Pengusaha Jasa Wisata Jawa Barat Sebut Larangan Studi Tur Dedi Mulyadi Lebih Buruk dari Pandemi Covid-19

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Massa Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat menggelar unjuk rasa di depan Gedung Sate.
Massa Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat menggelar unjuk rasa di depan Gedung Sate.

AYOBANDUNG.ID – Deretan bus berwarna cerah memenuhi halaman depan Gedung Sate, bukan untuk menurunkan pelajar yang hendak studi banding, melainkan menjadi simbol perlawanan terhadap sebuah kebijakan pemerintah yang dinilai menyesakkan.

Sebanyak 50 armada bus, biasanya disewa untuk perjalanan wisata, hari itu menjadi kendaraan unjuk rasa. Para sopir, pemilik travel, dan pekerja pariwisata menyuarakan kekecewaan mereka terhadap Surat Edaran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang melarang kegiatan studi tur pelajar.

Surat Edaran Nomor 45/PK.03.03/KESRA itu diteken pada Mei 2025. Dalam salah satu poinnya, disebut bahwa sekolah dilarang mengadakan kegiatan studi tur karena dianggap membebani orang tua murid.

Namun, kebijakan ini bak pisau bermata satu. Ia mengiris tumpuan ekonomi banyak pihak tanpa menyediakan solusi alternatif yang nyata.

Herdi Sudardja, koordinator aksi dari Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat, menyebutkan bahwa larangan itu membuat pendapatan pelaku usaha anjlok. “Pendapatan turun sampai 60 persen. Dari semula Rp80 juta, sekarang hanya Rp30 juta. Itu tak cukup untuk bayar cicilan leasing atau gaji sopir,” ucapnya.

Dampaknya meluas. Tak hanya pengusaha travel, tapi juga pekerja informal seperti pedagang kaki lima, penjaja oleh-oleh, hingga pemilik penginapan lokal turut terkena imbas.

Mereka sudah mencoba jalur formal. Surat audiensi telah dilayangkan ke Gubernur, namun tak ada balasan. Maka aksi massa jadi pilihan terakhir. Ribuan orang turun ke jalan, mendesak agar kebijakan ini ditinjau ulang.

Di tengah panasnya Kota Bandung, deretan bus tersebut berubah menjadi posko perlawanan. Spanduk dibentangkan, klakson telolet dibunyikan, dan sebagian orang bahkan berjoget di atas atap bus untuk menarik perhatian publik.

Bus peserta aksi protes larangan studi tur pelajar di Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Bus peserta aksi protes larangan studi tur pelajar di Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Aksi ini bukan tanpa konsekuensi. Jalanan macet parah. Flyover Pasupati lumpuh total. Kendaraan mengular hingga ratusan meter. Jalan Diponegoro, Surapati, dan Sentot Ali Basyah ditutup sementara.

Dishub dan kepolisian sibuk mengurai kemacetan. Kendaraan dialihkan. Arus lalu lintas dari Gasibu ke Pasteur pun dialihkan, namun tetap saja, keluhan muncul dari warga yang tak siap menghadapi demo mendadak ini.

Seorang pengemudi ojek online, Ujang (37), mengeluh perjalanan orderannya terhambat.

“Enggak tahu ada demo. Tapi ya udah, terpaksa muter jauh. Waktu tempuh jadi molor banget,” katanya.

Di tengah kekacauan lalu lintas, perwakilan massa mencoba masuk ke Gedung Sate. Mereka ingin berbicara langsung dengan Gubernur Dedi Mulyadi. Namun yang menemui hanya staf Kesra.

Diskusi sempat berlangsung alot. Staf Kesra meminta massa bersabar menunggu kabar dari ajudan gubernur. Herdi, tak puas, bertanya, “Sampai kapan kami harus menunggu, Pak? Dari pagi kami di sini.”

Namun jawaban konkret tak kunjung datang. Massa pun bertahan, menunggu kepastian yang terasa semakin jauh.

Bagi mereka, surat edaran itu seperti vonis mati ekonomi. Tidak ada solusi dari pemerintah, tidak ada program pengganti, tidak ada kompensasi.

“Kalau dilarang studi tur karena beban ekonomi, harusnya pemerintah kasih alternatif. Bukan hanya menyuruh sekolah menanam sayur dan ternak ikan di sekolah. Itu bukan jawaban bagi kami,” tutur Herdi.

Ribuan massa menggelar aksi di depan Gedung Sate terkait kebijakan larangan studi tur di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ribuan massa menggelar aksi di depan Gedung Sate terkait kebijakan larangan studi tur di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Di tengah ketegangan, terlihat jelas rasa frustasi para pelaku wisata. Banyak dari mereka belum bangkit sepenuhnya dari krisis pandemi, kini harus kembali terpuruk akibat kebijakan tanpa diskusi.

Dia membandingkan kondisi saat SE itu diterbitkan dengan masa Covid-19. Diakuinya bahwa saat itu lebih baik ketimbang belakangan ini. 

“Waktu Covid-19, memang kami sulit. Tapi setidaknya itu bencana alam, bukan kebijakan sepihak yang bisa dicegah,” ujarnya.

Kenyataan pahit lainnya, beberapa perusahaan mulai merumahkan pegawainya. Belum ada PHK massal, tapi gelombang pemutusan kerja secara halus mulai terjadi.

“Sudah ada yang dirumahkan. Karena memang tidak ada order masuk. Tiap hari bus nganggur di pool,” kata Herdi.

Ia menyebut, jika situasi tak berubah, bukan tak mungkin dalam waktu dekat banyak perusahaan bis kecil akan gulung tikar. Ekosistem wisata lokal pun akan menyusut drastis.

Lebih dari itu, kebijakan ini juga dianggap tak berpihak pada pendidikan kontekstual. Studi tur selama ini dinilai banyak sekolah sebagai sarana belajar langsung di luar kelas, memperluas wawasan siswa.

Perwakilsan aksi massa cabut larangan studi tur datangi Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Perwakilsan aksi massa cabut larangan studi tur datangi Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Situasi diperburuk dengan tidak adanya komunikasi dua arah antara pemerintah dan pelaku usaha. Gubernur seperti tak mau mendengar jeritan dari bawah.

Sikap Pemprov pun dinilai lepas tangan. Perwakilan hanya mengatakan keputusan tak bisa diubah secara sepihak. Tapi tak pula menjanjikan adanya revisi atau evaluasi.

Di sisi lain, masyarakat umum mulai terbelah. Ada yang mendukung pelarangan karena alasan ekonomi keluarga. Tapi tak sedikit pula yang mengkritik metode larangan menyeluruh yang kaku dan tidak fleksibel.

Beberapa orang tua murid mengaku studi tur bisa jadi beban, tapi jika disiapkan dengan baik dan transparan, mereka siap berpartisipasi.

Bagi pelaku wisata, keputusan ini harusnya dibarengi mitigasi. Pemerintah punya banyak cara, termasuk pembatasan biaya, pengawasan penyelenggara, atau subsidi kegiatan edukatif.

Tapi yang terjadi justru larangan total. Semua ditutup tanpa jalan keluar.

Saat malam mulai turun, massa perlahan membubarkan diri. Bus-bus mulai bergerak keluar dari flyover Pasupati, namun titik macet bergeser, dan kemacetan masih terjadi.

Namun satu hal yang belum bergerak: sikap Gubernur Dedi Mulyadi yang masih bungkam hingga aksi massa selesai.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.