Bandung 'Geulis' tapi Takut Hujan

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Banjir cileuncang di salah satu ruas jalan di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Banjir cileuncang di salah satu ruas jalan di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG sering dipuja karena keindahannya.

Jalan-jalan dengan pepohonan rindang, taman-taman yang dirancang estetik, dan suasana kota yang adem menyuguhkan citra Bandung sebagai kota yang geulis. Kata "geulis" bukan sekadar berarti cantik, tapi juga mengandung unsur keanggunan dan daya tarik alami. 

Hingga kiwari, Bandung masih menjadi magnet wisata, tempat orang mencari ketenangan sekaligus inspirasi visual. Namun, citra itu menyimpan sisi lain yang jarang dibicarakan secara jujur.

Ketika hujan deras turun, Bandung bukan lagi kota yang geulis. Ibukota Jawa Barat ini berubah jadi kota yang cemas. Ketakutan sebagian warga muncul bukan tanpa alasan. Tatakala hujan datang, banjir cileuncang menjadi langganan.

Sebagaian jalanan Bandung tergenang. Got-got meluap. Danau dadakan terbentuk. Warga harus menggulung celana, bahkan mengevakuasi barang berharga.

Dalam hitungan menit, mobil mogok, sepeda motor terjebak, dan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan lumpuh total. Ini bukan cerita fiksi. Tapi, realita.

Hujan yang turun deras di Bandung, bagi sebagian warga, bukan lagi sekadar berkah. Ia berubah jadi ancaman dan petaka. Air hujan yang seharusnya meresap atau dialirkan dengan baik justru menggenang. Kondisi Ini bukan kejadian baru. 

Banjir dan genangan sudah jadi bagian dari kehidupan sebagian warga Bandung, terutama di kawasan rendah atau daerah-daerah yang berdekatan dengan aliran sungai.

Bahkan, beberapa wilayah sudah menjadi langganan banjir. Ini seperti ironi tetap yang tak terselesaikan dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, Bandung punya banyak taman kota yang tampak hijau dan segar, dan membuat Bandung geulis campernik. Dari Taman Balai Kota sampai Teras Cikapundung, semuanya tampak menggoda kita untuk berswafoto.

Estetika taman turut menjadi simbol kemajuan kota. Tapi, taman yang cantik tak selalu identik dengan kota yang benar-benar sehat.

Artinya, keindahan visual saja masih belum cukup. Estetika saja tak bisa menggantikan fungsi dasar kota, yakni melindungi warganya dari bencana. Infrastruktur kota harus benar-benar mampu mendukung kenyamanan dan keamanan warganya.

Kota yang ideal tidak hanya indah dilihat maupun sedap dipandang, melainkan pula kuat dan tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Bukan kurang geulis

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Salah satu masalah utama Bandung saat ini bukan kurang geulis, tapi kurang kuat menahan air. Sistem drainase yang tidak diperbarui, alih fungsi lahan, terutama di bagian hulu, dan buruknya manajemen sampah memperparah situasi.

Kota yang padat seperti Bandung, tanpa perencanaan menyeluruh, bakal sulit beradaptasi. Ketika curah hujan meningkat, semua kelemahan itu terekspos dengan nyata.

Di satu sisi, Bandung merepresentasikan citra sebagai kota kreatif dan kota bunga. Di sisi lain, kota ini kesulitan menangani urusan mendasar berupa air hujan yang tak tertampung dan akhirnya meluap melahirkan banjir lokal. 

Menurut laporan Bappenas 2021, lebih dari 30 persen wilayah kota Bandung berada di zona rawan banjir. Sementara itu, sistem drainase kota hanya mampu menampung air untuk hujan sedang. Artinya, setiap kali terjadi hujan ekstrem, risiko banjir langsung di kota ini meningkat. 

Saat hujan ekstrem datang, air tak tahu harus lari ke mana. Jalanan jadi danau dan sungai dadakan. Rumah-rumah warga kebanjiran. Warga yang tidak punya pilihan selain bertahan, harus menyaksikan perabot rusak, dokumen penting basah, dan akses jalan tertutup air.

