Kehilangan Bahasa Kemanusiaan dan Bahasa Cinta

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)
Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)

Berawal dari kisah pengalaman seorang penulis yang biasanya lebih populer dengan sebutan sastrawan, yang merasa dirinya telah kehilangan bahasa kemanusiaan dan bahasa cinta dalam kehidupan sehari-hari. Apa penyebabnya?

Dahulu, si-fulan (nama disamarkan) adalah sastrawan yang dielu-elukan. Tulisannya membasuh luka, puisinya menyuburkan harapan.

Ia menulis dengan bahasa kemanusiaan yang hangat, yang mampu membuat pembaca merasa dilihat dan dimengerti. Ia juga menulis dengan bahasa cinta—bukan sekadar romansa, tapi kasih yang menembus batas-batas manusia: antara ibu dan anak, antara sesama, antara manusia dan alam.

Sungguh dahsyat kekuatan bahasa terhadap kehidupan sosial. Seorang yang kesehariannya terbiasa dengan seni berbahasa, yang lebih cenderung menggunakan keindahan bahasa dan dengan dialektika sastrawi, dapat memengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial.

Namun waktu berjalan. Fulan mulai menulis demi ketenaran, demi panggung, demi pengakuan. Kata-katanya kehilangan nurani. Puisinya menjadi dingin, es metafora yang hanya ingin mengagumkan, bukan menghangatkan.

Bahasa kemanusiaan pun menghilang, berganti bahasa ego dan ironi. Bahasa cinta terkikis, digantikan sinisme dan kepongahan intelektual. Bagaimana nasib Fulan selanjutnya?

Seiring waktu berjalan, kemajuan teknologi digital seakan menjanjikan siapa saja menjadi terkenal; menjadi viral; bahkan seolah-olah seperti artis.

Sebagian besar masyarakat yang sangat rendah pemahamannya dalam literasi digital, menjadikan jejaring sosial untuk bisa cepat dikenal, meski dengan bahasa yang amburadul. Fulan terjebak dalam situasi yang hampir sama dengan sebagian besar masyarakat.

Fulan tak sadar, hingga suatu malam, ia membaca puisi lamanya di hadapan cermin. Tidak ada getar. Tidak ada air mata. Hanya gema hampa. Ia pun sadar—ia telah kehilangan bahasa yang membuatnya menjadi manusia seutuhnya.

Manusia yang hidup dengan bahasa. Yakni, rasa kemanusiaan dan rasa cinta, yang kemudian membentuk manusia menjadi adil, baik bagi dirinya, juga bagi orang lain.

Fulan berhenti menulis. Lama. Ia pergi mengajar di sebuah desa terpencil, tempat bahasa sederhana masih menyimpan keajaiban. Ia kembali mendengarkan: tangisan anak, cerita petani, syair rakyat.

Ia belajar dari mereka, bukan sebagai sastrawan, tapi sebagai manusia yang ingin mengerti. Bahkan, bahasa alam yang juga bisa membentuk karakter manusia.

Pelan-pelan, bahasa itu kembali. Ia menulis lagi. Kali ini tanpa ambisi, hanya dengan empati. Puisinya kembali menjadi pelukan. Cerpennya kembali menjadi jembatan. Ia telah menemukan kembali bahasa kemanusiaan dan cinta—karena ia memilih untuk diam, mendengar, dan merasakan lebih dulu.

Narasi di atas tidak semata dialami oleh penulis; sastrawan; penyair; seniman, bahkan tanpa kita sadari, dalam interaksi sosial siapa pun bisa kehilangan bahasa kemanusiaan dan bahasa cinta.

Apalagi dalam kondisi masyarakat yang tengah terpuruk dalam menghadapi persoalan-persoalan ekonomi. Bagaimana masyarakat bisa berlaku adil bagi persoalan kemanusiaan, sementara hak dasarnya tidak tercukupi, bahkan bisa dikatakan memprihatinkan.

