Jadi Zona Lindung Utama KBU, Rentetan Banjir dan Longsor Timpa Lembang dalam Sepekan

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Longsor di Wangunsari, Lembang, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Longsor di Wangunsari, Lembang, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Selama sepekan terakhir, kawasan Lembang dihantam rangkaian bencana hidrometeorologis. Hujan deras mengguyur hampir tanpa henti, memicu banjir di pusat kota dan longsor di berbagai titik perbukitan. Ironisnya, Lembang bukan sekadar kawasan rawan bencana biasa. Ia adalah bagian inti dari zona lindung utama Kawasan Bandung Utara (KBU), wilayah konservasi yang secara hukum semestinya dijaga ketat dari aktivitas pembangunan.

Tapi alih-alih steril dari pembangunan, kawasan konservasi itu justru terus tergerus. Rumah-rumah berdiri di lereng curam, jalur evakuasi nyaris tak ada, dan sistem drainase kota pun kewalahan menampung luapan air. Di tengah cuaca ekstrem dan kondisi tanah yang jenuh air, hasil akhirnya sudah bisa ditebak: tanah longsor, rumah rusak, dan warga mengungsi.

Puncak dari bencana itu terjadi pada Jumat dini hari, 16 Mei 2025 di di Kampung Areng, Desa Wangunsari. Hujan deras yang turun sejak malam memicu guguran tebing setinggi 30 meter—seukuran gedung sembilan lantai—yang melorot begitu saja, mengunyah tanah, pepohonan, dan dinding rumah di lerengnya. Gemuruh itu memantik kepanikan warga yang belum sempat meneguk kopi pertama.

Tanah itu menghantam pemukiman di bawahnya. Tiga rumah rusak berat, satu rusak sedang, dan satu lagi rusak ringan. Sebanyak 31 kepala keluarga atau 104 jiwa mengungsi ke masjid dan tenda darurat, di tengah ancaman longsor susulan yang masih tinggi.

“Curah hujan intensitas tinggi menyebabkan tebing setinggi kurang lebih 30 meter dengan lebar 50 meter longsor,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat, Meidi.

Dampak longsor, material longsor menutup akses jalan dan menghambat proses evakuasi. Di pengungsian, kondisi warga cukup memprihatinkan. Ketua RW 11 Kampung Areng, Nandang, menyebut kebutuhan dasar seperti obat-obatan dan makanan bayi masih kurang. “Semuanya diungsikan ke masjid pakai tenda. Karena tanahnya labil, khawatir longsor susulan. Total ada 31 KK yang mengungsi, kalau rumah ada 21 unit,” ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwa warga berharap ada kejelasan dari pemerintah soal relokasi. Lokasi permukiman mereka dinilai terlalu curam dan tidak aman untuk dihuni kembali. “Kemungkinan rumah-rumah ini harus direlokasi karena udah gak aman. Lokasi ini terlalu curam dan labil,” katanya.

Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, mengakui kondisi tanah di kawasan tersebut memang labil, terutama ketika diguyur hujan deras. Ia memastikan bahwa pemerintah akan menyiapkan tempat pengungsian yang lebih layak. “Kondisinya memang berdesakan, yang penting semua aman dulu. Nanti kita siapkan tempat pengungsian yang lebih layak,” ujarnya saat meninjau lokasi.

Dua hari sebelum longsor di Wangunsari, hujan deras yang turun sejak siang hari menyebabkan banjir di kawasan pusat kota Lembang. Jalan Raya Lembang, tepatnya di depan Pasar Panorama, digenangi air setinggi lutut orang dewasa.

Beberapa kendaraan mogok setelah memaksa menerjang arus banjir. Kamera pemantau Dinas Perhubungan memperlihatkan genangan air menutup jalur pedestrian, sementara barrier jalan hanyut terbawa arus.

Bagi sebagian warga, peristiwa ini bukan hal baru. Namun frekuensinya yang makin sering menandakan sistem drainase tak lagi mampu mengimbangi curah hujan ekstrem.

