Menjadi Ironis, Kultus Populis 

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (Sumber: Ayobandung)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (Sumber: Ayobandung)

Malam yang dingin itu saat membuka koran Pikiran Rakyat, edisi Sabtu, 19 Juli 2025, terdapat berita di halaman depan langsung menyita perhatian bertajuk “Tragedi Pesta Wabup Garut.” 

Pesta yang seharusnya menjadi momen bahagia dalam rangkaian pernikahan Wakil Bupati Garut Putri Karlina, anak dari Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Maryoto dengan Maula Akbar Mulyadi, putra sulung Dedi Mulyadi berubah menjadi duka mendalam.  

Tiga warga (Vania Aprilia 8 tahun, Dewi Jubaedah 61 tahun dan Bripka Cecep Saeful Bahri, 39 tahun) dilaporkan meninggal dunia dalam kericuhan saat sesi makan gratis di depan Pendopo Garut, Jumat (18/7/2025) siang.

Acara yang digelar sejak pukul 13.00 WIB di Lapangan Otista, Alun-alun Garut itu awalnya berlangsung meriah. Namun saat (satu) gerbang dibuka untuk mengantre pembagian makanan gratis, suasana mendadak kacau.

Massa berdesakan, berebut, saling dorong, hingga terinjak-injak. Ironisnya, tragedi ini justru terjadi dalam acara yang diklaim sebagai “hiburan rakyat.”

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan permohonan maaf atas insiden dalam perayaan pesta rakyat yang menjadi bagian dari rangkaian pernikahan Wakil Bupati Garut, Lutfhianisa Putri Karlina, dengan Maula Akbar Mulyadi Putra.

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa tersebut,” ujarnya.

KDM menginstruksikan stafnya untuk segera menemui seluruh keluarganya dan me­nyampaikan uang duka dari­nya sebagai Gubernur Jawa Barat. Keluarga yang mendapat musibah akan diberi uang duka Rp 150 juta per keluarga.

“Ini adalah bagian dari empati kami dan kemudian ke depan, pembelajaran penting bagi siapapun, termasuk ke­luarga saya sendiri, kalau buat acara itu harus setidaknya diperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, termasuk juga penyiapan peng­amanan yang cukup," tuturnya.

Hasil tangkapan layar atas pesta rakyat syukuran pernikahan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina dan Maula Akbar Mulyadi (Sumber: Hawe Setiawan | Foto: Facebook)
Hasil tangkapan layar atas pesta rakyat syukuran pernikahan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina dan Maula Akbar Mulyadi (Sumber: Hawe Setiawan | Foto: Facebook)

Di tengah-tengah suasana duka mendalam, tiba-tiba seorang kawan, salah satu warga yang tinggal di Garut, melontarkan komentar yang cukup menohok dan mengejutkan,

“Pasta Rakyat (Ceunah)

Dirarame kunu lapar, dipupuja kunu teu boga, dieuleuh-euleuh kunu eweuh. 

Mawa kariweuh.

Rarasaanmah nyieun kaalusan teu kudu kikituan. Datangan, asongan (mun perlu huapan) bungan kacida pikeun rahayatmah.

(Ironis, Nu Penting Populis)"

Kujawab dengan singkat, "Luar biasa diksina, Bosque!"

Tentunya, kalimat dalam gaya Sunda itu penuh sindiran yang menangkap esensi persoalan, setiap kemasan populis (borjuis) tak selalu berpihak pada rakyat (wong cilik). Justru kadang hanya menjadi panggung simbolik yang menampilkan empati, tetapi abai pada tata kelola dan keselamatan. 

Ya sederhananya, tidak cukup niat baik, apalagi tanpa adanya perencanaan matang bisa berubah menjadi bencana dan petaka kemanusiaan yang melukai hati nurani. 

Mari kita bandingkan dengan liputan Kompas edisi Sabtu 19 Juli 2025, bertajuk "Kesenjangan Ekstrem di Balik Tragedi Pesta Syukuran Pernikahan Anak Gubernur Jabar" dijelaskan kasus tewasnya tiga orang dalam pesta syukuran pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi potret besar dua persoalan utama masyarakat Indonesia, ekstremitas dan mesianistik kompleks.

Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada, AB Widyanta, menyampaikan dari kasus ini, publik bisa melihat wajah ekstremitas di masyarakat Indonesia. ”Itu potret ekstremitas atau kesenjangan lebar antara pejabat publik di mana bisa menggelar pesta besar-besaran dan melakukan flexing, dengan menelan biaya besar.

Sementara di sisi lain, ada masyarakat yang hidup dalam kemelaratan yang berharap pada bantuan atau pemberian. Ini bagian dari wajah kita, tentang betapa lebarnya jurang ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini,” tuturnya.

Rupanya kejadian ini menjadi potret buram pejabat publik yang gencar menyuarakan efisiensi, yang justru tidak melakukan efisiensi, tetapi menggelar hajatan mewah dan meriah. Sementara di satu sisi, rakyat terpesona dengan gemerlap pergelaran pengantin itu.

Dari sana terlihat seolah-olah seluruh sumber daya negeri ini ada pada pejabat publik. Sedangkan masyarakat harus berbondong-bondong mendapatkan ”sumber daya” itu dari pejabat. ”Padahal, pejabat publik ini yang harus meredistribusi resources ke rakyatnya. Mereka justru harus melayani. Namun, yang terjadi sebaliknya,” ujarnya.

Masyarakat terjebak dalam orkestrasi selebritas dan kultus individu sosok Gubernur Jabar. Menganggap sosok itu bisa mengentaskan dari kemelaratan dan persoalan hidup.

”Ini jebakan mesianistik kompleks yang terus berulang. Bahwa pejabat atau sosok itu dikira bisa mengentaskan dari kemiskinan dan kesengsaraan. Namun, sejatinya tidak. Ini hanya bagian dari selebrasi atas kultus individu yang melahirkan fans dan berujung petaka,” katanya.

Populisme Alat Demokrasi

Tragedi ini menyisakan pertanyaan mendasar untuk siapa pesta rakyat digelar? Apakah benar-benar bagi warga atau sekadar pencitraan? 

Dalam buku Populisme Agama dan Pemilihan Kepala Daerah terdapat bahasa tentang populisme sebagai alat demokrasi. 

Kenny dalam bukunya berjudul Populism in Southeast Asia, terdapat dua kelompok mengaktualisasi populisme.

Pertama, populisme diaktualisasi sebagai ideologi. Kedua, populisme diaktualisasi sebagai senjata atau strategi politik konsolidasi mobilisasi emosional rakyat, untuk mendapatkan dukungan, dengan menghilangkan jarak komunikasi antara figur populis (kharismatik) dengan pengikutnya, (Kenny, 2019: 9). 

Benjamin Moffet dan Simon Tormey dalam Rethinking Populism: Politics, Mediatisation and Politics Style, populisme diaktualisasikan sebagai ideologi, politik logis, diskursus (wacana), dan strategi, organisasi, (Benjamin Moffit & Simon Tormey, 2013). Populisme diaktualisasikan konsepsi gaya retorika, melalui klaim menyanjung rakyat, tetapi kenyataannya mereka hanya berbicara demi kepentingan diri sendiri (Goldberg, 2018). 

Populisme diaktualisasi konsepsi mobilisasi. Mobilisasi yang dimaksud, melalai keterlibatan pemimpin populis (personalist leadership), gerakan sosial (social movement), dan partai politik (political party), mendorong masyarakat bergerak secara kolektif dalam jumlah besar agar mendukung tujuan mereka (Mudde & Kaltwasser 2017: 42). 

Populisme diaktualisasikan melalui konsepsi ideologi, logika politik, wacana, gaya, strategi, mobilisasi. Penulis mendefenisi-kan populisme merupakan emosionalisasi, personalisasi gaya komunikasi aktor politik kharismatik mengacu pada rakyat, dikonsepsikan melalui ideologi, wacana, logika politik, mobilisasi, ataupun strategi, tanpa menghilangkan estetika politik.

