Dari Tawa Berubah Tangis, Pesta Pernikahan Putra Dedi Mulyadi Dikenang karena Tiga Korban

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana kericuhan saat pesta rakyat pernikahan anak Dedi Mulyadi di Pendopo Garut.
Suasana kericuhan saat pesta rakyat pernikahan anak Dedi Mulyadi di Pendopo Garut.

AYOBANDUNG.ID - Tiga jenazah tergeletak kaku. Satu bocah delapan tahun, satu nenek berusia enam puluh satu, dan satu polisi paruh baya. Mereka tidak berpakaian pesta. Tidak juga membawa undangan. Yang mereka bawa hanya harapan: untuk menonton lawakan, makan makanan rakyat, dan menyicip sedikit kebahagiaan yang digelar oleh mereka yang hidup di seberang tembok kesejahteraan. Tapi siapa yang menduga, pesta yang menjanjikan tawa dan kenyang itu malah berujung sunyi dan batu nisan?

Tragedi ini bukan terjadi di medan perang. Bukan pula di tengah kerusuhan massa. Ini terjadi di tengah riuh pesta pernikahan putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Maula Akbar atau Ula, dengan Luthfianisa Putri Karlina, Wakil Bupati Garut. Di Pendopo Kabupaten Garut, tempat kekuasaan biasa berdiri tenang, Jumat siang 18 Juli 2025 berubah jadi ladang duka.

Sekitar pukul 13.00, pintu dibuka. Warga yang sejak sebelum Jumatan sudah mengantre dan mendesak, langsung tumpah ruah. Mereka ingin melihat panggung hiburan. Mencicip makanan gratis yang katanya disediakan ribuan porsi. Klepon, awug, soto, sate, burayot. Tapi alih-alih mendapat soto atau sate, mereka yang di depan justru mendapatkan injakan demi injakan. Sesak. Pekik minta tolong. Nafas terhenti.

Tiga nyawa melayang. Vania Aprilia, 8 tahun, warga Kelurahan Sukamentri. Dewi Jubaedah, 61 tahun. Dan Bripka Cecep Saeful Bahri, 39 tahun. Vania dan Nenek Dewi dibawa ke ruang jenazah RSUD dr Slamet. Cecep ke RS Guntur milik TNI. Tapi kematian tidak mengenal ruang. Ia hanya tahu bahwa tiga manusia telah kehilangan hidup dalam suasana yang seharusnya sakral dan bahagia.

"Kegiatan seharusnya dimulai pukul 13.00, tapi dari sebelum Jumatan warga sudah memenuhi pagar pendopo," kata Rizal, perwakilan panitia, dilansir dari unggahan Instragram Dedi Mulyadi. Menurutnya, panitia sudah menyiapkan 500 personel pengamanan. Tapi ternyata, 500 aparat bukan tandingan massa yang tak bisa dihitung. Dorong-mendorong pun terjadi. Warga terinjak. Ada yang jatuh, tak bangun lagi.

Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi: Antara Panggung Konten, Kontroversi, dan Janji Kesejahteraan

Yang membuat sesak bukan hanya karena nyawa hilang, tapi karena tragedi ini terjadi di tengah kegembiraan para elite. Sementara sebagian besar warga yang datang, bisa jadi bahkan tidak yakin kapan lagi mereka akan bersantap soto atau sate.

Dalam kondisi ekonomi yang angin-anginan, saat harga kebutuhan pokok menanjak dan pekerjaan semakin sulit, pesta rakyat dengan embel-embel makan gratis menjadi magnet. Ribuan orang datang bukan semata karena ingin menonton Ohang dan Ceu Popon, tapi juga karena perut mereka meminta diisi makanan enak walaupun barang sesekali. Dan celakanya, justru perut kosong itulah yang menyeret mereka ke liang kubur.

Dedi Mulyadi kemudian muncul ke hadapan publik. Ia menyatakan tidak pernah menyetujui kegiatan makan gratis tersebut. "Acara makan bersama warga ini saya termasuk dua kali melarang," ujarnya. Menurutnya, tidak perlu ada acara besar yang melibatkan massa, sebab dampaknya tidak bisa diprediksi.

Tak lama setelah klaim itu, muncul potongan video dari podcast yang ia rekam bersama putranya, Ula. Dalam video yang diunggah tiga hari sebelum kejadian, 14 Juli 2025, Dedi terdengar menyambut ide pesta rakyat itu dengan antusias. "Sudah pasti ari ayah mah penggemarnya banyak, pasti warga ini breg (membeludak). Warga ada hiburannya nggak nanti?" tanya Dedi sambil tertawa kecil.

