Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Belajar dari Kasus bank bjb, Ketika Reputasi Dikejar lewat Popularitas dan Bukan Perbaikan

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan Kamis 17 Jul 2025, 12:51 WIB
Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya. (Sumber: Youtube/Helmy Yahya Bicara)

Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya. (Sumber: Youtube/Helmy Yahya Bicara)

Belakangan ini kita menyaksikan semakin banyak lembaga publik berlomba membentuk citra lewat media sosial.

Strategi mereka sederhana namun populer: menggandeng tokoh dengan jutaan pengikut, tampil menarik di forum digital, lalu berharap semua persoalan internal akan tampak seperti sudah selesai. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Citra boleh saja tampak baik, tapi fondasi kepercayaan publik justru makin rapuh.

bank bjb menjadi contoh yang mencolok. Perusahaan keuangan milik daerah ini beberapa waktu terakhir menarik perhatian publik setelah mengangkat dua nama terkenal sebagai komisaris: Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya.

Mardigu dikenal luas karena narasi digitalnya yang penuh gaya dan kontroversi, sementara Helmy Yahya punya rekam jejak panjang di dunia penyiaran dan kini aktif sebagai pemimpin asosiasi kreator konten. Munculnya dua nama ini tentu mengundang antusiasme.

Banyak yang bertanya, apakah kehadiran mereka akan membawa perubahan nyata bagi kinerja bank yang berbasis di Jawa Barat tersebut.

Namun ekspektasi publik itu berhadapan dengan kenyataan yang cukup mengecewakan. Awal pekan ini, muncul kasus pembobolan dana di bank bjb Cabang Soreang, Kabupaten Bandung, dengan nilai kerugian mencapai lebih dari dua miliar rupiah.

Kasus ini bukan yang pertama, dan bisa jadi belum akan menjadi yang terakhir. Masalah serupa pernah mencuat dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, di balik semua strategi komunikasi dan konten yang apik, bank bjb masih memiliki masalah struktural yang serius.

Di saat bersamaan, rasanya keduanya pun tak cukup mampu juga menggenjot narasi baik bank bjb terutama di hadapan warganet, khususnya Gen Z dan Y.

Lalu muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Apakah penunjukan figur terkenal dapat menyelesaikan masalah? Ataukah mereka hanya digunakan untuk membentuk persepsi positif semu, tanpa perubahan nyata pada manajemen dan pengawasan?

bank bjb. (Sumber: dok. bank bjb)
bank bjb. (Sumber: dok. bank bjb)

Kasus ini menunjukkan kekeliruan yang semakin sering muncul di dunia komunikasi institusi. Banyak lembaga keliru menyamakan antara ketenaran dan kredibilitas. Padahal, kepercayaan publik tidak bisa dibangun hanya dengan jumlah pengikut atau viralnya sebuah unggahan.

Kepercayaan lahir dari kinerja, dari konsistensi kebijakan, dari keberanian mengakui kekurangan dan membenahinya secara terbuka.

Kita juga bisa melihat pola serupa dalam institusi lain. Kepolisian, misalnya. Belum lama ini, seorang anggota polisi viral karena tertangkap kamera sedang memberi saweran kepada penyanyi. Video itu menyebar cepat dan merusak citra institusi.

Padahal, selama bertahun tahun, Polri berusaha membangun kepercayaan lewat program, reformasi, dan pelatihan. Namun hanya karena satu cuplikan singkat, semua upaya itu kembali dipertanyakan publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa membangun citra tanpa memperkuat sistem internal hanya akan menciptakan kepercayaan yang rapuh. Bahkan bisa menjadi bumerang ketika ekspektasi publik tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Komunikasi publik yang baik tidak hanya soal menyampaikan hal hal positif, tetapi juga tentang keberanian mengelola persepsi dengan jujur dan transparan.

Dalam konteks bank bjb, keberadaan sosok populer semestinya menjadi nilai tambah. Namun jika tidak diiringi penguatan sistem keamanan, pengawasan internal, dan keterbukaan terhadap kritik, maka kehadiran mereka hanya akan menjadi ornamen yang cepat pudar.

Reputasi dalam dunia keuangan bukan soal gaya bicara atau slogan kreatif. Ia lahir dari kepastian layanan, integritas manajemen, dan komitmen pada perlindungan nasabah.

Seperti ditegaskan Kelly Gasana (2024) dalam paper-nya, Crisis Communication and Reputation Management in the Age of Fake News. Bahwa reputasi institusi tidak cukup dibentuk lewat branding atau kehadiran tokoh populer.

Dibutuhkan komunikasi yang autentik, transparan, dan responsif, serta dipandu oleh kepemimpinan yang berani menghadapi fakta di tengah derasnya informasi keliru.

Singkatnya, publik saat ini makin cerdas. Mereka tidak mudah terpesona oleh janji atau kemasan visual. Yang mereka cari adalah kejelasan, perlindungan, dan hasil nyata. Kredibilitas bukan hasil editan video, tapi wujud dari pelayanan yang benar benar dirasakan.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Untuk itu, para komisaris yang kini menjadi wajah bank bjb, termasuk mereka yang berasal dari dunia influencer, sudah saatnya mengarahkan energi mereka bukan untuk membentuk kesan, melainkan memperkuat kenyataan.

Jika benar ingin dihormati, maka mereka harus lebih fokus membenahi sistem, memperbaiki komunikasi, dan menunjukkan kinerja. Hanya dengan itu, publik akan percaya bahwa mereka memang layak berada di posisi tersebut. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)