Keberhasilan populisme diaktualisasikan melalui konsepsi strategi demokrasi, dilihat melalui kemenangan Donald Trump momen pemilihan presiden Amerika 2016, Trump mewacanakan Amerika menjadi negara super power kembali melalui slogan I will make it great again, dikonsepsikan melalui gaya pidato, retorika pembelaaan terhadap partikularisme (kepentingan pribadi, kelompok tertentu) 

Privilege ekonomi kelas menengah sayap kanan, melalui strategi produksi isu penyatuan imajiner kolektif politik ketakutan masyarakat terhadap pluralisme, representasi ideologi nasionalisme, anti terhadap imigran terutama imajiner ketakutan terhadap imigran dari negara-negara Muslim secara bertahap akan merusak nilai sosial budaya yang telah exist, (nativisme) (The Guardian, 2016).

insiden desak-desakan dalam acara pesta hiburan acara pernikahan Wakil Bupati Garut Putri Karlina dengan Maula Akbar anak dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayo Bandung | Foto: Istimewa)
insiden desak-desakan dalam acara pesta hiburan acara pernikahan Wakil Bupati Garut Putri Karlina dengan Maula Akbar anak dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayo Bandung | Foto: Istimewa)

Perkembangan dan Dinamika Media 

Di dunia terutama Eropa, populisme berkembang sangat cepat, sehingga mempengaruhi panggung perpolitikan dan kebijakan sosial suatu negara. Perkembangan pesat ini dipengaruhi kelenturan sifat populisme serta pengaruh adaptif tehadap perkembangan media. Media dapat dikatakan "Pilar Keempat" dalam demokrasi (Carlyle, 1840: 392, Schultz, 1998, 49). 

Media memegang peran penting bagi kegagalan dan kesuksesan populisme, sebagai aktor domestik menjadikan populisme bangkit dan berkembang dalam lanskap sosial politik sejak berakhirnya perang dunia II (Mudde & Kaltwasser, 2016). 

Diaktualisasikan melalui lanskap sosial politik, media menyeleksi, membingkai topik (interpretasi) dan opini, sehingga menarik minat pembaca (Esser & Buchel, 2015: 4). Produksi berita media, tidak hanya didorong kebutuhan, tetapi melalui cita rasa dan preferensi konsumen, sehingga berpotensi melahirkan budaya politik populis (Esser & Matthes, 2013).

Populisme mengambil banyak manfaat dari media, kecenderungan menampilkan sesuatu populer, melalui pesan dramatisasi, emosional disampaikan aktor populis, daripada berita politik yang netral (Moffitt & Tormey, 2014: 391-394 dan Wirth & Esser, 2015: 3). 

Populis memanfaatkan media untuk menciptakan komunitas bersama dan ikatan emosional dengan rakyat (Henrichsen, 2019: 6). Akses refeodalisasi media konvensional mentrigger hadirnya new media, bermakna kehadiran new media selain merupakan adaptasi jawaban terhadap perkembangan teknologi informasi, juga merupakan revitalisasi ruang publik yang sudah terfeodalisasi. 

Kembali masyarakat berharap new media menjadi penguat dan tulang punggung demokrasi, berdasarkan asumsi persamaan karakteristik keduanya. Demokrasi mencerminkan kesetaraan, pengakuan terhadap perbedaan, kebebasan berpendapat, partisipasi, dan perlindungan hak dasar manusia.

New media membuka ruang yang bebas, bahkan terkadang tanpa batas, melalui prinsip kesetaraan dan kebebasan yang dipegang, dan setiap orang berperan sebagai pembuat yang independen. 

David Bolter memaknai remediation ruang publik, merupakan mediasi ulang ruang publik sehingga melahirkan sebuah realitas baru (virtual), awalnya ruang publik berbentuk kesatuan bergeser menjadi liquid identity, jika dimaknai berdasarkan komunikasi sosial politik, remediation melahirkan rekonfigurasi modernitas, proses realitas baru perubahan komunikasi pemilih dari konvensional kepada modern (Muzaini, 2014). 

Entitas lain yang berpengaruh dalam demokrasi di tingkat lokal adalah elite lokal, atau dapat disebut local strongman, "orang kuat lokal" atau diistilahkan lain local broker, patron, dan client. 

