Hikayat Kasus Pembunuhan Grutterink, Landraad Bandung jadi Saksi Lunturnya Hegemoni Kolonial

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
De Preanger-bode 24 Desember 1922
De Preanger-bode 24 Desember 1922

AYOBANDUNG.ID - Semua berawal dari cinta yang berakhir dengan kematian. Tahun 1922, di Bandung yang masih berwajah kolonial, seorang gadis Sunda muda bernama Nyi Anah dituduh meracuni tuannya, Karel Grutterink, seorang pegawai Belanda di perkebunan Tjikembang. Tak ada saksi pasti, tak ada bukti kuat. Hanya segelas susu, secuil serbuk aneh, dan gosip yang tumbuh jadi histeria. Di ruang sidang kolonial itulah, nasib seorang nyai tiba-tiba berubah menjadi simbol perlawanan.

Semuanya bermula dengan berita kecil di De Preanger-bode, koran populer bagi kalangan Eropa: seorang pegawai perkebunan bernama Karel (K.) Grutterink meninggal dunia mendadak di rumahnya di Bandung. Narasi sederhana, bahkan terasa hambar: pegawai Eropa tewas, diduga diracun oleh bekas pelayan. Tapi seperti banyak hal di Hindia Belanda, yang tampak sederhana sering kali menyembunyikan ledakan sosial di dalamnya.

Karel Grutterink adalah contoh khas Europeaan in de tropen alias orang Belanda yang menikmati kenyamanan hidup di koloni. Ia tinggal di rumah besar dengan halaman luas, dilayani para pribumi, dan memiliki seorang nyai: perempuan lokal yang berperan ganda, sebagai pembantu sekaligus pasangan hidup tidak resmi.

Perempuan itu bernama Nyi Anah, atau kadang disebut Anna dalam laporan pers kolonial, sebuah nama Eropa yang diberikan seolah-olah untuk “menjinakkan” identitas aslinya. Ia gadis Sunda muda, berusia sekitar 17 atau 18 tahun. Tubuhnya kecil, tutur katanya lembut, dan ia dikenal rajin. Selama hampir sebelas bulan, ia hidup bersama Grutterink. Ia menerima 25 gulden sebulan, pakaian bagus, serta atap yang menjamin rasa aman, seluruhnya imbalan dari peran yang menggantung antara cinta dan subordinasi.

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Tapi keamanan di dunia kolonial selalu rapuh. Suatu hari, setelah pulang dari perjalanan bisnis ke perkebunan Tjikembang, Grutterink mendapati rumahnya kacau. Beberapa pelayan sedang berjudi, dan lebih buruk lagi, ia menemukan Nyi Anah sedang bersama seorang pria pribumi bernama Dana. Amarah pun meledak. Grutterink memecat Nyi Anah seketika, mengusirnya tanpa bekal. Dalam masyarakat kolonial, keputusan semacam itu bukan hanya soal kehilangan pekerjaan, tapi berarti kehilangan status, perlindungan, bahkan harga diri.

Beberapa minggu kemudian, Grutterink jatuh sakit. Ia muntah-muntah, tubuhnya melemah, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Rumor cepat beredar di lingkungan Eropa: ia diracun. Polisi kolonial segera bertindak, dan nama yang pertama kali disebut adalah bekas pelayannya, Nyi Anah.

Ia ditangkap bersama beberapa pelayan lain. Dalam interogasi, Nyi Anah mengaku pernah menyuruh salah satu pelayan mencampurkan sesuatu ke dalam susu Grutterink. Tapi ia menyangkal keras bahwa itu racun, melainkan serbuk kuku. Ia menambahkan bahwa benda itu bukan untuk membunuh, melainkan untuk pelet.

Keyakinan ihwal kesaktian jampi-jampi dikenal luas di masyarakat Sunda dan Jawa kala itu. Dalam kepercayaan tradisional, dunia tak hanya diisi manusia dan logika, tapi juga kekuatan halus yang bisa memengaruhi perasaan. Dukun yang ditemui Nyi Anah memberi petunjuk: sembelih ayam hitam, kubur kepalanya di depan pintu, siram ranjang dengan minyak wangi, dan beri campuran khusus pada minuman sang kekasih. Semua dilakukan sambil membaca mantra.

Tapi, bagi aparat kolonial yang hidup dalam hukum rasional Eropa, semua itu terdengar seperti akal bulus belaka. Tubuh Grutterink pun digali kembali untuk diotopsi. Dokter kolonial mencari jejak arsenik. Walau hasilnya tidak pasti, jaksa tetap mendakwa Nyi Anah dengan pembunuhan berencana. Kasus itu lalu dibawa ke Landraad Bandung, pengadilan kolonial yang biasa memisahkan hukum bagi Eropa dan pribumi. Tapi kali ini, seluruh Hindia menatap ke arah yang sama: ruang sidang kecil di Bandung.

Persidangan dan Lahirnya Simbol Perlawanan

Sidang pertama digelar pada awal 1923. Saksi-saksi dipanggil dari mulai pelayan, tetangga, hingga sang dukun. Cerita mereka beragam, sebagian bertentangan. Tapi jaksa tak mau kalah. Mereka menegaskan bahwa hanya arsenik yang bisa menimbulkan gejala seperti yang dialami Grutterink. Meski tanpa bukti kimia yang jelas, pengadilan tetap menjatuhkan hukuman mati kepada Nyi Anah.

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri

De Preanger-bode 12 Juli 1923
De Preanger-bode 12 Juli 1923

Tapi tak lama setelah vonis, fakta mengejutkan muncul: Nyi Anah hamil. Dalam hukum kolonial, perempuan hamil tak boleh dihukum mati sampai melahirkan. Kabar ini mengguncang opini publik. Sarekat Islam dan berbagai tokoh pergerakan pribumi mulai bersuara. Surat kabar lokal menulis bahwa pengadilan kolonial telah menginjak rasa kemanusiaan.

Situasi politik saat itu memang genting. Sarekat Islam (SI) sedang bangkit, nasionalisme mulai berakar, dan media pribumi menantang hegemoni pers Belanda. Di tengah tekanan itu, pemerintah kolonial akhirnya memerintahkan ulang sidang. Landraad Bandung kembali penuh sesak pada pertengahan 1923.

Sidang berlangsung berbulan-bulan. Bayi Nyi Anah lahir di penjara, dan setiap kali ia dibawa ke pengadilan, para penonton menatap dengan campuran iba dan kagum. Jaksa tetap berpegang pada tuduhan arsenik, tapi saksi-saksi makin goyah. Beberapa pelayan menarik ucapannya. Dokter forensik pun tidak dapat menemukan sisa racun secara pasti.

Pada Maret 1924 akhirnya keputusan dibacakan. Hakim kolonial memutuskan: tuduhan pembunuhan tidak terbukti. Nyi Anah dibebaskan. Suasana ruang pun sidang pecah.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Setelahnya, Nyi Anah, perempuan muda yang dulu hanya dianggap bayangan di rumah Eropa, tiba-tiba menjelma simbol keteguhan melawan ketimpangan. Ia bukan aktivis, bukan politikus, tapi kisahnya menembus batas kelas dan warna kulit. Ia memperlihatkan bagaimana dunia kolonial bisa retak bukan karena peluru, tapi karena simpati manusia.

Setelah bebas, kisahnya hilang ditelan waktu. Tidak ada catatan pasti ke mana ia pergi bersama bayinya. Tapi jejaknya tetap hidup di arsip, di kolom-kolom berita tua, dan di ingatan kota Bandung yang sering melupakan tragedinya sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)