman setiap hari. Dalam ruang publik, media sosial, tempat kerja, bahkan di lingkup keluarga. Di tengah situasi seperti ini, pluralisme hadir bukan sebagai ide asing yang dipaksakan, tetapi sebagai kebutuhan mendesak untuk hidup berdampingan secara wajar. Pluralisme tidak meminta kita mengaburkan identitas religius tertentu, melainkan mengajarkan cara baru memahami bahwa perbedaan agama bukan ancaman, melainkan bagian dari lanskap kehidupan bersama yang tak terelakkan.

Kesalahpahaman besar terjadi ketika pluralisme disamakan dengan universalisme teologis, yakni pandangan bahwa semua agama sama dan menuju pada satu sumber dan tujuan yang identik. Pandangan seperti itu sebenarnya lebih tepat disebut perenialisme, yang berfokus pada gagasan metafisik tentang kebenaran tunggal di balik semua tradisi. Pluralisme justru tidak bergerak di ranah itu. Ia tidak menuntut kita menyetujui bahwa semua agama sama, melainkan mengajak kita mengakui bahwa setiap agama memiliki cara sendiri untuk memahami, mengalami, dan mengekspresikan kebenaran.

Dengan kata lain, pluralisme tidak sesempit berurusan dengan dogma atau klaim kebenaran teologis, tetapi dengan cara manusia berelasi. Soal umat beragama bisa hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja sama tanpa menuntut keseragaman. Bahkan pada hari ini ia bicara tentang kewargaan, bukan semata-mata soal langitan. Pluralisme adalah proyek sosial, budaya, dan politik. Tentang membangun tatanan masyarakat yang memungkinkan semua orang dengan agama apapun dapat dihargai sebagai warga yang setara.

Oleh karena itu, pluralisme menuntut kemampuan untuk berempati dan tekoneksi. Ia menolak pandangan yang menutup diri, yang hanya mau melihat dunia lewat kacamata satu interpretasi atau satu aliran. Dalam agama manapun, realitas keberagaman internal sudah menjadi kenyataan. Ada mazhab, tradisi, denominasi, corak liturgi, dan ekspresi lainnya yang berbeda. Pluralisme membantu kita melihat bahwa perbedaan di dalam satu agama saja sudah luas, apalagi di antara agama-agama. Jadi kemampuan untuk menerima keragaman eksternal seharusnya dimulai dari kesediaan mengakui keragaman dari dalam.

Dalam konteks tersebut, pluralisme menjadi bentuk penghayatan religius yang mantap. Ia bukan relativisme yang serta merta menyimpulkan semua sama saja, melainkan sikap keterbukaan. Sebuah seni mendengarkan, memahami, dan menempatkan diri. Pluralisme menumbuhkan rasa ingin tahu yang sehat terhadap pengalaman keberagamaan orang lain tanpa kehilangan akar sendiri. Ia lebih dekat pada pencarian makna ketimbang klaim kebenaran. Alih-alih bertanya “agama siapa yang paling benar?”, pluralisme mengajak kita menggali “apa keunikan dan identitas agama ini?”.

Di Indonesia pun ada bentuk religiusitas tanpa agama. (Sumber: Pexels/ROCKETMANN TEAM)
Di Indonesia pun ada bentuk religiusitas tanpa agama. (Sumber: Pexels/ROCKETMANN TEAM)

Jika pluralisme dianggap mengancam iman, barangkali karena kita masih memandang iman sebagai benteng, bukan sebagai jembatan. Padahal iman yang kokoh bukan berarti tertutup. Justru karena kuat, ia mampu menatap orang lain dengan penuh hormat tanpa takut tercemar atau kehilangan jati diri.

Pluralisme adalah latihan terus-menerus untuk menjaga keseimbangan antara agama pribadi dan keterbukaan pada dunia luar. Ia bukan sikap pasif yang dingin.

Dalam kehidupan berbangsa yang majemuk seperti Indonesia, pluralisme agama menjadi prasyarat dasar bagi keberlanjutan. Ia adalah pondasi bagi demokrasi yang sehat dan multikulturalisme yang sejati. Tanpa semangat pluralisme, keberagaman hanya akan menjadi statistik, bukan kenyataan yang hidup. Masyarakat yang plural tapi tidak pluralis mudah terseret dalam polarisasi, kecurigaan, dan politik identitas yang dangkal. Pluralisme menuntut keberanian untuk menolak narasi tunggal yang memonopoli kebenaran dan memaksakan satu wajah tunggal kebangsaan atau keagamaan.

Di samping itu, pluralisme juga sangat mengandalkan kepiawaian kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Setiap kali kita berinteraksi dengan orang yang berbeda agama, budaya, atau pandangan politik, kita selalu hangat, laku yang sedang menubuhi pluralisme. Ia hadir dalam hal-hal kecil. Dalam cara kita menyapa tetangga yang sedang beribadah, dalam kesediaan menghadiri kedukaan yang lain, atau dalam empati terhadap penderitaan manusia tanpa melihat agamanya. Pluralisme adalah etika sosial yang tumbuh dari kebiasaan mencintai martabat kemanusiaan lebih dulu sebelum perbedaan identitas.

Lebih jauh, pluralisme juga bisa dibaca sebagai strategi bertahan. Dalam masyarakat yang terus berubah dan sering kali tegang oleh konflik berbasis identitas, kemampuan berbaur adalah keterampilan hidup yang vital. 

Merayakan pluralisme berarti merayakan kehidupan itu sendiri. Sebab pada dasarnya kehidupan tidak pernah seragam. Alam pun memberi pelajaran yang sama, ekosistem yang sehat justru ditandai oleh keragaman hayati. Demikian pula masyarakat yang sehat, hanya bisa tumbuh ketika berbagai agama, pandangan, dan budaya dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Pluralisme agama ada di antara semua itu.

Jadi jika ada yang masih memandang pluralisme agama sebagai ancaman, barangkali yang perlu direvisi bukan pluralismenya, melainkan cara kita memahami agama. Agama yang hidup bukan yang mengurung diri dalam kebenarannya sendiri, tetapi yang mampu berjumpa, berdialog, dan memberi makna bagi dunia yang terus berubah. Pluralisme pada akhirnya, bukan proyek politik atau akademik semata. Ia adalah sikap batin, sebuah cara mencintai dunia yang penuh warna, dengan kesadaran bahwa setiap warna punya spektrum cahayanya masing-masing yang membuat kehidupan menjadi lebih seru. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)