Pragmatisme Merdeka dalam Kegelisahan Panjang

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)

Setiap tahun, kita merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita. Bendera dikibarkan, lagu-lagu perjuangan dikumandangkan, dan pidato heroik dilantunkan. 

Namun di tengah kemeriahan itu, ada kegelisahan yang menggumpal. Entah, apakah ada yang keliru dalam perjalanan sejarah, atau makna merdeka itu sendiri terlalu sempit untuk dimengerti.

Kita telah sepakat bahwa merdeka berarti bebas dari penjajahan. Tapi apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? 

Bagaimana dengan penjajahan struktural, digital, dan mental yang justru makin mengakar dalam kehidupan kita? 

Kemerdekaan yang kita warisi hari ini tampak lebih sebagai narasi simbolik ketimbang praksis hidup sehari-hari. Ketika masyarakat kecil sulit mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan keadilan hukum, kita dipaksa untuk bertanya ulang: sudahkah kita benar-benar merdeka?

Laporan Oxfam Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa 1% orang terkaya menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional. Ketimpangan ekonomi ini menciptakan jurang sosial yang tidak kalah kejam dari penjajahan kolonial. Kemerdekaan yang seharusnya membebaskan justru terasa memenjarakan sebagian besar rakyat dalam siklus kemiskinan.

Di sisi lain, WALHI mencatat semakin banyak ruang hidup masyarakat adat yang dirampas atas nama pembangunan. Ketika tanah, air, dan hutan diambil alih untuk investasi, apakah itu bukan bentuk baru dari kolonialisme, hanya saja kini berwajah legal? 

Kebebasan yang dibelenggu!

Demokrasi menjanjikan kebebasan berpendapat, tapi kenyataan berkata lain. Menurut Amnesty International, pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Aktivis, jurnalis, bahkan mahasiswa kerap dibungkam melalui UU ITE dan tekanan sosial-politik. Kita mungkin merdeka secara formal, tapi belum tentu bebas untuk bersuara.

Di ruang digital, keterbatasan akses teknologi dan literasi informasi menciptakan bentuk penjajahan baru.

Masyarakat pinggiran masih berjuang untuk sekadar “terhubung”, sementara kota-kota besar sudah bicara soal kecerdasan buatan dan revolusi industri 5.0. Apakah ini adil?

Prof. Yudi Latif pernah berkata bahwa kemerdekaan tanpa keadilan sosial hanya akan menghasilkan kekecewaan kolektif. Dalam pandangannya, makna merdeka harus dikaitkan dengan kemampuan bangsa ini untuk menciptakan kesejahteraan dan martabat bagi seluruh rakyatnya.

Filsuf Franz Magnis-Suseno bahkan lebih lugas:

“Bangsa tidak bisa disebut merdeka bila rakyatnya hidup dalam ketakutan, kemiskinan, dan tanpa suara.”

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan soal masa lalu—melainkan soal masa kini dan masa depan. Ini adalah pekerjaan rumah yang belum selesai. 

Noam Chomsky, meski berbicara dalam konteks global, menyentuh esensi kegelisahan ini:

“Kebebasan tanpa keadilan sosial adalah kebebasan yang hanya dinikmati oleh mereka yang sudah berkuasa.”

Kegelisahan terhadap makna merdeka muncul karena adanya kesenjangan antara idealisme dan realitas. Kita belum selesai mengisi kemerdekaan—bahkan bisa dibilang, kita belum benar-benar memaknainya.

Maka, pertanyaannya kini bukan lagi “apakah kita sudah merdeka?”, melainkan: kemerdekaan seperti apa yang kita perjuangkan hari ini?

Apakah kita ingin sekadar bebas dari kolonialisme klasik, atau ingin benar-benar merdeka sebagai manusia—yang bebas berpikir, berpendapat, hidup layak, dan punya akses terhadap masa depan

Kemerdekaan yang perlu diinstal ulang! 

Laporan Oxfam Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa 1% orang terkaya menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional. (Sumber: Pexels/Vincent Tan)
Laporan Oxfam Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa 1% orang terkaya menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional. (Sumber: Pexels/Vincent Tan)

Di tengah peradaban modern yang serba cepat, ada kebutuhan untuk “menginstal ulang” pemahaman kita tentang merdeka. Merdeka seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan kesadaran kolektif untuk hidup bermartabat. Ia menuntut partisipasi aktif dalam membongkar ketidakadilan dan memperjuangkan ruang hidup yang setara. 

