Sejarah Panjang Hotel Preanger Bandung, Saksi Bisu Perubahan Zaman di Jatung Kota

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Hotel Preanger tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)
Hotel Preanger tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Orang Bandung menyebutnya “Preanger” dengan nada akrab, seolah bangunan tua itu adalah kerabat jauh yang sudah lama tinggal di kota. Di balik temboknya yang tebal dan jendela kayu yang tua, tersimpan jejak zaman ketika kaum kolonial Belanda mencari kenyamanan di dataran tinggi Priangan. Dari herberg sederhana hingga hotel megah yang jadi ikon Asia-Afrika, perjalanan panjang Grand Hotel Preanger adalah kisah tentang bagaimana sebuah kota menua, tapi enggan mati.

Segalanya bermula di akhir abad ke-19, di tepi Grote Postweg, jalan besar yang dibangun Daendels dari Anyer ke Panarukan. Kala itu, Bandung belum sebesar sekarang. Ia hanyalah kota kecil yang menjadi tempat singgah para tuan kebun, pegawai kolonial, dan pedagang yang menempuh perjalanan jauh dari Batavia menuju Priangan. Di jalan inilah berdiri sebuah herberg, semacam pesanggrahan sederhana, berdampingan dengan toko milik C. P. E. Loheyde dan sebuah hotel kecil bernama Hotel Thiem.

Seturut conference paper berjudul Grand Hotel Preanger dari Waktu ke Waktu, Sebuah Montase Sejarah gubahan akademisi ITB, Loheyde, yang dikenal sebagai pedagang kebutuhan sehari-hari bagi orang-orang Belanda di Priangan, mungkin tak pernah membayangkan bahwa toko kecilnya akan menjadi cikal bakal hotel termegah di kota ini. Namun, nasib berkata lain. Pada 1897, ia bangkrut. Usahanya jatuh ke tangan W. H. C. van Deeterkom, seorang pengusaha yang melihat potensi besar pada lokasi strategis di pinggir Grote Postweg itu. Deeterkom kemudian membeli pesanggrahan di sebelahnya, menggabungkannya dengan toko dan hotel Loheyde, lalu menjadikannya hotel baru yang lebih besar dan megah.

Baca Juga: Hikayat Soldatenkaffee Bandung, Kafe NAZI yang Bikin Heboh Sekolong Jagat

Hotel itu diberi nama Hotel Preanger, serapan dari kata Priangan sebagai wilayah pegunungan yang menjadi jantung tanah Pasundan. Nama itu bukan sekadar sebutan geografis, tapi juga simbol keanggunan dan kesejukan Bandung kala itu. Para bangsawan Belanda dari perkebunan di sekitar Garut, Sukabumi, hingga Tasikmalaya, menjadikan hotel ini sebagai tempat peristirahatan favorit. Di ruang-ruang tamunya, wangi teh Priangan bercampur dengan aroma cerutu Havana, sementara denting piano di lobi menemani percakapan politik dan bisnis kolonial.

Tapi Bandung di awal abad ke-20 bukan sekadar kota peristirahatan. Ia mulai berubah. Seiring berkembangnya jalur kereta dan kebijakan politik etis, kota ini menjadi magnet baru bagi kaum elit Eropa. Hotel Preanger pun ikut bertransformasi: dari penginapan sederhana menjadi simbol kemewahan kolonial.

Dari Soekarno hingga Konferensi Asia Afrika

Pada 1920, Deeterkom memutuskan untuk memperbesar skala hotel. Ia ingin bangunan yang bukan hanya nyaman, tetapi juga mencerminkan prestise kaum kolonial di jantung Bandung. Maka ia memanggil arsitek ternama, C. P. Wolff Schoemaker, untuk merancang ulang bangunan tersebut. Schoemaker, yang kelak dikenal sebagai pelopor gaya Art Deco di Hindia Belanda, mengubah wajah Hotel Preanger menjadi lebih modern dan berkelas.

Yang membuat sejarah hotel ini semakin menarik adalah kehadiran seorang asisten muda dalam proses perancangannya: seorang mahasiswa teknik sipil dari Technische Hoogeschool te Bandoeng bernama Sukarno. Ya, calon presiden pertama Republik Indonesia itu pernah menjadi juru gambar bagi proyek renovasi Grand Hotel Preanger pada 1929. Di bawah bimbingan Schoemaker, Sukarno belajar bukan hanya tentang garis dan sudut, tetapi juga tentang estetika, modernitas, dan simbolisme kekuasaan.