Dalam hal ini, lirik-lirik lagu bertajuk Here Comes the Rain Again dari Eurythmics terasa relevan namun juga membawa alarm bahaya. Hujan di Bandung bukan lagi momen romantis, tapi memori yang yang mengingatkan pada petaka. Ia membawa kecemasan, bukan ketenangan. 

Jika kita telisik, salah satu biang kerok yang menyebabkan Bandung geulis menjadi Bandung banjir karena banyak area yang dulunya hijau kini jadi perumahan atau pusat-pusat komersial.

Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan defisit area serapan air. Kota kehilangan kemampuannya untuk menyerap air secara alami.

Permukaan keras seperti aspal dan beton membuat air tak bisa meresap ke tanah. Lihat saja sepanjang Dago. Dulu, halaman-halaman rumah atau gedung di Dago dihiasi hamparan rumput. Kini, lebih banyak beton dan aspal terhampar. 

Air akhirnya mengalir cepat ke tempat lebih rendah, lalu meluap. Semakin luas wilayah terbetonisasi, semakin tinggi risiko banjir. 

Ditambah lagi, masih banyak warga membuang sampah ke selokan. Bahkan, ke sungai. Aliran air terhambat. Lumpur menumpuk. Drainase pun gagal bekerja dengan semestinya. Kebiasaan buruk ini memperparah keadaan.

Konsep tata kota yang berkelanjutan harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan banjir musiman. Kota harus tanggap terhadap realitas iklim yang makin tak terduga. Jika tidak, kita hanya akan menata permukaan dan melupakan kedalaman.

Bandung perlu mengelola air secara cerdas, dengan cara menampung, menyimpan, dan melepas dengan sistem yang adaptif terhadap iklim. Bandung harus didesain agar mampu menyerap air seperti spons, lewat taman resapan, kolam retensi, dan jalur air alami. 

Teladan bagi kota lain

Kolam retensi Ciporeat memiliki misi penting dari pemerintah, yaitu mengantisipasi banjir di kawasan tersebut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Kolam retensi Ciporeat memiliki misi penting dari pemerintah, yaitu mengantisipasi banjir di kawasan tersebut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Bandung seharusnya bisa jadi teladan bagi kota-kota lain di Indonesia. Kota ini punya komunitas kreatif, arsitek andal, dan aktivis lingkungan yang progresif.

Jika semua kekuatan itu dikonsolidasikan, Bandung bisa menjadi model. Tapi, butuh sinergi yang kuat, bukan sekadar inisiatif terpisah-pisah.

Dan itu  semua harus ditopang oleh kemauan politik. Tanpa dukungan anggaran dan visi jangka panjang, Bandung hanya akan berkutat pada proyek-proyek tempelan serta temporer. Pemimpin kota harus berani mengambil keputusan strategis. Tanpa itu, visi hanya tinggal wacana.

Keberadaan taman-taman yang indah di Bandung akan sia-sia jika drainase masih tetap sempit dan tersumbat. Air tak butuh estetika. Ia butuh ruang untuk mengalir.

Jadi, air akan tetap mencari jalan. Dan jika tak diberi, ia akan menerobos. Maka, perencanaan kota harus benar-benar berpihak pada air. Bukan malah melawannya.

Oleh sebab itu, butuh revisi besar terhadap master plan kota. Perlu ada integrasi antara estetika dan fungsionalitas. Bandung harus menyeimbangkan antara rupa dan isi.

Warga juga punya peran penting dalam hal ini. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan adalah langkah kecil tapi signifikan. Bandung tak akan berubah menjadi semakin baik kalau manusianya tetap acuh.

Sekolah-sekolah bisa mengajarkan literasi iklim sejak dini. Anak-anak perlu tahu bahwa Bandung yang indah juga harus tahan cuaca ekstrem. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sering dilupakan. Padahal, perubahan dimulai dari pemahaman.