Ula menjawab bahwa sudah dijadwalkan hiburan malam pada Jumat, dan bahwa makanan gratis telah disiapkan dalam ribuan porsi oleh pelaku UMKM. "Sekuat-kuatnya," katanya.

Kegembiraan di podcast itu terasa kontras dengan duka yang datang kemudian. Publik pun mulai mempertanyakan konsistensi. Mengapa dalam satu video Dedi terdengar menyetujui, tapi setelah kejadian ia mengaku telah melarang? Apakah ada miskomunikasi? Ataukah ada pihak yang memutuskan tanpa sepengetahuan sang gubernur?

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Sumber: Ayobandung)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Sumber: Ayobandung)

Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, Dedi memberikan penjelasan. Kepada kumparan, ia mengatakan hanya menyetujui acara hiburan malam hari, bukan kegiatan makan siang yang digelar pukul 13.00. "Jadi di agenda yang saya miliki itu sesuai dengan apa yang ada di YouTube (podcast). Kegiatan (pesta rakyat)-nya itu hari Jumat, jam 7 malam, di lapang terbuka," ujar Dedi.

Ia menambahkan bahwa kebiasaannya memang selalu menggelar acara malam hari, karena relatif lebih aman dan terkendali. "Kalau jam 7 (19.00) mah sudah kegiatan biasa saya lakukan, maka malam itu disiapkan makan, dan itu di lapangan terbuka, di pinggir jalan, bukan di dalam (pendopo)," katanya.

Tapi publik tetap bertanya-tanya: bagaimana bisa seorang gubernur sekaligus orang tua dari mempelai tidak mengetahui perubahan jadwal yang begitu krusial? Apalagi jika acara itu digelar di ruang publik, dengan skala yang melibatkan ribuan orang.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Dedi mengunjungi keluarga korban dan menyampaikan duka. Ia juga menyampaikan bahwa akan memberikan uang duka sebesar Rp150 juta kepada masing-masing keluarga korban, serta menjamin pendidikan anak-anak korban hingga perguruan tinggi. "Sebagai orang tua saya harus bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh anak dan menantu," ujarnya.

Ketua DPRD Garut Aris Munandar meminta agar kasus ini diselidiki secara terbuka. "Saya harap diselesaikan dengan tuntas agar terang benderang apa yang menjadi penyebab kejadian sampai orang meninggal dunia," katanya.

Kapolres Garut, AKBP Yugi Bayu Hendarto, menyebut pihaknya sedang melakukan evaluasi dan mendalami kemungkinan kelalaian. Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan menyatakan hal serupa. "Polisi akan melakukan penyelidikan apakah ada unsur kelalaian atau tidak dan siapa yang paling bertanggung jawab atas peristiwa ini," kata Rudi dikutip dari siaran pers pada Sabtu, 19 Juli 2025.

Baca Juga: Sudahkah Dedi Mulyadi Layak Disebut Role Model?

Besar harapan publik bahwa investigasi ini tidak berhenti di tengah jalan. Sudah semakin lelah publik melihat bagaimana elite berkelit dari tanggung jawab dengan cara yang semakin lihai. Semakin tragis ketika panggung pesta yang digelar untuk menunjukkan kedekatan dengan rakyat justru berubah jadi pemisah paling nyata: bahwa antara rakyat dan penguasa, jaraknya bukan cuma protokol, tapi juga nyawa.

Vania, Nenek Dewi, dan Bripka Cecep bukanlah orang yang berniat menabrak sistem. Mereka datang karena diundang. Diedarkan informasi bahwa akan ada hiburan dan makanan. Disebutkan lokasi dan jam. Mereka datang bukan untuk berdemo, tapi untuk ikut bahagia, meski hanya untuk satu sore. Tapi tak ada satu pun dari mereka tahu, bahwa mereka hanya dijadikan statistik dalam kekacauan yang tak pernah diantisipasi sungguh-sungguh.

Kematian dalam pesta pora elite selalu terasa paling pahit. Sebab saat jenazah terbujur kaku tanpa suara, dunia kekuasaan tetap riuh.

Yang meninggal dunia, tetap akan disebut sebagai korban. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah: korban dari siapa? Apakah mereka korban dari ketidakmampuan panitia? Ataukah korban dari arogansi kuasa yang terlalu percaya diri bahwa mereka bisa mengendalikan ribuan rakyat dengan pagar dan 500 polisi?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)