Puting Beliung Rancaekek Sudah Terjadi Sejak Zaman Belanda

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi kerusakan puting beliung Rancaekek zaman baheula.
Ilustrasi kerusakan puting beliung Rancaekek zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Kalau hari-hari ini orang terkejut melihat video angin meliuk-liuk seperti naga lapar yang sedang mengacak-acak Rancaekek, ternyata orang-orang di masa Hindia Belanda sudah lebih dulu mengalaminya. Bahkan mereka sudah mencatatnya, mengarsipkannya, dan mengirimkannya lewat telegram yang ironisnya juga ikut tumbang diterjang angin puyuh.

Bencanaa angin kencang yang menyapu Rancaekek bukanlah barang baru. Ia bukan fenomena kekinian yang datang gara-gara suhu global yang makin naik atau pembangunan yang makin ngawur. Ini soal geografi. Dan mungkin, juga nasib.

De Indische Courant menulis pada 10 Januari 1927 bahwa angin puyuh telah merobohkan empat puluh tiang telegraf di dekat Rancaekek. Bayangkan, empat puluh! Angka yang cukup untuk membungkam jalur komunikasi Batavia ke seluruh Jawa, kecuali ke Bandung.

“Pengiriman semua telegram ke Jawa dari Batavia ditunda,” begitu laporan kantor berita Hindia Belanda, Aneta, yang dikutip koran tersebut. Hanya jalur Batavia-Bandung yang selamat.

Bencana kala itu bukan hanya soal angin putar, tapi juga soal repotnya petugas pos yang harus menegakkan lagi tiang demi tiang, sambil diterpa hujan dan sumpah serapah bos-bos telekomunikasi zaman kolonial.

Enam tahun berselang, angin kembali datang, kali ini lebih mematikan. Pada 11 Oktober 1933, media De Locomotief, Het Nieuws van de Dag voor Nederlandsch-Indië, dan Emmer Courant sama-sama sepakat: Rancaekek diamuk badai puyuh. Bukan cuma satu sumber, tapi konsensus jurnalistik.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Satu penduduk lokal tewas. Sejumlah rumah hancur. Tepatnya tujuh belas rumah ambruk dan tiga puluh lainnya copot atapnya. Pohon-pohon tumbang, seolah tunduk hormat pada kemarahan langit.

“Seorang warga setempat tewas tersapu angin puyuh yang mengamuk di atas Rancaekek,” tulis De Locomotief dengan getir.

Badai Juga Terjadi di Eropa

Tapi, puting beliung Rancaekek bukan bencana tunggal kala itu. Emmer Courant edisi 11 Oktober 1933 menyebu Rancaekek ternyata hanyalah sepotong kecil dari kepingan badai yang menggila di banyak tempat di muka bumi.

Dalam pada yang sama, tanah Eropa pun tak luput dari murka angin. Inggris disapu badai hebat disertai hujan lebat, menyebabkan banjir besar yang menenggelamkan ratusan rumah di Wales Selatan. Saking parahnya cuaca, manuver armada Eigel di Laut Utara dibatalkan—laut tak lagi bersahabat bagi kapal-kapal angkatan laut Inggris yang sudah terbiasa menaklukkan gelombang.

Emmer Cournat edisi 11 Oktober 1933.
Emmer Cournat edisi 11 Oktober 1933.

Belgia pun babak belur diterjang angin. Di kota pesisir Ostende dan sekitarnya, banyak rumah serta vila rusak parah. Brussel, ibukota Belgia, terpaksa menutup taman kotanya karena pepohonan tumbang dan patah. Bahkan di Mons, tembok ruang saksi di gedung pengadilan roboh tertiup angin, melukai beberapa orang di dalamnya. Seorang veteran perang yang sudah kehilangan satu kakinya justru mendapat musibah lagi: lengan kanannya patah tertimpa reruntuhan.

Sementara itu, di Italia, Sungai Isonzo (sekarang di Slovenia) meluap karena badai yang tak kalah dahsyat, merusak ladang dan tanaman para petani. Laut juga memperlihatkan keganasannya: di lepas pantai Yarmouth, Inggris Raya, sebuah sekunar berbobot 230 ton bersama sepuluh awaknya terbalik, dan besar kemungkinan semua awaknya lenyap ditelan ombak.