Urbanisasi yang dialami Bandung memang tak bisa dicegah sepenuhnya. Tapi, ini bisa diarahkan. Perencanaan kota harus memikirkan 20 tahun -- bahkan 50-100 tahun -- ke depan.

Bukan cuma foto hari ini dan sebulan kemudian. Bandung harus merancang masa depannya dengan keberanian.

Belajar dari kota lain

Banjir di kawasan pasar Lembang, Jumat 23 Mei 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Banjir di kawasan pasar Lembang, Jumat 23 Mei 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Bandung harus mampu pula belajar dari kota-kota lain yang sukses mengelola air. Singapura, misalnya, mengintegrasikan sistem kanal dan ruang publik dalam satu desain terpadu. Kota ini bukan hanya tahan banjir, tapi juga menjadikan air sebagai elemen estetika.

Bandung juga harus terbuka terhadap inovasi lokal. Banyak komunitas di Bandung yang sudah punya solusi kecil, seperti lubang biopori, taman vertikal, hingga bank sampah. Solusi akar rumput bisa jadi katalis perubahan jika didukung serius.

Tapi, solusi kecil butuh dukungan besar. Pemerintah tak bisa bekerja sendiri. Swasta, akademisi, dan warga perlu duduk bersama. Artinya, perlu ada gotong royong semua elemen.

Bandung bisa terus  geulis tanpa takut hujan. Tapi, itu hanya mungkin kalau kita semua serius menata ulang kota ini. Estetika dan fungsionalitas harus berjalan beriringan. Kalau tidak, Bandung hanya akan jadi kota geulis yang rentan.

Jangan biarkan Bandung jadi kota Instagram yang menipu kenyataan. Keindahan harus berpihak pada kenyamanan hidup semua warga. Kota bukan panggung. Kota adalah rumah bagi semua.

Bandung geulis bukan sekadar tampilan luar. Bandung yang benar-benar geulis adalah kota yang kuat menampung air, sabar menghadapi hujan, dan adil pada semua warganya.

Itulah definisi geulis yang sesungguhnya. Singkatnya, Bandung bukan hanya sedap dipandang, tapi juga layak dihuni. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Nov 2026, 20:45

Potensi Desa yang Tak Ada di Peta Digital

Strategi publikasi digital potensi desa menggunakan peta digital.

Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Mitra 06 Nov 2026, 20:30

Angola Jajaki Kerja Sama Pasokan Pupuk dan Investasi dengan Pupuk Kujang

Pemerintah Angola menjajaki peluang kerja sama di sektor pupuk dan pertanian dengan PT Pupuk Kujang Cikampek.

Direktur Utama Pupuk Kujang, Panji Winanteya Ruky saat menyambut Dubes Angola untuk Indonesia, Florencio Mariano da Conceciao e Almeida. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 19:56

Cikasungka, Semula Belantara Habitat Areuy Kasungka

Banyaknya toponim Cikasungka menandakan bahwa pada awalnya areuy kasungka tersebar dengan sangat baik di hutan hujan tropis pegunungan di Jawa Barat dan di Banten.

Bunga, buah, areuy kasungka. (Sumber: tropical.theferns.info)
Mayantara 06 Nov 2026, 19:05

Suara Kritis Masyarakat Jejaring

Ketika persoalan perempuan menjadi percakapan publik di ruang digital.

Ilustrasi pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Seni Budaya 06 Nov 2026, 18:56

Wayang Dari Panggung Rakyat Hingga Diakui Dunia

Dunia mungkin menyebutnya Puppet, akan tetapi bagi masyarakat Indonesia kesenian ini bukan hanya berupa boneka atau bentuk yang menyerupai manusia. Masyarakat di Nusantara mengenalnya dengan sebutan w

Ilustrasi Wayang di Indonesia (Foto: AI)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 17:12

Semoga Abadi dalam Gejolak Api Neraka

Jika kritikan secara halus tak jua di dengar maka biarkan bait-bait yang menusuk relung dan jiwa yang terlontar.