Bayangkan: di ruang kerja kecil yang dipenuhi kertas kalkir dan tinta hitam, Sukarno muda menggambar ulang wajah hotel yang berdiri di bawah kekuasaan kolonial yang kelak akan menjadi saksi bagi perjuangan bangsanya.

Baca Juga: Dari Hotel Pos Road ke Savoy Homann, Jejak Kemewahan dan Saksi Sejarah Pembangunan Kota Bandung

Hotel Preanger di Bandung saat ini. (Sumber: Wikimedia)
Hotel Preanger di Bandung saat ini. (Sumber: Wikimedia)

Ketika renovasi selesai, Grand Hotel Preanger menjelma menjadi bangunan yang megah. Para tamu dari Batavia, Surabaya, hingga Singapura datang untuk menikmati kemewahan dan kesejukan Bandung. Dari balkon hotel, mereka memandang ke arah selatan, ke jalan yang kelak bernama Asia Afrika, yang saat itu masih sepi dan dihiasi pepohonan trembesi.

Tapi, sejarah memiliki cara sendiri untuk membalikkan keadaan. Setelah masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, Grand Hotel Preanger berganti peran. Ia tak lagi sekadar tempat para kolonial berlibur, tapi menjadi ruang singgah para diplomat dan pemimpin bangsa yang baru lahir. Pada pertengahan 1950-an, hotel ini menjadi salah satu lokasi penting menjelang perhelatan besar: Konferensi Asia Afrika 1955.

Bandung kala itu penuh semangat dan kegelisahan. Kota kecil di dataran tinggi Jawa Barat tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia. Para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika datang ke kota ini untuk merumuskan solidaritas dunia ketiga. Di antara mereka ada Sukarno, Zhou Enlai, Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, hingga U Nu. Banyak dari mereka menginap di Grand Hotel Preanger. Hotel yang dulu pernah digambar Sukarno muda, kini menjadi tempat ia menyambut tamu-tamu besar dunia.

Dari jendela kamar-kamar hotel, lampu-lampu Asia Afrika berkelap-kelip di malam hari. Barangkali di sanalah, di antara secangkir teh dan laporan konferensi, sejarah dunia ketiga dirancang dengan semangat Bandung.

Hotel Preanger di Bandung Kiwari

Setelah era kolonial dan revolusi berlalu, Hotel Preanger tetap berdiri tegak di tengah perubahan zaman. Ia mengalami banyak renovasi, tetapi selalu dengan satu prinsip: mempertahankan identitas sejarahnya. Tahun 1988, misalnya, hotel ini menambah menara setinggi sepuluh lantai untuk menampung lebih banyak tamu. Tapi, desainnya tetap menghormati gaya lama: Art Deco yang elegan, simbol kemewahan masa lalu yang kini berpadu dengan modernitas.

Kendati begitu, bukan hanya bentuk fisik yang menjadikannya istimewa. Grand Hotel Preanger adalah semacam kapsul waktu Bandung. Ia menyimpan cerita-cerita kecil yang tak tertulis di buku sejarah tentang pertemuan rahasia para pejabat kolonial, pesta dansa di masa Belanda, atau perbincangan diplomatik di tahun 1955. Setiap ruangnya punya gema masa lalu: dari restoran dengan lampu gantung besar hingga tangga spiral yang masih kokoh sejak masa Schoemaker.

Baca Juga: Sejarah Masjid Cipaganti Bandung, Dibelit Kisah Ganjil Kemal Wolff Schoemaker

Kini, di bawah manajemen modern dan nama baru, Prama Grand Preanger, hotel ini tetap menjadi salah satu landmark utama Bandung. Di dalamnya bahkan ada museum kecil yang memamerkan foto-foto lama, perabot kuno, dan dokumentasi sejarah hotel dari masa ke masa.

Bandung kini barang tentu sudah berubah. Gedung-gedung tinggi menjulang dan Jalan Asia Afrika penuh mobil dan turis. Tetapi Grand Hotel Preanger tetap menjadi pengingat bahwa di kota ini, sejarah tidak pernah benar-benar pergi.

Hotel ini bukan sekadar tempat menginap. Ia adalah saksi hidup dari perubahan sosial, politik, dan budaya selama lebih dari satu abad. Dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga masa globalisasi kini, Grand Hotel Preanger selalu berada di sana, berdiri di jantung Bandung, menatap perubahan zaman dengan tenang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.