Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi truk melintasi jalanan Cileunyi, Bandung, tahun 1950-an.
Ilustrasi truk melintasi jalanan Cileunyi, Bandung, tahun 1950-an.

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu dini hari bulan Juni 1950, di antara kabut tebal dan hawa dingin pegunungan timur Bandung, sebuah truk pengangkut tekstil melaju pelan meninggalkan pusat kota menuju arah timur. Jalanan yang waktu itu masih sepi, berkelok di antara ladang dan kampung, membawa kendaraan itu menuju Cileunyi, wilayah sebelum perbatasan antara Bandung dan Sumedang. Tak ada yang mencurigakan pada malam itu, kecuali empat orang berseragam tentara yang meminta tumpangan.

Keempat tampak percaya diri, bahkan ramah. Si sopir, mungkin karena menghormati seragam yang mereka kenakan, mengizinkan mereka naik, tanpa tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari kisah perampokan paling keji yang pernah tercatat di halaman koran zaman vivere pericoloso. Di depan sebuah hotel Tionghoa, kisah liar itu bermula. Para bandit beraksi menggasak truk beserta muatan serta merapas nyawa para penumpang.

Sopir truk tak punya alasan untuk curiga ketika salah satu dari mereka datang mendekat. Dengan nada sopan, pria itu berkata bahwa mereka ingin menumpang sampai Sumedang. “Ia dengan sopan meminta agar ia dan teman-temannya diizinkan menumpang sampai Sumedang,” tulis De Preanger-bode pada 26 Juni 1950. Sang sopir, yang hanya ditemani pembantu dan kondektur, mengizinkan mereka naik. Karena kabin penuh, keempat pria itu duduk di atas muatan. Di atas baknya, terikat rapi gulungan kain tekstil—barang mahal pada masa itu.

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

Pada malam jahanam itu, mereka melaju ke arah Cileunyi. Truk berguncang di jalan berbatu, sementara udara dingin menembus baju. Sekitar tengah malam, pemimpin komplotan mengetuk kaca belakang kabin. Itu tanda. Sopir yang tak tahu apa-apa langsung menginjak rem dan menepi. Empat “tentara” itu melompat turun. Satu menarik pistol dan menodongkan ke arah kabin. Dalam sekejap, mereka mengambil alih truk dan menodong tiga penumpangnya untuk tetap diam.

Salah satu pelaku naik ke kemudi. Tiga korban—sopir, pembantu, dan kondektur—dipaksa duduk di atas tumpukan kain. Jalan kembali sunyi. Di antara suara mesin dan deru angin malam, sopir memutuskan untuk melompat. Ia memilih luka daripada mati. Tubuhnya terguling di aspal, berdarah, tapi ia selamat. Dua orang lainnya tidak seberuntung itu.

Jejak Kejahatan di Rancaekek

Truk melanjutkan perjalanan hingga ke Bojongjati, wilayah sunyi di distrik Rancaekek. “Sesampainya di kampung Bojongjati, truk berhenti di dekat beberapa rumah yang terpencil,” catat De Preanger-bode. Di rumah itu, mereka menurunkan gulungan kain dan mengurung dua orang yang tersisa. Truk yang sudah kosong kemudian dibawa jauh hingga menjelang Garut, lalu ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Esoknya, komplotan itu menuju Tasikmalaya. Di sana mereka menemukan pedagang yang bersedia membeli kain curian itu dengan harga tinggi. Hasilnya besar, cukup untuk membuat mereka kembali ke Bojongjati keesokan harinya. Tapi bersama uang, muncul rasa takut. Dua tawanan di rumah itu bisa menjadi saksi. Bila dibiarkan hidup, mereka bisa melapor. Maka keputusan dibuat: keduanya harus disingkirkan.

Laporan De Preanger-bode menulis dingin, “Setelah para korban ditahan selama satu setengah hari tanpa mengetahui nasib mereka, keduanya dibunuh secara keji dengan cara dicekik.” Tak ada perlawanan, tak ada suara. Setelah tubuh kedua pria itu tak lagi bernyawa, para pelaku menguburnya di belakang rumah. Malam kembali sunyi, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Tentara KNIL pada masa Perang Revolusi. (Sumber: Wikimedia)
Tentara KNIL pada masa Perang Revolusi. (Sumber: Wikimedia)

Beberapa hari kemudian, polisi menemukan kuburan itu. “Jenazah mereka dikuburkan di tempat yang tidak jauh dari lokasi tersebut, dan pada hari Sabtu kemudian digali kembali oleh polisi,” lanjut laporan itu. Kedua jasad lalu dibawa ke Bandung untuk penyelidikan. Bau anyir tanah dan tubuh membusuk memenuhi udara pagi Bojongjati ketika mayat-mayat itu diangkat dari kubur dangkal.

