Sejarah RSHS Bandung, Rumah Sakit Tertua di Jawa Barat Warisan Era Hindia Belanda

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). (Sumber: Pemprov Jabar)
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). (Sumber: Pemprov Jabar)

AYOBANDUNG.ID - Di jantung Kota Bandung, berdiri megah sebuah institusi kesehatan yang nyaris seabad usianya: Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Namanya kini begitu akrab di telinga masyarakat, namun sedikit yang tahu bahwa rumah sakit ini pernah berganti-ganti nama, berpindah tangan, bahkan jadi pangkalan militer. Sejarahnya bukan cuma panjang, tapi juga berliku seperti nadi kota yang terus berdetak menghadapi zaman.

Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda dilanda wabah penyakit. Pes dan malaria jadi momok mematikan, terutama di daerah padat seperti Sumatera dan Jawa Timur. Di tengah keterbatasan tenaga medis, muncul dokter-dokter pribumi yang tampil ke depan. Nama-nama seperti Dr. Sutomo dan Dr. Tjipto Mangunkusumo tercatat sebagai tokoh penting dalam upaya memberantas penyakit.

Untuk menggenjot jumlah dokter, Belanda mendirikan STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang kemudian melahirkan banyak dokter dari kalangan bumiputra. Bersamaan dengan itu, pembangunan rumah sakit pun digencarkan. Di Bandung, salah satu yang berdiri pada masa itu adalah Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis, yang kelak dikenal sebagai RSHS.

Rumah sakit ini mulai dibangun pada 1917 dan diresmikan pada 15 Oktober 1923. Gedungnya dirancang oleh F.J.I. Ghijsels, arsitek kondang era kolonial, atas prakarsa Vereeniging Bandoengsche Ziekenhuis (Asosiasi Rumah Sakit Bandung). Kapasitas awalnya sekitar 300 tempat tidur, dan fungsinya menyerupai rumah sakit umum yang melayani berbagai kalangan.

Beberapa waktu kemudian, nama rumah sakit ini berubah menjadi Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana untuk menghormati Putri Juliana, pewaris tahta Belanda. Statusnya tetap sebagai rumah sakit umum, tapi perlahan menjadi salah satu yang terlengkap dan terbesar di Bandung kala itu.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

Kondisi berubah drastis ketika Perang Pasifik pecah pada 1942. Hindia Belanda ikut terseret, dan Bandung tak luput dari dampaknya. Rumah sakit Juliana beralih fungsi menjadi rumah sakit militer Belanda. Namun tak lama, Jepang menyerbu dan menguasai Jawa. Rumah sakit ini pun jatuh ke tangan mereka dan berganti nama jadi Rigukun Byoin.

“Tidak ada kebijakan signifikan yang diterapkan Jepang terhadap rumah sakit itu. Sarana dan prasarana tetap seadanya,” begitu menurut catatan yang disusun tim sejarah RSHS.

Setelah Jepang kalah dari Sekutu, Belanda kembali masuk dan mengambil alih rumah sakit tersebut. Namanya dikembalikan ke Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana. Tapi geliat perjuangan kemerdekaan Indonesia tak terbendung. Meski Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, rumah sakit ini masih berada dalam genggaman Belanda hingga 1948.

RSHS zaman baheula. (Sumber: Dok. RSHS)
RSHS zaman baheula. (Sumber: Dok. RSHS)

Baru pada tahun itu, rumah sakit resmi berada di bawah pemerintahan Indonesia melalui Kota Praja Bandung. Namanya pun berubah menjadi Rumah Sakit Rancabadak, dan yang pertama kali menjabat sebagai direktur adalah dr. H.R. Paryono Suriodipuro yang merupakan seorang dokter Indonesia.

Dari Rancabadak ke Hasan Sadikin

Tahun 1954, status rumah sakit ini meningkat menjadi Rumah Sakit Provinsi di bawah naungan Departemen Kesehatan. Kapasitasnya ditambah menjadi 600 tempat tidur. Pada 1956, rumah sakit ini ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) yang baru berdiri. Kerja sama ini menandai babak baru peran rumah sakit sebagai penggerak pendidikan kedokteran di tanah air.

Lalu, nama Rancabadak diganti. Pada 8 Oktober 1967, rumah sakit ini resmi bernama Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin. Nama itu diambil dari tokoh penting: dr. Hasan Sadikin, direktur pertama sekaligus dekan FK Unpad. Ia wafat saat masih menjabat, dan namanya diabadikan sebagai bentuk penghormatan.

Sejak saat itu, RSHS terus mengalami transformasi kelembagaan. Tahun 1967, rumah sakit ini menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kesehatan RI dan bertanggung jawab langsung kepada Dirjen Pelayanan Medik. Selanjutnya, pada rentang 1992–1997, statusnya beralih menjadi unit swadana, memberi otonomi lebih luas dalam pengelolaan anggaran.

Tanggal 12 Desember 2000 menjadi tonggak penting lain. Status RSHS secara yuridis berubah menjadi Perjan (Perusahaan Jawatan). Model ini memberi ruang otonomi manajemen, dan dinilai sebagai kebijakan strategis dalam reformasi pelayanan kesehatan publik. Sejak saat itu, RSHS berkembang pesat sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan utama.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Kini, RSHS tak hanya menjadi rumah sakit provinsi, tapi juga ditetapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional. Fasilitasnya jauh dari kata sederhana. Jumlah tempat tidur mencapai 944 unit, dengan lebih dari 3000 tenaga kerja yang terdiri atas 395 dokter spesialis dan subspesialis.

Terdapat enam layanan inti yang menjadi unggulan: Pelayanan Jantung Terpadu, Onkologi, Infeksi, Bedah Minimal Invasif, Transplantasi Ginjal, dan Kedokteran Nuklir. Fasilitas ini menunjukkan transformasi RSHS sebagai pusat layanan kesehatan berteknologi tinggi di Jawa Barat, bahkan Indonesia.

Jejak sejarah RSHS menyimpan banyak kisah. Dari wabah yang mengilhami pendirian rumah sakit, perang yang menjadikannya rebutan, hingga akhirnya menjadi rujukan utama, rumah sakit ini telah melewati segala musim dan krisis.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)