Belajar dari Kasus bank bjb, Ketika Reputasi Dikejar lewat Popularitas dan Bukan Perbaikan

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya. (Sumber: Youtube/Helmy Yahya Bicara)
Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya. (Sumber: Youtube/Helmy Yahya Bicara)

Belakangan ini kita menyaksikan semakin banyak lembaga publik berlomba membentuk citra lewat media sosial.

Strategi mereka sederhana namun populer: menggandeng tokoh dengan jutaan pengikut, tampil menarik di forum digital, lalu berharap semua persoalan internal akan tampak seperti sudah selesai. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Citra boleh saja tampak baik, tapi fondasi kepercayaan publik justru makin rapuh.

bank bjb menjadi contoh yang mencolok. Perusahaan keuangan milik daerah ini beberapa waktu terakhir menarik perhatian publik setelah mengangkat dua nama terkenal sebagai komisaris: Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya.

Mardigu dikenal luas karena narasi digitalnya yang penuh gaya dan kontroversi, sementara Helmy Yahya punya rekam jejak panjang di dunia penyiaran dan kini aktif sebagai pemimpin asosiasi kreator konten. Munculnya dua nama ini tentu mengundang antusiasme.

Banyak yang bertanya, apakah kehadiran mereka akan membawa perubahan nyata bagi kinerja bank yang berbasis di Jawa Barat tersebut.

Namun ekspektasi publik itu berhadapan dengan kenyataan yang cukup mengecewakan. Awal pekan ini, muncul kasus pembobolan dana di bank bjb Cabang Soreang, Kabupaten Bandung, dengan nilai kerugian mencapai lebih dari dua miliar rupiah.

Kasus ini bukan yang pertama, dan bisa jadi belum akan menjadi yang terakhir. Masalah serupa pernah mencuat dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, di balik semua strategi komunikasi dan konten yang apik, bank bjb masih memiliki masalah struktural yang serius.

Di saat bersamaan, rasanya keduanya pun tak cukup mampu juga menggenjot narasi baik bank bjb terutama di hadapan warganet, khususnya Gen Z dan Y.

Lalu muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Apakah penunjukan figur terkenal dapat menyelesaikan masalah? Ataukah mereka hanya digunakan untuk membentuk persepsi positif semu, tanpa perubahan nyata pada manajemen dan pengawasan?

bank bjb. (Sumber: dok. bank bjb)
bank bjb. (Sumber: dok. bank bjb)

Kasus ini menunjukkan kekeliruan yang semakin sering muncul di dunia komunikasi institusi. Banyak lembaga keliru menyamakan antara ketenaran dan kredibilitas. Padahal, kepercayaan publik tidak bisa dibangun hanya dengan jumlah pengikut atau viralnya sebuah unggahan.

Kepercayaan lahir dari kinerja, dari konsistensi kebijakan, dari keberanian mengakui kekurangan dan membenahinya secara terbuka.

Kita juga bisa melihat pola serupa dalam institusi lain. Kepolisian, misalnya. Belum lama ini, seorang anggota polisi viral karena tertangkap kamera sedang memberi saweran kepada penyanyi. Video itu menyebar cepat dan merusak citra institusi.

Padahal, selama bertahun tahun, Polri berusaha membangun kepercayaan lewat program, reformasi, dan pelatihan. Namun hanya karena satu cuplikan singkat, semua upaya itu kembali dipertanyakan publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa membangun citra tanpa memperkuat sistem internal hanya akan menciptakan kepercayaan yang rapuh. Bahkan bisa menjadi bumerang ketika ekspektasi publik tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Komunikasi publik yang baik tidak hanya soal menyampaikan hal hal positif, tetapi juga tentang keberanian mengelola persepsi dengan jujur dan transparan.

Dalam konteks bank bjb, keberadaan sosok populer semestinya menjadi nilai tambah. Namun jika tidak diiringi penguatan sistem keamanan, pengawasan internal, dan keterbukaan terhadap kritik, maka kehadiran mereka hanya akan menjadi ornamen yang cepat pudar.

Reputasi dalam dunia keuangan bukan soal gaya bicara atau slogan kreatif. Ia lahir dari kepastian layanan, integritas manajemen, dan komitmen pada perlindungan nasabah.

Seperti ditegaskan Kelly Gasana (2024) dalam paper-nya, Crisis Communication and Reputation Management in the Age of Fake News. Bahwa reputasi institusi tidak cukup dibentuk lewat branding atau kehadiran tokoh populer.

Dibutuhkan komunikasi yang autentik, transparan, dan responsif, serta dipandu oleh kepemimpinan yang berani menghadapi fakta di tengah derasnya informasi keliru.

Singkatnya, publik saat ini makin cerdas. Mereka tidak mudah terpesona oleh janji atau kemasan visual. Yang mereka cari adalah kejelasan, perlindungan, dan hasil nyata. Kredibilitas bukan hasil editan video, tapi wujud dari pelayanan yang benar benar dirasakan.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Untuk itu, para komisaris yang kini menjadi wajah bank bjb, termasuk mereka yang berasal dari dunia influencer, sudah saatnya mengarahkan energi mereka bukan untuk membentuk kesan, melainkan memperkuat kenyataan.

Jika benar ingin dihormati, maka mereka harus lebih fokus membenahi sistem, memperbaiki komunikasi, dan menunjukkan kinerja. Hanya dengan itu, publik akan percaya bahwa mereka memang layak berada di posisi tersebut. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)