Pengaruh orang kuat lokal dikarenakan modal yang mereka miliki, berupa social capital ataupun economic capital yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, sehingga memiliki legitimasi serta dukungan sosial dikarenakan mereka sebagai tempat pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal, legitimasi mereka dimanifestasikan melalui penguasaan politik, opinion leader bahkan sampai ikut mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Kemunculan local strongman merupakan keniscayaan bentuk kuatnya kekuasaan mereka pada masyarakat. (Rahman Tahir, dkk [Dewi Kesuma Nasution, 2024:4-6)

Cass Mudde dalam bukunya Populism : A Very Short Introduction menjelaskan adanya dua kelompok besar di masyarakat yaitu the pure people and the corrupt elite. Masyarakat miskin dipandang sebagai pure people yang perlu mendapatkan bantuan dari pemerintah. 

Pemerintah akan cenderung memusatkan perhatiannya kepada masyarakat miskin karena jumlah populasinya yang sangat banyak. Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan jika masyarakat miskin bisa menjadi korban dari gimmick populisme para aktor yang sedang maupun akan menjabat di pemerintahan. 

Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakarya Herry Priyono menjelaskan masyarakat harus menolak tegas segala bentuk populisme. Jaminan rasa aman untuk hidup di Indonesia harus bisa diberikan penguasa.    

Penting untuk diketahui bagi pemerintah, populisme yang berarti paham yang berpihak kepada rakyat, tidak hanya semata-mata untuk memenuhi permintaan rakyat sepenuhnya, plus korelasinya dengan dukungan elektoral. 

Tragedi Plumpang (Garut) mengajarkan bahwa pemerintah harus tegas dalam memberikan solusi yang adil kepada seluruh rakyat, agar dapat tercapainya rasa aman dan agenda pro-demokrasi dapat berjalan maksimal.(www.pinterpolitik.com)

Ketika ribuan orang memadati Alun-alun Garut demi iming-iming makan gratis, peristiwa itu bukan sekadar bagian dari perayaan, melainkan potret nyata ketimpangan sosial, kelaparan, dan keterdesakan hidup yang selama ini tersembunyi di balik keramaian.

Kemasan populis tanpa perhitungan matang bisa berujung tragis. Pesta rakyat berubah menjadi petaka. Niat baik yang mestinya membawa kebahagiaan justru menelan korban dan menyisakan duka mendalam.

Di era media sosial dan pencitraan instan, istilah "pesta rakyat" kerap dijadikan komoditas komunikasi politik, alat untuk menjual citra kedekatan, membangun simpati, hingga mendongkrak elektabilitas. Namun tanpa etika publik dan tanggung jawab sosial, rakyat bukan lagi subjek yang dimuliakan, melainkan sekadar penonton, bahkan, lebih tragisnya, menjadi korban.

Dalam dunia politik, populisme adalah senjata ampuh yang menawarkan kesan kedekatan dengan rakyat, tapi sering kali mengorbankan substansi demi euforia sesaat. Ketika makan gratis dianggap lebih penting dari manajemen risiko, dan kerumunan lebih berharga daripada keamanan, di situlah kultus populis menemukan wujudnya.

Pernyataan Bambang Eka Cahya Widodo, dosen politik dan pemerhati pemilu, terasa relevan: "Senjata pemimpin populis itu selalu sama, yaitu gimmick, dan jauh dari substansi."

Baca Juga: Antara Kata dan Fakta: Ujian Komunikasi Publik KDM di Tengah Musibah Pernikahan

Tragedi Garut seharusnya menjadi pelajaran bersama. Mencintai rakyat tak cukup dengan membagi nasi kotak (bungkus) menyajikan hiburan massal. Justru yang utama memastikan keselamatan, kesejahteraan, dan martabat warga agar tetap terjaga.

Mencintai rakyat bukan dengan gimmick. Kehadiran warga dalam pesta rakyat tak boleh sekadar menjadi alat pencitraan. Pasalnya keselamatan wong cilik jauh lebih penting dari sekadar euforia sesaat.

Dengan demikian, populisme tanpa etika adalah jebakan. Kultus populis yang menjual keramaian, namun abai terhadap kemanusiaan, adalah bentuk kekosongan yang menyakitkan. Apalagi ketika empati berubah menjadi strategi popularitas, rakyat hanya menjadi ornamen dalam panggung kekuasaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)