Jika kritik secara halus tak di dengar maka biarkan gejolak api dalam jiwa yang berbicara. (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 14:21

Duh! Bandung Kian Gemerlap tapi Sebagian Warganya Malah Turun Kelas

Kita perlu memastikan apakah segala fasilitas yang tersedia di Kota Bandung juga memperbesar ruang hidup segenap warganya.

Jembatan Pasupati, salah satu ikon Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Danny)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 10:22

Jangan Sepelekan Buah Sukun

Saat ini pohon Sukun di Kota Bandung sedang berbuah sementara pohon-pohonnya tersebar dan berada di pinggir jalan, raya,, di tempat-tempat umum dan perkantoran.

Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 08:49

Ngopi Tahun 1980-an

Banyak warung kopi sederhana yang menjadi tempat mangkal untuk menikmati secangkir kopi tubruk di Kota Bandung pada dekade tahun 1980-an.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:21

Potensi Hutan Babakan Siliwangi Bandung sebagai Destinasi Wisata

Bandung menjadi salah satu kota yang masih memiliki hutan kota. Hutan Babakan Siliwangi Bandung berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, selain penyeimbang udara bersih dari polusi.

Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:09

Karhutla dan Kabut Asap Menjadi Berita Utama Surat Kabar Daerah-Nasional hingga Internasional

Besarnya perhatian terhadap bencana ekologis tercermin dari pemberitaan berbagai surat kabar daerah, nasional, hingga internasional.

Sejumlah surat kabar daerah yang menyoroti peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 19:08

Dari Papua ke Jawa Barat: Karhutla dan Peran Warga Bandung

Dari karhutla Papua hingga kejadian di Bandung, mari jaga lingkungan lewat 4 langkah sederhana pencegahan kebakaran di sekitar rumah.

Ilustrasi kebakaran hutan di Papua. (Sumber: AI Generator | Foto: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 18:23

Hanya Sepekan: Asap Karhutla Kembali Penuhi Langit Palangkaraya

Baru saja genap sepekan langit Palangka Raya bersih karena sudah turun hujan. Namun kabar baik tersebut tidak berlangsung lama setelah pembakaran hutan kembali terjadi.

Asap Karhutla kembali penuhi langit Palangkaraya. (Sumber: Instagram| info.kalteng)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 17:25

10 Netizen Terpilih Oktober 2026: Menangkap Isu Hujan, Bencana, dan Wajah Kota Bandung

10 penulis terbaik Ayo Netizen Oktober 2026 diumumkan. Dari isu hujan dan bencana hingga wajah kota Bandung, total hadiah Rp1,5 juta.

Banjir yang menggenangi Jalan Raya Pluto, Margahayu, Kota Bandung, Rabu 14 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 16:45

Apakah Buku Fisik Mulai Menjadi Bagian dari Masa Lalu?

Analisis kebiasaan membaca digital mahasiswa Indonesia beserta tiga keterbatasan data yang perlu dicermati sebelum menyimpulkan nasib buku cetak.

Contoh buku fisik berjudul Pride and Prejudice karya Jane Austen. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Dila Ananda Pratama)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 13:57

Menemukan Manisnya Ketan Susu Bang Zul, Hidden Gem Kuliner di Ujung Berung

Ketan Susu Bang Zul, salah satu hidden gem kuliner di Ujung Berung, Bandung. Sajian ketan susu dengan beragam topping, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang menggugah selera.

Ketan Susu Bang Zul. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 12:24

Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

Kota tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana datang, melainkan jauh sebelumnya melalui kesadaran mengenali risiko dan keberanian melakukan mitigasi.

Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 11:11

Lagu ‘Halo-Halo Bandung’ Kala Persib Tandang di Negeri Orang

Tanpa harus merencanakan sebuah pertunjukan kebudayaan, para bobotoh Persib membawa salah satu simbol sejarah Bandung ke hadapan publik internasional.

Pemain Persib merayakan kemenangan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)