Spiritualitas pada yang Biasa Saja

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Kadang kita suka pikir, hidup yang biasa saja itu rasa-rasanya kurang rohani. (Sumber: Pexels/Arbiansyah Sulud)
Kadang kita suka pikir, hidup yang biasa saja itu rasa-rasanya kurang rohani. (Sumber: Pexels/Arbiansyah Sulud)

Kadang kita suka pikir, hidup yang biasa saja itu rasa-rasanya kurang rohani. Apalagi kalau langka mengalami pengalaman yang “wah”, kayaknya belum pantas dibilang spiritual. Kita selalu membayangkan bahwa arti dari religius itu harus penuh mujizat, penuh cahaya keajaiban, penuh derai air mata, penuh doa panjang dan pengalaman batin yang mendalam. 

Padahal tentu, tidak selalu seperti itu. Justru kali ini kita akan melihatnya dengan cara pandang yang berbeda. Perspektif yang malah “membosankan”. 

Kebanyakan waktu dalam hidup kita justru lewat dalam hal-hal kecil yang sama sekali tidak dramatis. Bangun pagi kesiangan, mengantri mandi, lupa menyimpan kaus kaki, lalu berangkat sekolah atau kerja. Di sana kita mengantuk, ketemu orang, makan dan mengemil, mengobrol soal film terbaru, mengerjakan tugas, pulang dengan kemacetan, terus tidur lagi. Semuanya terdengar wajar, biasa, sungguh sangat seadanya. Tapi mungkin di situlah letak religiusitas yang paling sejati. Ialah hadir sepenuhnya di tengah yang biasa.

Kita sering menyangka kalau Yang Ilahi mungkin cuma menyapa di momen besar. Pas diselamatkan dari musibah kecelakaan, ketika hajat kebeli gawai baru yang terkabul, atau saat kita dapat pertanda dari langit. Tapi bagaimana kalau yang sakral itu justru bersembunyi di tengah hal-hal yang tidak spektakuler? Di sela lelah, di antara bakso yang tumpah, atau di tengah kempes ban motor yang menjengkelkan.

Mungkin spiritualitas hadir waktu kita yang hanya bisa menghela napas panjang, ternyata paket kuota internetan sudah habis lagi, mana tidak ada koneksi wifi yang menyala. Atau waktu terbaring sakit dan merintih di lantai ketiga rumah sakit daerah, tapi masih bisa tersenyum kecil karena ada yang sempat menjenguk kita. Saat merasa bosan dengan rutinitas yang setengah mati, tapi tetap bertahan menjalani hari itu juga. Semua yang terlihat sepele bisa jadi cara paling dalam untuk menghayati hidup.

Kita sering diajarkan bahwa religiusitas itu harus selalu “naik,” harus selalu positif, dan penuh gairah. Padahal kemalasan juga bagian dari kemanusiaan kita. Kadang kita cuma ingin rebahan, bengong, tidak produktif, dan itu pun bisa jadi rapalan mantra kecil kalau dijalani dengan jujur. Karena di balik diam itu, ada hak tubuh yang sedang butuh istirahat, ada hati yang sedang minta jeda untuk sekedar tidak berbuat apa-apa.

Hidup yang biasa saja sering disangka hidup yang kurang. Tapi nyatanya hidup yang biasa itu justru paling manusiawi. Hidup yang dirindukan oleh mereka yang terlilit utang, oleh mereka yang abadi bersama trauma, dan oleh mereka yang membangun tenda di suaka negeri orang.

 Hayatilah dan berdamailah dengan keadaan yang suntuk dan menjemukan ini. Kita tidak perlu jadi orang yang luar biasa buat merasa dekat sama Yang Ilahi. Malah kadang dalam realitas yang paling sederhana dan bahkan rapuh, Tuhan sedang menunjukkan diri dalam pekerjaannya. Dia menata segala rupa dalam porsinya, menjadikannya teratur, terbiasa, dan reguler dari hari ke hari. Menarik!

Di sinilah letak masalah literasi religi, kita masih punya banyak PR yang belum selesai. (Sumber: Pexels/Janko Ferlic)
Di sinilah letak masalah literasi religi, kita masih punya banyak PR yang belum selesai. (Sumber: Pexels/Janko Ferlic)

Kita tidak perlu menonjol, tidak perlu melulu dapat panggung di mana-mana. Kesetiaan pada menjalani roda kehidupan yang terus dikayuh dengan peluh, mungkin itu kebaikan kecil yang bisa kita nikmati. Penuh kedekatan, walau tidak sama sekali mendapatkan sorotan.

Kita sering sibuk mengejar yang langka. Liburan akhir tahun, pesta pernikahan, membeli barang-barang mewah, dan khayalan-khayalan lain yang kian tinggi. Satu persatu memalingkan kita sampai lupa menghargai dunia yang sederhana. Dunia kita yang masih menggunting kuku-kuku jari, menceplok telur pakai kecap, memutuskan jalan kaki ke warung terdekat, berharap kesekian kalinya meski tidak yakin lagi, sampai mengeluh berulang-ulang tapi tetap sambil mengerjakan sesuatu. Itulah kerelaan, itulah kesadaran yang mendalam. 

Rasa sakit, murung, kehilangan arah, semua adalah bagian dari sensasi kehidupan yang jujur. Karena di situ kita belajar menerima, bukan menolak. Kita bertumbuh bahwa hidup tidak harus selalu kuat dan menang. Ada kalanya kita cukup ada. Cukup hidup. Cukup menyaksikan segalanya melaju dan meringkih di depan pelupuk mata sendiri.

Terharulah pada hal-hal yang fana dan sederhana. Melihat bunga kesayangan yang layu, menatap senja yang tak seindah foto-foto orang, atau menyadari waktu yang terus lewat dan meninggalkan kita dalam kenangan. Percayalah rangkaian semua ini adalah bagian dari perjalanan batin, menembus segala ajaran dan tafsir dari agama manapun.

Sebab untuk terus hidup di tengah dunia yang biasa, kita butuh peneguh hati yang kuat. Jantung yang sekaligus berdetak dan melambat. Untuk terus percaya pada keajaiban semesta meski tidak pernah ada tanda-tanda besar, seperti dongeng-dongeng anak yang menuturkannya kepada kita.

Dan mungkin, di antara semua keinginan kita untuk jadi yang luar biasa, entahlah kita hanya terbentuk dalam rupa manusia. Yang bangun, jatuh, malas, semangat lagi, kecewa, tertawa, menangis, lalu mengulang semuanya.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)