Maka, saat kita memperingati hari kemerdekaan, mari kita bertanya: Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Atau kita hanya terbiasa hidup dalam ilusi kemerdekaan?

Menurut Pramoedya Ananta Toer yang merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang paling vokal dan konsisten membela kebebasan berekspresi, meski ia sendiri menjadi korban pelanggaran terhadap hak itu. Pandangannya tentang kebebasan berbicara, menulis, dan berpikir sangat tajam dan relevan, terutama dalam konteks negara pascakolonial yang masih kerap membungkam suara berbeda.

Berikut adalah beberapa inti pandangan Pramoedya tentang kebebasan berekspresi:

  1. Menulis adalah tindakan perlawanan: 

Bagi Pramoedya, menulis bukan sekadar kegiatan sastra, tetapi tindakan politik dan moral. Ia pernah berkata:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” 

Pernyataan ini mencerminkan keyakinannya bahwa menulis adalah cara untuk merekam kebenaran, menolak lupa, dan melawan penindasan. 

  1. Bisu adalah bentuk penjajahan: 

Pramoedya mengalami pembungkaman secara langsung. Ia dipenjara tanpa pengadilan selama 14 tahun di Pulau Buru, dan selama itu, ia tetap menulis—dalam kondisi penuh pembatasan.

Dalam pengantar Tetralogi Buru, ia menyampaikan bahwa dalam kondisi tanpa kebebasan pun, “orang masih bisa menulis dalam hati.” Ini menunjukkan bahwa bagi Pramoedya, kebebasan berekspresi tidak bisa sepenuhnya dibungkam, bahkan oleh negara. 

  1. Negara semestinya tidak menjadi alat pembungkam: 

Ia secara terang-terangan mengkritik bagaimana negara menggunakan hukum, militer, dan birokrasi untuk mengekang ekspresi rakyat. Dalam wawancara maupun tulisan-tulisannya, Pramoedya sering menyuarakan bahwa kebebasan berpikir dan menyuarakan kebenaran adalah hak dasar manusia, bukan sesuatu yang boleh dikontrol oleh kekuasaan. 

“Dalam masyarakat yang belum dewasa, kebebasan berpikir dianggap dosa.”

  1. Sastra sebagai ruang kemerdekaan: 

Karya-karya Pramoedya, seperti Bumi Manusia atau Jejak Langkah, adalah refleksi mendalam tentang perjuangan melawan kebodohan sistemik dan represi. Ia menggunakan sastra sebagai medium untuk menyuarakan kebenaran sejarah dan menyalakan kesadaran kritis.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Pramoedya Ananta Toer percaya bahwa kebebasan berekspresi adalah esensi dari kemerdekaan manusia. Tanpa itu, kita hanya hidup dalam penjara yang tak kasat mata—dibungkam oleh ketakutan, dibatasi oleh sistem, dan dilupakan oleh sejarah.

Pandangan Pram ini sangat relevan ketika kita membicarakan skeptisisme terhadap makna merdeka. Sebab, selama ekspresi dibatasi, kritik dibungkam, dan suara minoritas dimatikan, kemerdekaan yang kita rayakan tidak lebih dari sekadar seremoni. 

Pragmatisme ini bukanlah sebuah gerakan perlawanan terhadap situasi yang sedang kita hadapi, tetapi lebih kepada refleksi kita akan kecintaan kepada bangsa dan negara.

Sekaligus sebagai gerakan sadar dalam berdemokrasi  Ibarat embun pagi yang tidak henti-hentinya mendinginkan kegerahan malam, kata-kata menjadi frasa terindah untuk tetap meletakkan harapan. 

Bulan depan, bulan Agustus adalah sejarah terbesar bagi negeri ini. Bukan hanya sekadar sebuah ritual tradisi dan seremonial.

Tetapi kita berharap, nilai-nilai kemerdekaan itu bisa menjadi tonggak dan pilar sejarah dalam dada anak-anak negeri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)