Bandung dan Tantangan Berkelanjutan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Berperahu di sungai Citarum (Foto: Dokumen pribadi)
Berperahu di sungai Citarum (Foto: Dokumen pribadi)

Ketika gagasan dan imajinasi harus kalah oleh kapital dan populeritas, arah pembangunan pun kehilangan kedalaman. Kota tidak lagi dipandang sebagai ruang hidup bersama, melainkan sebagai panggung ekonomi politik yang bisa dikuasai oleh mereka yang memiliki sumber daya besar.

Proyek-proyek pembangunan kemudian lebih banyak diarahkan untuk memperkuat citra dan jaringan kepentingan, bukan untuk menjawab kebutuhan ekologis dan sosial warga.

Keberlanjutan sejatinya bukan sekadar penghijauan atau efisiensi energi. Ia adalah cara berpikir dan hidup bersama, yang menempatkan warga sebagai subjek utama pembangunan. Tanpa kesadaran kritis masyarakatnya, kota hanya menjadi proyek fisik tanpa jiwa. Keberlanjutan harus lahir dari dialog, partisipasi, dan kemampuan warga membaca arah masa depan kotanya.

Baca Juga: Menyoal Gagalnya Bandung Raya dalam Indeks Kota Hijau

Bandung memiliki modal sosial yang luar biasa. Di berbagai sudut kota, muncul komunitas seni, kelompok literasi, hingga pegiat lingkungan yang bekerja dengan semangat otonom. Mereka menanam pohon, menjaga taman, membuka ruang baca, menginisiasi daur ulang sampah, atau sekadar menanamkan kesadaran ekologis di lingkungan masing-masing.

Namun, energi sosial yang besar itu sering berjalan tanpa dukungan struktural. Pemerintah kota kerap menjadikan “partisipasi” sebagai jargon, bukan mekanisme nyata dalam perumusan kebijakan.

Ruang partisipatif sering hanya hadir dalam bentuk forum seremonial, bukan proses deliberatif yang memberi ruang bagi warga menentukan arah pembangunan. Akibatnya, potensi besar dari gerakan warga—yang seharusnya menjadi fondasi keberlanjutan—justru tidak pernah benar-benar diintegrasikan ke dalam kebijakan kota.

Padahal, bila dikelola dengan serius, gerakan warga ini bisa menjadi sumber daya moral dan intelektual bagi Bandung. Mereka menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar urusan teknis, melainkan urusan kesadaran. Kota berkelanjutan tidak lahir dari proyek infrastruktur, melainkan dari cara masyarakatnya memaknai ruang hidup bersama.

Demokrasi yang Kehilangan Imajinasi

Kawasan padat penduduk di Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sayangnya, keberlanjutan kota tak mungkin terwujud bila demokrasi lokal terus kehilangan daya imajinasinya. Dalam banyak pilkada, termasuk di Bandung, kita menyaksikan bagaimana demokrasi berubah menjadi kontestasi popularitas dan kekuatan modal. Ruang gagasan dan visi kota tergantikan oleh pencitraan, sementara politik dijalankan layaknya panggung kompetisi hiburan.

Akar persoalannya terletak pada sistem kepartaian yang tidak sehat dan cenderung koruptif. Partai politik, yang semestinya menjadi “rumah gagasan” dan sekolah kepemimpinan publik, justru berubah menjadi mesin transaksional. Tiket pencalonan dijual mahal, kesetiaan diukur dengan kontribusi finansial, dan loyalitas pada rakyat digantikan oleh kalkulasi elektoral jangka pendek.

Dalam atmosfer politik seperti ini, gagasan menjadi barang mewah, dan imajinasi sosial kehilangan nilai. Mereka yang memiliki integritas dan visi pembaruan sering tersingkir karena tak punya modal atau jaringan elite. Maka lahirlah pemimpin yang miskin gagasan dan miskin imajinasi—mereka yang lebih sibuk menata citra ketimbang membangun kesadaran, lebih pandai membuat slogan daripada mengubah sistem.

Bandung, kota dengan sejarah panjang intelektualitas dan perlawanan kultural, kini kerap terjebak dalam logika ini. Para pemimpinnya gemar berbicara tentang kreativitas, tetapi jarang menyinggung soal keadilan ekologis, perencanaan ruang yang manusiawi, atau krisis air yang kian mengancam. Ruang publik didesain indah untuk swafoto, tetapi tak lagi menjadi tempat bertemu dan berpikir bersama. Dalam situasi seperti ini, kota kehilangan arah moralnya: ia tampak hidup di permukaan, tapi rapuh di dalam.

Lebih jauh, dampak dari sistem politik koruptif ini meluas hingga ke akar budaya kota. Ia menumpulkan kesadaran publik, melemahkan daya kritis warga, dan menumbuhkan sikap apatis. Demokrasi menjadi ritual lima tahunan yang memenangi mereka yang paling populer, bukan mereka yang paling berpikir. Ketika politik kehilangan gagasan, maka pembangunan pun kehilangan arah.

Padahal, keberlanjutan sejati hanya bisa tumbuh dari demokrasi yang berpihak pada gagasan dan imajinasi kolektif. Demokrasi yang membuka ruang bagi warga untuk berdebat, berimajinasi, dan merancang masa depan bersama. Tanpa ruang itu, kota hanya akan terus berputar dalam lingkaran pencitraan dan proyek jangka pendek.

Baca Juga: Bandung, Pandawara, dan Kesadaran Masyarakat yang Harus Bersinergi

Kota berkelanjutan bukan hanya tentang taman rapi, transportasi ramah lingkungan, atau energi terbarukan. Ia adalah ruang belajar kebudayaan, tempat warga mengasah kesadaran dan berpikir kritis. Di sanalah politik dan kebudayaan saling bertemu untuk menegaskan makna hidup bersama di tengah modernitas yang kian bising.

Bandung membutuhkan pemimpin yang tidak hanya fasih berjanji, tetapi berani menata ulang relasi antara pemerintah, warga, dan komunitas. Pemerintah seharusnya menjadi fasilitator dialog, bukan sekadar pelaksana proyek. Komunitas perlu diakui sebagai mitra strategis, bukan ornamen partisipasi. Dan warga, sebagai pemilik kota, harus kembali menumbuhkan keberanian berpikir dan bersuara.

Keberlanjutan tidak akan tumbuh di bawah kepemimpinan yang miskin gagasan dan dibentuk oleh sistem politik koruptif. Ia hanya akan lahir ketika kota membuka ruang bagi imajinasi dan kesadaran warga untuk bekerja bersama. Bandung, dengan sejarah intelektual dan semangat sosialnya, memiliki peluang besar untuk memulihkan makna keberlanjutan itu—asal ia berani kembali berpikir, berdebat, dan bermimpi sebagai kota yang hidup dari gagasan, bukan dari citra.

Sebab pada akhirnya, keberlanjutan bukan tentang siapa yang menang penghargaan, melainkan tentang sejauh mana pikiran kritis warga menjadi energi moral dan kultural yang menyalakan masa depan kota. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)