Domestikasi Teknologi: Kita yang Menjinakkan atau Kita yang Dijinakkan?

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Konsep domestikasi teknologi membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dan teknologi jauh lebih rumit. (Sumber: Pexels/Ila Bappa Ibrahim)
Konsep domestikasi teknologi membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dan teknologi jauh lebih rumit. (Sumber: Pexels/Ila Bappa Ibrahim)

Saya lahir di masa ketika satu-satunya notifikasi adalah suara telepon rumah yang berdering keras. Hari-hari saya diisi oleh permainan di halaman, majalah remaja, dan internet yang hanya bisa diakses dari warnet.

Tapi saya juga tumbuh bersama transisi besar: dari SMS 160 karakter ke WhatsApp yang tak terbatas, dari Friendster sederhana ke Instagram dengan fitur canggih, dari blog pribadi ke algoritma For You Page yang seolah tahu isi kepala kita.

Sebagai milenial, saya merasa berdiri di persimpangan dua zaman, dulu ketika dunia belum sepenuhnya terhubung digital, dan kini ketika layar menjadi jendela untuk bekerja, bersenang-senang, bahkan untuk mencari dan membentuk identitas diri.

Dunia terasa begitu berbeda, di mana online presence sering kali dianggap lebih penting daripada kehadiran fisik, dan validasi berupa likes serta views menjadi semacam mata uang sosial yang menentukan harga diri.

Digitalisasi telah mengubah banyak hal. Tidak hanya cara kita bekerja atau berkomunikasi, tapi juga bagaimana kita mengawali hari, menjalani rutinitas, dan membangun hubungan dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

Sebelum sempat menyapa keluarga, sebagian besar dari kita lebih dulu menyentuh layar. Notifikasi, pesan, unggahan, dan konten langsung menyambut bahkan sebelum mata benar-benar terbuka.

Disadari atau tidak, teknologi digital telah menyusup ke ruang-ruang paling intim dalam kehidupan: kamar tidur, ruang keluarga, atau meja makan. Ia tidak lagi dipandang sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian, melekat, akrab, dan sulit dilepaskan.

Transisi ini bukan sekadar teknis, tapi juga kultural. Untuk memahami bagaimana perubahan ini berlangsung, kita bisa melihatnya lewat konsep yang ditawarkan oleh Roger Silverstone: Domestikasi Teknologi.

Memahami Domestikasi Teknologi

Roger Silverstone (1992), salah satu pemikir penting dalam kajian media, memperkenalkan konsep domestikasi teknologi untuk menggambarkan bagaimana teknologi, yang pada awalnya bersifat asing, teknis, dan netral, berubah menjadi sesuatu yang dekat, akrab, dan tak terpisahkan dari kehidupan personal dan sosial.

Ia melihat bahwa teknologi tidak serta-merta menjadi bagian dari hidup kita begitu saja. Ada proses budaya yang berlangsung secara perlahan namun pasti, ketika sebuah benda asing, entah itu ponsel, laptop, televisi, atau bahkan internet, diambil dari ruang publik dan kemudian dijinakkan dalam ruang privat.

Roger Silverstone membagi proses domestikasi teknologi menjadi empat tahap utama: appropriation, objectification, incorporation, dan conversion.

Empat tahap ini menjelaskan bagaimana teknologi yang awalnya asing bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan membentuk identitas sosial.

Mari kita lihat contoh paling nyata dari domestikasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu smartphone.

Kehadirannya dimulai sejak seseorang memutuskan untuk membeli, bukan semata-mata  karena kebutuhan teknis, tapi karena pertimbangan gaya hidup, citra diri, bahkan tekanan sosial. Ini adalah tahap appropriation. Merek apa yang dipilih? Kamera seberapa canggih? Apakah teman-teman juga memakainya? Semua pertanyaan itu bukan soal fungsi, tapi soal tempat sosial.

Setelah dibeli, ponsel kemudian diberi tempat. Ia tak dibiarkan sembarangan. Ada yang meletakkannya rapi di meja kerja, ada yang menatanya di samping tempat tidur. Tak jarang, ia dilengkapi casing warna pastel, gantungan lucu, atau pelindung layar mahal. Inilah objectification, ketika benda itu bukan sekadar alat, tapi punya posisi simbolik dalam rumah dan hidup penggunanya.

Lalu, ponsel mulai menyatu dalam keseharian. Ia menjadi jam weker, pengingat jadwal, tempat bekerja, mendengar musik, bermain, bahkan menenangkan diri saat lelah. Ini adalah tahap incorporation: saat teknologi tidak lagi terasa seperti barang luar, tapi bagian dari ritme hidup itu sendiri.