Denmark juga mencatat tragedi: kapal uap Jerman “Anita Peters” yang tengah berlabuh di Nyköbing terlepas dari tali tambatannya, menghantam jembatan pendaratan hingga patah. Tiga belas orang yang ada di atasnya terjebak; seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun akhirnya tenggelam, meski beberapa penumpang lain berhasil diselamatkan setelah potongan jembatan hanyut ke darat.

Bahkan di Thisted, Denmark, seorang gadis muda berusia 17 tahun tewas tertimpa atap rumah yang roboh diterjang angin.

Rancaekek Langganan Badai

Rupanya, dalam beberapa dekade terakhir, kawasan ini juga seolah ditakdirkan untuk menjadi jalur keganasan pusaran angin tropis yang orang kita kenal sebagai puting beliung, kadang juga disebut tornado kalau sudah kelewat dahsyat.

Pada 13 April 2011, langit Desa Jelegong, Kampung Papagungan, Kecamatan Rancaekek, tiba-tiba menghitam di siang bolong. Angin berputar cepat, mencabik-cabik bangunan yang berdiri tak berdaya. Hasilnya: delapan rumah rusak berat, puluhan rumah rusak sedang, dan puluhan lainnya rusak ringan. Empat orang luka berat, 33 lainnya luka ringan.

Untungnya, tak ada nyawa melayang. Tapi bagi warga yang rumahnya berubah jadi puing, hari itu pasti terasa panjang, panas, sekaligus dingin—dihantam kenyataan betapa rapuhnya tembok dan genting di hadapan murka angin.

Baca Juga: Kala Rancaekek Diamuk Tornado Pertama di Indonesia

Belum kering trauma, delapan tahun kemudian, 11 Januari 2019, giliran Perumahan Rancaekek Permai II yang disergap pusaran angin. Jam tiga sore lewat sedikit, angin kencang menggiring awan kelam yang menutup matahari. Hanya lima menit, tapi cukup untuk membuat atap beterbangan seperti kertas, pohon roboh menimpa jalanan, dan listrik padam.

BPBD Kabupaten Bandung mencatat sedikitnya 15 rumah rusak berat, sementara ratusan lainnya rusak ringan. Seorang warga luka berat, dan belasan lainnya luka ringan. Video amatir yang viral memperlihatkan pusaran putih menjulur dari dasar awan, seperti tangan gaib yang sedang meraih bangunan di bawahnya.

Lima tahun berselang, angin datang lagi. Kali ini tak hanya puting beliung biasa. Rabu, 21 Februari 2024, sekitar pukul 15.30 WIB, pusaran besar muncul dan terus menari hingga setengah jam lamanya. Bukan cuma satu dua kampung, tapi lima kecamatan sekaligus diterjang: Jatinangor dan Cimanggung di Sumedang, serta Rancaekek, Cicalengka, dan Cileunyi di Kabupaten Bandung.

BPBD mencatat hampir seratus rumah dan belasan pabrik rusak parah, termasuk PT Kahatex di Rancaekek yang atapnya porak-poranda. Truk-truk terguling, jalanan berantakan, dan langit seperti tak kenal belas kasihan.

Kali ini, banyak ahli menyebutnya tornado, bukan sekadar puting beliung. Tornado, kata para meteorolog, biasanya terbentuk dari badai supercell, jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih lama daripada puting beliung tropis yang hanya muncul dari konveksi lokal. Di Indonesia yang beriklim tropis, tornado dianggap mustahil; tapi Rancaekek membuktikan, angin bisa lebih nekat dari yang kita kira.

Terdengar seperti kebetulan. Tapi dari 1933 hingga 2024, Rancaekek berkali-kali muncul di berita karena amukan angin. Entah nasib, entah takdir, Rancaekek seperti sudah akrab dengan badai sekaligus menjadi catatan kaki sejarah tentang betapa kecilnya gelimang orang di hadapan langit yang sedang murka.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)