“Dari saluran air di belakang SMAN 1 Lembang juga masuk ke rumah saya,” kata Depi, warga Kampung Pangragajian, Desa Kayuambon. Ia menyebut air belum juga surut meski hujan sudah reda.

Tangkapan layar CCTV banjir Lembang

Kampung Kalapanunggal, tak jauh dari sana, juga terdampak. Air dari Jalan Cendana mengalir deras ke rumah-rumah warga. Di beberapa titik, banjir bercampur lumpur membuat pembersihan jadi lebih sulit.

Pada hari yang sama, longsor terjadi di Kampung Ciburial, Desa Cibogo, sekitar pukul 17.45 WIB. Tebing setinggi 25 meter runtuh, menimpa kolam ikan dan fasilitas umum di bawahnya. Saat kejadian, puluhan warga sedang memancing di area tersebut. Enam orang mengalami luka ringan.

Di Kampung Ciburial, lima kepala keluarga dengan total 19 jiwa kini harus direlokasi. Rumah-rumah mereka dinilai tidak layak huni lagi karena berada di jalur longsoran.

Selain di Wangunsari dan Cibogo, longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Jayagiri, Kayuambon, dan Pagerwangi. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Jawa Barat mencatat total ada lima titik longsor di empat desa tersebut. Desa Pagerwangi mencatat dua rumah mengalami kerusakan sedang dengan 13 jiwa terdampak. Di Kayuambon, dua rumah dan satu bangunan penampungan ikut terdampak. Di Jayagiri, sedikitnya atu rumah terdampak.

Bencana beruntun di Lembang memperlihatkan bahwa risiko hidrometeorologi tak lagi terbatas pada wilayah dataran rendah atau padat penduduk. Kawasan dataran tinggi seperti Lembang, yang selama ini menjadi pusat zona lindung KBU, kini semakin rentan.

Berdasarkan Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2016, Kecamatan Lembang masuk dalam zona L1 dan L2 dalam peta zonasi KBU. Zona L1 adalah kawasan konservasi tertinggi, mencakup hutan lindung, hutan konservasi, dan koridor aktif Sesar Lembang. Zona ini mencakup 17.107 hektare dan dikategorikan sebagai kawasan dengan risiko bencana tinggi. Sementara zona L2 adalah kawasan lindung tambahan yang luasnya mencapai 7.945 hektare.

Tapi, data menunjukkan bahwa perlindungan ini lebih banyak tertulis di atas kertas. Catatan pemerintah pada 2016, sebanyak 7,26% lahan di zona L1 telah menjadi area terbangun. Angka ini melonjak menjadi 24,08% di zona L2.

Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) pada 2021 mencatat ada 382.762 unit lahan terbangun di seluruh wilayah KBU. Dari jumlah itu, hampir separuh sebesar 46,2% berada di Kabupaten Bandung Barat, wilayah yang menaungi Kecamatan Lembang.

Kondisi ini diperparah oleh laju alih fungsi lahan yang makin cepat setelah diberlakukannya Undang-Undang Cipta Kerja pada 2020. Salah satu penyebabnya adalah sistem perizinan berbasis Online Single Submission (OSS) yang memungkinkan proses izin tanpa verifikasi lapangan. Dampaknya, masyarakat sekitar sering kali tak dilibatkan dalam proses perizinan.

Dalam satu pekan, Lembang mengumpulkan statistik kelabu: lebih dari 40 rumah terancam, 136 jiwa mengungsi atau terdampak, beberapa luka-luka, kerugian infrastruktur masih dihitung. Tapi statistik tak pernah menangkap rasa limbung warga tiap hujan deras mengetuk atap seng.

Bencana, kata para sosiolog, adalah peristiwa alam plus kelalaian manusia. Longsor Lembang sepekan ini menorehkan keduanya: hujan lebat sebagai katalis; drainase sempit, penebangan, dan betonisasi sebagai resonansi. Jika tak ada perubahan nyata, cerita longsor berikutnya tinggal menunggu baris baru disalin ke laporan BPBD, sementara warga menggulung tikar di pengungsian, lagi dan lagi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)