Kasus ini menyebar cepat di Bandung. Berita tentang perampokan berseragam TNI mencuri perhatian publik. Orang-orang mulai curiga pada siapa pun yang mengenakan seragam tentara tanpa tanda pangkat yang jelas. Ketika polisi kriminal menggerebek sebuah rumah di Pagarsih dan menangkap seseorang bernama T.S., semuanya mulai terbuka. Dari pengakuan tersangka itulah polisi bisa menelusuri jejak ke Cileunyi dan Rancaekek.

“Petugad polisi kriminal melakukan penggerebekan di sebuah rumah di Pagarsih, di mana mereka berhasil menangkap seseorang bernama T.S.,” tulis De Preanger-bode. Dalam penggerebekan lain di Jalan Idawasir, polisi juga menangkap anggota komplotan lainnya. Tiga orang berhasil diamankan. Salah satu di antaranya akhirnya mengaku dan membeberkan seluruh rencana keji itu.

Dari Perampokan ke Pembunuhan

Kasus perampokan ini menjadi perbincangan panjang di kalangan masyarakat Bandung dan sekitarnya. Nilai muatan yang dicuri mencapai f 380.000, jumlah yang setara dengan harga beberapa rumah di kota kala itu. “Muatan tekstil yang dimiliki oleh seorang pedagang Tionghoa di Semarang dan bernilai sekitar f 380.000 sebagian besar telah berhasil ditemukan kembali,” tulis koran itu. Sebagian kain berhasil diamankan, sebagian lainnya sudah berpindah tangan di pasar-pasar kecil Tasikmalaya.

Polisi kemudian menemukan bahwa komplotan itu bukan pertama kali beraksi. Mereka juga pernah terlibat dalam perampokan terhadap seorang haji di Cisarua pada hari raya Pentakosta. “Dalam kejadian itu mereka mencuri sejumlah besar uang tunai dan berbagai perhiasan,” ungkap laporan yang sama.

Pola mereka nyaris serupa di tiap aksi: menyamar sebagai tentara, mencari sasaran di jalan sepi, menodong, merampok, lalu menyingkirkan saksi. Dalam situasi Bandung tahun 1950, cara itu efektif. Seragam TNI masih dianggap simbol wibawa dan kekuasaan, apalagi di masa revolusi ketika perang berkecamuk di mana-mana dan banyak pasukan belum sepenuhnya terorganisir.

Bandung sendiri saat itu adalah kota yang sedang berusaha menata diri. Setelah perang, banyak senjata dan perlengkapan militer jatuh ke tangan sipil. Seragam bisa dibeli di pasar gelap. Pistol pun mudah ditemukan di sisa-sisa gudang militer. Dalam kondisi semacam itu, kejahatan seperti ini bukan hal mustahil. Orang-orang dengan niat buruk bisa meniru tentara dengan mudah, dan masyarakat tak berani menolak permintaan orang berseragam.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Grutterink, Landraad Bandung jadi Saksi Lunturnya Hegemoni Kolonial

Perampokan Cileunyi jadi semacam legenda kelam yang nyaris terdengar seperti lelucon buruk: sekelompok orang berseragam resmi yang ternyata palsu, menjarah truk berisi kain sambil berpura-pura menjalankan tugas negara.

Komplotan itu bukan maling sembarangan. Mereka tahu betul cara memanfaatkan lambang negara untuk menutupi niat busuk. Dan seperti biasa, yang paling apes bukanlah yang punya kuasa, melainkan dua pekerja jalanan yang cuma ingin menyelesaikan hari kerja tanpa drama, tapi malah berakhir di tangan orang yang sok patriotik.

Begitu para pelaku akhirnya ditangkap, sebagian besar barang curian berhasil ditemukan. Tapi dua korban di Bojongjati itu tetap tak disebut namanya, seolah mereka cuma catatan kaki dalam cerita besar yang penuh seragam dan sandiwara.

“Dengan darah dingin, setelah para korban ditahan selama satu setengah hari tanpa mengetahui nasib mereka, keduanya dibunuh secara keji dengan cara dicekik," tulis surat kabar itu.

Satu malam di Cileunyi, empat seragam palsu, dua nyawa melayang, dan satu truk penuh kain yang entah ke mana. Di tengah kabut pegunungan dan jalanan sepi Bandung–Garut, kota yang tenang itu sempat diguncang oleh kejahatan yang, sialnya, berpakaian seperti penjaga keamanan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)