Dan akhirnya, ponsel menjadi cermin digital dari siapa diri kita. Apa yang kita unggah, bagaimana kita berbicara di media sosial, aplikasi apa yang kita pakai, semua adalah bagian dari tahap conversion. Teknologi menjadi alat untuk menampilkan diri, untuk menunjukkan posisi kita di tengah masyarakat, baik secara personal maupun profesional.

Teknologi, dalam proses ini, tidak hanya membantu kita. Ia ikut membentuk cara kita melihat dunia, dan bahkan cara kita dilihat oleh dunia.

Ketika Domestikasi Gagal

Konsep domestikasi teknologi membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dan teknologi jauh lebih rumit. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)
Konsep domestikasi teknologi membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dan teknologi jauh lebih rumit. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Namun, tidak semua proses domestikasi berjalan mulus. Dalam banyak kasus, kehadiran teknologi justru menimbulkan ketegangan, penolakan, atau bahkan konflik terbuka. Ini terjadi ketika nilai-nilai sosial dan budaya yang ada tidak sejalan dengan cara kerja atau dampak teknologi tersebut.

Salah satu contohnya adalah kecanduan digital pada anak-anak dan remaja. Ketika perangkat seperti ponsel dan tablet digunakan berlebihan untuk bermain game atau menonton konten hiburan, rutinitas harian terganggu, aktivitas belajar terbengkalai, waktu tidur berkurang, dan interaksi sosial menjadi minim.

Dalam situasi ini, teknologi gagal menyatu secara sehat dalam kehidupan domestik.

Di sisi lain, ada juga bentuk resistensi dari kalangan orang dewasa dan lansia, terutama terhadap teknologi finansial seperti e-wallet atau aplikasi layanan publik.

Banyak yang merasa asing, takut kehilangan uang, atau bingung dengan antarmuka digital yang dianggap rumit. Penolakan ini menunjukkan bahwa tidak semua orang merasa teknologi sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam dunia pendidikan, para guru dan pendidik pun mengalami kesulitan adaptasi, terutama saat pandemi mendorong percepatan pembelajaran daring. Keterbatasan infrastruktur, keterampilan digital, dan kelelahan mental membuat teknologi malah menjadi beban, bukan solusi.

Bahkan dalam ruang yang lebih personal seperti grup WhatsApp keluarga, ketegangan bisa muncul karena penyebaran informasi yang tidak akurat.

Hoaks, pesan berantai, dan opini ekstrem sering kali menimbulkan salah paham antaranggota keluarga, memperlihatkan bahwa teknologi bisa memperkuat jarak sosial jika tidak dikelola dengan bijak.

Kondisi-kondisi ini menunjukkan bahwa domestikasi teknologi bukanlah proses otomatis atau netral.

Ia adalah hasil dari negosiasi, antara generasi, antara ekspektasi dan ketakutan, antara kenyamanan lama dan tantangan baru. Ketika negosiasi ini gagal terjadi, teknologi tidak berfungsi sebagai pemersatu, melainkan sebagai sumber kegelisahan kolektif.

Siapa Menjinakkan Siapa?

Dalam kehidupan digital saat ini, pertanyaan seperti siapa mengendalikan siapa menjadi semakin relevan. Apakah kita yang membentuk teknologi agar sesuai dengan hidup kita, atau justru teknologi yang perlahan mengatur cara kita hidup?

Konsep domestikasi teknologi membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dan teknologi jauh lebih rumit.

Kita tidak sekadar menerima kehadiran teknologi, tetapi juga menyesuaikan kebiasaan, nilai, bahkan cara kita melihat diri sendiri agar sesuai dengan teknologi itu. Rutinitas berubah, interaksi sosial bergeser, dan ruang hidup didesain ulang mengikuti ritme digital.

Kita merasa punya kontrol (memilih aplikasi, mengatur waktu, menentukan interaksi), tapi kenyataannya, banyak keputusan kita dipengaruhi oleh sistem yang bekerja di balik layar. Teknologi perlahan mengarahkan perhatian kita, membentuk emosi, dan membiasakan pola pikir tertentu.

Roger Silverstone menyebut proses ini sebagai cermin dari relasi sosial. Teknologi tidak hadir secara netral. Cara kita menggunakannya mencerminkan budaya, nilai, dan posisi sosial kita. Apa yang kita pilih, bagaimana kita menggunakannya, dan kapan kita terhubung, semua itu tidak lepas dari konteks sosial yang kita hidupi.

Teknologi datang bukan sebagai benda kosong. Ia kita terima, kita beri tempat, dan kita maknai. Tapi di saat yang sama, ia juga membentuk ulang hidup kita, sedikit demi sedikit.

Inilah titik di mana domestikasi terjadi sepenuhnya: ketika kita merasa sedang mengatur teknologi, padahal tanpa sadar, kita sedang dibentuk olehnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)