Ketimbang AI, kamu justru dapat mengandalkan empat alat ulik bahasa berikut ini, agar makin jago menulis. (Sumber: Pexels | Foto: Lukas)
Ketimbang AI, kamu justru dapat mengandalkan empat alat ulik bahasa berikut ini, agar makin jago menulis. (Sumber: Pexels | Foto: Lukas)

Ada beberapa solusi bagi penulis (sastrawan, dan sebagainya) yang bisa dilakukan untuk sebuah perenungan:

  1. Berhenti sejenak dari dunia kata untuk kembali merasakan kehidupan secara langsung. Jarak dari rutinitas menulis bisa membantu sastrawan menyadari kehilangan arah dan menghidupkan kembali empati.
  2. Bergaul dengan realitas sosial yang nyata, bukan hanya lingkar intelektual. Terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat, menyentuh penderitaan dan harapan orang lain, bisa menumbuhkan kembali sensitivitas kemanusiaan.
  3. Menulis bukan untuk pengakuan, tapi untuk menyembuhkan. Menjadikan tulisan sebagai sarana menyampaikan kasih dan kepedulian akan menghidupkan kembali bahasa cinta.
  4. Membaca karya-karya sastra yang tulus dan jujur. Sastra yang lahir dari hati bisa menjadi cermin dan pengingat.

Bagaimana dengan kondisi sosial yang sangat rentan dengan persoalan-persoalan politik hingga budaya, yang akhirnya membawa dampak bagi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan cinta?

Pada titik ini, bahasa menjadi kekuatan simbolik, tidak hanya sekadar instrumen interaksi sosial, tetapi juga dapat menimbulkan makna yang ambigu.

Berikut ini ada beberapa ulasan yang bisa dijadikan referensi teori dalam memahami kekuatan bahasa.

Pendapat para ahli mengenai bahasa sebagai kekuatan simbolik dalam kehidupan manusia menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga alat yang sangat kuat untuk membangun realitas sosial, membentuk identitas, dan mengatur kekuasaan.

1. Pierre Bourdieu: Bahasa sebagai Modal Simbolik

Bourdieu memandang bahasa sebagai modal simbolik—yaitu bentuk kekuasaan yang tidak kasat mata. Dalam bukunya “Language and Symbolic Power”, ia menyatakan:

“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan. Siapa yang punya otoritas untuk berbicara dan didengar, memiliki kekuatan simbolik.”

Maknanya: Bahasa digunakan untuk membangun dominasi sosial. Misalnya, dalam dunia pendidikan atau politik, kelompok tertentu menggunakan gaya bahasa atau istilah yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sebagai bentuk eksklusivitas dan kontrol.

2. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf: Hipotesis Relativitas Linguistik

Dikenal dengan Hipotesis Sapir-Whorf, kedua ahli ini berpendapat bahwa:

“Struktur bahasa memengaruhi cara berpikir dan memandang dunia.”

Contoh: Orang Eskimo yang memiliki banyak kata untuk “salju” memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap jenis-jenis salju dibanding orang yang hanya punya satu kata untuk itu. Bahasa, dalam hal ini, menjadi kekuatan simbolik dalam membentuk persepsi realitas.

3. Ludwig Wittgenstein: Bahasa Membentuk Dunia

Dalam Tractatus Logico-Philosophicus, Wittgenstein mengatakan:

“Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku.”

Artinya: Dunia yang bisa kita pahami hanya terbatas pada apa yang bisa kita ekspresikan lewat bahasa. Bahasa menjadi alat simbolik yang membatasi sekaligus memperluas cakrawala pengalaman manusia.

4. Michel Foucault: Bahasa dan Wacana Kekuasaan

Foucault menekankan bahwa wacana (discourse)—yakni cara-cara tertentu dalam menggunakan bahasa—digunakan untuk membentuk pengetahuan dan mengontrol masyarakat.

“Apa yang dianggap ‘benar’ dan ‘normal’ sering kali ditentukan oleh siapa yang punya otoritas berbicara.”

Implikasinya: Bahasa bukan netral. Ia digunakan untuk menetapkan norma dan mengatur perilaku masyarakat, seperti dalam hukum, medis, atau pendidikan.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Para ahli menyepakati bahwa bahasa adalah kekuatan simbolik yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Ia bukan hanya alat tukar informasi, tetapi juga:

1. Membangun identitas dan kebudayaan;

2. Menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak;

3. Mengontrol pola pikir, persepsi, dan tindakan;

4. Membentuk realitas sosial.

Meminjam kata-kata bijak dari seorang filsuf Indonesia, Karlina Supelli yang mengatakan: “Orang yang berpendidikan adalah yang bisa mengolah pertarungan antara hasrat dengan kemampuan berpikir.”

Semoga bermanfaat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)