Menyalakan Kembali Lentera Peradaban

4 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Lentera dengan karya seni Islam. (Sumber: Pexels/Ahmed Aqtai)
Lentera dengan karya seni Islam. (Sumber: Pexels/Ahmed Aqtai)

Ada kalimat sederhana namun menggetarkan hati yang pernah diungkapkan Kiai Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat itu bukan sekadar pesan etis, melainkan napas spiritual yang menyalakan bara perjuangan umat hingga kini. Ketika Muhammadiyah pada 18 November 2025 genap berusia 113 tahun, bara itu tetap menyala menjadi cahaya yang menuntun langkah bangsa menuju kesejahteraan lahir dan batin.

Milad ke-113 Muhammadiyah tahun ini mengusung tema besar “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Tema yang terasa relevan, menukik, dan meneguhkan kembali misi luhur gerakan Islam berkemajuan: menghadirkan Islam yang tidak hanya menuntun ke surga, tetapi juga menebar rahmat di bumi.

Tahun ini, Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) dipercaya menjadi tuan rumah peringatan nasional. Sebuah kehormatan sekaligus simbol yang indah karena Bandung, kota yang dikenal dengan semangat intelektual dan rasionalitasnya, pernah menjadi saksi sejarah Muktamar ke-36 tahun 1965, dan menandai arah baru gerakan pembaruan.

Kini, di usia yang kian matang, Muhammadiyah kembali ke Bandung untuk meneguhkan satu pesan penting: bahwa kesejahteraan bangsa bukan sekadar cita, tetapi amanah peradaban.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan bahwa tema milad tahun ini memiliki dua tujuan besar. Pertama, Muhammadiyah bertekad memperkuat dan memperluas gerakannya dalam memajukan kesejahteraan masyarakat yang berorientasi pada kesejahteraan sosial-ekonomi, dengan tumpuan pada kesejahteraan rohaniah. Kesejahteraan yang diidamkan bukan hanya makmur dalam ukuran materi, tetapi juga tenteram dalam moral dan spiritualitas.
Kedua, Muhammadiyah mendorong dan mendukung kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan umum sebagaimana amanat konstitusi UUD 1945 dan sila kelima Pancasila: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

Haedar menegaskan, kesejahteraan bangsa bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga kesadaran kolektif umat. Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disebutkan bahwa masyarakat sejahtera hanya dapat terwujud di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan, dan gotong royong yang berpijak pada hukum Allah, bukan pada nafsu dan kepentingan.

Kesejahteraan juga menjadi fondasi dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), yang menegaskan bahwa Islam menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi. Dengan demikian, kesejahteraan bagi Muhammadiyah bukan sekadar agenda sosial, tetapi wujud nyata dari keimanan yang beramal.

Rektor UM Bandung, Prof. Herry Suhardiyanto, menyebut penunjukan kampusnya sebagai tuan rumah Milad ke-113 sebagai kehormatan sekaligus tantangan moral. Menurutnya, milad bukan hanya seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat peran Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah berkemajuan dan mensejahterakan.

Kota Bandung sendiri memiliki ikatan sejarah dengan Muhammadiyah. Di sinilah semangat intelektual, modernisme Islam, dan gerakan sosial tumbuh subur. Sejak masa kolonial, Bandung telah dikenal sebagai kota pendidikan dan laboratorium ide-ide pembaruan Islam. Dari sinilah banyak tokoh Muhammadiyah lahir, berdiskusi, dan mengabdikan diri untuk umat.

Kini, dengan hadirnya Universitas Muhammadiyah Bandung di jantung kota, semangat itu menemukan bentuk baru: menggabungkan iman dan ilmu, mengintegrasikan riset dan nilai, serta menghidupkan kembali spirit Islam Berkemajuan dalam konteks digital dan urban.

Bandung yang dikenal kreatif dan dinamis, berpadu dengan etos Muhammadiyah yang rasional, terbuka, dan berkeadaban. Keduanya mencerminkan wajah Islam yang hidup di tengah zaman: berpikir maju, berbuat nyata, dan menatap masa depan dengan cahaya ilmu.

Sejarah mencatat, Bandung pernah menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah tahun 1965, masa ketika bangsa baru memasuki era Orde Baru dan Muhammadiyah berupaya menegaskan jati dirinya di tengah arus modernisasi nasional. Muktamar itu menegaskan pentingnya pendidikan, dakwah, dan amal sosial sebagai pilar gerakan. Dari Bandung, semangat ilmiah dan praksis Muhammadiyah dipertegas, meneguhkan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus penjaga moral bangsa.

Kini, enam puluh tahun kemudian, Muhammadiyah kembali ke Bandung dengan semangat yang sama, tetapi dalam lanskap zaman yang berbeda. Dunia digital, krisis ekologi, dan ketimpangan ekonomi menjadi tantangan baru yang menuntut gerakan Islam tampil solutif.
Islam Berkemajuan bukan lagi sekadar ide, tetapi harus menjelma menjadi ekosistem kesejahteraan: ekonomi umat yang mandiri, pendidikan yang mencerdaskan, dan kebijakan publik yang berpihak pada keadilan sosial.

Inilah bentuk baru jihad sosial Muhammadiyah, jihad yang tidak membawa pedang, tetapi ilmu, solidaritas, dan pengabdian.

Baca Juga: Pasar Syariah Belum Kompetitif? Begini Tantangan dan Solusi Investasi Islam di Indonesia

Seratus tiga belas tahun perjalanan Muhammadiyah adalah bukti nyata bahwa kerja ikhlas, bukan retorika, yang melahirkan peradaban. Dari sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga universitas, Muhammadiyah telah menghadirkan Islam yang menyejahterakan tanpa banyak bicara.

Namun tantangan hari ini menuntut sesuatu yang lebih: keberanian untuk terus berinovasi tanpa kehilangan arah spiritual. Dalam konteks inilah, Milad ke-113 menjadi ajakan moral bagi seluruh warga bangsa bahwa kesejahteraan tidak mungkin tumbuh di atas ketimpangan, dan kemajuan tidak akan bermakna tanpa keadilan.

Bandung, dengan sejarah dan semangatnya, kembali menjadi saksi. Dari kota ini, api pencerahan yang dinyalakan Kiai Dahlan lebih dari seabad lalu kembali menyala menyapa generasi baru yang haus akan makna. Dan seperti cahaya matahari Muhammadiyah yang tak pernah padam, semoga para kader Muhammadiyah terus menjadi bagian dari perjalanan panjang itu:menjadi umat yang beriman, berilmu, dan beramal untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Wallohu a’lam.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)